
Mereka pun akhirnya sampai di rumah sakit.
Para perawat sudah bersiap menyambut mereka dengan ranjang sorong rumah sakit itu.
Begitu juga Dokter Zade yang sudah di telepon oleh Frans.
Ia sudah langsung bersiap dengan kedatangan mereka.
"Zade, tolong kau lakukan yang terbaik. Apapun yang kau butuhkan aku akan siap" Rey memohon pada Zade tanpa memperdulikab harga dirinya yang biasanya agak gengsi meminta tolong itu.
"Kau tenang saja Tuan, aku akan berusaha semaksimal mungkin. Sebaiknya bantu aku dengan do'a." Jawab Zade dengan tenang, agar Rey merasa lebih tenang juga.
Zade pun langsung masuk ke ruang emergency itu. Sementara Rey, dia sempat memaksa masuk, namun perawat melarangnya.
"Sebaik nya kau menunggu di luar Tuan, ini sudah prosedurnya. Demi keamanan pasien juga." Ucap salah seorang perawat yang bertugas.
"Baiklah, tolong lakukan yang terbaik."
Suster pun menutup pintunya.
Sementara Dokter Zade melakukan operasi kecil untuk pengangkatan sisa peluru dari dada bagian atas maera, Rey pun terlihat gelisah mondar mandir di depan pintu emergency itu.
Frans yang mengerti kegelisahan kakaknya pun berusaha meminta Rey untuk tenang.
"Kakak... Sebaiknya kau duduk dulu kak. Kakak tenang saja, aku yakin dia akan baik-baik saja kak."
"Bagaimana kau bisa tenang Frans? Jika dia tidak mempertaruhkan nyawanya, mungkin saja kau, aku atau Jasmine yang akan terluka."
"Aku mengerti kak. Tapi tidak ada gunanya juga kita marah-marah sekarang. Yang terpenting kita menunggu dia sadar dulu. Baru kakak bisa berbuat yang lain."
"Aku berharap dia tidak mendapat luka yang berbahaya." Ucap Rey yang berharap dengan kesungguhan hatinya.
Sementara itu Valent sejak tadi sudah sibuk menghubungi semua anggota mereka, setelah itu ia pun kembali pada Rey dan Frans.
"Rey, aku sudah menghubungi yang lain. Aku sudah meminta puluhan penjaga untuk menambah pengawalan di rumah mu, dan sebagian lagi aku meminta mereka kirim kesini."
"Terima kasih Valent. Bobby belum menghubungi ku, apa kau sudah mendapatkan kabar dari nya."
"Mereka sudah berhasil mendapatkan pelaku nya kak. Bobby mengabari ku, karena ia khawatir mengganggu mu." Frans membantu Valent untuk menjawab pertanyaan Rey.
"Baik, aku ingin melihat pelakunya. Valent kau hubungi si Kembar, Vicky, dan Tom, minta mereka ke Mansion sekarang." Titah Rey pada Valent.
"Dan kau Frans, kau berjaga lah di sini bersama Valent. Beberapa penjaga tetap tinggal di sini bersama mu. Dan nanti akan ada penambahan seperti yang Valent katakan." Sambung Rey lagi memberikan perintah pada Frans.
"Baik Rey" Balas Valent.
"Baik kak kau jangan khawatir" Frans pun menjawab yang sama.
"Tetap Fokus Frans, aku tidak ingin kau dan Maera terkena masalah lagi."
Rey lalu kembali ke rumah nya.
Rey mengemudikan mobil nya sampai ke rumah kosong yang ada di kebun belakang Mansion nya. letak nya tidak jauh dari lapangan tempat mereka bermain tadi.
Ia lalu membantingkan pintu mobil nya. dan sudah tidak sabar menemui pelaku tersebut.
Bobby dan enam orang penjaga lainnya pun, sudah bersiap di sana.
"Dimana dia?" Tanya Rey pada Bobby.
"Dia ada di ruang bawah Tuan"
Rey pun turun ke lantai bawah, dan mendapati pria tersebut.
