BRANDAL MAFIA CINTA (Seri Novel)

BRANDAL MAFIA CINTA (Seri Novel)
BPC (Kandungan Maera Melemah)


__ADS_3

Rey dan Maera kembali ke mansion dengan penuh kegelisahan. Maera gelisah karena cemburu pada Felicia sedangkan Rey, ia gelisah karena memikirkan keadaan kandungan Maera dan juga urusan nya yang belum selesai itu.


Tring... Tring... Trallallaaaa...


Seseorang melakukan panggilan selluer kepada ponsel Rey.


"Katakan, apa kau sudah mendapatkan hasilnya?" Tanya Rey pada pria lawan bicaranya di ponsel itu.


"Sudah Tuan Rey, dan hasilnya positive."


"Apa kau tidak salah??? Aku akan menghajar mu jika kau salah!!" Dey sampai tak sadar berteriak hingga otomatis Maera melihat ke arah nya. Rey pun tersadar dan langsung menurunkan nada suaranya.


"Benar tuan Rey, aku sudah memeriksanya sampai tiga kali dan ini semua hasilnya tetap sama"


"Aku akan segera ke sana, kau tetap berjaga di situ."


"Baik tuan.." jawab pria itu sembari mengakhiri panggilan.


Rey kemudian bergegas untuk pergi ke luar, tapi sorot mata Maera tak berhenti mengikuti Rey hingga tak terlihat di balik pintu itu.


Rey pergi tanpa berpamitan seperti biasanya pada Maera.


Tak lama ternyata Maera memberhentikan sebuah Taxi yang melintas di daerah mansion milik Rey.


"Tolong ikuti mobil itu" Punya Maera pada pengemudi taxy itu.


"Baik Nyonya, tapi apakah itu suami mu? kalian sedang bertengkar ya?" Kepo supir taxy yang sebenarnya ingin membuat suasana tidak begitu tegang, Karena Maera terus saja mendesak supir untuk tidak ketinggalan jauh.


Nasib baik supir tersebut juga cukup memiliki pengalaman dalam dunia per balapan hingga dia tidak terlalu rumit untuk mendekati posisi Rey.


Rey terburu-buru hingga tidak menyadari bahwa ia sedang di ikuti.

__ADS_1


Mara seperti biasa, dia tidak tahan dengan kondisi mobil yang berpacu kencang sampai muntah-muntah, supir tetap di minta kencang meskipun dia sudah pusing tujuh keliling tujuh putaran tujuh bundaran..


Rey pun sampai di rumah sakit miliknya. Ia bergegas pergi ke bagian laboratorium.


"Apa kau benar-benar yakin Zade?" Tanya Rey pada pria itu.


"Aku yakin tuan Rey, sampel jenazah yang ada di makam itu tidak sama dengan milik nyonya Rema.


"Artinya wanita itu?" Ucap Rey yang emosi lalu memberikan pukulan pada meja Zade.


"Wanita itu memang benar-benar nyonya Rema tuan."


"Shitttt.... Sudah ku duga! Dia memang Rema. Dia selama ini menipu ku, bahkan sampai memalsukan kematian nya demi bisa bersama pria itu."


"Tapi untuk apa dia kembali lagi ke kota ini?"


"Tentu saja demi uang. Pria yang bersama nya itu ku dengar sekarang sedang dalam masalah keuangan. Aku sudah meminta Valent untuk memeriksanya."


"Apa aku harus melakukan sesuatu tuan Rey?"


"Hhh.. " Maera begitu shock mendengar apa yang barusan dia dengar. Ia tidak percaya bahwa mantan istri Rey itu ternyata masih hidup.


Maera yang di ikuti si pengemudi taxi itu masih berdiri di pintu masuk ruangan Laboratorium itu pun terjatuh, dan si supir otomatis menahan nya agar tidak jatuh. Rey yang melihatnya tentu saja terkejut bercampur murka karena Maera di sentuh oleh si supir. Ia langsung berlarian ke pintu dan di susul oleh Zade.


"Maera??? Sayang... Lepaskan tangan mu dari istriku." Bentak si supir sembari mengambil Maera dari tangan pria itu lalu menggendong nya.


