
Anetha terkejut setengah mati saat Rey, menggedor pintu rumah nya dengan barbar seperti orang yang lagi kesurupan.
Dan Jerry yang hampir terbuai oleh rasa kantuk nya, ia tiba-tiba saja tersentak lalu ikut berlari keluar melihat apa yang terjadi.
Anetha langsung berlari ke depan untuk memeriksa nya. Tanpa berbasa-basi Rey langsung melontarkan pertanyaan yang ia siapkan.
"Anetha, Kau harus jujur pada ku! Apa Dave pernah menyentuh nya?"
"A.. Apa maksud Tuan? Aku tidak mengerti."
Rey mencengkram tangan Anetha. Ia sudah tak dapat menahan bendungan amarahnya itu.
Mata yang sudah mengeluarkan guratan merah itu bahkan terlihat seperti ingin menelan Anetha saat itu juga.
"Katakan padaku Anetha! Siapa yang sudah menyentuh Maera??"
Jerry yang sempat menyusul Anetha masih menahan langkahnya, seperti nya ia tau siapa yang datang.
Jerry mencoba menyimak apa yang Rey inginkan dari Anetha.
"Tuan, dia hanya berhubungan dekat dengan Dave. Tapi aku tau persis Dave tidak melakukan lebih dari sekedar memegang tangan Maera."
"Apa kau yakin? Kau tidak sedang menutupi sesuatu dari ku Anetha?"
"Aku selalu mengikuti mereka meskipun itu kadang diam-diam tanpa sepengetahuan mereka.
Aku tidak akan pernah membiarkan Maera ku di rusak oleh Dave."
"Lalu kenapa dia sudah hamil??"
Anetha pun membulatkan matanya, Ia merasa bagai tersambar petir mendengar ucapan Rey.
Tapi ia yang begitu sangat mengenali Maera tentu saja tidak akan percaya sama sekali.
"Apa kau bercanda Tuan?"
"Apa aku terlihat bercanda Anetha??"
Rey pun membanting kan pukulannya pada dinding rumah Anetha.
"Ta..tapi itu tidak mungkin Tuan Rey. Aku selalu memantau Maera kemanapun dia pergi, kecuali sejak di rumah mu."
"Maera bahkan punya rasa trauma yang besar melihat pria bertelanjang dada di hadapannya. Lalu, jika dia di paksa pasti dia juga akan trauma dan tidak akan bisa mengangkat wajahnya. Aku mengenal Maera bahkan sejak ia masih kecil."
"Shittttt... Kenapa ini harus terjadi padaku?" Ratap Rey dengan sedih nya.
"Tu..Tuan... Apa aku boleh bertanya sesuatu?"
Rey menoleh seakan ia pun menunggu pertanyaan dari Anetha.
"Berapa bulan kehamilan nya?"
"Zade bilang janin nya masih obrs dan belum berbentuk. Artinya itu masih 2-3 minggu."
"Maaf? ... Bukankah selama itu dia bersama mu terus?? Apa kau tidak bisa berpikir dengan jernih Tuan? Atau jangan-jangan kau yang tak sadar menghamili nya??"
"Anetha!! Kau!!"
Tiba-tiba Jerry pun datang dan langsung menghadiahi bogem mentah nya pada Rey.
"Bajingan kau, kau apakan Sevgilimku?? Kau pikir dia gadis apa, hah??"
__ADS_1
Di sisi lain Di Mansion Rey.
Maera, Grace dan Valent tiba di sana. Maera langsung mengurung diri di kamar pengantin nya itu.
Ia pun menangis sesenggukan di sana.
"Kenapa?? Apa salah ku kak Rey? Kenapa kau begitu kasar padaku, di hari pertama aku menikah.."
Isak tangis Maera begitu lama hingga membasahi bantal nya.
Sementara Grace, ia masuk ke kamar kerja Rey bersama Valent, dan juga suami tercinta nya.
"Aku harus menyelidiki ini!" Ucap Grace sembari terus memegangi pangkal hidung nya sendiri.
"Apa kau tau sesuatu sayang?" Balas Gorgh yang sejak tadi ikut pusing memikirkan keadaan Rey.
"Aku sempat melihat Melisa berhenti sebelum menuju kamar Maera, dan ia sempat gugup saat aku memergoki nya. Tapi aku tidak melihat dia memegang sesuatu yang mencurigakan."
"Bukankah Melisa ikut dengan keluarga ini sudah cukup lama bibi?" Sahut Valent yang sedikit ragu dengan tebakan ibu nya Rey itu.
"Kita tidak pernah tau hati seseorang sayang."
Grace pun terus memainkan jarinya memutar rekaman CCTV di sana.
"Valent, tolong kau bawa Malika kesini, ingat jangan membuat kecurigaan. Bertindaklah biasa-biasa saja."
"Baik bibi, aku akan segera membawanya ke sini."
Valent pun memanggil Malika lalu membawanya serta ke kamar Kerja Rey, dan berpura-pura membawa kan segelas minuman dengan nampan kecil nya.
"Nyonya, apa aku melakukan kesalahan?"
"Apa yang ingin Nyonya tanyakan?"
