BRANDAL MAFIA CINTA (Seri Novel)

BRANDAL MAFIA CINTA (Seri Novel)
BPC (Posesif Pada Calon Istri)


__ADS_3

Malam telah berlalu, Rey yang sudah sadar, tidak sabar untuk melihat kondisi Maera. Tentu saja dia pun marah sebab di sengaja di berikan obat penenang oleh perawat.


"Shitttt, siapa yang meminta kalian memberiku obat penenang? Bahkan aku sampai tertidur hingga siang ini."


Rey mulai mengomel pada orang-orang yang sedang menunggui nya di kamar rawat itu.


Sebelumnya, si kembar, Valent dan Frans sepakat untuk menyetujui dan meminta perawat untuk menyuntikkan penenang pada infus Rey.


Ini di sengaja di lakukan demi menjaga kesehatan Rey, mereka tak ingin Rey bergerak terlalu banyak dulu, yang mana itu menyebabkan luka Rey bisa semakin parah.


"Kak Rey, kau baru saja sadar, sebaiknya kau jangan marah dulu kak Rey, perhatikan kondisi mu saat ini." Ujar Martha berusaha menenangkan Rey.


"Apa ini ide kalian?"


Rey menatap kesal pada si kembar


"Kak Rey, jika kau tidak sembuh, bagaimana kita bisa menghadapi Josh Liu. Bersabar sedikit tidak akan rugi jika demi kebaikan mu kak."


"Ya sudahlah... maafkan aku, aku hanya kesal karena aku terlalu lama tertidur." Rey tak tega juga pada si kembar, sebab niat mereka sebenarnya memang lah baik.


"Tidak apa-apa kak kami mengerti."


"Rey tiba-tiba melepas selang infus di tangan nya, ia pun langsung turun dari ranjang nya dan tampak terburu-buru."


"Kak, kenapa kau melepas infus mu? Kau mau kemana?" Lerai Margareth yang terkejut melihat ulah Rey.


"Aku ingin melihat Maera, apakah sudah ada kabar dari Frans?"


"Dia sudah di pindahkan dari ruang operasi, sekarang dia sudah di masukkan ke ruang rawat di sebelah." Jawab Margareth dengan jelas.


"Tapi dia belum juga sadar kak, semalam dia hampir kehabisan banyak darah. Beruntung rumah sakit memiliki persediaan." Sambung Martha lagi melengkapi keterangan Martha.


"Shitttt, aku sampai ketinggalan banyak berita karena ulah kalian semua."


Rey pun kemudian pergi ke kamar Maera.


.....Cekrekkk.....


Rey langsung memasang wajah merasa bersalah melihat tubuh kecil Maera yang masih terbaring lemah itu.


Ia lalu duduk di samping ranjang sorong Maera.


Sementara Si kembar tetap menunggu di depan Pintu.


"Maafkan aku Maera, karena masalahku, kau sampai terkena imbas nya. Maafkan aku karena membawa mu malam itu. Jika saja tidak ada kau, mungkin saja Jasmine yang akan menjadi korban nya."


Rey tampak bingung sendiri, harus menyesal membawa Maera atau justru harus bersyukur karena Putrinya tidak menjadi korban kejadian ini. Tapi yang jelas, Josh Liu lah yang paling bersalah.


Rey pun kemudian memegang tangan Maera. Ia bahkan masih sempat membuat lelucon untuk menggoda Maera, meskipun sebenarnya itu untuk menutupi rasa khawatirnya sendiri.


"Maera... kenapa kau belum bangun juga?


Apa kau ingin aku menghukum mu, hem?"


Entah memang sudah saat nya atau kah karena Keajaiban terjadi, saat Rey mengucapkan senjata ancamannya pada Maera, Maera pun perlahan membuka matanya.


"Maera, kau sudah sadar?"


Si kembar yang mendengar suara teriakan Rey, langsung menghampiri Rey.


"Ada apa kak Rey?" Tanya Martha yang begitu khawatir pada Rey.


