
"Tringgg.. Tringgg.. Tringgg.. Tralalalaa"
Rey kesal mendengar suara ponsel itu yang terus berbunyi di dekat telinganya.
"Hallo... Maera kau di mana?? kenapa kau tidak memberi kabar padaku sejak semalam?? Apakah Dave melakukan sesuatu yang buruk lagi padamu?" Teriak seorang wanita di seberang sana.
Rey yang masih merasa mengantuk menjawab asal pada Anetha. Dia bahkan tidak sadar dengan apa yang ia ucapkan sendiri.
"Ohh Shittt... Hey Nona, bisa kau bicara pelan-pelan? aku tidak tau harus menjawab pertanyaan mu yang mana?" Kesal Rey pada Anetha.
"Kau... Kau siapa? Di mana Maera? Astaga, apakah dia bersama lelaki lain?" Tanya Anetha lagi kali ini penuh kecurigaan.
'Maera? Oh ya.. Dia bersama ku sejak tadi malam. hoaammm... " Rey membalas nya dengan santai seolah itu tidak menjadi masalah.
"Apaaaa?? Di mana Maera ku, katakan di mana dia? Awas saja kau berbuat macam-macam pada Maera ku, akan ku patahkan lehermu! "
Anetha terus bertanya, sementara Rey sendiri pun tidak sadar Maera ada di mana.
"Oh, aku tidak tau dia di mana, mungkin dia sedang di kamar mandi atau.. Ha??? "
Rey pun tiba-tiba mengingat sesuatu.
"Apa??? Dikamar mandi?? memangnya kalian habis melakukan apa, hah??"
"Yakk... Tunggu.. Sudah jam berapa ini?"
"Ini sudah pukul 9 pagi Tuan... Hey Tuan lebih baik kau beritahu di mana kalian sekarang, aku akan menjemput Maera ku!!"
"xxxxxxxxxxxxx"
Tanpa sadar Rey pun malah memberikan alamatnya pada Anetha.
"Jangan sampai kau berbuat hal yang buruk pada nya, kau ingat itu Tuan!!" Ancam Anetha dengan nada serius.
"Hem.. Baiklah terserah kau saja Nona."
Rey pun menutup ponselnya.. Dia merasa masih mengantuk, tapi dia akhirnya teringat pada ibu nya yang hari ini akan berkunjung ke rumah nya.
"Akh shitt... kemana perginya gadis itu."
Rey lalu mengambil gagang telepon yang menggantung dekat kamar mandi nya, lalu menekan tombolnya
"Iya Tuan, apa kau membutuhkan sesuatu?" Wanita paruh baya itu menjawab nya dengan suara yang ramah.
"Tidak Bibi Malika, apakah kau melihat seorang gadis di sana?"
Grace langsung mengambil alih telepon itu dari Malika.
"Sayang, apa kau baru bangun? Kau tenang saja Maera sedang bersama ibu dan Jasmine di sini."
"Apa dia membuat masalah bu?"
"Akh, tentu saja tidak sayang, kami baru saja menikmati makan pagi yang di buat oleh Maera, kau turunlah ke bawah nak. "
"Apa dia sekarang menjadi koki baru di rumah ku? hhh"
"Baiklah Bu, aku akan mandi dulu, setelah itu aku akan turun."
"Baiklah sayang... Jangan berlama-lama nak, ibu sudah sangat merindukanmu"
Rey pun pergi untuk mandi. Namun sampai di kamar mandi, ia kembali di kejutkan sesuatu yang tidak ia duga.
"Kenapa ada banyak ember di sini? Astaga, apa ini ulah gadis itu lagi?" Kesal Rey karena dia merasa itu merusak pemandangannya.
Akhirnya Rey terpaksa memindahkan ember-ember itu barulah ia bisa mandi dengan nyaman.
"Gadis itu membuat ulah setiap saat, sebaiknya aku akan mengantarnya pulang hari ini." Rey menggerutu sendiri di kamar mandi itu.
Sementara Maera yang tengah asyik di halaman belakang bercanda dengan Gorgh Grace ,ayah ,frans, Jasmine, dan Valentino.
__ADS_1
Sedangkan Aishe masih enggan keluar dari kamarnya, maklumlah bawaan hamilnya.
Ia tak henti-hentinya membuat keluarga Rey tertawa.
Semua orang menjadi ceria sejak kedatangan Maera, kecuali Melisa.
Lisa bahkan tadi sudah berpikir ingin mengerjai masakan Maera, tapi gagal karena Bibi Malika selalu mengawasinya.
Sepertinya Bibi Malika sudah faham ulah Lisa.
"Bibi Maera, Sabtu depan ulang tahun ku, Bibi akan memberikan aku kado apa?"
"Memang nya kau menginginkan apa dari ku?"
"Aku ingin boneka Unicorn yang terbaru Bi. Sebenarnya ini lebih murah dari pada yang di beli ayah sebelumnya."
"Seperti apa itu sayang?"
Jasmine lantas memperlihatkan ponsel nya pada Maera. Maera pun membulatkan matanya dan menelan ludah manakala melihat label harga tertera di gambar itu.
"Hah??? Dari mana aku mendapat kan uang sebanyak itu? Tapi kalau ku tolak aku khawatir dia sedih."
Ibu Rey seolah mengetahui isi pikiran Maera. Wajah Maera tiba-tiba pucat siapa yang tidak bisa menebak.
"Ehem... Jasmine, untuk boneka itu biar Nenek saja yang membelikannya. Bibi Maera mu nanti akan membelikan yang lain saja. Setuju kan sayang?"
"Hmm Baiklah nenek kalau begitu. Tapi kakek juga tetap akan memberikan kado untuk ku kan?"
