
Rey sudah meminta Willman untuk membawa Maera ke tempat yang sudah di persiapkan sejak tadi pagi.
Rey yang pada dasar nya tidak begitu romantis, entah kenapa tiba-tiba begitu excited dalam persiapan malam ini.
Maera yang juga sudah di rias oleh si kembar pun akhirnya sampai di sana. Dengan menggunakan gaun hitam bunga menambah memancar nya pesona Maera.
Bahkan saat Maera bercermin ia sendiri pun sempat tak percaya bahwa itu dirinya.
Saat Rey melihatnya, Rey pun sempat takjub, gadis cantik yang biasanya hanya berpenampilan biasa saja kini di sulap menjadi berkali lipat lebih cantik.
Netra nya itu tak berhenti berdecak kagum pada mata binar wanita polos di depannya.
"Si kembar memang benar-benar berhasil meriasnya, aku tidak meragukan mereka lagi."
Sementara Maera masih takjub sendiri melihat dekorasi makan malam romantis itu.
"Wahhh... Indah sekali.. " Decak kagum Maera pada Rey.
Maera pemimpi pria romantis tapi tetap menyukai kesederhanaan, semuanya terlukis di tempat dinner ini.
Rey pun menghampiri Maera sembari menyembunyikan bunga di belakang tangannya.
"Apa kau suka tempat ini?"
"Hmm.. ini Indah kak.
Tapi kenapa aku di bawa kesini kak? memangnya ada hubungan apa?"
"Hhh... Apakah Willman tidak memberitahunya? seperti nya dia sengaja membuatku harus bekerja keras."
Bukannya memberikan bunga nya kepada Maera, Rey yang gugup malah meletakkan nya di meja begitu saja.. pun meminta Maera duduk sembari menarik kursi untuk Mempersilahkan Maera duduk.
"Duduklah Maera... Apa kau ingin makan?"
"Hmm aku memang lapar kak Rey, kak Willman tidak mengizinkan ku untuk makan tadi." Balas polos Maera yang memang tak mengerti kenapa Willman tadi terlalu banyak mengaturnya.
Baiklah mereka sudah menyiapkan makanan untuk mu, aku akan minta pada pelayan membawakannya.
Rey pun sembari memberikan kode memanggil salah seorang pelayan.
Sembari Pelayan datang dan membawakan makanan untuk Maera, Rey pun sibuk sendiri dengan ponsel nya.
Si kembar, Vallent, Willman, Frans dan Bobby pun tertawa mendengar Rey seperti orang panik.
"Ya ampun kak, apakah kau benar-benar tidak tau harus berbuat apa?"
"Ini kan ide kalian! Sudah sebaiknya katakan apa yang harus kulakukan lagi?"
Rey pun meremas kepalanya sembari melirik sesekali ke arah Maera.
"Kak, sebaiknya kau bicarakan saat mengajak Kakak ipar berdansa.'
Belum usai meneruskan ucapannya, Martha sudah mematikan ponsel nya.
"Akhh, Shitt... Aku lupa bertanya bagaimana cara mengatakannya. percuma saja aku menghafal kata-kata nya sejak pagi."
Rey pun semakin gugup. Sementara Maera dia malah asik melahap hidangannya seperti orang kelaparan.
"Akhh ya ampun, bukankah dia yang ingin punya pria romantis, kenapa dia sendiri tidak romantis?"
Willman yang selama beberapa minggu ini menyelidiki tentang Maera, mengatakan telah merangkum bio data lengkapnya.
Di dalam bio data itu tertera cita-cita Maera ingin memiliki Pria yang romantis dan lembut pada wanita. Kurang lebih seperti di bawah ini.
__ADS_1
"Ada apa kak? Kenapa kau bicara sendiri?"
"Emm tidak, kau makan saja dulu." Rey masih berpikir keras bagaimana cara untuk mengajak Maera berdansa.
"Hem baiklah, kakak tidak makan?"
Pria yang hanya tau cara memperlakukan musuh ini bahkan tak tau cara mengungkap kan sesuatu pada wanita.
"Tidak Maera kau saja yang makan."
"Kak, sebenarnya kita mau apa kesini? Apa kakak menunggu seseorang di sini? Lalu untuk apa juga aku ada di sini?"
"Maera, kau tidak boleh makan sambil bicara banyak!."
"Baiklah kak"
"Maera, apa si bajingan itu, ehm maksudku Dave tidak pernah membawa mu makan malam seperti ini?"
"Shitt... Kenapa juga aku harus bertanya seperti ini, dasar bodoh" Rutuk Rey pada dirinya sendiri dalam benaknya.
Maera tidak menjawab nya...
"Maera? Aku sedang bertanya pada mu."
"Tadi kata kakak aku tidak boleh banyak bicara."
"Astaga.. Aku maksud tidak perlu banyak bicara, jika hanya menjawab sedikit tidak apa-apa Maera."
"Oh begitu... Ehm Dave hanya pernah membawaku makan malam di restoran kak."
Sesaat kemudian Maera tiba-tiba saja tersedak seakan ada sesuatu yang menyangkut di tenggorokannya.
