BRANDAL MAFIA CINTA (Seri Novel)

BRANDAL MAFIA CINTA (Seri Novel)
BPC (Membongkar Ponsel Maera)


__ADS_3

Mereka pun sampai di sebuah Villa pinggir pantai, Rey yang sudah mempersiapkan tempat ini sejak kemarin.


"Wahhh Rey.. kapan kau mempersiapkan ini, hem?"


"Ibu, nikmati lah suasana ini. sudah lama sekali kita tidak makan bersama apalagi liburan."


"Kau benar sayang"


Tak menunggu lama tampak Jasmine dan Maera bermain di pinggiran pantai.


Jasmine yang selama ini memiliki impian untuk bermain di tepi pantai bersama ayah ibu nya, kali ini merasa impiannya sudah tercapai.


"Kau lihat Rey, Jasmine tampak sangat bahagia sekarang."


"Kau benar bu, aku kasihan pada gadis itu, dia gadis yang baik. Tapi aku tidak bisa menduga bagaimana jika ia tau kalau dia hanyalah anak angkat keluarga nya yang sekarang."


"Ibu sangat berharap kita bisa tau keluarganya yang sebenarnya Rey."


"Ibu tenang saja, aku sudah lama bergerak bu."


Grace benar-benar melihat Perubahan pada putranya itu. Singa nya kini seperti gajah yang di kuasai semut kecil ckckck.


"Katakan pada ibu! Apakah kau sekarang sudah jatuh hati padanya, hem?"


"Ibu, sebaiknya kita pergi makan sekarang, aku dan Jasmine sudah lapar, oke?"


"Rey.... kau belum menjawab pertanyaan ibu, kau mencoba mengalihkan pembicaraan."


Rey pun tersenyum sendiri mendengar pertanyaan ibunya tadi. Bukannya menjawab ia malah mengalihkan pembicaraan dengan ibunya.


"Hmmm, Kau pikir ibu mu ini tidak mengenali anaknya? Kau bahkan tidak bisa menyembunyikan sebutir noda pun dari ibu Rey. ckckckck"


Sementara Rey, dia sendiri pun sibuk dengan pemikirannya.


"Aku juga tidak tau, apa aku jatuh cinta pada nya atau tidak. Yang pasti aku tidak ingin jauh dari nya saat ini."


Berkumpul di meja makan.. Hal ini sudah sangat jarang di lakukan keluarga ini, terlebih saat Rey memutuskan pindah ke kota ini sedangkan ayah dan ibunya berasal jauh di kota lainnya.


Seperti biasa, Gorgh yang sangat menyayangi Grace, dia pun ingin mengambilkan nasi untuk piring Grace. Tapi kali ini sepertinya semuanya berbeda.


"Hmm maaf ayah, boleh aku saja yang melakukannya?"


Gorgh melihat ke arah Grace, dan Grace pun mengangguk.


Maera dengan luwes tapi tetap dengan hati-hati menyendok kan nasi ke semua piring. Lalu di susul mereka masing-masing mengambil lauk pauk dan sayur nya sendiri.


"Ibu Maera, apa aku boleh meminta mu menyuapi ku?"


Rey, Grace, dan Gorgh pun tersenyum melihat nya.


Belum usai Jasmine makan, Rey sudah selesai dengan makanannya. Ia pun tak tega melihat Maera yang masih sibuk menyuapi Jasmine sambil bercerita sejak tadi...


"Jasmine... Sayang bagaimana makananmu akan habis, kalau kau bercerita terus?"


"Ayah, aku sedang menjelaskan kebahagiaan ku saat ini, apakah tidak boleh?"


"Kalau begitu, biar ayah yang menyuapi mu sekarang, biar ibu Maera mu bisa makan."

__ADS_1


"Tapi Maera.. "


"Rey... Biarkan saja sayang, Jasmine baru pertama merasakan ini. Maera juga memahami nya."


"Hmm, ya sudah kalau begitu." Rey pun tidak mau memaksakan lagi.


"Ayah, boleh aku bicara dengan ayah?"


"Ayo kita kesana saja" Balas Gorgh yang memang sudah menyudahi makannya sejak tadi.


"Ayah, aku penasaran dengan yang ayah bicarakan tadi."


"Rey, ayah teringat akan seseorang yang kerap kali melakukan cara licik seperti itu. Tapi ayah tidak tau pasti ini ada kaitannya atau tidak."


Rey hanya menyimak dan berharap ada sedikit harapan dari penuturan ayah nya.


"Dia adalah Alex Hudson... Sebenarnya dia sahabat ayah, tapi sejak dia melenceng dari garis putih ayah dan dia pun terpecah.


Dia berteman dengan Mafia obat-obatan kimia. Bahkan dia pernah mencoba melakukan ini pada ayah di masa lalu untung nya pamanmu (kakak laki-laki dari Grace) cepat menyelematkan ayah.


Saat itu dia juga tengah dekat dengan seorang wanita. Sayangnya wanita itu anak konglomerat jadi dia tentu saja tidak bisa mendekatinya. Sejak itu dia pun sangat terpukul maka dari itu dia berteman dengan si bajingan Peter Hillman."


"Tunggu ayah, sepertinya aku pernah mengenali nama itu." Rey sembari berusaha mengingat nama itu.


"Dia sedang tidak ada di negara ini Rey, aku dengar terakhir dia berada di Switzerland."


"Kalau begitu Aku akan menyelidiki tentang dia, kalau benar dia yang memberikan obat-obatan itu, apa tujuannya."


"Kau bisa menempatkan orang-orang kepercayaan ayah jika kau mau Rey!"


