BRANDAL MAFIA CINTA (Seri Novel)

BRANDAL MAFIA CINTA (Seri Novel)
BPC (Maera Di Tembak Penyusup)


__ADS_3

Keluarga Emerald sudah di buat pusing oleh ulah Clara. Tapi Maera tetap mampu mencairkan suasana. Seakan Maera sendiri sudah melupakan kejadian barusan.


Maera malah mengajak keluarga Emerald untuk bermain layang-layang.


Mansion Rey yang besar dan di lengkapi dengan halaman yang luas, tentu saja mereka leluasa bermain di sana.


"Tarik perlahan sayang, jangan biarkan layangan mu terputus."


"Baik Ibu Maera... Terima kasih Bu... Aku senang sekali bisa bermain seperti ini, sebelumnya aku belum pernah melakukannya.."


"Kau tau sayang, aku juga sama seperti mu, aku juga dulu jarang bermain, karena aku harus bekerja sejak aku kecil. keluargaku tidaklah sekaya keluargamu. Kau bisa membeli apa saja bahkan sejak kau lahir. Tapi aku? aku tidak seberuntung dirimu sayang. Jadi kau harus bersyukur dengan apa yang kau miliki sekarang."


"Baiklah Ibu Maera ku, aku akan mendengarkan apapun yang ibu katakan"


"Sayang, satu hal lagi.. Tadi kau sudah mengatakan, kau jangan memanggil ku ibu di depan ayahmu. Kau tau kan, ayah mu memiliki darah tinggi, aku khawatir dia akan tiba-tiba mengamuk pada ku dan dia akan menghukum ku nanti."


"Hem... Iya aku mengerti bu."


Disisi Lain...


"Sayang, rasanya sudah lama kita tidak menghabiskan waktu bersama. Kehadiran Maera membawa warna pada keluarga kita." Ucap Gorgh pada Grace.


"Kau benar sayang. Kau tau... Dia sangat mirip dengan putri kita Rubyca. Aku seperti melihatnya dalam sosok gadis ini." Grace menyisipkan senyuman kebahagiaan di bibirnya.


Aishe yang tengah hamil muda, sebenar nya enggan untuk berlari-larian. Tetapi karena dia sedikit kepo terhadap Maera, ia pun memaksakan diri untuk ikut dengan Valentino.


"Sayang, apa kau tidak ingin memegang benang nya?" Tanya Valent pada Aishe.


"Tidak sayang... Kau tau, aku bahkan sudah merasa terengah-engah untuk sampai di sini. Aku tidak ingin menambah lelahku."


Aishe lalu duduk di kursi kayu yang memang ada di halaman luas itu.


"Oh ya ampun... itu karena kau tidak menikmati suasana sayang. Kau lihat paman Gorgh dan bibi Grace. Di umur mereka yang sekarang saja mereka masih kuat."


"Aku juga kuat jika aku tidak hamil karena ulahmu! Lagi pula aku seorang perawat, bukan seorang prajurit yang harus tahan berkeliling lapangan, huh."


Rey yang memperhatikan perdebatan Valentino dan Aishe tiba-tiba ikut menimbrung.


"Sudah.. Sudah.. Aishe sebaiknya kau istirahat saja dulu."


"Hmmm... Lihat, malaikatmu sudah datang Aishe.. Aku akan jadi bulan-bulanan sekarang.."


"Valent, kau jangan memaksakan istri manja mu itu, nanti dia akan membuatmu tidur di luar. Hahaha" Rey mengolok Valent sembari tertawa senang.


"Tidur di luar adalah kesenangan bagi setiap pria bukan? Hahaha." Valent pun membalasnya dengan tawa ceria.


Suasana itu begitu ceria, tidak ada kericuhan sementara waktu yang ada hanya canda dan tawa.


"Tringggg.. Tringgg... Tringggg.. Tralalala..."


Ponsel Maera pun berbunyi.


"Sayang, aku harus mengangkat ponsel ku, tunggu sebentar yah, kau bisa pegang benang ini dulu kan?"


"Baiklah ibu Maera"


Maera pun bergeser kearah pohon untuk mengangkat ponselnya.


Frans yang melihat Jasmine sendirian, lantas menghampiri nya untuk menemaninya.

__ADS_1


"Ayo paman akan mengajarimu bermain, kau tau paman adalah pemain layang-layang terbaik."


"Benarkah? Hmm.. memangnya paman belajar di mana selama ini? Bukankah kita tidak pernah melakukannya di sini?"


"Em... Di rumah nenek Grace. Paman bermain dengan kakek mu."


Frans pun asyik mengobrol dengan Jasmine. Sementara Maera, dia pusing kena omelan dari Anetha.


"Hey Maera? Siapa pria yang mengangkat ponselmu tadi pagi, hah?" Omel Anetha dari seberang sana.


"Itu... Em... Dia adalah bos nya Dave. Ceritanya panjang, nanti saja aku ceritakan padamu Neth."


"Oh, pantas saja mansion nya sangat besar. aku samoai bingung itu Mansion atau mungkin itu istana sampai sebesar itu. Ternyata dia Bos."


"Hah? Dari mana kau mengetahui rumah ini? Apa kau menguntit ku?"


"Yakk Maera, apa jika aku menguntitmu akan akan bertanya lagi pada mu?"


"Lalu dari mana kau mendapatkan nya? "


"Pria itu tadi memberikannya, tadinya aku ingin melabraknya, tapi kau sudah di hadang di gerbang rumahnya. Kalau saja tidak memikirkan uang, pasti sudah aku lempar rumahnya dengan batu."


