BRANDAL MAFIA CINTA (Seri Novel)

BRANDAL MAFIA CINTA (Seri Novel)
BPC (Hampir Saja Melukainya)


__ADS_3

Kembali ke pesta ulang Tahun Jasmine.


Mereka pun telah usai mendekor, menyiapkan makanan, dan membuat rangkaian acara kecil-kecilan itu untuk Jasmine.



Terpampang dekorasi sederhana dengan jejeran cake dan kado-kado di setiap tempat.


"Nenek, kakek di mana kado ku?" Tanya Jasmine berharap penuh untuk kado nya.


Seperti biasa, sebelum meminta kado pada yang lainnya, Jasmine pasti selalu meminta kado pada nenek dan kakeknya terlebih dahulu , barulah kemudian ia meminta pada ayah nya.


"Oh sayang, tentu saja nenek dan kakek sudah Mempersiapkan kado terbaik untuk mu"


Gorgh pun memberikan kado nya pada Jasmine... Gorgh membelikan sebuah Ipad keluaran terbaru untuk cucunya itu.



Sementara Grace, dia sudah menjanjikan bonek Unicorn terbaru sesuai permintaan Jasmine.



"Wahh... Terima kasih kakek nenek... aku menyayangi kalian.."


"Sama-sama sayang" Jawab Grace dan Gorgh hampir berbarengan.


"Ayah, aku sudah pasti bisa menebak hadiah mu jadi aku sekarang minta izin ingin melihat hadiah dari ibu Maera saja, boleh kan?...


"Oh ya ampun, apa posisi ayah sekarang tergeser sayang?"


Maera pun jadi tak enak hati mendengar kata-kata sungutan dari Rey. Meskipun sebenarnya itu hanya candaan Rey saja.


"Ehm.. sayang, sebaiknya kau membuka kado dari ayah mu dulu, baru kemudian kado dari ku. Sepertinya kurang baik melangkahi kado dari ayahmu sayang." Pinta Maera dengan lembut pada Jasmine.


"Tidak masalah Maera, aku hanya bercanda, kau jangan ambil hati."


"Aku bosan dengan kado ayah, bu, ayah hanya selalu saja membelikan ku kado perhiasan, apakah gadis kecil sepertiku harus menggunakan perhiasan?"


"Kau bisa memakai nya nanti sayang, sebentar lagi kau akan remaja dan kau akan membutuhkannya." Rey menjelaskan alasannya.


"Ya sudah ya sudah... Biarkan saja dia memilih apa yang mau dia buka duluan. Dia hanya anak kecil sayang." Lerai Grace lagi agar tidak berlanjut perdebatan itu.


Maera pun menyerahkan kado nya pada Jasmine. Tadi pagi ia terburu-buru membelinya secara online. Sebab keluarga Emerald belum mengizinkannya untuk keluar karena situasi belum aman.



"Wah ibu Maera.... ini indah sekali... Ibu Maera memang tau apa yang aku suka."


"Maaf ya sayang, aku hanya mampu membelikan itu, aku menyukainya sejak kecil, jadi aku pikir kau juga akan suka."


"Aku sangat menyukainya.... Terima kasih ibu Maera..."


Mendengar kata-kata Maera, Grace lagi-lagi seolah langsung mengerti kesedihan yang di alami Maera sejak kecil.


"Kau jangan berkata seperti itu sayang. Harga bukanlah suatu jaminan bisa membuat orang lain bahagia."


Maera pun hanya tersenyum ketir pada Grace. Sepertinya ia menyembunyikan kesedihan tapi juga kebahagiaan di sana.


"Ibu Maera menyukainya sejak kecil, apakah ibu Maera memiliki koleksinya?"


"Ehm... Sejujurnya ini pertama kali aku membelinya sayang."


"Apa ibu tidak pernah memiliki nya?"

__ADS_1


Maera pun menggelengkan kepalanya.


"Tidak apa-apa sayang sekarang kau bisa meminta apa saja yang belum pernah kau miliki di masa kecilmu." Hibur Grace pada Maera.


"Tidak bu, sekarang aku sudah tidak membutuhkannya lagi."


Saat mereka tengah sibuk membahas kado dan yang lainnya. Rey tiba-tiba teringat akan sesuatu. Rey pun meminta izin pada ibunya untuk pergi sebentar.


"Ibu aku ke ruang kerja ku sebentar. ada beberapa urusan yang harus ku kerjakan."


"Baiklah, kau jangan berlama-lama nak, ini hari ulang tahun putrimu."


"Baiklah bu"


Willman dan Bobby pun mengikuti Rey dari belakang seketika Rey memberikan kode ajakan untuk pergi.


"Apa ada informasi baru?"


"Tuan, aku sudah mengurus Tuan Tan dan Nyonya Ma.."


"Bagus, jangan berikan ampun pada mereka. Mereka tidak pantas diberi maaf."


"Untuk Keadaan Nyonya... Dia belum juga sadar, itu karena dia harus mendapatkan cangkok tulang sumsum yang cocok, sementara pendonor yang tepat saat ini hanyalah keluarganya. Dan tidak ada satupun keluarganya kecuali..."


"Jangan teruskan!... Aku tidak mau dia menjadi pendonor nya, dia akan tersiksa seumur hidupnya dan dia tidak akan bertahan hidup lebih lama jika menjadi pendonor nya. Buat sayembara, akan diberikan hadiah yang pantas jika ada yang bersedia mendonorkan tulang sumsum nya"


"Baiklah Tuan Rey."


