
Usai menyelesaikan rapat, tanpa berbasa-basi Rey langsung meninggalkan ruangan itu dan kembali ke ruang kerja nya.
Morgan sendiri tidak bisa berkata apa-apa. Dia sadar akan posisi nya yang masih junior di dunia perbisnisan ini. Jika bukan karena permintaan nenek nya, ia sama sekali tidak berminat sama sekali.
"Maafkan sikap Tuan Rey, dia hanya sedang memiliki masalah lain. Seharusnya ia bisa profesional tapi dia bukanlah orang yang mudah di ajak kompromi." Ucap Willman mencoba menjelaskan pada Morgan.
Morgan meninggalkan perusahaan EC lalu kembali ke mansion nya.
Di ruang kerja Direktur...
"Sayang, aku sudah kembali... Apa kau baik-baik saja?"
Maera yang sudah tertidur akibat kelelahan dan menangis sejak tadi, benar-benar tidak menyadari kehadiran Rey.Awalnya Rey bahkan mengira Maera pingsan.
"Sayang!! Bangunlah, apa yang terjadi, Maera!" Rey sampai menepuk pipi Maesa.
"Kak..., maaf aku lelah" Balas Maera masih dengan mata berat nya.
"Aku sampai lupa kalau kau tidur memang seperti mayat" Rey melepaskan nafas lega nya setelah menahannya beberapa saat.
"Sayang, maafkan aku, aku mungkin tadi sedikit keras padamu, ehm tidak, aku terlalu keras padamu." Rey pun bicara sendiri sembari membelai rambut wanita nya itu.
Ia terus memandangi wajah polos Maera saat tidur. Dia memang cantik apalagi tidur.
Tring... Tring... Tralalaaaa...
Ponsel Rey berbunyi, ia menjauh dari Maera agar Maera tidak merasa terganggu. Padahal ia juga tidak akan terganggu sama sekali.
"Ya ayah, ada apa?"
"Paman mu sudah di pindahkan ke rumah sakit EC, dan kabar baik lainnya Nyonya Grelda tadi memberikan respon. Artinya ada kemajuan Rey. Sebaiknya kalian cepat ke sini!"
"Baiklah ayah, Maera pasti senang mendengar ini. Kami akan segera ke sana."
Rey langsung menutup ponsel nya lalu membangun kan Maera.
"Sayang, bangunlah! Ada kabar gembira untuk mu. Maera... "
"Hmm, ada apa kak Rey?"
"sayang, Ibu Grelda mu, tadi di kabarkan dia memberi respon pada Dokter."
__ADS_1
"Hhh? Benarkah? Aku ingin melihat ibu sekarang kak" Maera langsung panik dan ingin segera melihat ibu nya saat itu juga.
"Iya sayang, kita akan segera ke sana, tapi sebaiknya kau cuci wajah mu dulu ya, apa kau akan membiarkan orang lain melihat wajah cantik bangun tidur mu itu, hem?"
"Kak Rey, tolong jangan mulai lagi!"
"Aku serius sayang, kau sebaiknya cuci muka mu dulu agar lebih fresh, oke?"
"Baiklah kak Rey..."
Usai mencuci wajah nya Rey membantu Maera mengeringkan dengan handuk dari lemari penyimpanan yang ada di ruang khusus itu. Dengan sabar Rey bahkan membantu untuk menyisir rambut panjang Maera.
"Kau tau sayang, bahkan saat kau pucat begini, wajah mu itu tetap saja cantik Dan itu akan membuat semua memandang ke arah mu." Rey menyingkap rambut Maera untuk di selipkan ke belakang telinga nya.
"Sebaiknya kita segera pergi sekarang, jika tidak aku bisa menghukum mu di sini sayang!" Ucap Rey dengan senyuman manis nya.
"Cih... Di otak Tuan Rey saat ini hanyalah mencangkok dan bercocok tanam!" Balas Maera dengan mata jengah nya. Ia pun meninggalkan Rey dengan berjalan duluan ke luar kamar.
Rey menarik tangan Maera hingga masuk ke dekapan nya.