Maera, Ayo katakan sesuatu! Kau harus bicara.

__ADS_1


"Hmm.. Apa aku sudah di surga? Tapi kenapa aku masih bertemu dengan mu Tuan galak?"


Rey ingin kesal, tapi dia pun tidak kuasa menahan rasa bahagianya karena Maera siuman. Ia pun berusaha menahan kesabarannya. Yah tidak seperti biasanya.


"Kau baru saja sadar, apa kau ingin mengajakku berdebat sekarang, hem?"


"Heem Tuan, aku hanya bercanda. Kau jangan marah-marah terus Tuan, nanti kau cepat tua. Aku juga jadi takut melihatmu" Balas Maera yang suaranya masih parau dan masih berbicara dengan mode perlahan.


"Astaga, gadis ini dalam keadaan sakit pun masih sempat untuk mengolok ku."


Seolah Martha dan Margareth memahami suasana, langsung ber inisiatif ingin membiarkan Maera dan Rey di situ, mereka pun meminta izin untuk menunggu di luar.


"Kalau begitu kami tunggu di luar yah Kak Rey." Pamit Martha pada Rey.


Rey pun mengangguk setuju.


"Bagaimana perasaan mu sekarang?"


"Aku baik-baik saja Tuan. Tapi aku sempat bermimpi, kau mengancamku jika aku tidak membuka mataku. Hmm bahkan dalam mimpi ku pun kau tidak membiarkanku tenang Tuan."


"Yakk Maera... itu bukan mimpi! Itu nyata aku tadi memang mengancam mu! Dasar gadis payah."


Mereka mulai berdebat lagi, tapi sesungguhnya hati Rey mengatakan hal berbeda. Ia merasa sangat bersyukur Maera telah bangun.


Willman yang sejak semalam sibuk mondar mandir dari rumah Rey ke rumah sakit sekarang sudah datang lagi.


Tok... Tok... Tok...


"Hmm, masuklah"


"Apakah kau sudah merasa lebih baik Tuan? kenapa kau sudah berada sini?"


Bukannya menjawab pertanyaan Willman Rey malah langsung balik bertanya.


"Apa kau membawakan semua info yang ku minta?"


"Baiklah, minta Zade memberikan yang terbaik untuk nya."


"Aku mengerti Tuan, aku permisi dulu."


Willman pun langsung pergi menjalankan tugas nya.


"Maera, sebaiknya kau istirahat dulu, jangan membuat ibuku mengomel padaku jika kau nanti bertambah sakit, apa kau mengerti?"


"Hm Tapi, aku ingin mengabari sahabatku, Anetha. Dia bisa marah padaku jika aku tidak memberitahu nya."


"Kau tenang saja, kau bisa memberitahu nya nanti, lagipula jika kau beritahu keadaanmu sekarang, kau bisa membuatnya panik."


"Kau benar juga Tuan, Baiklah, aku akan memberitahu nya nanti saja."


"Good , kau akan lebih baik jika jadi gadis penurut."


Rey pun beranjak dari tempat tidur nya, sebelum nya ia membenahi selimut Maera yang agak turun.


Ia bermaksud ingin keluar dari ruangan itu. Tapi kemudian Maera menahannya dengan pertanyaan.


"Kau mau kemana Tuan?"


"Aku pergi sebentar, aku harus membereskan sesuatu, nanti aku kembali lagi kesini.'


"Tapi, bagaimana jika mereka kembali?"


Yang di maksud Maera adalah orang-orang yang berusaha mencelakai mereka.

__ADS_1


"Kau jangan khawatir, di luar banyak yang menjaga, rumah sakit ini juga milik ku, kau tenang saja."


"Hmm, baiklah kalau begitu"


Setelah meyakinkan Maera barulah Rey keluar dari ruangan itu.


"Di mana Frans dan Valentino? Aku tidak melihatnya sama sekali."


