
Rey baru saja ingin marah dan menarik tangan Maera saat itu juga.
Tapi niatnya di urungkan saat baru menyadari kepala Maera terluka.
"Maera, kepalamu berdarah..?"
"Ini tidak apa-apa kak."
"Astaga Maera.. apa kau tidak bisa lebih berhati-hati, kau ceroboh sekali."
Rey pun menggendong Maera ala Bridgestyle lalu membawanya ke ruang tengah.
"Aku tidak apa-apa kak, kau jangan menggendong ku, kau membuatku malu dilihat banyak orang."
"Ya ampun, aku ini suami mu.. Apa salah nya, hah?"
"Tapi aku merasa tidak enak kak, kita di lihat oleh teman-teman kakak, ayah Gorg dan yang lainnya."
"Jangan kau pikirkan itu. Sekarang aku harus mengobati luka kepalamu lebih dulu."
Maera pun tidak mau berdebat lagi, ia tau Rey yang pemarah tidak akan mau kalah.
Rey lalu mengambil kotak p3k di buffet yang berada di samping sofa tamu itu.
"Kau terjatuh dimana, hem?"
"Di tangga kak"
"Hah? Apa kau sudah kehilangan akal? kau berlarian di tangga? Bukankah ada lift kenapa kau berlarian dengan gaun seperti ini, astaga.."
"Kak Rey kau mengomel terus, kau membuatku semakin sakit kepala."
"Maera, haish kau ini keras kepala sekali."
Rey ingin mengomeli Maera lagi, tapi ia juga tak tega melihat Maera.
Lagi pula ia sudah berjanji pada dirinya sendiri jika dia ingin berubah lebih lembut pada Maera.
Tak lama Grace yang baru saja turun dari Lantai dua langsung terkejut melihat keadaan Maera.
"Maera!! Ada apa ini sayang?"
"Dia terjatuh demi mengejar seorang pria yang mengaku kakak angkat nya." Sindir Rey sembari terus mengobati luka Maera.
"Kak Rey tapi dia memang sudah ku anggap kakak ku sendiri. Sejak kecil aku sudah di rumah nya bersama Anetha."
Grace yang memahami perasaan Rey, bukannya membela Rey tapi malah menggoda putranya itu.
"Astaga Rey, apa kau cemburu dengan kakak angkat nya Maera? Hm, sepertinya tanduk kepalamu akan keluar sayang."
"Yakk, ibu kau malah membela si gadis ceroboh ini. Coba lihat beruntung wajahnya tidak rusak karena mencium lantai tangga itu."
"Kakak, memangnya lantai juga sama seperti mu?"
"Hah, apa maksudmu Maera?"
"Sama-sama suka mencium...ku"
"Maera!!"
"Maera, kau ini jangan menggoda singa ku seperti itu sayang, nanti dia akan Merepotkan mu."
"Hehehe.. Maafkan aku ibu" Balas Maera polos dan belum sadar jika ucapan nya tadi sebenarnya sangatlah sensitif.
Grace hanya tersenyum bahagia melihat perdebatan Rey dan Maera. Walau dia khawatir pada keadaan Maera tapi dia merasa bahagia dengan perdebatan kecil yang mereka lakukan.
"Sayang, apa kau tidak ingin ke rumah sakit saja? Aku khawatir luka kepala mu nanti bisa infeksi." Pinta Grace yang tak tega melihat keadaan menantu nya itu.
"Tidak apa-apa ibu... ini akan sembuh dalam beberapa hari."
__ADS_1
"Baiklah ibu pergi menemui ayah mu dulu, dia bisa demam jika aku tinggal terlalu lama, ckckck."
Grace langsung pergi menemui suaminya yang berada di bagian samping Mansion.
"Sebaiknya aku mengantarmu ke kamar saja, kau perlu istirahat."
"Hmm"
Rey pun membantu Maera untuk berdiri. Tapi kakinya yang keseleo itu membuatnya tak bisa kokoh berdiri lagi.
"Akhh"
"Apa kakimu juga sakit Maera?"
"Hmm, sedikit kak"
Rey kemudian memberikan punggung nya pada Maera. Dengan maksud agar Maera naik ke punggung nya.
"Naiklah"
"Kak Rey, tapi kau juga masih terluka kak."
"Aku tidak suka di bantah Maera, apa kau lupa itu?"
"Apa kak Rey sanggup badan ku ini berat kak."
" Maera!!"
"Baik.. Baik kak." Maera pun akhirnya menurut, ia khawatir Rey akan menghukumnya jika masih terus membantah.
Valent yang melihat Rey ikut tidak tega, ia pun menawarkan untuk membantu Rey, tapi yah begitulah... Si Rey yang sudah semakin posesif bahkan lebih rela bekas luka perutnya itu sakit dari pada melihat Maera di gendong pria lain.
"Rey biar aku membantu mu, aku saja yang menggendongnya."
"Tidak Valent, dia istriku.. kau jangan lupa itu..."
"Minggir lah kau Valent, sebaiknya kau minta Lisa membawakan minyak untuk mengurut kaki Maera."
