
BAB 6
Rey naik ke mobilnya. Dan berencana ingin pulang saja karena dia memang sudah kehilangan mood nya tadi.
"Sebaiknya aku pulang saja, paling tidak bisa menyenangkan hati putriku. humm"
Tapi dalam perjalanan Rey melihat sesuatu yang menurutnya tidak masuk akal..
Rey yang seorang mafia besar dan pengusaha ternama itu ternyata masih percaya dengan takhayul.
"A... apa itu hantu? Oh Sittt... "
"Citttttttttttt....."
Rey seketika menginjak rem nya secara mendadak. Bahkan kepalang sedikit terbentur karena ia sedikit kurang siap.
Tapi dia masih memberanikan diri mengamati seseorang yang berjalan di pinggiran terowongan itu.
"Astaga... Bu.. bukankah ini wanita yang tadi?? Hah, sedang apa dia disini?"
Akhirnya Maera pun menyadari kehadiran pria tersebut, ternyata adalah orang yang tadi ia hindari, dan itu membuatnya semakin ketakutan.
Maera mengira Rey sengaja mengejarnya untuk meminta pertanggung jawaban perihal perbuatan Dave tadi siang.
Dan paling lucu Maera mengira Rey bermaksud ingin melukai nya untuk membalas perbuatan Dave.
Rey yang penasaran malah terus saja mengejar Maera.
Sementara Maera sudah bersembunyi di sebuah ruangan di pinggiran lorong itu.
Perlahan tapi pasti Rey pun menemukannya
Maera yang ketakutan langsung teriak minta maaf sembari meainkan tangannya dengan cepat-cepat seolah sedang menangkis suatu pukulan yang bertubi-tubi padanya.
"Ampun... maaf kan aku Tuan, aku tidak bersalah, aku tidak tau, bukan aku yang mengemudikan mobil itu. ini hanya kecelakaan."
"Akhh...Hey tenanglah Nona, apa-apaan ini, ke.. kenapa kau memukuli ku?..."
Rey semakin bingung, kenapa Maera seperti itu, namun ia langsung menyadari apa yang di maksud oleh Maera.
Bahkan dia sempat tertawa lucu melihat tingkah Maera.
"Hahaha... astaga, aku sempat berpikir bahwa hantu itu ada di dunia ini, kau membuat ku ngeri nona."
Maera yang mendengar kata-kata Rey sontak terdiam. Dia pun perlahan melihat Rey dari celah tangannya yang masih bersilang di depan nya.
__ADS_1
"A.. apa Tuan ingin membunuh ku? aku mohon maaf, tapi aku tidak melakukan apapun, aku hanya bersamanya saat itu."
Rey yang memang melihat Maera menangis, menjerit ketakutan. Benar-benar rona ketakutan itu terpancar di wajah Maera.
Ia pun merasa bingung harus berbuat apa.
Spontan saja ia langsung memeluk Maera secara tiba-tiba. Ia menarik pinggang Maera semakin dekat padanya, hingga Maera kini dalam kekuasaannya.
Dan paling mengerikan Rey tiba-tiba saja mencium bibir manis Maera dan me.. lu..mat nya dengan cepat.
"Oh Tu..han... A..pa aku sedang bermimpi?" Bathin Maera dengan slow motion.
Maera pun seketika terdiam kaku. ia seperti sedang merasakan aliran listrik menyengat tubuh nya saat itu juga.
Maklum dia dan Dave saja tidak pernah berpelukan se erat itu, apalagi menciumnya sampai segaanas itu. Dia selalu memiliki cara untuk menolak saat Dave meminta berciuman dengannya.
Awalnya Maera membulatkan matanya, terheran-heran, bingung, bahkan saking bingung nya ia tidak bisa berkata-kata lagipula karena mulutnya terkunci oleh bibir Rey.
Dia hanya bisa terdiam seperti patung.
Dan matanya mulai terpejam meneriak gumam.
"Emmmm... Emmmm" Riak Maera.
Maera mulai merasa kesulitan bernafas, dia yang notabene tidak ahli dalam kasus berciuman itu pun hanya bisa memejamkan matanya.
Cukup lama adegan itu berlangsung.
Ketika Rey sadar bawah yang ia lakukan salah, ia pun merasa cukup mendiamkan Maera, barulah ia perlahan melepaskan ciuman dan pelukannya.
"Oh Sittt... Apa aku jadi ikut gila, kenapa juga aku melakukan ini padanya?.."
