
malam ini rembulan menyinari dengan sempurna hingga menerangi penuh pada wajah Maera. Maera duduk di balkon kamar nya memandangi ke arah langit seolah membayangkan jauh ke depan tanpa arah.
Ia sebenarnya menunggu Rey... Ia teringat akan kata-kaya Grelda tadi siang.
"Maera, sampai kapan kau terus seperti ini? Ibu tau kau lah yang paling terluka karena kehilangan bayi mu, tapi bukan hanya dirimu yang terluka. Rey adalah ayah dari janin mu dia juga terluka sama seperti mu, Putri mu Jasmine juga kehilangan kasih sayang mu, ayah dan ibu mertua mu juga sedih, aku juga sedih karena gagal menimang cucu, adik ipar mu juga sedih, Anetha dan Jerry juga terluka melihat mu seperti ini, semua bersedih! Tapi mereka lebih bertambah sedih karena melihat keadaanmu" itulah kata-kata Grelda tadi siang, yang sampai sekarang terngiang di telinga Maera.
"Ibu benar.. Aku sudah terlalu egois memikirkan perasaan ku sendiri. Aku harus mengembalikan keadaan ceria seperti dulu." Bisik hati Maera pada diri nya sendiri.
Rey pun baru pulang hampir tengah malam, ia singgah di bar milik nya dan Valent untuk menghabiskan sedikit waktu nya. ini sudah beberapa kali ia lakukan untuk mengusir kejenuhan hatinya meskipun sebenarnya ia membenci alkohol. Ia merasa jenuh jika saat ia pulang yang ia temui hanyalah seorang Maera yang hanya diam murung dan seolah tak menggapnya ada di situ.
Rey agak sedikit heran saat ia memasuki kamar tidak melihat Maera di tempat tidur nya seperti biasa.
"Di mana dia? Di luar tidak ada, tapi kenapa di kamar juga tidak ada?"
Rey mulai agak panik, meskipun dia terpengaruh sedikit minuman amer tapi dia masih sadar sepenuh nya.
"Maera... Maera...!" Rey berteriak memanggil istrinya itu sembari memandangi ke sekeliling kamar, lalu mencari ke kamar mandi, walk closet dan ia pun melihat pintu arah balkon terbuka lalu mencarinya ke sana.
Ia akhirnya menemukan Maera dan langsung memeluknya.
"Sayang... kau baik-baik saja? Aku pikir kau pergi, maafkan aku pulang terlalu lama dan membuat mu menunggu" Ucap Rey secara bertubi-tubi karena merasa bersalah.
"Aku baik-baik saja kak Rey... Kak Rey maafkan aku, aku sudah membuat mu menderita menemani dan merawat ku" Maera pun membalas Rey sembari menitikkan air mata.
Seolah tidak percaya Maera sudah mau bicara, Rey langsung memegang ke dua pipi Maera dengan kedua tangan nya.
"Sayang, kau sudah mau bicara... Kau... Kau sudah kembali menjadi Maera ku istriku yang dulu." Tangis haru Rey membalas isak Maera.
Mereka pun kembali berpelukan, ternyata kata-kata Grelda mampu menyadarkan Maera akan keterpurukan nya beberapa bulan ini.
Rey lalu membawa Maera untuk masuk ke dalam sembari merangkul nya.
"Kau bisa sakit jika terlalu lama kena angin di luar sayang" Ucap Rey pada Maera. Maera pun semakin merasa bersalah melihat perhatian Rey yang begitu dalam pada nya.
__ADS_1
"Kak.. Apa kau meminum alkohol?"
"A... a.. aku... " Rey gugup merasa tidak enak pada Maera. Ia khawatir Maera akan berpikir lain.
"Maaf kan aku kak, kau seperti ini karena ku. Harus nya kita saling menguatkan bukan aku egois seperti ini." Lagi-lagi Maera mengucapkan permintaan maaf nya pada Rey.
