
Mala kembali kekamar rawat inapnya setelah melepas rindu pada Galih. Dia kembali di periksa dokter, kali ini dokter kandungan yang memeriksanya seperti yang dikatakan dokter jaga sebelumnya.
"Kandungannya sehat, ibu sudah bisa istirahat dirumah saja." ucap dokter Mery, dokter kandungan yang menjadi dokter Mala sejak awal dia dinyatakan hamil.
Mala dinyatakan baik-baik saja oleh dokter sehingga dia diijinkan untuk pulang dan istirahat di rumah. Tapi tidak dengan Galih, suami Mala itu masih harus menginap di rumah sakit sampai kesehatannya dan luka jahitannya membaik.
Disinilah Mala sekarang berada, di kamar rawat inap Galih, meutuskan untuk menemani suaminya. Istri Galih itu bersikeras untuk tetap di rumah sakit dari pada pulang dan istirahat di rumah.
Entah mengapa, Mala merasa akan terjadi sesuatu pada Galih. Untuk menyakinkan suaminya baik-baik saja, Mala meminta ijin untuk tetap di rumah sakit menemani Galih.
Bunda sarah, Arfan dan papa Andro hanya bisa menuruti keinginan wanita yang sedang hamil itu. Yang membuat Arfan akhirnya memutuskan untuk ikut menginap dirumah sakit, menemani Mala dan Galih Malam ini.
Mala membaringkan tubuhnya di sofabed yang ada di kamar rawat inap Galih, sementara Arfan terlelap di sofa panjang lainnya yang ada disana. Saat tengah malam, Mala terjaga dari tidurnya. Keinginannya untuk buang air kecil tidak bisa ditahan. Dia berjalan ke kamar mandi tanpa membangunkan Arfan dan juga Galih.
Cklek. Mala yang baru saja selesai menuntaskan hajatnya mendengar suara pintu kamar yang terbuka. Pelan-pelan Mala membuka sedikit pintu kamar mandi, dia hanya ingin tahu siapa yang masuk kekamar rawat inap Galih. Tidak mungkin suster atau dokter yang datang untuk memeriksa jika bukan keadaan darurat.
Tidak mungkin juga Arfan yang keluar mencarinya, tentu kakaknya itu akan mencarinya di kamar mandi terlebih dahulu.
Seperti dugaan Mala, dia melihat penyusup. Seorang wanita mengendap-endap mendekati Arfan, lalu beralih mendekati Galih. Sayangnya Mala tidak bisa mengenali wanita itu karena menggunakan masker untuk menutupi wajahnya.
Wanita itu tampak mengeluarkan sebuah botol kecil seperti botol obat, dia juga terlihat mengeluarkan jarum suntik. Hal itu sontak membuat Mala terkejut dan berteriak keras dari dalam kamar mandi.
"MAU APA KAMU DENGAN SUAMIKU!"
Suara Mala yang keras dan bergema di kamar mandi membangunkan Arfan dan juga Galih.
Wanita yang diteriaki Mala terlihat kaget dan langsung melempar botol obat dan alat suntik yang dia pegang. Sayangnya dia terlambat, Arfan sempat melihat apa yang wanita itu ingin lakukan pada Galih.
Mala keluar dari kamar mandi, begitu wanita itu sudah di pegang oleh Arfan. Mala membuka masker wanita itu, dan dia terkejut.
"Celine." ucap Mala dan Galih bersamaan.
"Apa yang ingin kamu lakukan padaku?" tanya Galih.
"Aku sudah mengalah dengan membiarkan kamu meninggalkan aku begitu saja, Galih. Tapi aku tidak bisa terima jika kamu menyulitkan kehidupanku dengan memenjarakan Steve." jawab Celine.
Bukan marah pada Celine, Galih balik menertawakan wanita itu. Wanita ular menurut Mentari ini selalu saja menomor satukan steve, meskipun laki-laki itu berkali-kali membodohinya.
__ADS_1
"Apa Steve yang memintamu melakukan semua ini? Dia ingin membunuhku, bukan?" tanya Galih beruntun.
"Ini ideku sendiri." sanggah Celine tuduhan Galih.
Galih kembali terkekeh. "Benarkah?" tanyanya pada Celine.
"Kamu tidak sepintar ini, memikirkan untuk membunuhku, Celine."
"Katakan saja jika benar dia yang memerintahkanmu." ucap Galih lagi.
"Bukan dia, tapi ini keinginanku sendiri." Celine kembali mengulang pernyataannya.
"Jika kamu berhasil membunuh suamiku, apa Steve akan bebas?" Mala yang bertanya, membuat Celine terdiam.