Ia sendiri sebenarnya merasa heran kenapa dia spontan melakukan itu, padahal ia sendiri belum mengenal Maera.
Tapi ia malah sempat menyapu bibir Maera yang sedikit membengkak akibat ulah bibirnya.
Rey juga pun sekarang berubah menjadi gugup, Ia berusaha mengalihkan pemikiran, langsung saja Rey menarik tangan Maera untuk masuk ke mobil nya.
"Sebaiknya aku mengantarmu pulang, sangat berbahaya bila kau jalan sendirian di sini dalam kondisi gelap." Titah Rey sembari menyembunyikan wajah gugupnya.
Maera hanya mengangguk kecil, sembari melihat terus kearah wajah Rey.
Dia tentu saja masih merasa takjub akan ulah Rey tadi. ckckck
"Hm" Balas singkat Maera.
Sementara dua pasang mata yang sempat menyaksikan adegan itu saling menatap bingung satu sama lain.
__ADS_1
Mobil kedua orang ini berasa tak jauh dari mobil Rey yang berhenti ditengah lorong itu.
"Apa kau berpikiran yang sama denganku Bobby?"
Tanya Willman dengan senyum lucunya.
Bobby menggelengkan kepalanya berulang kali sambil tersenyum juga.
"Jangan sampai Tuan Muda melakukannya di sini, jika sampai ada yang melihatnya melakukan itu di mobil, aku tidak tau berita apa yang akan tersebar besok di koran" Balas Bobby.
"Bukankah Tuan Muda sangat sulit untuk suka pada wanita, aku hanya tidak menyangka, wanita polos yang masih terlihat terlalu kecil seperti gadis itu bisa memikat nya, haha" Ledek Willman yang masih keheranan.
Willman dan Bobby yang tau kebiasaan Rey ketika di mabuk cinta, mereka pikir Rey akan berlabuh di mobil itu saat itu juga. Tapi kali ini ternyata mereka salah menebak.
Kembali ke Maera dan Rey.
Rey pun membantu Maera masuk kedalam. mobil. Lalu dia bergegas ke samping untuk duduk di belakang kemudi nya.
Tapi sebelum itu ia sempat membuka jaketnya lalu membalut kan nya pada tubuh Maera.
Lagi-lagi wajah Rey tepat di depan wajah Maera, Maera spontan memalingkan wajahnya ke samping.
Rey memahami pemikiran Maera yang pasti takut bibirnya akan di rampas lagi oleh Rey.
"Ma.. Mau apalagi dia??"
"Udara sangat dingin, kau bisa sakit, mengingat kau hanya menggunakan pakaian yang tipis." Ucap Rey yang seolah faham isi pikiran Maera.
"Kau telah mengambil ciuman pertama ku, bahkan tanpa izin, dan setelahnya bahkan kau tidak meminta maaf Tuan" Teriak kecil Maera dalam hatinya.
Entah kenapa Maera seperti terkunci mulutnya saat itu, dia hanya terdiam seperti kerbau sedang di cucuk hidungnya. Diam dan menurut saja.
Suasana pun hening beberapa saat. Saling tenggelam dalam pemikiran masing-masing.
Kembali pada Willman dan Bobby beberapa menit yang lalu.
"Ternyata di luar dugaan kita Bob. Tuan Muda tidak mengambil kesempatan emas ini, syukur lah."
"Aku rasa gadis ini spesial, Tuan Muda mungkin berpikir yang sama, gadis ini belum pernah tersentuh, dia masih polos."
"Kau benar, aku juga yakin wanita ini masih terjaga dengan baik, berbeda dengan gadis jaman sekarang banyak yang sudah tidak menjaga harga dirinya. Dan pastinya suka pada kebebasan"
"Tapi bukankah dia kekasih Dave? Aku mendengar saat Nyonya Clara mengatakan itu pada Tuan Muda tadi." Ucap Bobby yang baru menyadari ingatannya saat di Villa tadi.
"Wah... Sepertinya ini semakin menarik, apa yang akan dilakukan Tuan Muda selanjutnya, kita hanya bisa menunggu...
...*****...
Hai Para pembaca yang budiman... Mohon dukungannya untuk karya saya yah, smoga saja kalian suka.
__ADS_1
Jangan lupa untuk Like+Komentarnya biar aku makin semangat melanjutkan nya.. Terima kasih semua...