"Sebenarnya aku juga masih bertanya-tanya soal ayah angkat Maera, apakah dia mengetahui sesuatu. Sekarang aku masih mencari keberadaanya."


"Sayang, sebaiknya kita pulang sekarang, Jasmine sudah lelah, lagipula sebentar lagi acara pernikahanmu dengan Maera. Masih banyak yang harus di kerjakan."


"Baiklah bu... Tapi bu, apakah tepat jika di situasi saat ini, jika kita membuat pesta pernikahan.? Aku hanya khawatir dengan keselamatan kalian semua."


"Ibu tidak ingin kau dan Maera terjerat dalam zina Rey! Terserah apapun caranya kau dan Maera harus terikat secara sah terlebih dahulu. Ibu juga tidak ingin kehilangan Maera."


"Yakk, ibu harusnya aku yang takut kehilangannya, kenapa ibu lebih takut dari pada aku?"


"Oh... jadi putraku sudah mulai merasa takut kehilangan gadis pujaannya, ckckckc..." Grace menyimpan senyum nya sendiri, ia tak ingin Rey mengetahui tujuan ibu nya ini.


"Kalau begitu cepatlah menikah, ibu juga sudah terlalu lama disini, siapa yang akan mengurus berlian-berlian ibu di sana, hem? Apa kau tidak kasihan mereka tidak ada yang mengurusnya?"


"Astaga ibu... Apakah berlian mu itu lbh penting dari pada anak-anak ibu, hem?"


"Sudah sudah, ayo kita pulang saja, mengurusi omelan ibu mu itu tidak akan ada habis nya Rey."


"Ckckck.. Baiklah..." Rey tersenyum geli sendiri, tentu saja ia memang memahami seperti apa ibu nya.


Setibanya di rumah Maera langsung saja pergi bersama Jasmine ke kamar nya. Sementara Grace dan Gorgh pun juga sama. Tinggallah hanya Rey seorang diri.


"Kak, kau sudah kembali? Dimana Frans?"


"Kau ini, aku baru saja datang, kau malah menanyakan si brandal kecil itu padaku. Memangnya dia belum kembali dari rumah sakit sejak tadi siang?"


"Tidak kak, astaga.. Apa jangan-jangan dia pergi dengan Martha?"

__ADS_1


"Apa maksudnya? Apa ada yang tidak aku ketahui, hem?"


"Ehem.. Tampaknya si pemilih sebentar lagi akan jadi adik ipar mu kak."


"Yakkkk.... Sejak kapan?" Rey seketika memekik karena kaget nya.


"Kau banyak ketinggalan berita sejak mengurus calon istri mu kak, kau juga jadi terlihat berbeda sekarang."


"Sepertinya biasa saja, aku tetap sama Margh, itu hanya pemikiran mu saja."


Rey memang tidak menyadari, dirinya mulai jauh berbeda sejak bertemu Maera.


Yang tadinya tidak sabaran perlahan mulai sabar, yang tadi nya selalu garang dan berwibawa tingkat tinggi, tetapi sejak bersama Maera sepertinya dia jauh lebih santai dan lebih lembut.


"Kapan kalian akan menikah kak?"


"Aku masih belum tau, sepertinya Maera belum siap. Aku tidak ingin dia tertekan."


"Astaga kak, jika dia pulang ke rumahnya dia akan di ambil oleh Dave atau mungkin saja Kak Lucas."


"Yakkk, kau ini sebenar nya di pihak siapa Margh?"


"Tentu saja aku di pihak mu kak ckckck"


"Ya sudah sebaiknya aku pergi mandi saja, mendengar ocehan mu kepala ku bisa jadi sakit."


Rey pun pergi ke kamarnya. Tapi lagi-lagi Maera sudah ada di sana. Mungkin karena kelelahan Maera sudha tertidur di ranjang Rey.


"Mungkin dia sudah lelah seharian ini." Bisik Rey yang tak ingin mengganggu tidur gadis nya itu.


"Rey pun menyelimuti Maera. lalu ia sendiri bergegas pergi mandi."


Usai mandi, Rey yang tidak terbiasa tidur sebelum larut malam itu, bingung harus berbuat apa.


Tapi dia tiba-tiba mendapatkan ide saat tak sengaja melihat ponsel Maera yang tergeletak di atas nakas tempat tidur nya itu.


Rey pun membuka ponsel itu, memeriksa satu demi satu isi gallery foto nya. Dia pun ter senyum-senyum sendiri melihat foto-foto unik Maera.


Lalu ia kemudian membaca pesan-pesan di ponsel Maera.



"Cihhh, ternyata kau yang menghantui pikiran Maera selama ini ckckck."



"Pria ini selalu saja mengganggu milik orang lain, cih... Maafkan aku Lucas, walaupun kau temanku, tapi Maera bukan barang yang harus ku serahkan dengan Mudah."


Lalu Rey membaca pesan yang terakhir dari seseorang yang ia bahkan sangat kesal melihat dan menyebut namanya.



"Awas saja kau!! Bahkan untuk menyebut namanya saja pun kau tidak akan ku izinkan, bajingann."


Rey menjadi tidak tenang setelah mengutak atik ponsel Maera. Entah kenapa rasa akan takut kehilangan Maera semakin besar dalam dirinya.


...*************...

__ADS_1


...Readers kesayangan... Jangan lupa dukungannya untuk vote karya ini yah. Izinkan aku menghibur kalian sampai akhir dengan memberikan semangat dukungan pada author yang lemah tanpa adanya kalian......


...I love you sayang......


__ADS_2