"Kami meminta Frans untuk pulang kak, dia terlalu lelah aku tidak tega padanya. Sedangkan kak Valent, kau tau sendiri Kak Aishe sednag hamil muda, dia juga membutuhkan kak Valent." Balas Margareth pada Rey.


"Kalian terlalu memanjakan Frans. Dan kalau Valent dia memang seharusnya bersama Aishe.. Tapi bagaimana mereka bisa tega membiarkan kalian berdua yang berjaga di sini?


Tiba-tiba seorang pria yang tidak di sangka oleh Rey menyahut dari belakang Martha.


"Siapa bilang berdua? Ada aku juga di sini."


"Lucas?? Kenapa kau bisa ada di sini?"


"Hem, semalam aku kebetulan sedang menjenguk klien ku, dan aku tidak sengaja melihat Maera dibawa keluar dari ruang operasi, jadi aku meminta untuk menemaninya sejak semalam." Lucas menjelaskan panjang kali lebar.


"Apa katamu?? Memang nya kau ada hubungan apa dengannya?"


"Wow santai Rey... kenapa kau jadi marah Rey? Apa ada masalah jika aku menjaga Maera?"


Rey sangat kesal, ia pun berbicara sedikit berbisik pada si kembar.


"Astaga..." Rey pun menyatukan alisnya dengan jarinya.


"Martha Magh, kenapa kalian bisa membiarkan orang ini masuk ke ruangan Maera?"


"Tapi kak, bukannya dia teman mu? dia juga orang baik kan, tidak mungkin dia melukai gadis itu."


"Apa kau lupa dia adalah sepupunya Clara?... kemarin Clara sudah membuat masalah dengan keluargaku, dan dia bahkan mengancam ku."


"Hah? benarkah? Maafkan kami kak Rey, kami benar-benar tidak tau kak."


Lucas yang mendengar mereka ber bisik-bisik menyadari bahwa ia tengah di gunjingkan oleh Rey dan si kembar.


"Hey, ayolah Rey... Aku mengenal Maera bahkan sejak dia masih anak kecil, lalu apa masalah mu Rey?"


"Tentu saja ini masalah kawan.. Kau pria dan dia wanita. Kalian tidak boleh berada di dalam satu ruangan hanya berdua saja.." Rey bicara dengan gaya ketus nya.


"Dan satu lagi, dia adalah calon istriku! apa kau mengerti?" Sambung Rey lagi.


"What?? Calon istri?? Bukankah kau dan Clara?"


"Baiklah kau dengarkan ini! Aku tidak pernah membuat komitmen apapun dengan Clara, dan selama ini aku sudah sangat bersabar menghadapi teriakan dari kakak mu itu. Dan sekarang gadis ini adalah calon istriku, kau jangan mendekatinya lagi, apa sudah jelas?"


Lucas pun terdiam kaku mendengar semua penjelasan Rey. Ia merasa harapannya sejak dulu sekarang semakin kandas.


"Martha Magh sebaiknya kalian waspada, aku harus menemui Zade sekarang. Ingat, jangan biarkan pria ini masuk!


"Ba.. Baiklah kak..." Jawab gugup Martha dan Magh.


Rey pun pergi menuju ke ruangan Zade. Dia tidak menghiraukan Lucas yang masih tak percaya pada kata-katanya.


"Apa kau berpikiran yang sama dengan ku?" Tanya Margareth dengan wajah bingung nya.


"Hmm, apa perasaan bersalah bisa membuat orang menjadi posesif? entahlah." Balas Martha yang mengerti apa maksud pertanyaan Margareth.


...*********...


...Assalamu'alaikum hai Readers kesayangan. Mohon maaf yah jika 2-3 hari ini Author telat update, mohon dimaklumi yah. Author akan berusaha terus untuk bisa update tiap hari....

__ADS_1


...untuk itu Author minta dukungannya yah untuk tetap support karya Author, biar Author jauh lebih semangat lagi....


...Selamat membaca kesayangan......


__ADS_2