BRANDAL MAFIA CINTA (Seri Novel)

BRANDAL MAFIA CINTA (Seri Novel)
BPC (Menyelidiki Seorang Wanita)


__ADS_3

Malam ini cuaca agak dingin karena turun hujan yang begitu deras nya. Tidak ada rembulan maupun bintang untuk dipandangi dari atas bumi ini.


Seperti sebelumnya Willman dan Margareth masih mencuri-curi untuk bertemu di paviliun mansion Rey.


Mereka pun menyempatkan untuk melepaskan kerinduan mereka untuk bercinta. Usai mereka melakukan kewajiban mereka sebagai suami istri itu Margareth malah mual-mual.


"Ada apa dengan mu sayang? Apa kau salah makan tadi?"


"Tidak tau Willman, sejak semalam aku memang merasa tidak enak badan, seperti nya aku masuk angin."


"Sebaiknya kau periksa ke dokter, kau bisa menemui Felicia. Lagipula dia sedang kesepian tidak ada Tom kan."


Margareth lalu tidur di pangkuan Willman yang sudah usai membersihkan diri kini sedang duduk santai di sofa.


"Willman apa kau tidak merasa kak Rey sedikit berbeda akhir-akhir ini?"


"Iya kau benar, aku juga merasa begitu. Sejujurnya aku agak merasa kasihan pada Nyonya Maera. Tapi aku juga takut mengatakan nya pada Tuan Rey. Apa kau tau, bahkan dia mencurigai ku seolah aku juga akan mengganggu nyonya Maera ckckck" Wilman bercerita sembari mengingat kejadian kemarin di kantor.


"Aku masih bisa mengerti kalau dia merasakan cemburu, tapi sikap arogannya itu benar-benar bukan ciri khas kak Rey."


"Atau mungkin saja dia menyembunyikan sesuatu dari kita?" Willman jadi menerka-nerka sendiri karena bingung.


"Bukankah jika ada sesuatu pun kau orang pertama yang akan diberitahu nya?" Margareth malah bertanya pada suami nya itu karena memang suasana kali ini terasa berbeda.


"Aku benar-benar tidak tau Margh. Tuan Rey belakangan ini sangat sensitif, aku sendiri kadang di anggap nya seperti musuh, huh."


"Hhh...Ya sudahlah... Kita hanya bisa menunggu dan melihat, apa yang selanjutnya akan di lakukan kak Rey."


Sementara itu di Mansion utama...


Maera yang masih kesal pada Rey masih saja terus cuek pada Rey. Rey sejak pulang dari kantor juga seharian hanya mengoceh terus. Dia seperti orang yang tengah galau memikirkan sesuatu. Tapi dia masih berusaha untuk membuat Maera agar tidak marah lagi.


"Sayang, apa yang sedang kau pikir kan, hem?" Tanya Rey pada Maera yang menyandarkan badan nya ke dipan tempat tidur nya itu.


"Kak Rey, aku besok ingin menjenguk ibu lagi."


"Baik sayang, tapi setelah aku pulang dari kantor."


"Kak, kenapa harus menunggu mu? Aku bisa pergi sendiri kak, lagipula sejak dulu aku selalu sendiri ke sana. Atau aku pergi bersama Anetha juga bisa kan?"


"Tunggu aku saja sayang, atau tidak sama sekali!"


"Ya ampun dia mulai lagi" Maera pun langsung tiduran karena merasa kesal bicara pada Rey.

__ADS_1


Tring.... Tring.... Tralallaaaa....


"Tuan Rey!! dia mengalami kecelakaan saat menuju kembali ke xxxx. Dia sudah di evakuasi ke rumah sakit terdekat.


"Apa kau sudah memastikan keadaan nya?"


"Sudah Tuan Rey, dia berada di mobil itu hanya sendiri, tidak ada siapapun bersama nya saat kecelakaan tadi."


"Baiklah, aku akan segera ke sana."


Rey menutup ponsel nya Ia langsung buru-buru mengambil jaket nya.


"Sayang, aku harus pergi mungkin akan lama, sebaiknya kau tidur dan istirahat, jangan menunggu ku!"


"Tapi ini sudah larut kak Rey, kau tidak pernah pergi seluruh ini"


"Kau juga tidak pernah Mengkhawatirkan ku, baru kali ini, hem?"


