
Maera masih terkungkung di dalam dekapan Rey.
Rey sempat bingung dan bertanya-tanya dalam hatinya.
"Kenapa dia seperti ini, apa ada sesuatu yang tidak ku ketahui?..."
"Maera... coba lihat aku."
Maera hanya diam saja, tapi ia malah semakin mengeratkan wajahnya di dada Rey, seolah ia mengisyaratkan sesuatu.
"Maera kau jangan takut, petirnya sudah tidak ada."
Maera perlahan mengangkat wajahnya, hujan yang deras itu memang terasa sangat dramatis bagi Maera.
Rey tidak tega melihat Maera seperti itu, Rey menghapus air mata Maera, lalu Rey pun memegang dagu Maera untuk fokus menghadap ke arahnya.
"Maera, kau kenapa hem? Apa kau mau membicarakannya padaku?"
"Hmm.. Tidak kak, tidak apa-apa, aku... tidak maksudku petir nya tadi terlalu kuat."
"Hey sayang, kau tidak boleh menyembunyikan apapun dari ku, bukan kah aku akan menikah dengan mu?"
"Ta.. tapi... "
Maera pun terhenti sesaat Rey menautkan bibir mereka.
Kali ini Rey hanya menciumnya sebentar saja. Rey hanya bermaksud untuk memenangkan Maera.
Dan entah kenapa kali ini Maera bahkan tidak berontak atau melawan nya. Tapi kali ini ia memang merasa nyaman dengan itu.
"Kau mau bicara sekarang?"
"Hmm" Maera mengangguk pelan.
Maera pun menceritakan alasannya pada Rey.
FLASHBACK 8 TAHUN LALU
8 tahun yang silam saat usianya masih 10 tahun.
Ayah Maera dan ibunya bertengkar di dalam mobil saat perjalanan mereka dari luar kota menuju rumah mereka.
Di kondisi hujan petir itu Ayah Maera memaksa Maera dan ibunya turun dari mobil itu.
Bahkan menggeret mereka karena ibu Maera sempat memohon - mohon pada ayahnya
"Aku lebih memilih hidup dengan nya, dari pada harus hidup bersama mu dan anak pungut mu itu!'
Teriak Xacel ayah Maera. pada Maera Grelda Ibu nya Maera.
"Jangan tinggalkan aku Xacel! Apakah hanya karena aku tidak bisa memberikan anak dari darah daging mu, kau tega membuang ku?"
"Jika aku tau kau mandul sejak dulu, aku bahkan tidak akan menikahimu, kau tau orang tua ku adalah segalanya bagiku, jika kau tidak bisa membuatnya bahagia, maka aku pun tidak bisa mempertahankan mu"
__ADS_1
Haxel dengan tanpa belas kasihan pun melemparkan tas pakaian yang di bawa sebelumnya. Lalu ia pergi begitu saja meninggalkan Maera yang masih kecil dan ibunya terluntah di jalanan itu.
Maera kecil yang memang tidak memahami semua perkataan mereka hanya bisa ikut menangis. Dia tidak berani berkata apapun pada ayahnya itu, sebab selama ini pun ayah nya itu tidak mem perlakuannya sebagaimana anak lain pada umumnya.
Saat itu hujan memang tengah begitu hebatnya, mereka yang di tinggalkan di jalanan sepi itu bingung harus berteduh di mana.
Petir bersaut-sautan membelah bumi malam itu.
Hampir setengah jam mereka kedinginan di guyur hujan, sebuah mobil mewah melintas di situ.
Ia menawarkan untuk memberikan tumpangan pada mereka. Bak mendapatkan malaikat penolong mereka pun naik ke mobil itu.
"Kau mau kemana Nyonya?" Tanya pria itu pada Grelda.
"Tuan tolong antar kan aku dan putri ku pulang" Pinta Grelda yang sudah gemetaran.
Pria itu pun membawa Maera dan Grelda untuk pergi dari situ.
"Kenapa kalian bisa berasa di situ?"
"A.. aku sedang bertengkar dengan suami ku, dia melempar kami di tempat tadi"
"Wow sangat kejam sekali, dia mungkin tidak pantas menjadi suamimu" Ucap pria itu dengan gaya santai nya.
sesampai nya di rumah, Maera pun dengan buru-buru berlari ke kamarnya. sementara ibu nya masih berbicara dengan pria itu.
"Apakah kau tidak akan menawarkan ku teh?"
