
Grace harus menempuh perjalanan panjang untuk datang ke sebuah rumah di tengah hutan itu. Bahkan ia harus melawati semak duri dengan berjalan kaki sekitar kurang lebih 100 meter.
"Siall.. Jika bukan karena kakak ku, aku tidak perlu bersusah payah sampai ke sini." Omel Grace pada dirinya sendiri.
Ia pun sampai di rumah gubuk itu.
Tampak beberapa anggota nya yang berjaga di sana memberi hormat saat menyambut kedatangan nya.
"Selamat datang Nyonya..." Ucap ketiga penjaga itu serentak.
"Hmm, apakah kondisi di sini aman?"
"Kami selalu memastikan nya Nyonya"
Grace pun masuk ke dalam sebuah ruangan yang dilapisi dengan pengedap suara itu. Ini sengaja di lakukan agar apapun yang terjadi di dalam ruangan itu tidak sampai ke luar.
Grace berbicara dengan seorang wanita tua yang tubuhnya bahkan sudah hampir tak berdaging itu. Bukan kali pertama Grace mendatangi tempat ini
"Apa kau masih belum mau buka mulut? Kau akan melihat orang-orang yang kau cintai hancur seperti aku melihat detik-detik kematian putriku!!"
"Di.. a ti.. dak bersalah.."
"Putriku juga tidak bersalah!!"
"Sudah lima tahun aku menunggu, dan kau masih bertahan menunggu kematian menjemputmu!"
Wanita tua itu hanya tetap diam, dia duduk di ubin yang begitu dingin dengan posisi meringkuk di sudut ruangan.
"Kau akan menyesal sampai pada akhirnya malaikat maut mu datang."
...**********...
Rey yang sejak pagi menempel terus dengan Maera membuat Jasmine merasa kesal. Ia menggedor kamar ayah dan ibu barunya itu dengan merengek.
"Sayang, kita akan melanjutkan lagi nanti. Itu baru satu ronde saja, kau membutuhkan tiga kali lagi untuk menyembuhkan akar manis mu itu" Rey sembari tersenyum senang bisa memperdaya istrinya kesayangan nya itu.
"Ayah.. Ibu Maera... Hikss" Rengek Jasmine lagi dari luar pintu kamar.
"Kakak... Jangan biarkan putriku menangis terus. Kakak cepat buka pintunya"
"Baiklah sayang, ups kau akan kena hukuman lagi karena lupa memanggil ku dengan kata sayang, hem" Rey tersenyum lagi saat mengancam Maera, ia sembari turun dari ranjang nya.
__ADS_1
"Cekrreeekkk"
"Ada apa Tuan Putriku sayang, kenapa kau menangis, hem?"
"Ayah, mana ibu Maera ku...? Ibu sudah berjanji hari ini mengantarkan ku ke sekolah, tapi kenapa ibu Maera bahkan tidak menemui ku di kamar? " Omel Jasmine panjang kali lebar kali tinggi.
Maera yang mendengar dari kejauhan merasa bersalah dan tak enak hati pada Jasmine. Ia ingin bergerak membujuk nya tapi apalah daya badannya terasa hampir remuk setelah tadi di hukum oleh Rey dengan permainan panas nya.
"Ibu Maera sedang tidak enak badan sayang, dia bahkan tidak bisa turun dari tempat tidur." Rey mencoba menjelaskan pada Jasmine agar dia tidak merengek lagi.
Jasmine lalu berlari menghampiri Maera di tempat tidur nya.
"Ibu Maera, benarkah ibu sedang sakit?"
"I.. Iya sayang, maaf kan ibu ya, ibu tidak bermaksud mengingkari janji ibu padamu." Mohon Maera dengan keseriusan.
Meski pun ia belum pernah memiliki anak, ia sendiri sangatlah menyayangi Jasmine. Ia merasa hari-hari nya lebih berwarna sejak bertemu dengan Putri dari Rey Emerald itu.
"Ayah, besok sudah akhir pekan, bagaimana jika kita bertiga pergi jalan-jalan?"
Rey melihat ke arah Maera, sebenarnya ia tak tega melihat Maera pasti masih lelah dan kesakitan.
"Ibu setuju jika ayah mu setuju" Jawab Maera sembari melirik juga pada Rey.
