
Rey masih menikmati perannya, sementara Maera sudah semakin sesak nafas menahannya.
Akhirnya Rey pun menyadari nya, khawatir Maera bisa-bisa pingsan, ia pun melepaskan Maera.
"Tuan, kau ini sudah tidak waras ya! Bagaimana kalau aku kehabisan nafas, hah?"
"Maafkan aku Nona, anggap saja ini hukuman karena pacarmu membuatku kesal dan kau juga."
"Kau tidak punya perasaan."
Maera pun tak sengaja menangis entah karena malu atau terlalu kesal. Dia tidak pandai menginfestasikan nya melalui tindakan, jadi hanya bisa menangis. Dia pun pergi keluar kamar.
Walau dia tidak mengenali rumah itu, ia hanya terus saja berlari sampai tak sengaja menabrak Frans yang sedang berjalan ke arah berlawanan.
"Brakkkkk"
"Ma.. Maafkan aku, hikss"
"Nona.. kau, kau kenapa Nona?"
"Tanya saja pada kakak Tuan, dia sudah keterlaluan... hiksss"
Maera masih saja terus menangis seperti anak kecil, sementara Frans kebingungan.
"Perasaanku mereka tadi baik-baik saja, apa terjadi sesuatu?"
"Nona, tenang lah dulu, aku khawatir jika Jasmine mendengarmu menangis, apa kau tidak malu padanya, hem?"
"I.. Iya kau benar Tuan, maafkan aku, aku hanya terbawa perasaan."
"Hah? Terbawa perasaan bagaimana maksudnya?"
Frans pun menarik tubuh Maera membawanya kearah kursi, dia lalu mengajak Maera untuk duduk.
"Coba duduk lah dulu, tarik nafasmu dalam-dalam lalu keluarkan perlahan. Kau pasti akan lebih tenang."
"Ba.. Baiklah"
Maera pun mengikuti saran Frans, sampai akhirnya tangisnya sedikit mereda.
"Sekarang jelaskan padaku, aku tidak mengerti apa yang membuatmu menangis.?"
"Tapi.. Aku malu mengatakan nya Tuan.. hiksss"
"Kenapa kau harus malu? Aku tidak masalah, kita mungkin seumuran, anggap saja aku temanmu, oke!"
Maera pun berpikir Frans ada benarnya, toh dia adalah adiknya Rey.
"Dia... maksudku Tuan Itu, eh bukan maksudku kakak mu itu."
"Iya dia kenapa?" Desak Frans yang sudah tak sabaran mendengarkan penjelasan Maera.
"Dia... Dia telah mengambil ciuman pertama ku tadi, setelah itu dia melakukannya lagi barusan. hikssssss"
Tangis Maera semakin kencang setelah berhasil menjelaskan maksudnya.
"Benarkah? I.. Itu ciuman pertama mu? Dan dia tidak meminta izin dari mu sebelumnya?" Frans pun seolah melepaskan nafas kesal.
"Sial... Beruntung sekali kakakku, aku saja belum pernah menjadi ciuman pertama pada mantan-mantan ku.. Selama ini aku hanya dapat sisa... Mirisss sekali nasibku."
"Iya... Pacarku saja tidak pernah mencium ku, Tapi dia... Dia malah sudah menciumku dua kali."
"Lalu?" Frans bertanya tanpa menyadari apa yang di katakan Maera barusan.
"Katanya alasannya menghukum ku atas kesalahan pacarku tadi pagi padanya."
Tiba-tiba Frans menyadari sesuatu.
__ADS_1
"Tunggu...Apaaaaa... Kau sudah punya pacar?.. hiksss.."
"Apa aku juga harus ikut menangis sekarang?."
"Aku tidak tau harus apa.
Hmm..begini saja, kau sandarkan saja kepala mu di pundakku, kau boleh menangis sepuasmu, setelah itu kau bisa tenang dan lupakan saja itu."
Dengan polosnya Maera menurut saja apa yang di minta Frans.
Sementara Rey yang mencari keberadaan Maera, akhirnya berhasil menemukan Maera sedang bersama Frans.
Dia pun cepat-cepat menarik Maera untuk menjauh dari Frans.
"Tidak... Tidak.. itu tidak perlu..." Lerai Rey pada mereka berdua.
"Seenaknya saja kau mengambil kesempatan pada nya, dasar brandal kecil!"
"Maera sebaiknya kau kembali ke kamarmu! jangan membuatku marah, oke!"
"Kakak, kau apa-apaan kak? Padahal kakak yang memaksanya tadi sampai membuat nya menangis, huh!!"
"Apakah dia menceritakan semuanya pada Frans? Astaga habislah aku."
"Sebaiknya kau anak kecil diam saja, kau tidak mengerti urusan dewasa."
"Yakk.. Aku bahkan sudah mengencani banyak wanita kak!"
"Cih, hanya wanita bodoh yang pernah mau berkencan dengan mu, kau pikir aku tidak tau, hah?"
"Lagipula Maera juga masih seumuran dengan ku kak, tidak sepantas nya kau memperlakukan nya seperti itu."
"Frans!!!"
"Ya sudahlah... Maera yang manis, sebaiknya kau kembali ke kamarmu saja, Jika nanti Tuan galak ini mengganggu mu lagi, kau panggil saja aku, aku akan mengadukannya pada ibuku.. oke.."
"Franssss!!!" Omel Rey ke dua kali nya menyebut nama adiknya itu.
Sementara Maera masih menangis dan tidak menggubris mereka berdua.
