
Mala lebih memilih menonton televisi dari pada menemani Galih yang berbincang dengan Arfan di taman samping, yang pasti membahas perusahaan dan juga pembicaraan seputar pria yang Mala malas mendengarkannya. Sementara Bunda Sarah sudah lebih dulu pamit masuk ke kamarnya untuk istirahat.
Tidak ada acara televisi yang menarik yang bisa disimak, Mala bukan pencinta sinetron seperti Tias atau drama korea seperti Zoya, dia lebih suka menonton film layar lebar dan acara berita. Sampai akhirnya Mala menemukan salah satu televisi yang menayangkan berita gosip seputar artis, nama artis Rania yang tak lain adalah mantan kekasih suaminya menjadi topik berita malam ini. Pembawa acara juga menyebutkan nama Galih yang dikaitkan dengan hubungan Rania dan Alan, oleh karena itu, berita ini jadi menarik untuk di simak oleh Mala. Namun kesenagannya terganggu.
"Jangan suka menonton berita gosip yang tidak jelas" Galih mengambil alih remote televisi dan menganti chanel siaran dengan yang lain.
Mala cukup terkejut dengan kehadiran Galih yang tiba-tiba merebut remote tv dari tangannya, lalu dia menatap heran dengan apa yang dilakukan suaminya. Berita itu jelas-jelas menyebut nama Galih sebagai orang yang pernah ada dikehidupan Rania dan gosipnya yang memiliki hubungan gelap dengan Alan. Apa suaminya sudah lebih dulu tahu tentang berita itu? Tapi itu memang kejadian yang sudah lama, Mala ingat Tari pernah menceritakannya masalah ini padanya. Menurut Tari, sebenarnya Galih yang meninggalkan Rania setelah tahu wanita itu bukan hanya selingkuh dan berlari kepelukan laki-laki yang menjadi musuh besarnya dalam berbisnis tapi wanita itu juga berhubungan dengan Alan sepupunya disaat mereka masih menjadi sepasang kekasih.
Berita Rania yang memiliki hubungan dengan Alan kembali diungkit media setelah tayangan live tentang Alya istri Alan yang menghampiri suaminya dan menampar Kiara tersebar di media sosial. Nama Galih kembali dikait-kaitkan sebagai mantan kekasih Rania dan juga sepupu Alan.
"Mas Galih ih" rutuk Mala tidak suka dengan tingkah laku suaminya.
"Ngapain nonton berita nggak penting kayak gitu" Galih bicara sambil merapikan rambut Mala yang sedikit berantakan.
"Kenapa emangnya? Kenapa aku engak boleh lihat berita itu?" tanya Mala penasaran. Galih seakan ingin merahasiakan sesuatu yang tidak boleh diketahui olehnya, sayangnya Mala sudah sedikit banyaknya tahu cerita Galih, Rania dan Alan.
"Tidak ada yang perlu dibahas dari berita itu"
"Ya sudah kalau memang aku tidak boleh tahu tentang masa lalu mas Galih" sahut Mala membalikan badanya kembali menatap layar televisi yang menayangkan acara yang Mala tidak pernah mengikutinya, karena Galih mengantinya asal hanya untuk mengalihkan perhatian Mala dari berita seputar Rania.
"Bukan begitu maksud mas sayang, hanya saja itu berita tidak penting" Galih merangkul istrinya lalu mengecup pucuk kepala Mala, wangi sampho dari rambut Mala yang baru keramas membuat Galih lebih tenang. Rania baginya hanya masa lalu yang buruk bahkan lebih buruk dari Kiara, Galih tidak ingin lagi mendengar namanya dikait-kaitkan dengan wanita itu dan juga Alan.
"Tidak penting atau mas masih merasakan sakit hati pada Rania?" Mala menatap wajah suaminya penuh selidik.
"Sayang, tidak ada lagi yang penting dengan mereka dari masa lalu, yang penting itu sekarang kamu dan masa depan kita" Galih membalas tatapan istrinya untuk meyakinkan. Dan itu memang benar, dulu dia sangat ingin membalas sakit hatinya pada Rania, tapi sekarang itu tidak dia perlukan lagi. Sekarang yang harus dia lakukan adalah menaklukan hati wanita yang ada dihadapnnya.
"Kalau aku penting mengapa mas tidak memberitahu aku tentang keberangkatan kita ke Jogja?" Mala bicara sambil membuang muka kembali menatap layar televisi.
"Karena tadinya mau kasih kejutan kekamu" Galih menarik dagu Mala agar kembali melihat kearahnya. Tangannya berganti mengusap wajah putih bersih milik istrinya yang sudah pasti merona karena tindakannya. Galih sangat suka melihat wajah Mala yang merona karena ulahnya, dia mendekatkan wajahnya ingin menyentuh bibir merah delima yang sudah menjadi candunya.
"Hemm" Deheman Arfan menghentikan niat Galih untuk nencium Mala. Dia lupa kalau saat ini sedang berada di kediaman mertuanya.
