
Valent kembali menemui pria tua di rumah tua itu. Ia datang dengan mimik wajah penuh kebencian dan seakan dendam sudah bersarang lama di sana.
perlahan ia mendekati nya sembari memastikan apakah pria yang sedang duduk termenung itu apakah masih dapat mengenali dirinya atau tidak.
"Si.. si.. a.. apa i.. tu.. " Tanya pria itu dengan nada tertatih.
"Hhh" Dengus kasar Valent yang sudah menduga ini.
"Kau bahkan tidak bisa mengenali wajah seseorang yang kau campak kan di masa lalu mu!" Sambung Valent lagi, ia benar-benar sangat membenci pria itu sampai ia pun tidak berbicara dengan nada yang sopan lagi.
"Va... Valentino...Valentino... a.. anakku.. Kau kah itu?
"Jangan kau sebut aku anakmu!! Anak mu sudah lama mati sejak kau mencampakkan nya 25 tahun yang lalu!"
Teriak Valent pada pria itu hingga membuat pria itu tercengang sembari memegangi dada nya sendiri.
"Valentino...A.. aku sudah lama mencari mu anak ku. Maaf kan aku Valentino"
"Mencari?? Kau telah membuang ku, lalu aku harus percaya kalau kau pernah mencariku?? Katakan!!! Valent semakin terbakar emosi bahkan dia sampai mencengkram kedua bahu pria tua itu.
"Berpuluh tahun aku mencari siapa orang tua ku, bertahun-tahun saat kecil aku mengharapkan kedua orang tua ku datang menjemput ku, tapi apa??? Kalian bahkan memalsukan identitas ku hingga aku tidak bisa mencari kalian, itu yang kalian inginkan!!"
"Bu.. Bukan itu kebenarannya nak... Berikan aku kesempatan untuk menjelaskannya" Mohon pria itu pada Valent ia yang sudah mulai sakit-sakitan itu terjatuh dari tempat duduk nya akan tetap langsung berlutut di hadapan Valent sembari memohon.
"Tidak ada yang bisa kau jelaskan lagi! Kau adalah masa lalu ku, Sejak lama aku sudah menganggap mu Mati!"
__ADS_1
Valent tidak bisa menutupi kesedihan nya ia pun berpikir untuk pergi dulu, lalu kembali lagi nanti. Tapi kata-kata pria itu menghentikan langkah nya.
"Aku kesini hanya untuk memastikan detik-detik kematian mu, di sisa akhir hidup mu, bahkan abu pun tidak mau menyelamatkan mu!" Ucap Valent lalu bergegas melangkah pergi.
"Ibu mu yang paling menderita saat mengantarkan mu ke panti asuhan itu, demi keselamatan mu kami terpaksa mengantar mu ke sana karena kami sendiri pun tidak punya tempat tinggal lagi, setelah mereka membakar rumah itu.
Keluarga dari ibu mu terus memburu kami untuk melenyapkan mu. Kami tidak mau itu terjadi, tapi kami juga kesulitan jika harus membawa mu terus menerus dalam bahaya. kami jadi terpaksa mencari akal menyembunyikan mu di panti asuhan itu."
"Tapi kenapa kalian tidak pernah menjemput ku!!!"
"Kami kembali ke sana nak, tapi panti asuhan itu sudah habis terbakar dan kami tidak mendapatkan jejak apapun, kami bertanya pada orang sekitar di sana tapi mereka semua hanya diam. Kami berpikir kau juga tidak selamat saat itu. Setahun kemudian aku kembali lagi ke sana, dan ternyata ada seseorang yang pernah melihat mu melewati tempat itu lagi. Setiap tahun kami kembali ke sana mencari mu di setiap tanggal ulang tahun mu. kami hanya memiliki foto mu yang tersisa nak." Tangis pria itu pecah saat mengenang kejadian itu.