"Baiklah, ibu Maera istirahat ya, aku akan kembali ke kamar ku. Ayah jangan membuat ibu Maera sibuk lagi nanti dia akan semakin lelah dan sakit!"
"Hhh?? Siapa yang mengatakannya?" Rey pun terkejut dan langsung mengenyitkan dahi nya.
"Bibi Namiira Ayah.. Bibi Namiira bilang ibu kelelahan karena ayah terus membuat Ibu Maera sibuk" Jasmine yang polos terus saja menjelaskan apa yang ia dengar tadi.
Maera pun tersenyum mendengar celotehan putri sambung nya itu.
"Itu benar sayang, ibu sakit karena ulah ayah mu"
"Ayah, ternyata benar kan? ayah selalu saja menyiksa ibu Maera ku, ayah memang nakal" Omel Jasmine sembari memukuli punggung ayah nya dengan bantal guling."
"Maera... sayang kau, ishh.." Rey membulatkan matanya pada Maera.. Maera terus saja tertawa melihat tingkah Rey yang mati kutu tidak bisa membela diri pada Jasmine.
"Sayang.. awas saja kau sayang, aku akan menghukum mu dua kali lipat nanti" Ancam Rey pada Maera, ia berteriak teriak kecil sembari berlarian menghindari amukan putri kecilnya itu.
"Jasmine sayang, kalau kau terus mengamuk bagaimana ibu Maera mu akan istirahat, hem?"
__ADS_1
"Sekarang aku akan memaafkan ayah, tapi kalau besok ibu Maera masih sakit itu artinya ayah menyiksa ibu Maera lagi, dan aku tidak akan tinggal diam, aku akan mengadukan ayah pada kakek dan nenek, huh"
"Baiklah sayang, ayah tidak akan membuat ibu Maera mu itu sakit, tenang saja, ayah justru selalu memberi vitamin pada ibu mu agar ibu mu cepat memberikan adik padamu."
"Adik?? Akhh aku tidak sabar ingin memiliki adik, ayah ibu aku kembali ke kamarku sekarang, besok aku akan melihat adik ku ya" Jasmine sembari berlarian keluar kamar.
Sementara Rey dan Maera saling bertatapan, mereka pun tertawa geli dengan celotehan Jasmine yang mengira adik nya akan keluar begitu saja dalam satu malam.. ckckckck
"Sayang, aku akan menghukum mu"
"Tapi kak Rey sayang, itu kan bukan salah ku, kakak yang membuat ku tidak bisa bergerak sampai aku tidak menepati janji pada Jasmine." Maera mengucapkan pembelaannya sembari memundurkan wajah nya.
Rey sudah bersiap ingin menerkam Maera saat itu juga.
Rey tak perduli dengan pembelaan Maera, ia langsung saja me.. lu.. mat.. bibir Maera tanpa ampun.
"Mmmm..."
"Kak Rey kenapa terus-terusan ingin mencangkok dengan ku, apa suami istri memang akan melakukannya berkali-kali setiap hari?" Tanya Maera dalam hati sementara ia sesak nafas melayanii suaminya yang tak berhenti me.. lumati bibir nya.
"Sayang, kau ingin cepat sembuh kan?"
"Hmm"
"Aku akan menyembuhkan mu sayang, ini harus di lakukan berulang, agar itu mu tidak lagi merasakan sakit."
Rey pun kembali me.. nye mat kan bibir nya, ia sembari memainkan jari nya di daun telinga Maera.
"Berikan li.. dah mu sayang... " Rey sembari mengajari ilmu baru pada Maera. Bagaimana pun Rey pasti ingin ada pembalasan dari Maera agar permainannya bisa berimbang.
Ia lalu berpindah ke da.. gu dan leher nya.. ia terus saja meninggalkan bekas iisaapan merah di sana.. rasanya sudah hampir penuh bekas itu karena hampir tidak ada yang di lewatkan oleh Rey..
...************...
...ATENTION.......
...Hanya 2 Episode yah buat hari ini......
...Mohon maafkan Author... Karena Author masih ada tugas untuk 2 Novel lainnya......
...Smoga readers kesayangan tidak pernah bosan yah......
__ADS_1
...I LovE You All...