
Di hari yang sama Valent berpamitan pada Aishe untuk pergi bertemu seseorang.
Ia pun pergi menemui pria orang suruhan nya itu di sebuah rumah kosong.
"Bagaimana? Apakah ada perkembangan dari pria itu?"
"Aku mendapatkan nya di Kota xxx di sebuah rumah tua. Ia sekarang hidup sendirian dengan kondisi yang sudah tidak layak."
"Cih.. Dia pantas mendapatkan itu! Itu hukuman karena membuangku dan membuat ku jauh dari keluarga ku sendiri. Dia sampai rela membuang identitas nya hanya demi bersembunyi dari masa lalu nya. Sampai ia pun membuat aku kehilangan identitas ku sebenarnya"
"Apa kami harus membuat langkah berikutnya tuan, Orang-orang kita masih berjaga di sekitar rumah itu?"
"Tidak! Aku sendiri yang akan datang padanya. Jangan lakukan apapun sebelum aku memberikan perintah."
"Baik tuan, jika begitu aku akan meminta anak buah kita untuk mundur sedikit lebih jauh dari posisi saat ini."
"Baik pergilah, aku akan menghubungi mu jika di perlukan nanti. Dan pastikan jangan sampai dia menyadari situasi ini, aku tidak mau kehilangan jejak pria itu lagi!"
"Baik Tuan.. "
Pria itu pun pergi setelah berpamitan dengan Valent.
Sementara Valent ia yang belum mengetahui keadaan Maera, awal nya ia menelepon Rey untuk mengabari hal ini. Tapi ternyata Rey lebih dulu memberikan kabar buruk.
"Rey, aku ingin memberitahu mu sesuatu. Bisa kita bertemu di tempat biasa?"
"Maafkan aku Valent, Maera sedang kritis sekarang. Aku dan yang lainnya berada di rumah sakit menunggu nya."
"Hhh.. Kenapa kau tidak memberitahuku, jiahhh? Aku akan segera ke sana sekarang!"
Valent langsung mematikan ponsel nya dan langsung bergegas menuju ke rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit... Ia langsung berlarian menuju ruang ICU. Rumah sakit itu adalah milik Rey, tentu saja Valent tau betul tiap sudut rumah sakit itum
__ADS_1
"Rey.. Bagaimana keadaan Maera sekarang?" Tanya Valent sesaat ia tiba di depan pintu ruang ICU itu.
Rey dan Grace sejak tadinya mondar mandir di depan pintu ICU menunggu kabar tindakan dokter pada Maera.
Rey langsung memeluk Valent. Ia merasa ia harus membagi duka nya ini, sahabat nya Valent memang selalu menjadi tempat Rey menumpang kan kepalanya di kala sedih.
"Apa yang terjadi Rey? Kenapa tidak ada seorang pun yang tau?" Tanya Valent yang semakin panik melihat mimik wajah Rey dan Grace.
Rey dan Grace masih terdiam hingga beberapa saat.
"Maera menderita... Kami harus kehilangan bayi kami..." Jawab Rey dengan nada lirih.
"Hhh... Astaga.. Apa yang terjadi pada adik ku.." Valent tak sengaja mengucapkan itu seketika dirinya pun menjadi lemah tersungkur pada dinding.
"Mengapa ini harus terjadi pada Maera dan aku? Di saat kebahagiaan ku sudah datang, tapi duka juga datang secara bersamaan." eluh Rey yang kini duduk di lantai sembari bersandar pada dinding rumah sakit itu.
"Rey, apa tidak ada cara lain menyelamatkan janin nya, apa kalian tidak bisa mencari dokter terbaik di negara ini?"
Felicia pun keluar dari ruang ICU...
"Felicia!! Bagaimana dengan Maera? Apa dia sudah melewati masa krisis nya?" Tanya Rey yang langsung bangkit dari tempat nya saat melihat Felicia keluar.
"Kita harus bersyukur melakukan tindakan di saat yang tepat. Maera sudah melewati masa krisis nya. Sekarang kita hanya perlu menunggu dia sadar, kemungkinan dia akan sadar 6 sampai 7 jam ke depan." Ucap Felicia menjelaskan nya panjang lebar.
"Apakah rahim nya baik-baik saja?" Tanya Rey lagi, Rey masih sangat benar-benar berharap bahwa Maera akan tetap bisa hamil dan punya anak lagi.
"Beruntung rahim nya cepat di tangani dengan baik Tuan Rey. Kau jangan khawatir. Rahim Maera masih aman, namun itu akan butuh waktu lama untuk dia bisa kembali mengandung, setidaknya paling sedikit enam bulan kedepan nya"
Rey tetap menghembus nafas lega nya, mendengar penjelasan Felicia. Felicia pun pamit intuk mengurus keperluan Maera lain nya.
"Bersabar lah Rey, semua ini akan kita lewati bersama-sama sayang." Ucap Grace mencoba memberikan semangat pada putranya itu.
"Ibu, bagaimana cara ku menjelaskan pada Maera nanti? Apa Maera akan kuat menerima semua ini?"
__ADS_1
"Jika kau kuat aku yakin Maera akan kuat Rey. Tapi jika kau saja lemah bagaimana kau akan bisa memberikan kekuatan pada nya, hem?"
"Kau benar bu, aku dan Maera masih bisa memiliki anak lagi. Kami hanya perlu bersabar sampai saat itu tiba nanti. Aku harap ini juga membuat Maera tetap bertahan."
Rey dan Grace masih setia menunggu di depan ruang penanganan itu. Sampai waktunya Maera bisa di pindahkan ke ruang rawat. Sementara Namiira dan Jasmine baru bisa menyusul ke rumah sakit setelah Frans dan Martha kembali dari kota XXX.
Frans dan Martha kembali secepat mungkin karena mendengar kabar ini.
Margareth yang kondisi nya sedang lemah tidak bisa ikut, ia pun harus tetap tinggal di mansion Emerald bersama Aishe yang masih shock mendengar kabar Maera.
"Ayah... Apa ibu Maera akan baik-baik saja?"
"Iya sayang, ibu mu akan baik-baik saja, kau jangan khawatir, hem" Balas Rey sembari memeluk Jasmine putrinya.
Ia lalu mendekati Frans dan yang lainnya.
"Aku minta kalian jangan memberitahu dulu pada Jasmine. Aku tidak mau dia juga bersedih karena dia juga sangat mengharapkan kehamilan Maera. Dia sudah cukup besar untuk bisa merasa kehilangan." Titah Rey pada mereka semua, dengan nada sedikit berbisik.
Mereka semua pun setuju dan menurut pada perintah Rey.
"Tapi kenapa kakak ipar kecil belum sadar juga kak Rey, Sebenarnya kakak ipar kecil sakit apa?" Tanya Martha yang masih bertanya-tanya dalam hati, kenapa sampai Maera mengalami semua ini.
"Mungkin dia masih dalam pengaruh obat bius dokter, dia terpaksa harus di bius total saat pengangkatan janin nya."
"Ya ampun, aku tidak bisa bayangkan apa yang terjadi nanti saat kakak ipar sadar dan mengetahui semua ini." Sambung Frans yang tentu saja ikut bersedih atas semua yang di alami kakak dan kakak iparnya itu.
"Untuk itu aku membutuhkan bantuan kalian, kalian harus membantu agar Maera menemukan semangat nya kembali nanti."
"Kau jangan khawatir kak, kami semua pasti akan bersamamu membantu kak Maera pulih." Sahut Namiira juga yang sejak tadi ikut mengobrol dengan mereka.
...********...
TERIMA KASIH SELAMAT MEMBACA
__ADS_1