"Maaf jika kau tidak suka kak, tapi perasaan ku tidak baik"


"Kau jangan khawatir sayang, aku akan baik-baik saja."


Rey lalu mencium kening Maera lalu bergegas pergi.


Rey pun pergi mengemudikan mobil nya sendiri, ia bahkan menolak saat Bobby memaksa mengantarnya tadi.


Dengan kecepatan tinggi Rey tak butuh waktu lama untuk tiba di tempat yang ia tuju.


"Bagaimana keadaannya? Apa kah dia mengalami luka berat?" Tanya Rey mengintrogasi orang suruhan nya itu.


"Dia mengalami lukas serius di bagian kepalanya Tuan Rey."


"Apa kau sama sekali tidak menemukan petunjuk di tempat kecelakaan itu terjadi?"


"Aku menemukan ini tuan, ini semua berada di dalam tas wanita itu."


Rey lalu memeriksa sebuah ponsel dan tiket pesawat yang di berikan orang suruhannya itu.


"Seperti dugaan ku, dia memang mereka semua benar-benar ada hubungan nya dan saling berkaitan."


"Apa kita perlu membawa nya ke rumah sakit lain Tuan?"


"Kau bisa pergi sekarang, awasi dia dan jangan sampai ada yang mengetahui keberadaan nya. Jika perlu tambahkan penjagaan di sini, aku akan bicara pada pemilik rumah sakit ini, aku mengenal nya. Apa kau mengerti?!"

__ADS_1


"Baik tuan.. aku permisi dulu"


Rey kemudian pergi ke sebuah tempat yang terbilang sangat jauh dari kota tempat tinggal nya. Ia menuju ke sebuah rumah yang dulu sering ia kunjungi ketika Rema masih hidup.


"Ting Nung...Ting Nung...Tok... Tok...Tok..." Rey memencet bel tapi sembari terus menggedor pintu rumah itu.


"Siapa yang datang di jam seperti ini, huh" Omel seorang ibu yang sudah berumur paruh baya itu.


"Hhhh... Nak Rey?"


"Maaf aku mengganggu mu malam-malam begini Bu... Tapi aku hanya ingin memastikan satu hal padamu!"


"Duduklah nak, ada masalah apa yang ingin kau tanyakan? Ibu akan menjawab nya dengan jujur jika ibu tau."


"Ibu... Apakah yang kalian kubur itu benar-benar jasad Rema?" Tanya Rey dengan penuh selidik tapi dia masih berusaha bertanya dengan nada sopan.


"A... Apa maksudmu nak? Tentu saja itu jasad Rema."


Rey bertanya karena memang dia tidak ikut saat pengurusan dan proses pemakaman Rema.


"Aku menemukan seseorang yang sangat mirip dengan Rema, dia sedang terbaring di rumah sakit saat ini"


"Hhh... Itu tidak mungkin nak, Rema tidak memiliki kembaran, dan saat meskipun wajah nya sudah hancur saat meninggal tapi ibu bisa merasakan jika dia adalah Rema." Ibu tua itu sampai menutup mulut nya merasa tak percaya dengan apa yang Rey jelaskan.


"Ibu... Aku ingin meminta sampel untuk memastikan test Dna... Aku harap kau bisa bekerja sama dengan ku. Aku tidak ingin ini berlarut.


"Apa kau sudah menikah lagi nak Rey? Aku hanya mendengar berita nya, tapi ibu belum mendengar nya langsung dari mu."


"Itu benar bu, aku sudah menikah lagi dan istriku sekarang tengah mengandung. Aku tidak mau dia terganggu karena hal ini, untuk itulah aku harus memastikan nya"


Ibu dari mantan istrinya itu pun tidak bisa berkata apapun lagi untuk hubungan baru Rey, bagaimana pun Rey berhak melanjutkan hidupnya.


...*********...


...Terima kasih masih setia bersama karya kecil ini....


...Jangan bosan untuk memberikan dukungan untuk author pendatang baru ini yah......


MAAF TELAT UPDATE YAH GAESSS...


...Love love love banget buat kalian yang sudah bersedia mendukung Author......


...Selamat membaca kesayangan......

__ADS_1


__ADS_2