
Pagi ini sejak subuh semua keluarga Emerald tengah bersiap untuk acara dadakan yang di minta oleh Rey..
Maera yang tak tau menau soal ini, biasanya dia bagun cepat, entah kenapa kali ini agak kurang enak badan..
Rey yang sudah kesal dari tadi membangunkannya akhirnya memutuskan menggendong Maera untuk ke kamar mandi.
Sebelumnya ia sudah menyiapkan air hangat di bathtub itu dengan taburan bunga-bunga dan lilin-lilin di sana.
"Maera... Kau harus segera mandi, aku tidak mau terlambat untuk pernikahan kita!."
Maera yang baru sadar, ia pun kaget tengah di gendong Rey dan sudah berada di kamar mandi.
"Kak, kenapa ada banyak bunga dan lilin di sini? memang nya kau mau melakukan ritual apa?"
"Ritual?" Beo Rey yang memang tidak mengerti apa yang di maksud oleh Maera.
"Iya kak... Aku dan Anetha biasanya melihat di televisi orang melakukan ritual seperti memakai lilin dan bunga.. Seperti... ah seperti ritual mandi bunga.. seperti itu kak."
"Astaga Maera, sepertinya Anetha terlalu banyak meracuni pikiranmu."
"Kak Rey!"
Tiba-tiba pintu kamar di ketuk seseorang.
"Tok... Tok.. Tok.. "
"Masuklah!"
"Anetha" Pekik Maera kegirangan.
"Hah...Tu..Tuan..? Kenapa Tuan dan Maera ada di kamar mandi?"
"Kau jangan berpikir aneh-aneh dulu. Kau tau kan Maera kalau sudah tidur seperti mayat hidup? Dia tidak bisa di bangunkan sejak tadi makanya aku menggendongnya ke kamar mandi."
"Hem, iya kau memang benar, dia memang sulit di bangunkan."
"Kau sudah datang, sebaiknya kau temani dia untuk mandi. Perias sudah bersiap di luar, jika Maera sudah selesai mandi, kau bisa memanggil nya."
"Baik Tuan"
"Rey pun membisikkan sesuatu di dekat Anetha agar tidak di dengar Maera."
"Kau jangan coba-coba menghasut nya dengan kata-kata aneh, kau tau jika aku tidak menikahinya maka dia mungkin akan terus dikejar oleh yang melukainya kemarin, bahkan juga kau akan ikut di lukai. Apa kau mengerti?."
"I... Iya Tuan
Rey pun meninggalkan mereka berdua saja di kamar itu.
"Kau kenapa bisa sampai di sini Neth?"
"Oh, jadi kau tidak mau melihatku di sini? Apa kau akan menikah tanpa aku, hah?"
"Menikah?" Maera memekik sembari membulatkan matanya.
"Memangnya calon suamimu dan keluarganya tidak memberitahumu?"
Maera pun menggelengkan kepalanya.
"Astaga... Apa ini namanya pemaksaan?"
"Kau bilang apa barusan Anetha?"
__ADS_1
"Ti.. Tidak Maera, sebaiknya kau mandi saja sekarang."
"Ini indah sekali, seumur hidup aku baru pertama kali melihat ini secara langsung. Dan aku juga merasakannya sendiri... hihi"
Anetha menatap dalam wajah sahabat yang sudah seperti adik kandung nya itu.
"Apa kau bahagia Maera sayang?"
"Kenapa kau bertanya soal itu? Tentu saja aku bahagia."
Tiba-tiba Anetha mendapatkan telepon dari seseorang.
Anetha pun sangat bahagia menerima telepon itu, ia menyalakan pengeras suara ponselnya dan terus saja melihat ke arah Maera seolah sengaja memancing reaksi Maera.
"Akhhh kak Jerry, aku sangat merindukan mu, kau tau Adikmu si cengeng akan menikah hari ini."
"Hah... Kak Jerry....?"
Maera tak sadar dengan hanya menggunakan pakaian dalam nya itu bangkit berdiri dari bathtub nya.
"Kak Jerry, aku... aku merindukanmu kak, kenapa kau tidak pernah menghubungi aku kak?"
"Sayang, Maera apa aku tidak salah dengar kau akan menikah, hah?"
"Maafkan aku tidak memberitahumu terlebih dahulu, ini pernikahan mendadak."
"Hah mendadak?? Apa kau.. kau sudah hamil?" Jerry menebak asal-asalan.
"Hamil?? Astaga kak mana mungkin aku seperti itu. Kau jahat sekali menuduh ku, hiksss"
Rey yang kebetulan mau mengambil dompet nya yang ketinggalan di kamar itu tak sengaja mendengar percakapan itu.
"Shittt, siapa dia berani-beraninya menyebut Maera dengan sebutan sayang? Apa dia selingkuhan Maera?"
Maera yang terkejut dengan kedatangan Rey langsung saja berteriak kaget.
"Haaaaa" Maera mengatupkan tangan nya mendekap dadanya sendiri
Anetha yang memahami situasi dengan reflek mengambilkan handuk untuk menutup tubuh Maera yang hampir te.. lan...jang itu.