"Kau ini kenapa Nona? Tadi waktu pertama aku melakukan nya kau hanya diam saja. Tapi ini kedua kali nya kenapa kau malah menangis, hem?"
"Tadi waktu pertama, aku kan masih shock, aku juga bingung antara takut dan kesal, tentu saja aku tidak berani, karena aku pikir kau ingin membunuhku jika aku melawan"
"Hahh?? Membunuhmu? Dasar payah, aku bukan seorang pembunuh nona. Lalu kenapa kau menangis sekarang?"
"Tentu saja aku menangis. Kau mengambil Ciuman pertamaku bahkan ciuman kedua ku...dan itu semua tanpa meminta izin padaku" Jawab Maera dengan polos.
"Gadis aneh..Jika aku meminta izin memangnya kau akan memberikannya? Shittt...pertanyaan ku jadi ikut bodoh karena mu" Gumam Rey seakan merasa tak berdosa.
"Lalu bagaimana Dave nanti menerimaku lagi? hiksss.. Dia pasti marah dan akan meninggalkanku"
"Oh.. Jadi benar, itu Firts Kiss mu. Seperti yang kuduga."
Rey pun hanya ter senyum-senyum sendiri mendengar celotehan Maera. Entah lah tapi entah kenapa Rey merasa senang mendengarnya.
"Apa kau masih mempertahankan lelaki sepertinya, hah? Laki-laki tidak berguna sepertinya untuk apa kau perdulikan, Dia saja tidak memikirkan mu sama sekali"
"Aku sudah berpacaran dengannya Dua tahun. dia sudah memegang tanganku, rambutku, mana mungkin aku memutuskannya, dia juga mengancamku jika aku pergi dari nya dia akan menyakiti ibuku."
"Kurang ajar sekali dia, menjerat perempuan polos dengan ancaman menjijikkan.. cih"
"Kau jangan takut, aku akan melindungi ibu mu, memangnya ibu mu di mana?"
"Ibu ku di Rumah Sakit, dia sudah koma selama tiga tahun dan belum sadar juga"
"Hah? Bahkan Dave mu itu mengancam orang yang sedang terbaring koma? astaga."
__ADS_1
"Tapi aku harus bagaimana mengatakannya pada Dave? Bagaimana nanti jika dia tau aku sudah di cium oleh mu.. hiksss"
"Astaga Maera.. Bahkan jika kau sudah ku cium puluhan kali pun dia tidak akan tau, lagi pula untuk apa kau memberitahukan nya pada semua orang?." Rey pun merapatkan alisnya dengan dua jarinya..
"Tidak.. Tidak.. Kau tidak usah lagi berhubungan dengannya. dan tidak akan bisa lagi"
"Maksud Tuan? Kenapa Tuan jadi punya hak melarangku?"
"Sudah kau dengar kan saja, dia tidak pantas untuk mu.. Dan mengenai ibumu aku yang akan melindungi nya."
"Benarkah? kau tidak akan mengingkari janji kan Tuan?" Maera melirik seolah menuntut jawaban pada Rey.
"Seorang Rey tidak pernah mengingkari Janjinya, mengerti!"
"Oh Jadi kau seorang Rey, aku pikir kau juga manusia."
"Astaga Maera.... Kau ini pintar atau bodoh, hah? Aku bingung melihatmu."
"Iya iya, kalau yang ini aku hanya bercanda. Aku juga kan lelah menangis terus."
"Hah?? Astaga, dia bisa berubah dalam sekian detik untuk mengekspresikan hidupnya"
"Terserah padamu saja Maera, aku bisa cepat mati berdiri jika terus melayani mu berbicara terus."
Maera hanya terdiam mendengar omelan Rey.
Melihat Maera hanya bengong Rey pun tak membiarkan Maera hanya diam saja.
"Maera, apa kau akan membiarkan ku terus berdiri di sini kesakitan?"
"Lalu aku harus apa Tuan?"
"Maera....!!! Hhhhh... Bantu aku untuk kembali ke kamar ku.'' Kesal Rey sambil menggeram sendiri.
Maera pun agak khawatir kali ini, khawatir akan di ambil lagi bibirnya oleh Rey.
"Ta.. Pi"
Seolah Rey mengerti, dia pun langsung menjelaskan pada Maera.
"Kau tenang saja, aku sudah kehabisan tenaga berdebat dengamu, aku tidak akan menghukum mu lagi."
"Hhh.. Syukurlah.."
"Ya sudah mari aku bantu."
Maera pun meletakkan tangan Rey di lehernya sebagai penopang, dan dia memapah Rey untuk ke kamarnya.
"Kamarnya di mana Tuan?"
"Di atas, naik dengan perlahan saja!''
" Hah? Astaga, aku bisa kurus kalau naik tangga sambil memapah mu Tuan"
"Kau ini, terlalu banyak protes dari tadi. Jangan sampai aku menghukum mu lagi! Apa kau mau?"
"Yakkk" Teriak Maera
"heyyyy"
Tanpa sengaja reflek Maera melepaskan pegangannya pada Rey. Namun sesaat lagi ia kembali memegangnya karena Rey hampir terjatuh.
"Astaga Maera... Rasanya aku ingin cepat-cepat sampai kamar dan tidur dan tidak berbicara dengan mu lagi. huhhhhh"
*****
...*****...
__ADS_1
Hai Para pembaca yang budiman... Mohon dukungannya untuk karya saya yah, smoga saja kalian suka.
Jangan lupa untuk Like+Komentarnya biar aku makin semangat melanjutkan nya.. Terima kasih semua...