
Maera masih saja berdiri di tempat nya, sementara Rey kembali ke meja nya.
"Jadi kakak memanggilku hanya untuk menghukum ku?...Kenapa kakak sangat tidak sopan?..."
Tanya polos dari Maera yang sebenarnya merasa kesal dengan ulah Rey yang lagi-lagi tanpa izinnya langsung saja merampas bibirnya.
Tanpa menghiraukan kekesalan Maera, Rey malah hanya fokus pada niatannya.
"Tunggu sebentar..."
Rey pun mengambil sesuatu dari laci meja nya lalu menyerahkan nya pada Maera.
"Ambillah ini!"
"Ini apa kak? untuk siapa?"
"Tentu saja untukmu, bukalah! "
"Tapi aku kan sedang tidak berulang tahun, kenapa kau memberiku kado?"
"Kenapa kau begitu cerewet sekali nona? Apa kau ingin aku menghukummu lagi, hem?"
"I.. iYa tidak aku tidak akan bertanya lagi.. Kau terus saja mengancam ku." Gugup Maera yang langsung down ketika mendengar ancaman Rey.
"Good, sekarang kau buka kado nya"
Maera pun membuka kado itu dengan perlahan. Namun ia begitu terkejut, dan sempat berpikir kalau Rey salah memberikan hadiah padanya.
"Apa kau tidak salah Kak Rey? Ini apa benar untuk ku? Tapi untuk apa aku menggunakan ini?"
"Bukankah sebentar lagi kau akan menikah denganku, hem? Apa aku akan membiarkan orang lain menganggap aku tidak mampu menghias istriku?"
"Ta... Tapi aku kan belum menyetujui untuk menikah dengan mu kak."
Tiba-tiba Maera pun menangis, dia merasa sangat khawatir membayangkan apa yang terjadi kedepannya.
"Tapi nanti dia akan membunuhh ibuku jika aku bersama pria lain kak, hiksss..."
"Tidak akan ada yang berani lagi menyentuh orang di sekelilingku apalagi keluargaku, dan Ibu mu kelak menjadi ibuku juga, berarti dia adalah keluargaku. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi."
"Aku juga bukan orang yang sederajat dengan mu kak, aku cuma orang desa, pendidikan ku pas-pasan, aku juga tidak cantik. Aku juga..."
"Blupp"
Rey tiba-tiba kembali menye...sap bibir Maera... kali ini hanya sebentar saja.
Rey juga khawatir jika ia kembali terbawa suasana. Ia pun langsung melepaskannya sesaat setelah menyesap nya sepersekian detik.
"Aku kan belum selesai menjelaskan, kenapa kau menghukumku lagi? Kau ini memang rakus."..
__ADS_1
"Tapi aku harus membahas ini kak! Apa kau akan menikahi ku tanpa izin ku? Itu namanya pelanggaran hak asasi."
"Jadi kau mau aku tidak bertanggung jawab telah mengambil kesucian bibirmu itu, hem?"
"Iya, kak Rey benar juga, bagaimana jika tidak ada lagi yang akan mau menerima ku dan menikahi ku nanti.. Aku kan tidak mau gadis sampai tua sendirian. Tapi aku juga belum siap untuk menikah sekarang." Maera berdebat sendiri dalam hatinya...
"Tapi aku belum putus dari Dave kak."
"Kau sudah putus dengannya sejak kau berurusan dengan ku dan ketika kau sudah ku bawa ke rumah ini, mengerti?"
Rey mengatakannya sembari merapat kan wajahnya pada wajah Maera. Maera yang masih menempel pada dinding itu pun hanya mendongak mendengar penjelasan Rey.
Maera yang takut akan kembali di hukum, akhirnya hanya memberanikan diri mengangguk saja.
"Hmm.. I..Iya kak Rey"
Di tengah perdebatan itu tiba-tiba Namiira pun datang menghampiri mereka berdua tanpa permisi.. Dan Namiira hanya tersenyum malu melihat posisi Rey dan Maera saat ini.
"Kak Rey" Panggil Namiira sembari membuka pintu ruang kerja Rey.
Sontak Rey dan Maera terkejut, Rey pun langsung melepaskan Maera dan langsung bergeser kesamping.
"Ehmm... Maafkan aku tidak mengetuk pintu dulu kak." Canggung Namiira merasa tak enak hati.
"Tidak apa-apa Miira.. masuklah! Ada apa sayang? Apa kau membutuhkan sesuatu?"
"Tidak kak, ada seseorang mencari kakak di depan."
