
Tidak terasa semua orang larut dalam tangisan tak terkecuali Rey yang sejak tadi sudah ada di pintu mendengarkan mereka bercerita.
"Lalu di mana ibu dan ayah ku sekarang bu apakah mereka masih bersama? Atau bahkan sudah memiliki anak lagi?" Tanya Maera yang belum mendengar penjelasan dari ibu yang sebenarnya adalah bibi nya itu.
"Setelah Alex menikahi Louise mereka sama sekali tidak pernah memberitahukan ku tentang tempat tinggal mereka atau tempat persembunyian mereka. Aku juga tidak tau di mana keberadaan Alex sekarang karena sejak malam itu, itulah saat terakhir kalinya kami bertemu."
"Jadi ibu ku dan ayah ku menikah sah, aku bukan putri yang terbuang kan?"
Si Maera yang sering menjadi korban Novel ini sempat berpikir bahwa ia berada dalam sebuah cerita menjadi anak yang terbuang karena tidak diharapkan oleh orang tuanya, hingga orang tuanya menyerahkan diri nya pada orang lain.
"Tentu saja sayang, kau putri yang terlahir dari pernikahan sah kedua orang tua mu. Ayah ku memang tidak menyetujui nya, tapi sepupu ku yang menjadi wali nya saat itu. Kenapa kau berpikir begitu Maera? Mana mungkin anak semanis dan sebaik diri mu itu tidak di harapkan." Grelda mengerti perasaan Maera yang sama sekali tidak pernah mengenali orang tua kandung nya
"Jika kau tidak mengetahui keberadaan Alex, lalu bagaimana dengan keadaan Louise?" Gorgh juga tak ketinggalan penasaran pada keberadaan mantan kekasih nya sekaligus sahabat nya yang seharusnya menjadi besan nya saat ini.
Grace tak lagi memiliki rasa cemburu saat Gorgh menanyakan itu, dia pun juga merindukan Louise sahabat nya.
"Louise... Louise sudah meninggal kan kita semua sehari setelah melahirkan Maera." Jawab Grelda dengan wajah tertunduk mengenang kakak kandung nya itu.
"Hhhh... Bahkan setelah mengetahui kebenaran nya aku juga tetap tidak bisa menyentuh nya" Tangis Maera semakin lirih saat mengetahui kenyataan ini.
Rey yang melihat Maera nya semakin sedih juga tidak dapat menahan diri nya lagi. Ia pun menghampiri Maera dan semua orang juga terkejut karena tidak menyadari kehadiran nya sejak tadi.
"Sayang, jangan bersedih... Masih ada aku yang menjagamu sampai akhir hayat" Ucap Rey sembari memeluk Maera dari belakang.
"Rey... Kau benar masih ada ayah dan ibu juga ibu Grelda yang selalu bersamamu." Ucap Gorgh mencoba memberikan semangat pada menantu kesayangan nya itu.
Maera hanya tersenyum ketir saat semua orang berusaha untuk membuat Maera kembali tersenyum.
__ADS_1
"Terima kasih karena kalian semua menerima ku dengan hangat, jika tidak ada kalian mungkin aku juga tidak tau berasa dalam situasi apa saat ini."
"kau dari mana saja Rey? Kenapa kau baru datang sekarang?" Tanya Gorgh pula pada Rey.
"Maaf ayah, aku tidak bisa menjelaskan nya sekarang, aku akan memberitahukan nya nanti saja." Jawab Rey dengan wajah yang sebenarnya agak khawatir.
Usai mereka terlibat dalam sesi panjang penuh pertanyaan dari Maera. Maera pun membawa Grelda kembali ke kamar rawat nya, karena dokter juga ingin memeriksa perkembangan keadaan Bryan. Rey yang tentu saja tidak ingin Maera terjatuh dengan cepat tanggal langsung mengambil alih untuk mendorong kursi roda adik dari ibu mertua nya itu.
"Maera, kebetulan kita ada di sini, sebaiknya kita sekalian bertemu dengan Felicia. Bukankah seharus nya sekarang adalah jadwal pemeriksaan kandungan mu? Apa kau lupa sayang, hem?"
"I... iya kak Rey, aku ingat maka dari itu aku meminta Kak Valent mengantarku ke sini. Aku ingin menjenguk ibu sekalian ingin memeriksa kandungan ku. Aku pikir kak Rey lupa, karena ku tidak pulang semalaman. Dan aku memang menebak cepat atau lambat kau akan meninggalkan ku, tapi aku tidak mengira akan secepat itu."
