
Di ruang kantor benuansa putih ungu dengan furniture elite serba hitam itu seketika berubah menjadi penuh berwarna merah membara ketika Frans masih asik menikmati adegan panass nya dengan Martha.
"Sayang... hmmm" De.. sah Martha dalam dekapan Frans.
"Kau begitu manis sayang" Bala Frans pula, ia memang sedang menikmati rasa manis itu.
"Frans... hmmm" Martha semakin kesulitan mengatur nafas nya, katika Frans tak memberi jeda sedikit pun saat Frans menyeruput bibir nya.
Tautan itu berlangsung lama, Frans sama sekali tak melepaskan tautan bibirrr nya pada bibirr Martha hingga beberapa puluh detik...
Frans pun berpindah untuk mencumbuii dagu dan leherrr Martha seperti orang sedang kelaparan yang lagi menikmati santapan luar biasa nya. Bahkan Frans sempat singgah di squisshy kembar milik Martha. Tapi Martha tentu saja masih bisa menahan diri nya.
"Frans.... ughhhh.. ini kantor Frans, bagaimana jika ada yang melihat kita"
"Siapa yang berani masuk ke sini tanpa izin ku sayang, hem... "
"Frans... kau ini... "
"Martha, sebaiknya kita menikah saja! aku sudah tidak tahan lagi. Sampai kapan aku harus berpuasa setiap berdekatan dengan mu, hem?"
"Cih... Kau pikir semudah itu? Apa yang akan di katakan bibi Grace, paman Gorgh dan Kak Rey nanti.
Frans pun melepaskan dekapannya pada Martha.
"Apa yang kau takutkan? Kau tau kan ibu dan ayah ku tidak pernah memandang status? Apalagi dengan kak Rey, dia sendiri menikah dengan gadis yang sederhana, dan jika menurut mereka dia memang baik, kenapa tidak?"
"Tapi kita tidak pernah tau isi hati orang Frans. Aku kan juga masih harus mempersiapkan diri ku dulu."
"Memang nya, kau mau bersiap untuk apa? ckckkc" Frans dengan gaya leboy nya menggoda Martha. Dan Martha langsung membalasnya dengan cubitan.
"Tok... Tok... Tok.. " Tiba-tiba suara ketukan itu terdengar di balik pintu ruang kerja Frans.
Frans dan Martha tentu saja langsung gelagapan membereskan pakaian mereka yang hampir saja terbuka semua akibat adegan grepee-grepee mereka tadi kwkwkw....
"Masuklah!!"
"Permisi Tuan Frans, Tuan Rey tadi meminta ku menyampaikan pesan pada Tuan agar segera kembali ke Mansion Emerald. Tuan Rey menelepon ke ponsel ku karena sudah berulang kali menelepon mu namun tidak tersambung." Perjelas Arman yang mana Arman adalah orang kepercayaan Rey untuk mengawasi Frans selama di perusahaan. Karena kerap kali Frans selalu saja membuat masalah selama ini.
"Habislah aku, aku lupa meng aktifkan ponselku." Ucap Frans sembari melihat ke arah Martha.
__ADS_1
"Aku juga.. Aduh bagaimana ini, kak Rey pasti akan marah"
"Tuan sebaiknya jangan membuang waktu, Mansion Emerald sedang ada masalah besar."
"Masalah apa? Apa kak Rey menjelaskan nya?"
"Hah? Memang nya Tuan Rey punya waktu menjelaskan permasalah pribadi apa lagi hanya pada seorang asisten?"
"Haishh, Kau ini sensitif sekali... Aku akn hanya bertanya."
"Sudahlah Frans sebaiknya kau kembali ke Mansion, jangan buat Kak Rey semakin marah." Bujuk Martha yang tak ingin kekasihnya terkena masalah lebih besar jika menghadapi kemarahan Rey.
"Nona, kau juga akan ikut kembali. Tuan Rey tadi mengatakan kalian kembali bersama."
"Jangan-jangan dia mau menikahkan kita ckckckck." Frans masih saja Sempat-sempat nya berpikiran untuk kesenangan nya sendiri.
"Ish kau ini... Ayo kita berangkat sekarang." Kesal Martha yang tak pernah menghadapi masalah dengan santai.
"Tapi bagaimana urusan di sini? ini kan belum selesai."