"Seorang pria kak, katanya sih teman kak Rey. Bibi Maliika mengatakan dia pernah ke sini sebelumnya."
"Hem, baiklah aku akan menemui nya, kau temani Maera saja ya."
"Hem, baik kak."
Rey pun pergi menemui seseorang yang di maksud oleh Namiira.
Sementara Namiira dan Maera keluar dari ruang itu, lalu Namiira mengajak Maera pergi ke dekat kolam berenang.
"Lucas!! Ada perlu apa kau kesini?"..
"Rey, apakah Maera ada di sini?"
"Oh astaga, orang ini bahkan tidak berhenti mengejar Maera sampai ke sini." Kesal Rey dalam hatinya.
"Memangnya ada apa kau mencarinya?"
"Tentu saja aku mengkhawatirkan nya. Anetha terus menghubungi ku meminta untuk membawa Maera pulang."
"Shitt... Kau ke sini hanya untuk menanyakan itu, hah?"
"Rey... Sejujurnya aku sudah mencintai Maera sejak lama."
"Kalau begitu maaf kau harus mengubur dalam-dalam rasa cinta mu kepada calon istriku."
__ADS_1
"Apa kau serius Rey? Aku tidak ingin kau mempermainkan Maera, Rey.."
"Apa aku pernah bermain dengan ucapanku?"
"Aku tidak percaya ini, dalam waktu singkat kau tiba-tiba ingin menikahi seorang gadis yang baru saja kau kenal."
"Apa aku harus menjelaskan tentang percintaan ku pada mu Lucas? Tampaknya kau terlalu banyak menganggur belakangan ini, hingga kau sibuk mengurus urusan orang lain."
"Apa kau mencintai nya Rey?"
"Tentu saja aku mencintai nya" Rey agak sedikit gugup menjawabnya.. Ia sendiri pun sebenarnya masih bingung tentang perasaan nya sendiri.
"Hhh, Benarkah? Lalu apa dia menyetujui nya? Aku yakin dia pasti terpaksa menikah denganmu. Kepolosannya itu bisa saja kau manfaatkan."
"Jika aku mempermainkannya, aku pasti sudah berbuat diluar batas dengannya. Sepertinya kau belum juga mengenali bagaimana aku."
"Rey, jika kau memang benar-benar mencintai nya dan dia pun setuju menikah denganmu, aku bisa saja menahan diriku, tapi jika kau melukai hatinya sedikit saja, maka aku akan mengambilnya dari mu!"
"Itu tidak akan terjadi. Aku tidak akan menyia-nyiakan orang yang kucintai. Kau tenang saja, kau tidak akan memiliki kesempatan sedikitpun untuk mendekati nya lagi."
"Baiklah Rey, aku pegang ucapan mu. Jika kau ingin menikah segeralah, jangan sampai aku berubah pikiran untuk merebutnya dari tanganmu."
Lucas pun bergegas pergi setelah mengucapkan semua yang ia ingin utarakan.
Sementara Rey, ia sedikit khawatir jika Lucas tetap saja mengejar Maera.
Bagaimana pun, bisa saja Maera lebih mendengar kata-kata Lucas ketimbang dirinya, karena Lucas lebih dulu mengenal Maera.
Sementara itu Namiira sibuk bercerita dengan Maera di pinggiran kolam berenang Istana Rey, mereka sembari menemani Jasmine yang sejak tadi merengek ingin berenang dengan balon-balon yang memenuhi kolam berenang itu.
Namiira seumuran dengan Maera, tapi karena Maera akan menikah dengan Rey, maka Namiira pun memanggilnya dengan sebutan kakak.
"Kak Maera... apakah kau mencintai kak Rey?"
"Hmm... Aku tidak tau Namiira"
"Apa kau belum punya kekasih sebelumnya?"
"Ada.. Namanya Dave tapi sampai sekarang dia bahkan tidak mencariku, tidak bertanya tentang kabarku, atau bahkan mungkin tidak memikirkan ku."
"Benarkah? Apa kau mencintainya?"
"Aku tidak tau sebenarnya apa aku mencintainya atau tidak."
"Memangnya kenapa kau bisa pacaran dengannya jika kau tidak mencintainya?"
...*********...
...Assalamu'alaikum hai Readers kesayangan. Mohon maaf yah jika 2-3 hari ini Author telat update, mohon dimaklumi yah. Author akan berusaha terus untuk bisa update tiap hari....
...untuk itu Author minta dukungannya yah untuk tetap support karya Author, biar Author jauh lebih semangat lagi....
...Selamat membaca kesayangan......
__ADS_1