__ADS_1
"Kalau mau mesra-mesraan bukan disini tempatnya, sana masuk ke kamar" keluh Arfan membuat Galih tersenyum simpul.
"Ayo sayang kita kekamar" ucap Galih menggoda Mala membuat istrinya itu membulatkan matanya.
Tanpa menunggu jawaban dari Mala, Galih tiba-tiba menggedong istrinya, kembali membuat Mala terkejut dengan apa yang Galih kakukan.
"Mas aku bisa jalan sendiri" ucap Mala agar Galih menurunkannya.
Galih tidak mendengarkan permintaan Mala, dia tetap melanjutkan langkahnya membuat Mala terpaksa melingkarkan tangannya di leher suaminya. Galih tersenyum, pandangan mereka bertemu dan saling mengunci. Jangan tanyakan apa yang mereka rasakan, keduanya sama-sama merasakan detak jantung yang kebih cepat. Arfan yang melihat kelakuan adik ipar yang juga temannya itu hanya bisa menggelengkan kepala.
Mala lebih dulu memutus kontak mata mereka dengan menyembunyikan wajahnya di bahu Galih, sampai suaminya membaringkannya di tempat tidur dan melanjutkan yang tadi tertunda karena kehadiran Arfan.
Keduanya kehabisan nafas setelah saling menyecap dan bertukar saliva. Galih mengusap bibir Mala dengan jarinya, menempelkan keningnya ke kening Mala.
"I love you" bisik Galih pelan tapi sangat jelas ditelinga Mala.
Tidak ada ucapan balasan, Mala belum bisa membalas cinta Galih yang sudah dikatakan suaminya untuk kesekian kalinya, walau dia merasakan sesuatu yang berbeda dihatinya. Satu hal lagi yang ingin Mala lakukan sebelum dia benar-benar menyatukan hatinya pada Galih. Dia ingin memastikan kalau cintanya pada Abi sudah benar-benar tidak ada lagi yang tersisa.
Pelan-pelan Galih melepaskan pelukannya pada Mala yang sudah terlelap lalu meraih ponselnya. Banyak hal yang harus dia kerjakan sebelum meneruskan menemani istrinya tidur. Galih memeriksa satu persatu pesan yang masuk termasuk pesan dari Ardi yang dikirim sahabat Mala tersebut di group yang beranggotakan dia, Ardi dan Zoya. Galih bersyukur kedua sahabat istrinya itu mau membantunya.
Zoya sedang berada di toko buku mencari novel baru yang akan dia baca untuk mengisi waktu kosongnya, biasanya ada Tias dan Mala juga Ardi yang menemaninya. Mala yang biasanya akan memberikan rekomendasi bacaan yang bagus untuknya karena memang sahabatnya itu memiliki pengetahuan lebih tentang buku-buku yang bagus dan menarik. Tapi tidak kali ini, dia harus mencari dan melakukannya sendiri.
Mata Zoya tidak sengaja menemukan dua orang yang dia kenal, satu sosok yang sudah sangat dia kenal dan satu lagi yang baru tadi siang berkenalan dengannya. Diantara kedua orang itu ada anak laki-laki yang membuat Zoya penasaran. Jiwa detektifnya keluar, diam-diam Zoya mengikuti mereka.
"Papa, Gio mau yang ini" ucap anak laki-laki itu pada pria yang sangat dikenal Zoya.
"Papa" beo Zoya.
"Jadi itu..." ucapan Zoya dalam hati terhenti karena sapaan seseorang.
"Hai Zoya kita ketemu lagi" sapa wanita itu menghadirkan senyum kaku diwajah Zoya.
__ADS_1
"Oh iya Mbak Saras" jawab Zoya dengan canggung.
"Sendiri saja? Mala mana?" tanya Saras beruntun.
"Iya sendiri aja nih,. Kalau Mala tentu saja dia bersama suami dan keluarganya"
"Aku kebetulan bersama suami dan anakku, ayo aku kenalkan" Saras menarik tangan Zoya untuk mendekati suami dan putranya.
"Zoya ini suami aku" Saras memperkenalkan suaminya pada Zoya.
"Kak Abi" seru Zoya.
"Zoya?" Abi cukup terkejut melihat Zoya yang mengenal Saras.
"Kalian sudah saling kenal?" tanya Saras yang pura-pura tidak tahu keduanya saling kenal.
"Saya temannya Tias, adiknya Kak Abi" jawab Zoya.
"Benarkah? kebetulan sekali ya, kita..."
"Ma, sini" panggil Gio pada Saras memotong pembicaraan Saras dengan Zoya.
"Iya sayang ada apa?" Saras berlalu mendekati putranya.
Abi mendekati Zoya setelah kepergian Saras. Melihat itu, langsung saja Zoya bertanya karena sudah sejak tadi tersimpan dibenaknya.
"Sejak kapan kak? Apa tidak ada yang tahu?" tanya Zoya beruntun. Abi mendesah.
"Nanti kakak ceritakan pada kamu, tapi tidak disini" ucap Abi.
...⚘⚘⚘⚘...
__ADS_1
...Biarkan Aku Bahagia...