"A.. apa Maera melihat ku di kantor pengacara tadi? Astaga dia pasti sudah salah faham"
"Sayang apa yang kau katakan, hem? Siapa yang mengatakan aku akan meninggalkan mu?" Rey berkata sembari menaikkan dagu Maera yang menundukkan kepalanya untuk menutupi kesedihan nya itu.
"Aku lihat mobil mu terparkir di depan sebuah kantor pengacara saat membeli buhan tangan untuk ibu dan paman. Kak Valent bahkan berbohong padaku karena ingin menutupi keberadaan mu tadi kak"
"Maera, sayang, maafkan aku, aku tidak bisa menjelaskan padamu sekarang. Tapi aku janji aku akan menjelaskannya pada mu semuanya." Rey sembari memeluk Maera agar Maera tidak mengelak atau pergi karena marah.
"Ehemm... Permisi Tuan Rey.. Maera" Felicia merasa segan menegur mereka yang masih dalam keadaan berpelukan di depan pintu ruang praktek nya itu.
" Oh, Felicia, maaf kami sudah mengganggu pemandangan mu. Hari ini adalah jadwal Chek up kehamilan Maera, kau bisa memeriksanya sekarang!" Rey pun memanfaatkan kesempatan mengalihkan pemikiran Maera saat Felicia datang di waktu yang tepat.
"Aku sudah bersiap Tuan.. Ayo Maera... "
Mereka pun masuk ke ruang praktek Felicia.
__ADS_1
Setelah beberapa waktu memeriksa, Felicia terlihat sedikit cemas. Ia pun meminta Maera untuk kembali menggunakan pakaian nya di ruang ganti. Sementara ia Menghampiri Rey yang menunggu di dekat meja kerja.
"Ehm.. Tuan Rey... Apakah aku bisa membuat pemeriksaan lanjutan untuk Maera?"
"Memang nya ada apa dengan Maera? Apa terjadi sesuatu pada kandungan nya?" Rey langsung terlihat panik karena ucapan Felicia barusan.
"Begini Tuan Rey... Aku merasa ada yang sedikit mengganggu di rahim nya Maera. Tapi untuk memastikan nya aku harus melakukan pemeriksaan lanjutan dan secara mendetail."
"Apa bisa lebih kau perjelas Felicia? Aku tidak suka berteka teki!"
"Kemungkinan ini ada hubungan nya yang di akibatkan kejadian beberapa waktu lalu. Maera sempat mengeluarkan bercak darah saat dia di culik. Selebihnya nya aku juga tidak tau apa yang mereka lakukan saat itu."
"Apa kau juga tidak menyadari? Tubuh Maera pun semakin kurus dan berat kandungan nya tidak bertambah sebagai mana mestinya."
"Aku tidak ingin terjadi apapun pada Maera ku. Kau bisa melakukan apa yang perlu kau lakukan. Tapi jangan beritahu dia apapun, kau tau dia lemah kan?!."
"Baik Tuan Rey, aku mengerti, aku hanya membicarakan ini padamu saja."
"Kak Rey? Apa kau selingkuh lagi dengan Felicia?" Maera yang baru usai berganti pakaian tiba-tiba Merasa kesal karena berpikir Rey dan Felicia menyembunyikan sesuatu.
"Ya ampun, Maera? Hhhhh" Felicia hanya hanya bisa menepok jidat nya karena merasa kepolosan Maera sudah kambuh.
"Sayang, Maera... Aku mana mungkin berselingkuh, kau sudah salah faham sayang, aku hanya membahas masalah kandungan mu." Rey langsung mendekati Maera, untuk meyakinkannya. Tapi ia senyum-senyum sendiri, sebenarnya ia merasa senang melihat Maera cemburu karena ia berpikir bahwa artinya Maera sangatlah mencintai nya, seperti dia mencintai Maera.
...********...
...Assalamu'alaikum para readers kesayangan, mohon maaf kan Author yang telat update karena ada suatu kesibukan yang tidak bisa ditinggal kan sama sekali.... smoga kalian semua masih setia bersama author junior yang baru melangkah ini... selamat membaca kesayangan..... ...
__ADS_1