
Setelah ber jam- jam melewati malam yang suram, Rey dan Maera tiba di Kediaman Emerald.
"Hah... Wanita memang akan membuat pusing saja."
Rey dengan wajah sedikit kesal, karena mau tidak mau harus mengangkat dan menggendong Maera, yang dalam keadaan pingsan.
Frans yang kebetulan memang ada di rumah, berlari ke rumah karena mendengar suara mobil kakaknya datang.
Sebelumnya ia sudah mendapat kabar bahwa kakaknya telah di serang.
"Ka... Kak..." Panggil Frans menghampiri kakaknya itu.
Frans sempat menghentikan kata-katanya sejenak, karena ia melihat Rey yang tengah menggendong tubuh seorang gadis.
"Apa kau baik-baik saja kak?"
Rey tak menghiraukan pertanyaan Frans, tapi malah meminta Frans untuk melakukan hal lain.
"Sebaiknya kau bantu aku untuk menyadarkan gadis ini" pinta Rey pada Frans.
"Baik Kak, tunggu sebentar."
Frans langsung berlari ke arah dalam untuk mencari bantuan dari para pekerja di rumahnya.
Sementara Rey menyusul dari belakang.
Di waktu yang bersamaan. Jasmine terbangun dari tidurnya. ia tak sengaja mendengar suara keributan di lantai bawah.
Karena penasaran Jasmine langsung saja turun kebawah.
Tapi sebelum ia bertemu dengan keributan itu, ia terlebih dahulu berpapasan dengan Lisa yang sedang terlihat buru-buru.
"Bibi, Apakah ayah sudah pulang?" Tanya Jasmine pada Melisa.
"Ah Nona Sayang... Iya Tuan sudah kembali, ta.. tapi dia sepertinya membawa seseorang." Jawab Melisa yang agak gugup pada Jasmine.
"Hmm.. Apa maksud bibi, Ayah bersama Bibi Clara?"
"Bibi tidak tau, tapi Tuan Frans tadi bilang, gadis itu sedang pingsan, bibi harus membantu nya dulu, kau kembalilah ke kamarmu ya."
Tanpa menunggu balasan dari Jasmine, Lisa langsung saja menuju ke kamar tamu, dia datang sembari membawa botol minyak angin.
"Tok... Tok... Tok... "
Lisa pun mengetuk pintu kamar itu meminta izin untuk masuk.
"Permisi Tuan, aku membawakan botol minyak angin"
"Masuklah Lisa, tolong bantu aku menyadarkannya, Dia pingsan karena akibat laju kendaraan super hero menentang badai tadi.."
"He.. Baiklah Tuan, biar aku bantu dulu" Melisa merasa lucu dengan penjelasan tuan nya, tapi ia memahami maksudnya, karena itu sering terjadi selama bertahun-tahun.
Jasmine biasanya tidak pernah mau tau Rey pulang dengan siapa, tapi entah kenapa kali ini ia benar-benar penasaran. Ia pun mencoba mendatangi kamar tamu yang di sebutkan Lisa tadi.
"Uhuk-Uhuk.." Maera tersadar karena bantuan minyak angin itu.
"Syukurlah kau sudah sadar Nona. Wajahmu sangat pucat sebaiknya aku membuat kan teh untukmu dan Tuan Muda."
"Tuan Muda? Hah, di mana ini, apa aku sedang akan bersiap untuk di ambil organ tubuhku untuk di jual?"
Entah apa yang ada di pikiran Maera, yang pasti dia masih shock atas kejadian tadi, tapi ia juga tidak lupa dia sedang bersama orang yang bermasalah dengan Dave.
__ADS_1
"Bibi Maera..." Tiba-tiba saja Jasmine menyebut namanya dari luar pintu kamar itu.
"Jasmine... kenapa kau di sini sayang? kenapa kau belum tidur? " Tanya Rey yang heran melihat kedatangan putrinya.
Namun bukan nya langsung menjawab pertanyaan ayahnya, Jasmine justru bertanya soal Maera.
"Ayah, ada apa dengan Bibi Maera..? Apa ayah melakukan sesuatu yang jahat padanya?"
Rey yang tak ingin putrinya berprasangka buruk langsung mendekat ke arah putrinya.
"Ya ampun, kau salah faham sayang, ayah tidak berbuat apa-apa. Gadis ini tadi tersesat ayah hanya berusaha menolongnya. Benarkan?"
Rey tampak mengedipkan matanya pada Maera seolah memberikan kode bahwa Maera harus berkata yang sama.
Padahal aku tidak tersesat, tapi dia yang membawaku tersesat dalam situasinya tadi.Tapi kalau aku berkata jujur bisa saja dia akan melukaiku, lebih baik aku setuju saja, lagi pula aku mungkin akan berlindung dengan anaknya, anaknya pasti akan menolongku.
"Benarkah Bibi?" Tanya Jasmine lagi yang merasa tidak yakin dengan ucapan ayahnya.
"Eh, ng.. Iya Tuan ini benar sayang, adik kecil apa yang kau lakukan jam segini? apakah kau tidak mau tidur? A.. aku ingin pulang, tapi aku tidak tau ini di mana, apa kau bisa memberitahu ku?"
Rey tak membiarkan Jasmine menjawab pertanyaan Maera, Ia pun langsung memotong pembicaraan Maera .
