
Maera tak berhenti muntah bahkan sudah lima kali bolak balik ke kamar mandi.
"Maera, sebenarnya kau tadi habis memakan apa? Kenapa kau sampai seperti ini?"
"Aku hanya minum teh yang diberikan kak Melisa Kak Rey."
Sebelum kedatangan Jerry, Melisa sempat mengantarkan minuman pada Maera.
"Lalu kenapa kau bisa seperti ini, sebaiknya kita ke rumah sakit saja."
"Tidak perlu kak, aku baik-baik saja nanti juga akan membaik setelah istirahat sebentar.
"Tidak Maera, aku sudah katakan kau tidak boleh membantah ku, hem!"
"Kak Rey"
Maera berusaha menahan Rey yang hendak bergerak menuju keluar, namun ia malah tak sadarkan diri.
"Blakkkkk"
"Maera!!" Rey berteriak sembari memegangi tubuh Maera yang terjatuh menimpanya.
Grace yang tadi masih di depan pintu pun langsung bergerak menuju pada Maera dan Rey.
"Rey sebaiknya kita bawa dia ke Rumah Sakit sekarang.!"
"Baik Bu, aku akan menghubungi Zade."
Tom dan Valent yang mendengar teriakan Rey langsung bergegas naik keatas.
"Ada apa Rey? kenapa dengan Maera?"
"Aku tidak tau Valent, dia baru saja pingsan"
Setelah berhasil menghubungi Zade, Rey dan Valent langsung membawa Maera ke Rumah Sakit.
Seperti biasa Bobby mengemudikan mobil itu dengan cepat dan lewat jalan pintas.
Mereka tiba di rumah sakit.
"Tuan Rey, apakah dia sebelumnya salah memakan sesuatu?" Tanya Zade sembari mengamati keadaan Maera.
"Tidak Zade, dia bilang dia hanya minum teh yang diberikan pekerja di mansion."
"Jika aku baca riwayat kesehatannya, dia tidak memilki gangguan pencernaan yang akut. Aku akan melakukan beberapa test terlebih dahulu."
"Baiklah, kau lakukan saja yang terbaik."
Zade melakukan pemeriksaan sesuai ucapannya tadi.. Tapi entah kenapa Zade terdiam di ruangannya.
Dia bingung seperti ragu untuk mengatakan hasil test nya pada Rey.
"Apa ada yang salah dalam pemeriksaan ku? Kenapa hasilnya seperti ini?" Gumam Zade pada dirinya sendiri.
Rey yang tak sabar menunggu, akhirnya memutuskan untuk menghampiri Zade di ruangannya.
"Ada apa Zade? kenapa kau lama sekali?"
"Tu.. Tuan maafkan aku, tapi.. aku."
Zade gugup sampai berkata tak jelas pada Rey. Hal tersebut malah membuat Rey curiga.
__ADS_1
"Zade?!"
"Tu.. Tuan, apa sebelumnya Tuan sudah pernah melakukan hubungan intens, maksud ku hubungan suami istri dengan Nyonya Maera?"
"Apa maksud pertanyaan mu Zade? Hari ini bahkan adalah hari pertama pernikahanku, aku bahkan selalu menahan diriku sejak bersamanya. Kenapa kau bertanya itu padaku?"
"Tuan Rey, aku khawatir aku salah memeriksanya, tapi aku sudah mengulanginya tiga kali, dan hasilnya tetap sama."
"Zade kau terlalu banyak bicara. Sebaiknya kau langsung ke intinya!"
Zade menelan salivanya seolah harus bersiap menahan lampiasan kemarahan Rey.
"Tuan, sepertinya Nyonya Maera sedang mengandung..."
"Apa??? Kau jangan menguji ku Zade! Apa kau sudah kehilangan akal sehat??"
"Apa kau tidak menemukan sesuatu yang aneh Zade? Aku yakin Menantuku wanita yang baik."
Grace mendengar semuanya saat ia juga masuk menyusul Rey tadi.
"Maafkan aku Nyonya dan Tuan Rey. Seperti aku katakan tadi aku sudah memeriksa nya tiga kali."
Dengan amarah yang sudah berada di ubun-ubun, Rey pun dengan cepat pergi ke kamar rawat Maera.
Dengan kasar Rey pun menarik Maera yang tengah duduk di tepi ranjang nya. Bahkan Rey memberikan sebuah tamparan pada Maera. Dan Maera yang tak kuat berdiri pun terjatuh di lantai.
"Kak Rey, apa yang kau lakukan? Hikss"
Grace yang mengejar Rey pun sampai membulatkan matanya melihat Rey melakukan itu.
"Rey, apa yang kau lakukan? Kenapa kau melakukan itu pada Maera?"
"Tanya saja pada nya Bu, kenapa dia tega menipu kita semua."