"Anetha... Kau jangan membuat masalah lagi, kita bahkan bulan depan harus membayar kontrakan. Sore ini aku akan pulang, kau tunggu aku ya di rumah"


"Baiklah, kau jaga diri mu baik-baik, ingat! Jangan biar kan dia menyentuh mu oke!.


Hmm Aku mengerti.."


"Dia bukan hanya menyentuh ku, tapi dia mencium ku, andai kau tau mungkin kau akan kau akan datang dengan sejuta tanduk di kepalamu."


"Hmm, aku mengerti bawel."


Lalu ia kembali ingin menghampiri Jasmine yang kini di temani oleh Frans dan Rey.


Namun pada saat ingin menghampiri mereka, Maera tak sengaja melihat dari kejauhan ada seorang pria yang sedang mengarahkan senjatanya pada arah Rey, Jasmine, dan Frans.


Maera ingin berteriak saat itu juga, tapi tiba-tiba mulutnya terasa kaku.


Tanpa berpikir panjang, Maera lalu berlari cepat ke arah Mereka bertiga. dan...


"A... wassss!!!!"


.................Dorrrrr...................


Suara tembakan itu pun menggema di udara.


Bobby dan beberapa pengawal lain yang memang berada di sekitar mereka pun lantas mencari asal tembakan itu.


Sementara Rey, Jasmine dan tiba-tiba histeris melihat Maera yang kini tiba-tiba sudah bersimbah darah.


"Ibu Maera..." Jasmine langsung menangis histeris melihatnya.


"Maera" Teriak Rey juga di sana, tampaknya ia masih tidak percaya apa yang ia lihat.


Gorgh, Grece, Valentino, dan Aishe yang mendengar jerit histeris mereka pun berlari ke arah mereka.


Gorgh yang selalu tenang dan bijak langsung saja mengingatkan keputusan yang baik di waktu yang tepat.


"Tunggu apa lagi?? Bawa dia ke rumah sakit sekarang." Titah Gorgh kepada Rey dan Valent.

__ADS_1


"Baik paman, aku akan menyiapkan mobil. Aishe sebaiknya kau tunggu di sini, aku akan minta tambahan penjaga dari yang lain."


"Hem.. Baiklah, kalian berhati-hati lah'' Aishe pun tampak mencemaskan juga keselamatan mereka.


"Frans, hubungi Zade, minta dia bersiap di rumah sakit. sekarang!"


"Baik kak"


Semua orang masih shock atas kejadian barusan, Gorgh yang tidak ingin mengambil resiko segera meminta Grace dan yang lain untuk kembali.


"Sayang sebaiknya kita bawa Jasmine dan Aishe ke dalam rumah, di sini tidak aman."


"Sayang, aku ingin ikut mengantar Maera ke rumah sakit" Pinta Grace pada Gorgh.


Jasmine yang masih menangis kencang karena melihat Maera terkapar, ia pun memaksa untuk ikut. Tapi Gorgh tidak mengizinkan nya.


"Nenek aku juga ingin ikut... Aku ingin menemani Ibu Maera... Hiksss"


"Tidak sayang, kondisi sedang tidak aman, kita belum tau siapa yang melakukan penyusupan ini. Sebaiknya kalian tunggu di rumah. Nanti Rey dan Frans akan mengabari kita dari sana."


Mau tidak mau Grace pun patuh pada ucapan suaminya. Bagaimana pun dia tidak ingin Jasmine celaka.


Akhirnya mereka pun kembali ke dalam rumah. dengan menaiki Ativi milik Rey yang tersedia di sana.


Para penjaga dan di pimpin oleh Bobby masih melacak pria penyusup itu.


Sementara Rey... Dia menggendong Maera tanpa menghiraukan luka perutnya yang kembali berdarah karena terlalu banyak bergerak.


"Maera, aku mohon sadarlah... Apa kau mau ku hukum, hah?"


Maera yang masih memiliki sedikit kesadaran, tiba-tiba membalas ucapan Rey.


Sembari ia menahan sakit di dada atas bagian kanannya yang tertembak tadi.


"Tuan... Aku belum mati, Aku juga belum mau mati, nanti ibuku tidak ada yang merawat nya."


Nada suara Maera terdengar kecil dan agak parau karena menahan sakit nya.


"Kau tidak akan mati Maera, aku tidak akan membiarkan nya."


Rey pun masuk ke dalam mobil. Dia bahkan tetap memangku Maera.


Sesekali sakit luka perutnya juga terasa, tapi ia mengabaikannya.


"Valent, kau cari rute tercepat... Atau bisa dari jalan pintas kita seperti biasanya."


Valent yang mengemudikan mobil pun tau harus berbuat apa.Valent pun langsung tancap gas melewati jalan yang mereka biasa lewati untuk pintas ke rumah sakit.


Frans yang duduk di samping nya bahkan sampai muntah karena laju kendaraan yang secepat kilat itu.


"Oh.. Shitt... Aku bahkan tidak siap untuk hal ini" Oceh Frans pada dirinya sendiri.


...*********...


.... Assalamu'alaikum hai Readers kesayangan. Mohon maaf yah jika 2-3 hari ini Author telat update, mohon dimaklumi yah. Author akan berusaha terus untuk bisa update tiap hari....


...untuk itu Author minta dukungannya yah untuk tetap support karya Author, biar Author jauh lebih semangat lagi....


...Selamat membaca kesayangan......

__ADS_1


__ADS_2