"Hmm baiklah... sesuai perintah mu sayang, ckckck."
Rey pun masih bertahan menggendong Maera menaiki lift.
"Kenapa kau tadi tidak lewat lift, hem? Lift ini di sediakan untuk keluarga ini."
"Aku tidak tau menggunakan nya kak."
"Astaga, aku sampai lupa...kau tidak memegang card akses nya.."
"Sebaiknya aku akan suruh penjaga untuk berjaga di setiap lift di lantai rumah ini."
"Kau terlalu berlebihan kak, aku juga tidak masalah jika harus lewat tangga."
"Lalu apa gunanya lift ini jika kau harus lewat tangga, hem?"
"Lalu apa gunanya tangga itu, jika tidak ada yang menggunakannya? Apa dia hanya pajangan?"
"Maera, bisa kah kau sekali saja tidak membantah?"
Maera ahkirnya terdiam mendengar ucapan Rey barusan. Bagaimana pun ia ingat petuah ibu nya. bahwa seorang istri tidak boleh membantah suami nya.
Grace juga sempat memberikan wejangan pada Maera. Ia juga menerangkan semua apa yang Rey sukai bahkan tidak sukai.
"Hh.. Akhirnya sampai juga"
Sesampainya di kamar pengantin itu, Rey mendudukkan Maera di ranjang.
Tak lama setelah Melisa mengantarkan minyak yang di minta. Rey langsung memijat kaki Maera.
Rey heran kenapa Maera bisa tak bersuara sama sekali.
__ADS_1
Ternyata Maera menahan rasa sakitnya dalam diam. Tapi matanya tak bisa berbohong untuk mengeluarkan air mata.
"Maera, apakah ini sakit? Kau bisa mengatakan nya kalau sakit!"
"Hmm, ti..tidak kak"
"Maera, kenapa kau menahan dirimu. Apakah se sakit itu sampai kau tidak bisa berkata-kata."
"Kenapa kau diam saja sayang?"
"Ti..Tidak apa-apa kak..."
"Kau jangan berbohong padaku hem! Bukankah seorang istri jika berbohong pada suami nya dosa nya berkali lipat?"
"Be.. benarkah?"
"Iya, tentu saja sayang...
Sekarang katakan padaku, kenapa kau menyapu air mata mu diam-diam?"
"A.. Aku.. Aku"
"Maera sayang, jika kau merasa sedih maka kau harus mengatakan kau sedih, jika kau merasa sakit maka kau harus mengatakan itu sakit. Bukan suatu kesalahan jika mengatakan apa yang kau rasakan... mengerti?"
"Iya kak, maafkan aku kak, aku akan mengingatnya."
"Aku masih marah kepadamu, tapi sekarang malah harus aku yang membujuk mu."
"Memangnya kenapa kak Rey marah padaku? Aku membuat kesalahan apa kak Rey?
"Sayang, sejak kau bersama ku, maka tidak ada pria lain yang bisa menyentuh kulitmu apalagi memanggil mu dengan sebutan sayang atau kata-kata berlebihan lainnya. Apa aku harus menjelaskannya, hah.."
"Maera... Kenapa kau tidak peka!! Apa aku harus menjelaskan kalau aku ini cemburu.. Hhh" Rey hanya bisa terus menggerutu dalam hatinya.
"Tapi dia, dia sudah ku anggap seperti kakak ku sendiri kak Rey. Dia hanya menganggap ku adik sama seperti dia memperlakukan Anetha."
"Apa kau tidak bisa membedakan mana rasa sayang kepada adik atau kepada wanita yang di sukai, hem?"
"Apa kak Rey berpikir kalau Kak Jerry itu menyukai ku?"
"Dengarkan aku Maera, mulai sekarang siapapun dia jika itu pria, aku tidak akan mengizinkannya memeluk mu dan memanggil kata sebutan berlebihan padamu."
"Maksud kak Rey... Sevgilim?"
"Kau adalah Sevgilim ku, bukan Sevgilim orang lain atau siapapun, Ingat itu!"
"Itu hanya panggilan biasa yang dilakukan kak Jerry sejak aku masih kecil kak."
"Sekali aku katakan tidak, itu artinya tidak sayang! Jangan sampai aku menghukum mu lebih parah lagi jika kau terus saja membantah ku, mengerti?"
"Iya kak Rey, aku ikut saja apa yang kau minta kak."
Tiba-tiba Maera pun merasa mual dan mau muntah...
"Apa kau punya asam lambung?"
"Tidak kak, aku juga sudah makan"
"Grace sejak tadi ternyata memantau mereka dari pintu kamar. Entah kenapa Grace ada di situ mengintai mereka."
"Aku ingin ke kamar mandi kak.."
"Baiklah... Ayo aku bantu."
Rey mengantarkan Maera ke kamar mandi... Rey seorang yang mudah sekali jijik terhadap sesuatu, kali ini dapat bertahan melihat Maera yang mual di depannya.
...********...
...Hai Readers kesayangan, jangan lupa suport author yah dengan cara vote manjamu... Like dan comment secara gratis membuat Author lebih semangat lagi.. Terima kasih sebelumnya....
__ADS_1