"Satu lagi, tolong kau carikan koleksi kotak musik sebanyak mungkin, dan jika kau mendapatkannya bawa ke ruang penyimpanan."


"Baik Tuan Rey"


"Dan Bobby, apa kau sudah menyiapkan yang aku minta tadi malam?"


"Sudah Tuan, Tuan hanya tinggal datang saja bersama Nona... ehm maksudku Nyonya. Segalanya sudah di persiapkan dengan baik."


"Akhh.. Aku sampai lupa, Bobby kau jemput saja dia setelah kami pulang dari tempat makan malam itu. Selebihnya biar aku yang urus."


"Baik Tuan, aku mengerti."


Bobby pun pergi untuk melaksanakan tugas yang diperintahkan Rey.


"Willman, kau tau tugasmu selanjutnya nya kan?"


"Siap Tuan, aku permisi dulu."


Willman pun ikut menyusul pergi menjalankan tugas nya sendiri.


Sementara Rey, dia masih tinggal untuk memeriksa laporan yang sudah di kirim kan Willman padanya tadi pagi.


"Shitttt... Manusia tidak berperasaan. Tega-teganya mereka melakukan ini pada Maera."


Sementara di luar sudah ada seseorang yang datang mengetuk pintu ruangan kerja Rey.


Rey pun menutup layar laptopnya dengan cepat, seolah tak ingin orang lain mengetahui apa yang sedang ia kerjakan.


Ia pun sembari berjalan ke arah pintu itu.


"Masuklah!"


"Tuan... Ehm maaf maksudku Kak Rey..."


Maera merubah panggilannya, karena tadi malam Grace, Jasmine dan Rey sudah menekan kan padanya untuk tidak lagi memanggilnya dengan sebutan Tuan. Dan lagi-lagi Maera hanya menurut saja.

__ADS_1


"Apa kau mencariku? Kak Willman mengatakan padaku..."


Belum usai Maera menyelesaikan kata-katanya Rey langsung mendorong pinggang Maera ke dinding berwarna hitam itu. kini jarak mereka hanyalah beberapa sentimeter saja.


Rey perlahan menarik pinggang Maera agar lebih rapat terkunci dalam kungkungannya.


Tatapan itu bagaikan arus mata elang yang siap menerkam kapan saja.


Tanpa berbasa-basi Rey langsung menautkan bibir nya pada bibir Maera..


Maera pun merasakan Seakan sengatan listrik berjalan cepat di seluruh tubuhnya saat ini.



Jantung nya serasa berpacu lebih kencang seakan sedang mengikuti balapan lari marathon.


Maera hanya bisa berusaha mendorong Rey dari hadapannya, tapi sayang itu tidak berhasil. Tubuh nya yang kecil tidaklah berarti apa-apa untuk menyingkirkan tu buh sebesar Rey.


Seperti sebelumnya, Maera tak tau bagaimana cara membalas ci uman itu hingga dia hanya bisa menggumam menahan nafasnya yang hampir habis.


"mmmm..." Gimam Maera yang tak bisa berkata apa-apa itu.


Rey tak memperdulikan nya namun malah ia menarik kepala Maera untuk lbh maju lagi, seakan tidak puas dengan posisi sebelumnya. Rey pun memainkan jarinya di telinga Maera, dan Maera hanya bisa memejamkan mata nya dan menjerit dalam hati..


"Astaga, perasaan apa ini...tolong aku"


Rey mulai memainkan li.. dah nya di dalam sana. ia menyapu lembut dengan sempurna setiap sisi bagian bibir Maera...


Tangan kekar Rey pun mulai menjalar pada bagian bawah leher gadis itu..


Namun seketika ia menghentikan nya manakala dia teringat akan sesuatu...


"Shittt, astaga aku hampir saja melukai nya"



"hhhhh"


Maera pun melepaskan nafas lega nya sejak tadi ia menahan nya karena tidak ahli dalam mengatur nafasnya saat di kerjai oleh Rey.


"Kau.. kau jahat!!... " salahku? kenapa kau menghukum ku lagi?" Maera mengeluarkan air matanya, tapi ia langsung menghapusnya dengan cepat.


Maera pun kesal, ia mulai mengomel kesal sambil berkata dengan nafas yang masih tersengal seperti orang yang baru berjalan jauh.


Sedangkan Rey, yang dia sendiri bingung, berusaha mencari jawaban secepat kilat dalam otaknya.


"Ehm... Kau.. Kau bersalah karena Jasmine lebih memilih kado dari mu dari pada kado dari ku.'


"Tapi itu kan salah mu, bukan salah ku jika Jasmine lebih memilih kado ku."


Rey pun meletakkan jarinya pada bibir Maera.


"Sebaiknya kau jangan protes, atau aku akan menghukummu lagi, hem..."


Rey pun sekilas menahan senyum nya. Sebenarnya dia sendiri merasa sangat lucu karena ia sekarang sudah bertingkah seperti anak remaja di usianya yang sudah sangat matang.


**** Mengnasib Menggantung ****


Maafin Authorr yakk udah kasih Spot yang menggantung tadi...🤣


...*********...


...Assalamu'alaikum hai Readers kesayangan. Mohon maaf yah jika 2-3 hari ini Author telat update, mohon dimaklumi yah. Author akan berusaha terus untuk bisa update tiap hari....

__ADS_1


...untuk itu Author minta dukungannya yah untuk tetap support karya Author, biar Author jauh lebih semangat lagi....


...Selamat membaca kesayangan......


__ADS_2