"Yakkkk... Tuan, kenapa kau tidak mengetuk pintu terlebih dahulu."
"Maaf, aku terburu-buru...
Maera aku akan menghukum mu nanti!!"
"Hah? Apa salahku kak Rey? bukannya kakak yang Salah sudah masuk tanpa izin?"
Saat Maera dan Rey sibuk berargumentasi Jerry yang masih aktif di telepon nya terus saja bicara menanyai Maera.
"Sayang, apa yang terjadi padamu Maera? Kenapa kau berteriak?"
Rey yang seperti nya tidak senang mendengar kata-kata sayang dari mulut orang lain pada Maera, langsung saja mengambil ponsel itu dari tangan Maera.
"Maaf Kawan, sebaiknya kau berhenti memanggil calon istriku dengan sebutan sayang! Aku tidak menerima alasan apapun untuk memanggil calon istriku dengan cara tak biasa seperti itu, apa kau mengerti?"
Tanpa mau mendengar jawaban dari Jerry, Rey langsung saja mematikan ponsel itu.
"Ini ponsel mu Anetha?"
"I.. Iya Tuan"..
Rey langsung mengambil dompet nya dan pergi dari situ.
__ADS_1
"Astaga Maera? Apa dia akan setiap hari seperti itu padamu?"
"Anethaaaaa!!!"
Rey yang ternyata masih di depan pintu mendengar eluhan Anetha, ia pun meneriaki Anetha. Dan Anetha yang diteriaki spontan membalasnya dengan kata panjang lebar.
"Iya Tuan... maafkan aku, aku hanya keceplosan. Aku tidak akan mengatakan apapun lagi."
"Dasar wanita racun!!"
Maera pun di rias dengan sedemikian rupa cantik nya sebagaimana layaknya pengantin yang menikah dengan cinta yang mendalam.
Dengan menggunakan Make Up terbaik Pernah itu pun dapat menyelesaikan semua riasan nya dengan cepat.
Balutan Busana dengan penutup kepala yang di lengkap dengan hena di tangannya, mewariskan garis keturunan keluarga Emerald yang berwibawa namun ada religus disana.
Lantunan pengajian 1-2 orang yang sudah terdengar di lantai bawah.
Acara diadakan hanya untuk keluarga inti saja. Mengingat situasi yang belum aman saat ini.
Tampak Rey yang gugup di bantu temani ibu nya.
Rey kembali ke kamar Maera, tapi dengan cepat di larang oleh Si kembar dan Namiira.
"Kakak, kau tidak boleh bertemu dengan kaka Maera lagi sebelum Akad mu."
"Astaga, aku sampai lupa.. Kalau begitu kau tolong aku, mau sampaikan pada Maera siapa yang dia pilih untuk jadi Wali hakim nya.
Apakah Willman, Valent atau Paman Dante..."
"Baiklah kak, tunggu sebentar di sini.! ingat kau jangan mengintip ya!"
"Astaga Namiira, iya aku berjanji."
Sementara menunggu Namiira dan Maera berdiskusi di dalam, ia pun menghampiri Si kembar yang duduk di kursi di depan pintu kamar Maera itu.
"Kalian kenapa duduk disini? seharusnya kalian ikut kebawah, dan kenakan pakaian yang pantas walau untuk saat ini saja!"..
"Kami disini untuk menjaga kakak ipar kak."
"Apa kau tidak khawatir kalau nanti kakak ipar akan diculik hem?"
"Siapa yang berani menculiknya di rumahku sendiri, hah?"
"Ya ampun kak, apapun bisa terjadi menjelang pernikahan, sebaiknya kita berjaga tidak ada salah nya kan?"
"Kau benar juga.. Tapi kalian nanti harus turun saat membawa Maera, gantilah dulu pakaian kalian. Bukankah Butik Salim sudah membawakan juga gaun untuk semua orang.?"
"Kakak, aku sangat malas menggunakan pakaian resmi, andai saja aku terlahir sebagai pria saja."
"Astaga Margh, kau menyia-nyiakan kecantikan mu hanya untuk bermimpi berharap terlahir sebagai pria? ckckck"
"Lalu kau Martha? Ada apa denganmu, hem? kenapa wajahmu sangat kesal?"
"Martha berkata kesal sembari melirik Margareth... Sepertinya terjadi sesuatu di antara mereka.ckckck"
Bagaimana Martha tidak kesal, setela berdebat panjang tadi mengenai pakaian dalam Margareth yah terkena noda darah segar yang sudah mengering, sementara jadwal datang bulan nya baru saja usai.
Akhirnya Margareth pun mengakui tetap hubungannya dengan Willman.
Dan tentu saja Martha yang adalah separuh bagian dari dirinya itu mengamuk dan masih kesal hingga saat ini.
...******...
__ADS_1
...Hai Readers kesayangan, jangan lupa suport author yah dengan vote manjamu... Like dan comment secara gratis membuat Author lebih semangat lagi.. Terima kasih sebelumnya. ...