"Maaf tuan, tapi nyonya Maera memang tidak bisa di sentuh orang lain. Apa kau menunggu bayaran mu? Ini... kau bisa pergi sekarang..! " Pinta Zade sembari mengeluarkan uang untuk membayar ongkos pada pengemudi itu.


"Te... Terima kasih Dokter... " Pria itu yang masih tercengang karena baru saja di bentak oleh Rey.


"Maera... sayang... kenapa kau mengikuti ku? Apa kau mendengar semuanya?" Rey mulai ketakutan, ketakutan terjadi sesuatu pada Maera, ia masih ingat apa yang di jelaskan Felicia beberapa waktu lalu.

__ADS_1


"Felicia... Cepat kau periksa istriku!!" Teriak Rey yang langsung menyelonong masuk ke ruang praktek Felicia. Kebetulan Felicia memang sedang berada di sana dengan pasien lain.


"Tu..tuan Rey, apa yang terjadi?" Felicia pun kebingungan dan lantas langsung meninggalkan pasien lain nya itu.


Pasien lain itu hanya melakukan pemeriksaan rutin jadi ia berpikir tidak masalah juga jika mendahulukan Maera yang sedang dalam keadaan darurat.


"Dia pingsan tadi, aku belum tau penyebab nya apa. Aku rasa dia mengalami shock."


"Tuan Rey, bukankah aku sudah mengatakan pada mu, jika Maera harus di jaga mental dan kondisi kejiwaan nya. Itu dapat mengganggu perkembangan bayinya."


Felicia berkata sembari memeriksa keadaan Maera. Ia terlebih dahulu memeriksa denyut jantung nya lalu memasang kan peralatan USG untuk mengecek kondisi kandungan nya.


"Tuan Rey, bayi mu semakin melemah, kondisi Maera juga semakin melemah." Terang Felicia yang membuat Rey semakin khawatir. Ia sendiri pun tampak khawatir saat menjelaskannya.


"Lalu apa yang harus kita lakukan? Kau bisa buat apa saja untuk menyelematkan mereka." Rey semakin kalut karena ucapan Felicia barusan.


"Kita tidak bisa melakukan tindakan apapun saat ini tuan Rey. Kecuali kau mau kehilangan bayi mu!"


"Apa yang kau katakan? Apa kau sudah kehilangan akal?" Rey murka mendengar kata-kata Felicia, ia jelas tidak mau kehilangan buah cinta nya dengan Maera.


"Kandungan Maera masih terlalu muda dan rentan tuan Rey. Kita hanya bisa berdoa agar kandungan nya bisa bertahan. Sementara aku hanya bisa memberi obat penguat kandungan untuk mempertahankan janin nya." Felicia terus menjelaskan sembari mempersiapkan alat dan obat yang di perlukan itu.


"Kau lakukan apa saja yang terbaik untuk nya Felicia. Aku tidak kau kehilangan salah satu dari mereka. Aku tau aku egois, tapi aku tidak akan bisa hidup tanpa Maera ku, dan bayi ku.. aku sangat mengharapkan nya." Rey masih terus menggenggam tangan Maera. Ia sama sekali tidak mau bergeser dari sana.


"Baik tuan Rey, sebaiknya kau mengambil sikap tenang, aku harus memastikan keadaan nya dengan teliti dan seksama."


Felicia pun memasang semua peralatan nya pada Maera. Kemudian menyuntikkan beberapa obat ke dalam infus yang sudah ia pasangkan pada Maera.


Rey masih terlihat pucat dan khawatir pada keadaan Maera. Ia terus saja menyalahkan diri nya sendiri salam hati nya.


"Ibu... Aku membutuhkan mu saat ini" Bisik Rey dalam hati nya. Ia merasa lemah melihat Maera terbaring tidak berdaya saat ini.

__ADS_1


...**********...


...MOHON MAAF BUKAN NYA NOVEL INI BUNTU ATAU TIDAK JELAS ARAH, TAPI AUTHOR PUNYA PEKERJAAN LAIN SELAMA SEMINGGU INI UNTUK DI TUNTASKAN... JADI MOHON MAAF JIKA AUTHOR TERLAMBAT MENG UPDATE EPISODE YAH.... SEMOGA KALIAN MASIH BETAH DI SINI... TERIMA KASIH SAYANG. ...


__ADS_2