Maera yang polos benar-benar tidak mengetahui apa yang di maksud Rey.
"Katakan padaku siapa yang menyentuh mu hingga membuatmu hamil, hah??!!"
"Menyentuh ku? Hamil? aku tidak mengerti apa maksudmu kak."
"Kau jangan berpura-pura bodoh lagi Maera! Kau sudah membuat habis kesabaran ku."
Maera pun hanya bisa menangis dan bingung.
"Ta.. Tapi aku tidak mengerti kak, hanya kak Rey yang menyentuh ku lebih dari orang lain."
"Cukup Maera!! Astaga Tuhan, jangan sampai aku berbuat lebih kasar padamu."
"Rey, tenangkan dirimu nak.. Ibu yakin ini hanyalah salah faham."
"Ibu masih membelanya? Gadis ini telah membohongi kita semua bu!"
"Ta.. tapi, ba.. bagaimana aku bisa hamil kalau aku baru saja selesai..."
Belum usai Maera menyelesaikan kalimat penjelasannya. Rey sudah memotongnya dan tak mau mendengar apapun lagi.
"Cukup Maera..!! Aku tidak menyangka kau... Kau tega mengkhianati kepercayaanku. Saat semua orang mempertanyakan keseriusanku, semua orang takut aku mempermainkan mu.. Tapi ternyata.. Kau yang mempermainkan ku."
"Kak Rey, kenapa kau tidak mau dengar penjelasan ku."
Rey pun pergi meninggalkan Maera di ruangan itu. Tanpa memperdulikan lagi Maera dan ibu nya yang ditinggalkan nya, ia pergi begitu saja entah kemana.
__ADS_1
"Maera... Maafkan ibu sayang, ibu yakin kau tidak bersalah. Tapi ibu akan segera membereskan nya."
"Maera, ayo sebaiknya kita pulang."
"Tidak Bu, sepertinya kak Rey tidak menginginkan ku kembali ke rumah itu. Aku akan pulang ke rumah ku saja Bu."
Sementara di luar..
Valentino kebingungan melihat Rey pergi dengan amarah. Ia pun mengejar Rey untuk bertanya.
"Ada apa Rey? Apa yang terjadi?"
Rey yang tengah meneteskan air matanya, reflek memeluk sahabatnya Valent.
Pria juga manusia, dia bisa menangis ketika hatinya sakit terlalu dalam.
Bukan karena cengeng, tapi sesuatu itu tidak bisa ia lampiaskan seperti ia berhadapan dengan seorang lelaki atau musuh.
Karena itulah ia hanya bisa menangis menahan amarahnya yang tak tersalurkan.
"Rey, ada apa denganmu? Kau tidak seperti Rey yang aku kenal."
"Valent, Dia... dia mempermainkan ku, dia mengkhianatiku.."
"Apa maksudmu? Maera melakukan apa padamu?"
"Dia.. Dia hamil Valent.. Dia bahkan belum pernah kusentuh lebih dari sebuah ciuman."
"Astaga... Rey, apa kau serius? Tapi aku tidak percaya ini Rey."
Rey pun melepaskan pelukannya pada Valent.
"Aku juga awalnya tidak percaya, tapi Zade bahkan sudah memeriksanya berkali-kali."
"Oh.. Shlttttt.. Lalu siapa yang melakukannya?"
"Aku tidak tau, dia tidak mengakuinya... Bahkan dia merasa tidak pernah disentuh siapapun selain diriku."
"Bukankah itu sangat aneh Rey?"
"Tidak ada yang aneh, dia bisa saja menjebak ku"
"Aku yakin, Maera tidak akan mungkin berani bermain-main denganmu. Dia tidak punya kekuatan apa-apa untuk bermain denganmu.
Lagi pula jika dia tidak benar-benar wanita yang baik, dia tidak akan mengorbankan dirinya untuk mu dan Jasmine tempo hari kan?"
Rey pun merasa apa yang dikatakan Valent ada benarnya.
Rasanya seorang gadis polos seperti Maera tidak mungkin berani mempermainkan nya.
Dan semua orang yang mengenal Maera, seolah semua ketakutan jika Rey akan mempermainkan nya.
"Valent, aku ingin menemui Anetha. Kau bawa mereka pulang lebih dulu."
"Tapi Rey"
"Kau dengar saja apa yang aku katakan Valent. Kau bawa ibu dan Maera sekarang."
Rey dengan terburu-buru pergi menaiki mobil nya.. Sementara Valent membawa Maera dan Grace pulang dengan mobilnya sendiri.
...********...
__ADS_1
...Hai Readers kesayangan, jangan lupa suport author yah dengan cara vote manjamu... Like dan comment secara gratis membuat Author lebih semangat lagi.. Terima kasih sebelumnya....