"Hah?? Benarkah? Tapi kan aku hanya berjalan duluan, bukan meninggalkan mu dan melawan mu kak"
"Itu sama saja sayang!" Rey memberikan satu kecupan lagi pada Maera lalu menuntunnya keluar sembari tetap di peluk oleh Rey.
"Lihat itu Tuan Rey bahkan tidak melepaskan istrinya sedikit pun, hihihi dia memang pria sejati." Bisik-bisik karyawan di sana lagi saat menyaksikan raja dan ratu itu lewat.
"Begitulah memang seharusnya jika pengantin baru, kalian jangan menggosip terus! Sudah bekerja sana!" Tegur teman mereka lainnya.
Sementara Jack dan Dona tidak berani berkata apa-apa lagi. Khawatir nasib nya akan menjadi seperti Angel tentu saja mereka tak berani berkutik.
"Oh ya Willman... Aku akan meminta Maera memilihkan pengganti Angel untuk posisi Manager di perusahaan ini!"
Maera pun kaget mendengar perintah Rey, ia bahkan sama sekali tidak mengenal siapapun di situ, kecuali hanya pernah bertemu dengan Angel, Jack, dan Dona saat di pesta.
"Kak, aku tidak mengerti maksudmu. Untuk apa kau meminta ku melakukan nya?"
"Sayang, jadi lah istri penurut, hem! Atau aku akan menghukum mu lagi malam ini?"
"Kau selalu saja menjadikan itu senjata ancaman! Aku hanya tidak mau nanti ini akan menjadi masalah untuk mu kak." Ucap Maera dengan nada suara yang mengecil.
__ADS_1
"Jangan khawatir sayang, aku percaya pada insting mu. Sekarang kau lihat mereka satu per satu, baru setelah itu kau putuskan"
"Ya ampun, apa sebenarnya yang di lakukan Tuan Rey? Apa dia akan benar-benar meminta nyonya Maera melakukan pemilihan? Ini tidak seperti biasa nya." Gumam Willman yang sangat terheran-heran pada Bos nya itu.
"Tuan... Sebaiknya kau jangan terburu-buru mengambil keputusan! Aku masih bisa menangani nya sampai kau benar-benar mendapatkan orang yang tepat"
Rey pun mengeratkan rahang nya, namun masih dalam posisi tenang.
"Willman, apa kau ingin mengajariku sekarang?"
"Ti... Tidak Tuan..." Gugup Willman yang langsung memundurkan langkah nya.
Para karyawan lain yang tadi nya ceria melihat Rey dan Maera kini berubah menjadi tegang. Mereka pun ikut heran melihat tingkah Rey yang sangat aneh di hari pertama nya kembali ke perusahaan.
"Sayang! Sekarang katakan apa kau sudah memutuskan nya?"
Maera sejak tadi mengitari ruang kantor yang ber ukuran cukup luas itu. Matanya tertuju pada Dona, salah satu orang yang menghina nya dan membully nya waktu itu.
"Aku memilih dia kak..." Jawab Maera sembari menatap Dona.
"Bagus sayang, angkat kepala mu, jangan biarkan orang lain merendahkan mu, tunjukkan kau punya kuasa di sini! Ini milik mu dan putra putri kita kelak"
Dona pun tersentak kaget...
"Ke.. kenapa aku? Bukan kah aku memiliki kesalahan besar pada mu Nyo.. Nyonya?" Sahut Dona yang wajah nya berubah jadi pucat. Jack pun jadi kasihan melihat kekasih nya yang tiba-tiba jadi shock.
"Kenapa kau jadi pucat Dona? Bukankah seharus nya kau senang istriku memilih mu?"
"Bu.. Bukan begitu Tuan, Ta.. tapi.."
"Kau pasti bisa kak... Aku lihat kau orang yang pintar dan cekatan. Kau pasti akan lebih berguna jika kau menjadi Manager di sini" Ucap Maera dengan nada santun tapi terdengar monohok karena membuat Dona merasa ter sentil.
...*********...
...Terima kasih masih setia bersama karya kecil ini....
...Jangan bosan untuk memberikan dukungan untuk author pendatang baru ini yah......
...Love love love banget buat kalian yang sudah bersedia mendukung Author......
...Selamat membaca kesayangan......
__ADS_1