"Sayang, aku tidak melakukan apapun, aku pergi bersama Valent, aku hanya ingin membuang rasa kesepian dan kejenuhan ku saja. Tapi kau sudah kembali, aku berjanji tidak akan melakukan hal yang tidak kau sukai"
Maera pun tersenyum melihat perlakuan Rey yang seolah semakin mencintai Maera lebih dalam lagi.
"Aku sudah membuat mu kesepian dan jenuh, aku lah yang harus bertanggung jawab untuk itu"
"Sayang... "
Belum usai Rey meneruskan kalimat nya Maera pun menahan bibir Rey dengan jari telunjuk nya.
"Aku ingin menebus nya kak, aku ingin melakukan apa yang seharusnya nya istri lakukan pada suami nya, aku ingin lakukan apa yang seharus nya aku lakukan untuk mu."
"Sayang, apa ini benar-benar kau?" Rey menelisik jauh ke dalam mata Maera seolah mencurigai nya dan mengintrogasi nya.
"Apa kau tidak bisa merasakan siapa Maera mu kak Rey?"
"Yang aku ingat Maera ku wanita yang pemalu dan dia sangat kesal jika aku ajak mencangkok, ckckck" Balas Rey menggoda Maera...
Mereka pun untuk pertama kalinya kembali memadu cinta setelah sekian lama membeku dalam lautan es yang kini perlahan mulai mencair.
Tak tanggung-tanggung mereka pun sampai melakukan nya berulang kali.
Di tengah permainan saat jeda mereka bercerita layak nya seorang pasangan suami istri yang melepas rindu.
Maera yang sekarang lebih terbuka dan lebih berani dari sebelum nya.
Tak terasa hampir sampai pagi mereka terus membuka mata.
__ADS_1
Rey pun sampai lupa memikirkan, apakah Maera sudah boleh hamil lagi atau tidak hingga dia terus saja menyemai benih nya di dalam sana.
...*******...
Di saat yang sama di paviliun Margareth dan Willman yang juga masih terjaga malah sibuk mondar mandir. Mereka pusing memikirkan bagaimana untuk membicarakan soal kehamilan Margareth saat ini, sementara Rey dan Maera masih suasana duka dan belum lama kehilangan janin nya.
"Apa sebaiknya kita berterus terang saja pada kak Rey dan kakak ipar kecil?" Tanya Margareth penuh keraguan pada Willman suaminya itu.
"Apa kau siap kehilangan suami mu saat anak kita lahir nanti, hah?" Kesal Willman membalas pertanyaan Margareth.
Mereka sejak tadi malam terus mencari ide cara menyampaikan kebenaran ini. bagaimana pun kehamilan tidak bisa di sembunyikan. Sementara penghuni Emerald saja belum ada yang tau bahwa mereka sudah menikah.
Di sisi lain nya ada juga Aishe dan Valent yang bingung mengambil langkah, karena mas melahirkan Aishe semakin dekat. Mereka juga khawatir ini akan membuat Maera dan Rey terluka, mereka tidak ingin nampak bersenang-senang sementara Rey dan Maera masih suasana sedih. Tapi di sisi lain mereka sendiri tidak mungkin bersedih saat calon anak mereka di lahirkan.
"Sebaiknya aku pulang ke rumah ibu ku saja Valent" Pinta Aishe yang merasa keputusan ini adalah keputusan terbaik.
"Tapi aku tidak mungkin meninggalkan Rey dan Maera saat ini Aishe"
"Tidak masalah jika kau ingin tetap di sini sayang, aku sudah memikirkan hal itu"
"Apa kau sudah tidak waras? Apa aku tidak akan menemani dan melihat mu saat melahirkan anak ku ke dunia ini, hah?" Valent pun meninggikan suaranya karena merasa kesal sambil memijat kening nya yang tidak sakit itu.
Mereka berdua tidak berhenti berdebat sampai matahari benar-benar turun menyinari bumi.
...*******...
Tengah malam ku...
ditengah kesibukan ku...
ku tulis cerita ini untuk kalian semua reader kesayangan....
love you all
__ADS_1