"Tentu saja sayang, Kakek akan memberikan hadiah apapun yang kau mau." Balas Gorgh meyakinkan cucunya itu.
"Jasmine, apa nenek bisa meminjam Bibi Maera mu sebentar?" Grace meminta izin seolah Maera itu hanya milik Jasmine saja.
"Tapi aku masih ingin bersama Bibi Maera nek."
"Hemm, baiklah jika Bibi yang meminta nya, aku akan mendengarkannya."
"Hmm.. Manis nya.... Terima kasih sayang" Puji Maera kepada Jasmine.
Jasmine pun pergi, lalu Grace pun menarik Maera untuk sedikit menjauh dari para pria.
Frans sibuk bermain ponsel.
Sementara Gorgh sibuk bermain catur dengan Valentino.
"Ehm Maera"
Maera agak ragu dan takut karena ia berpikir selain jasmine, keluarga Rey adalah keluarga yang galak. ia takut apabila telah membuat kesalahan.
"Ya Nyonya, apakah aku memiliki kesalahan?"
Maera pun gugup ketika ditanya oleh Grace
"Tidak sayang, aku hanya ingin bertanya padamu."
"Tunggu dulu, jangan panggil aku Nyonya, panggil saja Ibu.. dengar... I... bu..!"
"Ba... Baiklah ibu"
"Apakah semalam Rey melakukan sesuatu padamu, hem?"
"Aduh, bagaimana ini.. apakah jika aku berkata jujur tidak akan jadi masalah?"
"Ayo sayang, katakan! Kau jangan takut, Ibu akan membelamu nanti."
"Maera masih mengumpul kan keberanian untuk mengatakan hal yang menurutnya di luar batas, atau melanggar norma."
"Hiksss... Ibu... Tuan itu.. Dia telah mengambil kesucian bibir ku Bu..."
__ADS_1
"Hah? Kesucian bibir? Ma.. maksud mu apa Maera, Ibu tidak mengerti sayang."
Grace lantas sampai terikut menggerakkan bibirnya sendiri, ia merasa aneh dengan sebutan yang di ucapkan Maera.
"Tuan galak men... itu... men..."
"Men..Men apa Maera, aduh.. coba katakan, ibu jadi penasaran sekarang"
"Tu..Tuan galak... men...cium bibirku, dua kali tanpa izin dari ku Bu."
"Yakkk... " Teriak Grace bukan karena kaget, tapi sebenarnya ia tadi sempat berpikir hal yang lebih fatal, tapi ternyata hanya persoalan ini.
"Iya bu, padahal aku belum pernah dan belum boleh melakukannya, kan aku belum menikah Bu. Maafkan aku ya bu."
"I...Ini... Bukan salah mu, tidak apa-apa sayang.. Tapi dia tidak.. dia tidak melakukan hal lain kan? em.. Seperti membuka baju mu misalnya?" Introgasi Grace dengan mimik wajah yang sebenarnya jadi lucu.
Maera lantas merapatkan tangannya pada dada nya.
"Tidak bu, memangnya siapa yang bilang? Tidak mungkin aku tidak merasakan nya jika dia membuka bajuku kan?"
"Astaga, anak ini terlalu polos, bagaimana kalau Rey telah melakukan hal buruk.. Ini tidak bisa kubiarkan."
"Ibu, apakah nanti akan ada pria yang mau menikahi ku, jika bibir ku sudah tidak suci lagi? Pa.. Pacarku pasti marah jika mengetahui hal ini. Dia saja belum pernah melakukannya padaku."
Grace pun menepuk jidatnya, rasanya ia kalah telak harus menjawab pertanyaan polos Maera.
"Yak?? Hahhh" Grace kembali mengeryitkan dahi nya mendengar kata-kata Maera.
"Siapa yang mengatakan itu padamu Maera?"
"Sejak kecil ibuku mengajari ku seperti itu Bu. Ibuku bilang aku harus menjaga kehormatan setiap inchi dari tubuhku."
"Ibunya juga bahkan menanamkan hal konyol pada putrinya. Tapi tidak masalah, seperti nya itu malah lebih bagus."
"Hem, kalau begitu biar Rey yang bertanggung jawab padamu. Ibu yang akan memintanya."
Tiba-tiba Rey menghampiri mereka, ia sempat mendengar kata tanggung jawab, ia pun langsung menanyakannya pada ibu nya itu.
"Bertanggung jawab apa bu?" Tanya Rey yang penasaran dengan apa yang Maera dan Grace bicarakan barusan.
Maera yang melihat kedatangan Rey spontan bersembunyi di balik badan Grace.
"Kau kenapa sayang?" Tanya Grace pada Maera, ia heran kenapa Maera tiba-tiba bertingkah laku seperti itu.
"Bu, jangan katakan pada nya yah bu, jika tidak dia akan menghukum ku lagi." Bisik Maera pada Grace, agar tidak terdengar oleh Rey.
Rey pun curiga dengan mimik wajar Maera dan ibunya.
"Apa gadis ini mengadu lagi? astaga dasar gadis polos pengadu?" Kesal Rey dalam hatinya.
"Menghukum mu? memangnya dia akan menghukum mu seperti apa?" Tanya Grace yang masih bingung dengan apa yang dikatakan Maera barusan.
Maera pun menjelaskan sembari mengerucutkan semua jarinya lalu di satukan berulang-ulang.
"Menciummu lagi?"
"I.. iya.. bu"
"Astaga Rey..."
Grace pun memijit kepala nya yang tak sakit itu.
****
...*****...
Hai Para pembaca yang budiman... Mohon dukungannya untuk karya saya yah, smoga saja kalian suka.
Jangan lupa untuk Like+Komentarnya biar aku makin semangat melanjutkan nya.. Terima kasih semua...
__ADS_1