"Kau istirahat saja dulu di sini, di luar belum aman, kau akan di antar pulang besok."
"Ta.. Tapi..."
"Aku tidak suka di bantah Nona!"
Jasmine yang tidak suka dengan nada kasar ayahnya mulai memandang ke arah ayahnya..
"Ayah!! Bisakah ayah tidak berkata dengan nada tinggi?"
Dan seolah tau anaknya itu akan merajuk nanti nya, Rey pun mengalah.
"Nona, em maksudku begini, aku ini orang yang memiliki banyak pesaing, beberapa orang yang mengikuti kita tadi, bisa saja sudah mengenali wajahmu. Aku hanya tidak ingin kau celaka karena hal ini, jadi sebaiknya kau tunggu suasana agak tenang, apa kau mengerti?"
"Hah, Dia benar juga, bagaimana kalau mereka menculik ku dan membunuh ku, habislah aku.."
Di landa ketakutannya sendiri Maera pun malah membayangkan hal tragis di otaknya. Dan pada akhirnya ia merasa harus lebih memilih setuju dengan kata-kata Rey.
"Baiklah, aku setuju. Tapi bolehkah aku tidur dengan Nona kecil ini, em Jasmine maksudku?"
"Tidak.. Tidak.. Tidak.. aku tidak pernah membiarkan orang luar apalagi orang baru, masuk kedalam kamar putriku, apalagi tidur dengannya."
"Ayah, aku percaya pada bibi Maera, dia orang yang baik." Bujuk Jasmine pada Rey.
"Sayang, maafkan ayah.. Tapi kalau untuk satu ini, ayah tidak bisa mengabulkannya."
"Ayah jahat!!! Aku kesal pada ayah!"
Jasmine pun merajuk dan pergi dari kamar itu.
Rey pun berusaha untuk mengejarnya.
Tetapi tiba-tiba Rey terjatuh saat ingin mengejar Maera. Rey yang ternyata kena luka pisau saat tadi sempat bergulat, sudah tidak tahan lagi menyembunyikan rasa sakitnya.
"Akhhh" Teriak Rey sembari menahan luka nya itu.
"Tuan..."
Maera langsung spontan bangkit dari tempat tidur nya, dan menghampiri posisi Rey.
__ADS_1
"Ayah..." Jasmine tak kalah terkejutnya sama dengan Maera.
Dan Frans yang juga sedang menuju kesitu, pun ikut teriak melihat kakaknya jatuh. dengan luka darah tertempel di lantai.
"Kakak!!!... Apa kau terluka kak?"
"Aku tidak apa-apa, ini hanya luka kecil, kalian jangan Khawatir."
"Ya ampun, ini luka..."
Baru saja Maera ingin menjelaskan keadaan Rey, Rey langsung membungkam mulut Maera, sembari menggelengkan kepalanya kearah Maera.
Dan lagi-lagi Maera langsung mengerti apa yang di maksud. Rey tidak ingin Maera mendengarnya.
"Sebaiknya kita angkat Tuan ini ke atas rajang, aku akan membersihkan lukanya." Pinta Maera yang memberi inisiatif.
"Baiklah ayo kita angkat" Balas Frans sembari menarik tangan kakaknya.
mereka pun membantu Rey berdiri dan memapahnya ke ranjang.
Aku butuh kain bersih, air, dan wadah. Dimana aku bisa mengambilnya?
Biar aku saja yang mengambilnya.
Hm
Maera pun mengangguk pertanda setuju.
Jasmine yang dari tadi masih shock melihat keadaan ayahnya, sedikit demi sedikit mulai memberanikan diri mendekat pada ayahnya.
Ayah, apa ayah baik-baik saja?
Ayah tidak apa-apa sayang, ini hanya luka kecil, nanti juga sembuh, sebaiknya kau pergi tidur sayang, ini sudah larut malam. Bukanlah kita akan ke pantai besok?
Tapi bagaimana kita pergi, jika ayah terluka?
Maera yang sangat memahami situasi, berusaha mengambil alih pembicaraan, dia pun dengan sabar memberi penjelasan pada Jasmine agar mau mengerti.
Sayang, sebaiknya biarkan ayah mu istirahat dulu, jika dia tidak istirahat bagaimana dia akan sembuh besok, Hem? Bukankah gadis kecil seharusnya menurut dengan ayahnya, sayang?
Baiklah Bibi, aku akan menurut pada bibi, tolong jaga ayahku yah, bibi harus merawat ayah ku agar besok dia kembali sehat.
Baiklah sayang.
Janji!!
Jasmine sembari memaksa menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Maera
Ng... E iya janji.
Tak berapa lama Frans kembali dengan alat-alat yang di minta, ia pun langsung segera menyerahkannya pada Maera.
sementara Jasmine pun kembali ke kamarnya.
Kau membuat kesalahan dengan berjanji padanya Nona, dia akan menagih mu sampai benar-benar sesuai keinginannya.
Hah??
...*******...
Hai Para pembaca yang budiman... Mohon dukungannya untuk karya saya yah, semoga saja kalian suka.
__ADS_1
Jangan lupa untuk Like+Komentarnya biar aku makin semangat melanjutkan nya.. Terima kasih semua...