"Aku hidup di jalanan selama bertahun-tahun aku sebatang kara sampai seseorang menyelamat kan ku. Apa kau tau betapa menderitanya aku?? Aku tidak mengenal siapa orang tua ku! Yang tersisa padaku hanya selembar kertas dari orang yang menyebutnya sebagai ibu ku. Kau memalsukan semua identitas ku, untuk apa??"
"Siapa mereka?? Kenapa mereka ingin melenyapkan ku??"
"Karena kau anak ku... Mereka tidak merestui pernikahan ku dengan ibu mu, Bukan hanya kau, adik mu juga harus terpisah dengan kami, Ibu mu lah yang paling menderita karena semua ini" Pria itu sampai tersungkur mengingat kesakitan dan penderitaan yang dia dan istri nya alami.
Valent berusaha menerima apa yang pria yang juga ternyata adalah ayah nya itu ucapkan.
"Kau boleh membenci ku Valent, tapi jangan benci ibu mu. Dia sangat menderita sampai akhir hidup nya. Dia tidak bisa menikmati hari nya menjadi seorang ibu hatinya hancur berpisah dengan mu. Bahkan adik perempuan mu tidak pernah merasakan air susu nya, tidak merasakan bagaimana kehangatan pelukan ibu nya seperti kau merasakan dekapan ibu mu. Kau lebih beruntung dari pada adik mu."
"Apa maksudmu? Di mana adik dan ibu ku?"
"I... ibu mu sudah bahagia di sisi Tuhan, dia meninggalkan ku tidak lama setelah dia melahirkan adik mu, dan adik mu... aku tidak tau pada siapa dia menyembunyikan nya"
__ADS_1
Sehari setelah melahirkan anak perempuan mereka istri pria ini di datangi musuh nya, sementara pria ini masih berada di luar untuk mencari dana untuk membayar biaya rumah sakit. Tapi sayang nya saat ia kembali ia sudah tidak menemui istri dan bayi nya di sana. Ia melihat kondisi tempat persalinan itu sudah hancur, ia sempat menduga bahwa istrinya sudah di culik dan bayinya pasti di lenyap kan oleh musuh bebuyutan nya itu.
Pria ini berusaha mencari mereka sampai ia memberanikan diri mendatangi rumah keluarga istrinya yang sangat membencinya, ia bahkan hampir mati di tangan ayah mertua nya dan rival nya itu. Beruntung ia bisa melarikan diri dari sana meskipun dalam keadaan terluka parah.
Saat ia kembali ke rumah persembunyian mereka di gubuk di tengah hutan, ia mendapati istrinya sudah tiada, tapi ia tidak menemukan bayi nya. Istrinya hanya meninggalkan seberkas surat, pria itu pun memberikan surat itu pada Valent.
Ia juga menunjukkan foto adik nya yang sudah usang itu pada Valent.
"Ternyata aku memiliki adik... hhh"
"Aku tidak tau di mana adik mu berada, aku bahkan tidak tau dia masih hidup atau tidak, aku mencari kalian selama ini. Tapi aku tidak memiliki apapun yang tertinggal selain foto kalian ketika bayi."
"Adik ku.. Aku akan mencari nya, aku tidak akan membiarkan dia sendiri an, aku bersumpah akan mencari nya."
Mereka berdua pun akhirnya larut dalam pembahasan masa lalu. Sepertinya Valent belajar menerima semua penjelasan ayah nya dengan cepat. Valent memutuskan untuk sementara menempatkan ayah nya di sebuah rumah yang ia beli agar ayah nya bisa tinggal dengan layak sampai mereka bisa bersama-sama mencari adik nya.
Bagaimana pun ketika Valent melihat ayah nya maka ia seperti melihat diri nya sendiri di sana. Nalurinya kesulitan untuk membenci ayah nya...
...*******...
...Kasus Valent belum berakhir.... ...
...semoga Valent menemukan adik perempuan nya ya... ...
__ADS_1