__ADS_1
Tanpa berbasa-basi Rey pun langsung mengintrigasi pelaku penembakan Maera tersebut.
"Katakan padaku, siapa yang mengirim mu?"
Pria tersebut belum mau menjawab.
Salah seorang pengawal Rey pun memberikan cambukan pada pria itu. Sejak tadi mereka sudah mencambuk nya namun sepertinya pria ini belum menyerah.
"Akhhh.. Ampuni aku Tuan, aku hanya menjalankan perintah."
"KATAKAN PADAKU, SIAPA YANG MENGIRIM MU!!!" Teriak Rey dengan penuh emosi, Rey mulai membuncah akibat terlalu lama menunggu jawabannya.
Rey pun sudah semakin murka, merasa sudah habis kesabaran, Rey langsung menodongkan sebuah pistol ke kepala pria itu.
"Katakan atau aku tidak akan bertoleransi lagi!"
"Ba..ba.. ik Tuan.. Aku akan bicara, tolong jangan bunuh aku. Aku masih memilki keluarga" Pria itu akhirnya mengemis meminta pengampunan.
"Kau terlalu banyak menunda waktu ku kawan, aku tidak akan bersabar lagi."
'Yang mengirim ku adalah Tuan Duke.." Jawab Pria itu kali ini dengan cepat.
"Duke??" Beo Rey pada pria itu.
"Bukankah Duke Fulke adalah ketua dari Kanate? Aku bahkan tidak pernah berurusan atau bermasalah dengan nya."
"Sebelumnya, Tuan Josh Liu menemui Tuan Duke. Lalu tiba-tiba Tuan Duke mengirim ku ke sini. Hanya itu yang aku tau Tuan, selebihnya aku tidak mengerti apa-apa."
"Cih... Josh Liu si pecundang itu"
"I.. Iya Tuan... Mereka memang baru saja bertemu tapi mereka sudah memiliki kesepakatan"
"Lalu siapa yang di targetkan?"
"Pu.. Putrimu Tuan."
Setelah mendengar penjelasan pelaku Rey pun keluar dari ruangan itu. Dugaan nya ternyata benar, Josh Liu lah dalang semua ini.
"Bobby, biarkan dia tetap hidup. Kita akan membutuhkan nya nanti."
"Baik Tuan"
"Aku akan kembali ke rumah sakit, kau pastikan Radius 10KM dari rumah ini sudah sterill. Penjaga sudah dikirim dari GreenLink, dan dari BlueLink."
"Aku mengerti Tuan"
Rey lalu kembali ke mobilnya dan bergegas ke rumah sakit.
Sementara di rumah Rey. Grace dan Jasmine tidak kunjung tenang, Gorgh sampai kewalahan mengurus mereka berdua.
Sedangkan Aishe, dia pun panik, jika dulu ia tidak se panik ini, kali ini berbeda, karena ia tengah mengandung anak pertamanya.
"Apakah sudah ada kabar dari mereka?" Tanya Grace pada suaminya Gorgh.
"Dokter masih berusaha menanganinya sayang."
Jasmine juga sangat ketakutan, ia sangat berharap Maera akan kembali. Ia pun tidak berhenti mengkhawatirkan Maera sejak tadi.
"Kakek, apa Ibu Maera ku akan baik-baik saja?"
"Iya sayang, tentu saja dia akan baik-baik saja. Dia wanita yang kuat, sebaiknya kau berdo'a saja sayang."
"Dia sudah berkorban demi menyelamatkan anak dan cucu kita. Entah terbuat dari apa hati gadis itu." Ucap Grace lagi dengan nada sedih.
"Hem... Dia memang gadis yang tidak biasa sayang. Rey akan beruntung jika mendapatkan nya."
"Aku mengutuk pelaku nya! Bahkan jika Rey mengizinkan, aku sendiri yang akan menghukumnya." Umpat Grace kali ini matanya memancarkan aura kemarahan.