Dia tidak bisa bebohong pada Galih dan Mala jika Steve atas permintaan Rania dan mama Vina adalah orang yang menyuruhnya.
"Kenapa diam?" tanya Mala lagi saat melihat Celine yang diam seribu bahasa.
Arfan datang bersama dua orang security rumah sakit. Sebelumnya dia mengikat Celin di kursi agar tidak kabur saat dia tinggal besama Mala dan Galih.
Untuk meyakini jika Celine diproses dengan benar oleh pihak keamanan rumah sakit, Arfan ikut ke kantor mereka dan dia juga melaporkan kasus ini pada polisi.
"Sayang kamu tidak apa-apa?" tanya Galih yang melihat Mala tampak kelelahan.
"Aku baik-baik saja Mas." jawab Mala sambil mendekati Galih.
"Aku hanya takut." ucap Mala lagi.
"Mengapa sulit sekali orang-orang membiarkan kita hidup tenang dan bahagia?" tanya Mala yang tidak bisa dijawab Galih.
Orang-orang yang menginginkan kehancuran mereka adalah orang-orang dari masa lalu mereka, terutama orang-orang masa lalu Galih. Baik mantan kekasihnya atau musuh-musuh yang menginginkan kehancuran Andromega.
Merasa bersalah tidak bisa memberikan kebahagiaan pada istrinya, bahkan membawa Mala ke dalam masalah-masalahnya yang belum selesai. Galih meminta maaf pada Mala.
"Maaf." ucap Galih meraih tangan Mala yang sudah duduk didekatnya.
"Untuk apa?" tanya Mala heran.
__ADS_1
"Mas belum bisa membahagiakan kamu."
"Aku bahagia, Mas. Hanya merekanya saja yang iri melihat kita bahagia, membuat mereka ingin menghancurkan kebahagiaan kita." jawab Mala.
Apa yang dikatakan Mala memang benar, mereka menjalani rumantangga ini dengan kebahagiaan setelah memutuskan untuk membatalkan kontrak pernikahan mereka. Terlebih lagi kini sudah hadir buah cinta mereka yang tumbuh dengan baik di rahim Mala.
"Sini." Galih menepuk tempat tidurnya yang masih bisa untuk Mala berbaring.
Galih rindu memeluk istrinya, lima hari selama Mala di culik, Galih hanya bisa memeluk selimut dan mencium aroma tubuh istrinya yang tertinggal di selimut itu.
"Jangan takut, kita lewati ini semua bersama-sama. Mas pastikan setelah semua masalah ini berlalu kita akan bahagia selamanya." ucap dan janji Galih.
"Aku hanya ingin ketenangan, Mas. Menjalani hidup yang normal tanpa ada dendam dari orang-orang masa lalu kita."
"Mas juga menginginkan itu, Sayang." ucap Galih sambil mengusap pipi Mala.
Galih senang bisa melihat wajah istrinya lagi dengan jarak sedekat ini, dia mengeratkan pelukannya pada Mala.
Cup, Galih mengecup bibir istrinya. Sudah lama dia menunggu dan baru mendapat kesempatan kali ini.
Merasakan usapan lembut dikepalanya, membuat Mala terlelap dalam pelukan Galih. Hangatnya pelukan sang suami adalah rasa ternyaman yang Mala rasakan.
Menatap wajah istrinya, Galih mengingat kembali awal mereka bertemu. Mala yang menerima lamarannya karena terpaksa dan usaha Galih yang selalu memberikan perhatiannya, membuat sang istri luluh dan rela menyerahkan diri seutuhnya padanya.
Rasa sayang itu semakin hari semakin betambah, hanya saja semakin besar juga cobaan rumah tangga yang harus mereka hadapi.
Bunda sarah menggelengkan kepala saat menemukan anak dan menantunya tidur sambil berpelukan di ranjang rumah sakit.
Arfan meminta bunda Sarah untuk menemani Mala di rumah sakit, sementara dirinya di temani Leo kekantor polisi mengurus laporan kejahatan yang akan dilakukan Celine pada Galih.
"Ayah, lihatlah putrimu sekarang. Dia berada dipelukan laki-laki pilihanmu. Bunda yakin, Ayah pasti bahagia melihat mereka seperti ini. Bukankah ini yang ayah inginkan?" gumam bunda Sarah bicara dengan dirinya sendiri, berharap suaminya bisa mendengarkan gumamannya.
"Tuhan, biarkan putri dan menantukan bahagia. Jauhkan mereka dari orang-orang yang ingin berniat jahat pada mereka." lanjut bunda Sarah gumamannya dengan berdoa untuk kebahagiaan Galih dan Mala.
...⚘⚘⚘⚘...
...Biarkan Aku Bahagia...
__ADS_1