"Aku yang akan mengurusnya Tuan, cepat lah, kau terlalu banyak membuang waktu." Amran juga mulai kesal pada sahabat nya yang juga menjadi atasan nya itu. Dia memang tak pernah segan-segan pada Frans karena ia mendapat lampu hijau dari Rey sebagai pemilik utama semua perusaan Emerald.
...***************...
Mansion Rey...
Maera masih teringat pada kata-kata Jerry kemarin sebelum akhirnya Jerry meninggalkan Mansion.
"Sevgilim... Aku menunggu mu di perbatasan besok malam. Aku akan membawa mu dan Anetha pergi jauh dari kota ini. Aku tidak akan membiarkan mu menderita lagi, bagaimana jika Rey menikahi wanita lain yang ia hamili itu? Kau pasti akan lebih menderita sayang." Ucap Jerry dengan mimik wajah yang begitu serius dan penuh harap.
"Jika kau bersedia aku akan menunggu mu hingga pkl 8 Malam. Jika kau tidak datang.. Maka aku akan tetap pergi, selamanya dari hidupmu."
Maera masih saja terus terngiang dengan kata-kata Jerry kemarin. Ia sendiri bingung dan bimbang, langkah apa yang harus ia ambil. Sisi polos nya mengatakan, hidup nya akan seperti sinetron ikan terbang. Yang mana ia akan hidup di madu dengan wanita lain yang tengah mengandung anak dari suaminya.
Sementara sisi normalnya, mengatakan bahwa ia tidak boleh menyerah. Bagaimana pun ucapan wanita itu belum terbukti. Dan ia tidak tega melihat Jasmine yang sudah sangat dekat dengannya.
Maera terus saja mondar mandir di dekat balkon kamar nya. Ia bahkan tak sadar Rey telah memperhatikan nya sejak tadi.
Rey sendiri masih belum berani mendekati Maera, sebelum ia bisa membuktikan kebenaran tentang Lucia.
__ADS_1
"Sayang... Maafkan aku, aku membuat mu terluka padahal belum sampai sebulan usia pernikahan kita. dari awal aku sudah berjanji aku tidak akan menyakiti mu." Ucap Rey dalam hati nya.
Namiira baru saja datang dari bawah, ia bermaksud ingin mengajak Maera untuk makan malam. Namun ia jadi sedih melihat dua sejoli itu seakan sedang kerang dingin. Yang satu berdiri dekat pintu yang satunya lagi mondar mandir gelisah dekat jendela balkon.
"Kak Rey, ini adalah hal yang berat untuk kakak ipar. Kau harus segera menyelesaikan permasalahan mu dengan wanita itu kak."
"Aku tau Namiira... Sebaiknya kau temani Maera, aku akan pergi menemui Valent di Bar. Kalian jangan menunggu ku untuk makan malam."
"Baiklah kak, kau jangan khawatir."
Rey kemudian pergi untuk menyelesaikan urusannya. sementara Namiira pun masuk ke kamar.
"Kakak ipar... Kau sedang apa?"
Namiira memanggilnya sampai tiga kali. Namun Maera masih saja kokoh dalam lamunannya sampai Namiira menggoyangkan badan Maera, barulah Maera sadar.
Maera pun seketika terkejut setelah menyadari kehadiran Namiira.
"Maafkan aku, aku tidak tau kau disini, ada apa Namiira apa Jasmine sudah bangun?" Gugup Maera yang tak mau ketahuan sedang melamun kan tentang apa.
"Tidak kakak ipar... Jasmine baru saja makan obat dan kembali tidur. Aku hanya ingin mengajak mu makan malam."
"Oh... Tapi Namiira aku tidak sedang berselera makan, sudah 2 hari ini perutku terasa gembung. Sebaiknya kau makan saja duluan, jika nanti aku lapar aku akan turun mengambil nya sendiri."
Namiira tidak ingin memaksa Maera, bagaimana pun ia sangat memahami situasi Maera saat ini, ia tidak ingin membuat Maera malah semakin merasa tidak nyaman.
"Hmm... Baiklah kakak ipar. Tapi kau jangan menahan-nahan untuk makan. Pikirkan juga kesehatan mu kak, kau bisa masuk angin nanti."
"Baiklah Namiira sayang, kau jangan khawatir."
...********...
...Jangan Lupa Vote yah sayang........
...Semangat ku ada pada dukungan kalian......
...I Love you.. 🥰...
...AUTHOR MENERIMA KRITIK DAN SARAN SAYANGKUHHH...
__ADS_1