"Tadi sewaktu pernikahan Rey berlangsung, aku tidak melihat Melisa, kemana dia?"
Malika tau Grace seperti apa, dia pun tau bahwa dia tidak akan pernah bisa berkata bohong pada majikan yang sudah ia layani berpuluh tahun itu.
"Maafkan aku Nyonya, tadi sewaktu Tuan Rey melangsungkan akad nikah nya aku sempat mengurung Melisa.
Sejujurnya aku sudah beberapa kali memergokinya bertingkah aneh."
"Bertingkah aneh?" Beo Gorgh memastikan ucapan Malika.
"Iya Tuan.. Sewaktu Nona Maera datang pertama kali di sini, ia mulai bertingkah aneh.
"Aku hampir saja memergoki Melisa memasukkan garam berlebih pada masakan Nona Maera, tapi karena ketahuan itu tidak jadi di lakukan.
Aku juga sering melihat dia mengintai Nona Maera dan Tuan Rey apalagi jika sedang bersama. Untuk itu, aku mengurungnya saat proses pernikahan, aku khawatir dia membuat masalah. Tapi setelah proses selesai, aku pun langsung mengeluarkannya."
Tangan Grace yang sejak tadi tidak berhenti mengutak atik Komputer itu akhirnya menemukan apa yang ia cari.
"Bagusss sekali!!"
Gorgh dan Valent pun melongo melihat isi CCTV itu.
Tampak Melisa tertangkap kamera di sudut ruangan lantai tiga saat memasukkan sebuah bubuk ke dalam minuman Maera.
Melisa tentu saja menghafal isi rumah itu, dan ia tau persis seharusnya tidak ada CCTV di tempat ia berdiri saat itu.
__ADS_1
Tapi ternyata nasib berkata lain.. Setelah kejadian penembakan Maera tempo hari, Rey sudah menambahkan CCTV ke arah ia berdisi saat itu..
"Shitttt... akan kuberi pelajaran wanita itu." Teriak Valent yang terbakar emosi melihat bukti itu.
"Tunggu Valent, kau jangan gegabah sayang."
"Tapi bibi, aku tidak tega melihat Rey, aku belum pernah melihat dia se hancur ini, bahkan saat di khianati oleh Rema dulu."
"Aku mengerti Valent.. Tidak ada yang lebih merasakan sakit nya menyaksikannya Rey seperti itu dari pada aku sendiri"
"Aku lebih memiliki rasa kasihan pada gadis tak berdosa itu. Tapi kenapa bisa dia dijebak sebagai orang yang tengah hamil?" Ucap Gorgh yang membayangkan bagaimana jika itu terjadi pada putrinya sendiri.
Grace langsung saja menjawab suami nya dengan nada pasti.
"Tentu saja pelaku nya bermain dengan hormon."
"Astaga... Istriku memang cerdas. Aku sampai lupa istriku bahkan pernah menjadi seorang farmasi yang profesional dalam mengaduk segala jenis obat-obatan ckckck."
"Bukan waktunya untuk memujiku sekarang sayang, sebaiknya kau perintahkan untuk menutup semua akses Mansion. Jangan biarkan Melisa mengetahui bahwa dirinya sudah dipergoki."
Malika tampak khawatir, bagaimanapun dia sudah menganggap Melisa seperti putrinya juga.
"Nyonya apa yang akan di lakukan pada Lisa?"
"Aku mengerti kegelisahan mu Malika..
Tapi apa kau tau? Menantu kesayanganku bahkan di lempar ke lantai seperti seorang gadis yang tak punya harga diri.!
Sekalipun anak ku yang melakukan itu, tapi hatiku sebagai perempuan ikut menangis.
Harga diri menantu ku dipertaruhkan di sini."
...*****************...
Rey yang tengah sibuk bergelut dengan Jerry akhirnya menghentikan perkelahian nya saat mendengar ponsel nya berbunyi.
"Bajingan kau tunggu dan lihat, aku akan membalas mu.!" Teriak Rey pada Jerry.
Lalu ia bergegas mengangkat ponsel nya, ia khawatir sesuatu terjadi.
"Ada apa ibu"
"Rey pulanglah nak... Istri mu tidak bersalah, dia di jebak sayang. Ibu sudah menemukan pelakunya."
Bak di cambuk sayatan tajam di tubuh nya, Rey pun tergeletak lemah menekuk lututnya pada lantai aspal di dekat mobilnya itu.
"Apa yang sudah kulakukan pada istriku... Gadis tidak berdosa itu..
Kenapa aku bodoh tidak percaya padanya.."
Rey terus merutuki dirinya sendiri yang sangat menyesali tindakan gegabah nya tadi.
Ia pun terus membayangkan wajah Maera yang ia tampar dan jatuhkan ke lantai tadi..
Bahkan ia tidak memberikan kesempatan untuk Maera menjelaskan apapun.
...**********...
...Author mohon maaf, kalau author sangat berharap banget para Readers kesayangan untuk bantu Vote author......
...Semoga Author jadi semakin semangat meneruskan akhir cerita ini kedepannya ya......
__ADS_1
...Mohon dukungannya yah semua..... I love you...