"Kau benar Tuan, aku akan membuatkan mu teh, tapi aku mohon beri aku waktu untuk mengganti pakaianku dulu, aku sudah tidak tahan kedinginan."
Grelda pun pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya.
Ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dulu.
Tapi... tanpa ia sadari pria yang tadi mengantarkan nya sudah ada di situ.
Dan terjadilah hal yang diluar batas itu.
Pria tersebut memaksa mengambil kehormatan ibu Maera. Grelda yang masih usia 34 tahun saat itu jelas memang masih tergolong muda dan menggoda, bisa dibilang ia memang terlihat cantik untuk ukuran seorang ibu-ibu.
Maera yang mendengar ibu nya itu menjerit, langsung berlari ke kamar ibu nya. Tapi kamar itu terkunci, ia pun mencoba mengintip dari lubang kunci kamar itu.
Walau lubang itu hanya kecil tapi ia sudah bisa menyaksikan kejadian itu tepat di depan matanya.
Maera pun ketakutan, ia hanya anak kecil yang tak tau harus berbuat apa. Ia pun berlari ke rumah tetangga nya menerobos hujan itu, tapi sayang tidak ada yang mau mendengarkannya.
Lelah berlari ke sana kemari ia pun kembali pulang ingin memeriksa lagi situasi ibu nya. Dan pada saat ia kembali, mobil pria itu sudah tidak berada di sana. Ia pun berlari lagi ke kamar ibunya, Maera mendapati ibu nya itu tengah terkulai di lantai dengan kepala yang mengeluarkan darah. Ibu nya tidak bicara lagi sejak itu.
Semalaman mereka berdua hanya saling diam di tengah kesunyian. Hanya suara hujan dan petir yang menemani mereka hingga pagi.
...******...
Rey yang ikut membayangkan kejadian kisah Maera itu pun tak terasa ikut meneteskan air mata.
__ADS_1
"Maera, lihat mataku sayang, mulai saat ini tidak akan ada lagi penderitaan yang akan kau alami, aku tidak akan membiarkanmu terluka atau bersedih lagi, aku berjanji."
Maera pun mengangguk pelan.
"Terima kasih Kak"
Rey mencium kening Maera, dan memeluk nya. Ia sangat dapat merasakan apa yang Maera rasakan di masa lalunya itu.
"Maera, sebaiknya kita pulang, aku tidak mau kau sakit."
"Baik kak... Kak...
Tiba-tiba Maera menahan tangan Rey.. Saat Rey mengajak nya untuk pergi.
" Ada apa sayang?"
"Kenapa kak Rey terus memanggilku sebutan sayang ya? Apa karena aku sudah menerima menikah dengan nya? Tapi kan kami belum pacaran."
"Maera, ada apa? Apa kau memikirkan sesuatu yang lain?."
"Kapan aku boleh menjenguk ibu ku kak? Aku sudah terlalu lama tidak menjenguknya."
"Baiklah sayang besok kita ke sana. Sekarang ayo kita pulang."
"Kak.. "
"Iya Maera sayang, ada apa lagi, hem?"
"Kenapa kakak dari tadi memanggilku sayang?"
"Astaga, Maera kau akan menikah dengan ku sebentar lagi, kau harus terbiasa memanggilku sayang, dan aku memanggil mu sayang, apa kau mengerti?"
"Tapi kan kita tidak berpacaran kak."
"Ya Tuhan... Kuatkanlah aku menghadapi gadis bawel ini"
"Ya sudah kalau gitu kita sekarang sudah resmi berpacaran, oke! jangan ada pertanyaan lain lagi!"
"Kak"
Rey pun jadi sangat kesal karena pertanyaan-pertanyaan Maera yang tak kunjung habis. Ia lalu menggendong Maera dengan alasan Bridgestyle lalu membawa nye ke mobil.
"Kakak"
"Kau terlalu cerewet sayang, jangan sampai aku menghukum mu lagi. Kau bisa sakit terlalu lama menggunakan pakaian mu yang basah itu."
"Kak, aku cuma mau bilang, bunga nya tadi ketinggalan."
"Astaga... aku bisa membelikan mu seribu bunga seperti itu."
...*********...
...Assalamu'alaikum hai Readers kesayangan. Mohon maaf yah jika 2-3 hari ini Author telat update, mohon dimaklumi yah. Author akan berusaha terus untuk bisa update tiap hari....
__ADS_1
...untuk itu Author minta dukungannya yah untuk tetap support karya Author, biar Author jauh lebih semangat lagi....
...Selamat membaca kesayangan......