"Uhukkk... Uhukkk..." Maera rasanya ingin memuntahkan sesuatu.
Rey pun panik lalu mendekat berdiri di samping Maera untuk membantu memijat punggung Maera.
Tiba-tiba Maera mengeluarkan sesuatu dari mulutnya.
"Apa ini kak?" Maera bingung mengeluarkan sebuah benda yang hampir saja di telannya itu.
"Ohh shitt, bahkan mereka tidak memberitahuku, lalu aku harus berkata apa?"
Rey pun bingung sendiri, tak mau berpikir lebih panjang lagi, ia pun memakaikan langsung cincin itu di tangan Maera, lalu dengan gamblang dia mengutarakan maksudnya.
"Ehm Maera... Aku akan menikahimu. segera dalam waktu dekat ini."
Maera pun membulatkan matanya dan reflek berdiri, karena merasa shock mendengar perkataan barusan.
Itu permintaan atau perintah? ckckckck
"Hah??"
"Maera" Rey masih menatap netra itu dengan penuh harap.
"Ya kak"
"Kenapa kau diam saja?"
Rey masih menunggu jawaban dari Maera, tapi gadis polos itu hanya ber haho saja menjawab Rey.
"Aku harus apa kak?"
"Tentu saja kau harus menjawabnya."
"Memangnya barusan kakak bertanya atau meminta padaku?"
__ADS_1
"Astaga Maera... Aku harus bagaimana lagi mengatakannya."
"Kak, apa kau tidak salah kak? Kita kan baru saja bertemu, dan aku, aku cuma orang biasa."
"Apa aku bertanya soal itu padamu Maera?"
"Bagaimana ini? aduh, aku harus menjawab apa padanya. Tapi tadi ibu Grace dan Jasmine sudah memintaku berjanji untuk menyetujui menikah dengannya."
"Kak, aku.. "
Rey memotong kalimat Maera, sejujurnya ia sangat khawatir Maera akan menolak.
"Ehm, kau tidak perlu menjawab nya kalau begitu."
"Jadi aku tidak perlu menjawab kak? Sebenarnya Ibu dan Jasmine sudah memintaku lebih dulu dari pada kakak. Dan mereka sudah membuatku berjanji."
"Rey pun mengambil inisiatif lain, Rey tiba-tiba memegang dagu Maera."
"Maera kau dengarkan aku, aku sudah mengambil kesucian bibir mu, aku sudah memelukmu, aku juga sudah membawamu ke rumah ku. Apa kau pikir akan ada orang lain yang akan mau menikahi mu, hem?"
"Maafkan aku Maera, aku terpaksa harus melakukan ini, jika tidak aku akan bingung memandang dunia nanti."
"Iya kau benar kak, aku akan setuju menikah denganmu. Tapi apa kakak tidak akan menyesal? Sejujurnya aku takut suatu nanti kakak akan meninggalkanku jika kakak bosan."
"Aku bukan pria seperti itu Maera. Kau tau kebahagiaan putriku adalah kebahagiaanku juga."
"Jadi kakak menikahi ku hanya karena Jasmine?"
"Anggap saja saat ini seperti itu"
"Sejujurnya aku juga belum tau apa aku sudah mencintai mu atau belum.. maafkan aku sekali lagi Maera"
"Aku tidak punya pilihan lain kak"
"Baguslah, kalau begitu minggu depan kita akan menikah."
"Hah?? Cepat sekali kak?" Maera kembali tercengang lantas memekik karena kaget nya.
"Memangnya kau mau menunggu apa? menunggu kau hamil duluan?"
"Ta..tapi kenapa aku bisa hamil kak? Aku kan tidak berbuat apa-apa."
Maera pun teringat akan kata-kata ibunya dan Anetha.
Dia yang sejak kecil di doktrin oleh ibunya dengan budaya menakut-nakuti anak gadis dengan cara mengatakan hal-hal seperti itu membuat Maera pun percaya pada kata-kata Rey.
"Ba... Baiklah kak, aku setuju..."
Tiba-tiba hujan pun turun, Rey menarik Maera untuk ke pondok yang berada di dekat pantai itu, karena mereka tidak mungkin berteduh di bawah tenda yang kapan saja bisa terbang terbawa angin.
Rey pun membuka kan Jas nya dan membalut kan nya pada Maera, karena ia khawatir Maera akan kedinginan.
"Terima kasih Kak"
Doerrrr... Jederrrrr... goderrr..
"Hahhhh"
"Maera... kau jangan takut, aku di sini."
Maera pun menangis, matanya menyiratkan seperti ada trauma saat hujan petir turun.
...*********...
...Assalamu'alaikum hai Readers kesayangan. Mohon maaf yah jika 2-3 hari ini Author telat update, mohon dimaklumi yah. Author akan berusaha terus untuk bisa update tiap hari....
...untuk itu Author minta dukungannya yah untuk tetap support karya Author, biar Author jauh lebih semangat lagi....
...Selamat membaca kesayangan......
__ADS_1