__ADS_1
"Sayang, serahkan saja semua ini pada RedLink EC. Mereka pasti sudah mengetahui nya sekarang." Bujuk Gorgh mencoba menenangkan Grace.
Grogh yang memahami istrinya tidak ingin istrinya bertindak jauh sebelum ada kepastian dari RedLink EC. Ia pun berusaha untuk menjelaskan pada Grace.
Grace, Gorgh, dan Jasmine sibuk memikirkan nasib Maera, Tapi berbeda dengan Melisa... Dia justru senang dengan kejadian ini. Tidak punya perasaan.
Kembali ke Rumah Sakit....
Rey sudah sampai di rumah sakit.
Dan ternyata Si kembar pun sudah tiba di sana sejak tadi. Mereka langsung bergegas saat di hubungi oleh Valent..
"Kak Rey, apa kau baik-baik saja?" Tanya Margareth yang melihat Rey datang dengan wajah yang pucat.
"Astaga, perut mu mengeluarkan darah lagi kak Rey. Sebaiknya kau di obati dulu." Teriak Martha saat melihat begitu banyak darah di kemeja Rey.
"Ini tidak masalah, aku bisa mengobatinya nanti setelah Maera sadar."
"Tapi itu bisa membahayakan mu kak." Ucap Martha lagi pada Rey.
Valent yang juga menyaksikan keadaan Rey, tak ingin keadaan sahabatnya itu semakin memburuk. Ia pun juga turut mengomeli Rey.
"Rey, sebaiknya kau jangan keras kepala, luka mu bisa infeksi."
"Aku tidak apa-apa, luka ini tidak sebanding dengan luka yang di alami gadis itu.Ini salahku, aku membuatnya terbawa dalam masalah kita." Balas Rey dengan rasa penyesalan di wajah nya.
Margareth sangat penasaran dengan kejadian ini. Ia pun mencari tau pada Rey.
"Apa kau sudah tau pelakunya kak?"
"BlackLink... Kedepannya kita akan perang lagi dengan mereka, mereka sudah mengirimkan signal perang dengan kita."
"Hhhh...Sudah kuduga" Margareth menarik nafas nya mendengar nama itu.
"Apa kalian tau siapa targetnya?" Rey malah memberikan pertanyaan yang ia sendiri sudah tau jawabannya.
"Tentu saja kau Rey. Mereka tidak mengenal Maera bukan?" Jawab Valent yang merasa benar pada tebakannya.
"Tidak Valent... Target mereka adalah putriku.
apa kalian bisa bayangkan? Seorang anak kecil yang tak berdosa menjadi sasaran mereka. Dan sekarang Maera yang menjadi korbannya."
"Shittttt, akan ku buat perhitungan pada Bajingann itu." Umpat Valent dengan sejuta kekesalannya.
"Kau jangan gegabah kak... Biar kita selesaikan dulu masalah gadis ini dan kesehatan kak Rey." Ucap Martha yang tak ingin Valent atau yang lainnya terbakar emosi.
"Aku setuju dengan Martha. Sebaiknya kita merencanakan dengan matang untuk tindakan selanjutnya." Sambung Margareth ikut membenarkan Martha.
Tiba-tiba Rey berteriak kesakitan.
"Akhh"
"Kak Rey" Refleks Martha dan Margareth berteriak melihat kondisi Rey.
Rey mengalami pendarahan sejak tadi, akhirnya pun terjatuh.
Dengan sigap para perawat yang ada di sana membawa nya ke dalam ruang UGD untuk di lakukan perawatan pada lukanya.
Si kembar menunggu di depan pintu UGD sementara Frans dan Vallen tetap berada di depan ruang NICU.
...*********...
.... Assalamu'alaikum hai Readers kesayangan. Mohon maaf yah jika 2-3 hari ini Author telat update, mohon dimaklumi yah. Author akan berusaha terus untuk bisa update tiap hari....
...untuk itu Author minta dukungannya yah untuk tetap support karya Author, biar Author jauh lebih semangat lagi....
...Selamat membaca kesayangan......
__ADS_1