
Tinggal menunggu 2 hari lagi, maka mereka akan menjadi sepasang kekasih yang sesungguhnya.
๐บ๐บ๐บ
"Bawa semua barang barangnya" Titah Kenzo pada anak buahnya. Dengan cepat mereka mengangguk dan mengambil koper-koper milik Kenzo dan Alenna.
Kenzo berjalan memasuki apartemen yang sudah ia beli jauh jauh hari, dengan menggendong Alenna yang sedang tertidur.
Setelah sampai, Alenna masih terlelap dalam tidurnya dan Kenzo tak punya niatan untuk membangunkan Alenna. Jadilah ia membawa Alenna dari pesawat menuju mobil, untuk sampai di apartemen. Bahkan Alenna belum bangun juga saat mereka sudah sampai di apartemen dengan waktu yang sudah menunjukkan petang hari.
Sepertinya gadis ini kelelahan...
Pikir Kenzo dan membawa Alenna ke kamar.
Pria itu membuka pintu kamar dan kembali menutupnya. Perlahan Kenzo membawa Alenna ke kasur dan meletakkan gadis itu perlahan di atas ranjang. Alenna sedikit melenguh dan bergerak. Kenzo takut jika Alenna tiba-tiba terbangun dan melihat kehadirannya disini.
Untunglah gadis itu hanya mengigau, jadi ia kembali tidur. Kenzo duduk di sisi ranjang dekat Alenna. Ia memperhatikan wajah Alenna yang terlihat Damai saat sedang tertidur.
Senyum manis Kenzo terukir dan tangannya bergerak mengelus rambut Alenna lembut. Pria itu tak tahu apa yang membuatnya menjadi sangat tertarik untuk mendapatkan Alenna seutuhnya. Ia tak tahu.
Padahal jika di lihat, banyak sekali wanita-wanita yang mengejar dan rela melakukan apa saja demi pria itu. Banyak diantara mereka yang sangatlah cantik dan seksi. Tapi Kenzo tak membutuhkan itu semua, yang ia butuhkan adalah ketulusan. Kenzo sadar bahwa wanita-wanita itu hanya tertarik pada wajah tampannya, harta, uang dan kekuasaan Kenzo semata. Tapi tidak dengan perasaan pria ittu.
Karna itulah, ia sangat tertarik dengan Alenna yang jauh berbeda dibandingkan wanita-wanita yang selama ini mengelilingi nya.
Kenzo dibuat heran saat melihat Alenna pertama kalinya. Sorot mata Alenna terlihat biasa saja saat melihatnya, berbeda dengan gadis lain yang langsung tertarik padanya. Kenzo melihat diri lain pada Alenna, membuat adrenalin nya berpacu untuk mendapatkan gadis itu.
Sekarang, gadis yang di incar tengah tertidur nyenyak dan Kenzo hanya bisa memperhatikan wajah cantik nan Damai milik Alenna.
"Istirahat lah... Besok kita bersenang-senang" Kata Kenzo bermonolog, seolah-olah Alenna mendengarnya.
Kenzo berdiri dari duduknya lalu keluar kamar dan menutup pintu rapat, meninggalkan Alenna yang masih tertidur cantik.
๐บ๐บ๐บ
Matahari sudah mulai tenggelam, malam akan segera tiba dan suasana cafe Malaka saat ini begitu tenang, karna tak ramai orang di cafe tersebut.
Tuk... Tuk... Tuk...
Leksi menjentikkan jarinya di atas meja. Ia terus memandang kearah luar jendela kaca di cafe Malaka. Walau ada sosok pria di depannya, tapi tidak ada yang berniat membuka suara terlebih dahulu.
Karna tak tahan dengan keheningan ini, orang di hadapan Leksi pun membuka suara.
"Apa yang mau lo omongin?" Tanya orang di hadapannya. Lidah orang itu tak terbiasa mengucapkan panggilan baku seperti 'kau' atau 'saya' kepada Leksi. Walaupun dulu mereka berbicara dengan bahasa yang sopan, namun sekarang rasanya berbeda. Sudah lama mereka tak berbicara empat mata seperti ini, semenjak Leksi pindah ke luar negeri.
Mereka jadi jarang berkomunikasi.
Pria itu memutuskan untuk menggunakan bahasa non baku pada sahabat lamanya ini.
Leksi menoleh ke arah orang yang bertanya.
"Gue bakal nikah besok" Kata Leksi menjawab. Pria di hadapannya mengangguk paham. Sama halnya, Leksi pun sudah lama tidak menggunakan bahasa non baku.
"Lo kan udah bilang. Kenapa bilang lagi?" Tanya pria itu heran. Ya, Leksi memang sudah memberitahu nya bahwa sebentar lagi ia akan menikah, 2 hari lagi.
__ADS_1
"Gue mau lo bantuin gue" Kata Leksi membuat pria di hadapannya mengerutkan alis.
"Apa?"
"Bilang ke Alenna, kalau gue mau nikah" Pria itu mengangguk sekali.
"Kenapa gak lo sendiri yang bilang?" Tanya pria itu heran. Benar saja, toh Leksi sudah bertemu dengan Alenna ini. Apa salahnya jika dia sendiri yang bilang?. Pikir pria itu.
"Gu-gue masih belum siap aja" Pria itu tertawa mendengar ucapan Leksi. Menurutnya itu lucu. Oh ayolah, apa yang belum siap?. Leksi bersikap seolah-olah ia akan menikahi adiknya, Alenna. Ya, orang di depan Leksi adalah David.
"Belum siap gimana? Emang lo mau nikahin adek gue?" Tanya David kini berhenti tertawa saat mendengar helaan napas dari Leksi.
"Ya... Gue belum siap aja" Kata Leksi ragu. Entah apa yang membuat Leksi berat hati memberitahu Alenna bahwa ia akan menikah, membuat pria itu tak bisa berkutik. Ia bimbang, ada yangย mengganjal di hatinya.
"Oke gue ngerti. Nanti gue kasih tau ke dia" Final David memilih untuk memberitahu Alenna pasal Leksi yang akan menikah. Untung saja, Kenzo sudah memberikan nomer baru milik Alenna, kalau tidak... Ia bingung harus menghubungi adiknya yang ada di Swedia itu.
"Sekarang dia kemana?" Tanya Leksi. David mengambil segelas cappucino di atas meja lalu meminumnya. Ia kembali menaruh gelas itu kembali ke tempatnya dan kembali beralih kepada Leksi.
"Papa bilang, dia ke Swedia" Jawab David.
saat David pulang kerumah, ia tidak melihat keberadaan Alenna, ia mencari adiknya dikamar, kamar mandi, taman belakang, kolam renang, dan seluruh sudur rumah ia cari keberadaan adiknya itu. Tapi tidak ada, sampai saatnya ia di beritahu Johan bahwa Alenna pergi ke Swedia bersama Kenzo. David tak terkejut lagi, ia bahkan merasa lega saat tau Alenna pergi bersama Kenzo. Itu semua karna David percaya pada kenzo.
"Hah? Ke swedia?" David menanggapinya dengan anggukan.
"Sama siapa?" Tanya Leksi khawatir.
"Kenzo" Satu nama itu sukses membuat Leksi terdiam. Ia menarik napas sejenak lalu menghela nya perlahan.
Batin Leksi.
"Kenapa emangnya?" Tanya David.
Leksi yang tadi nya melamun, kini tersadar dan membuat ekspresi seolah semuanya berjalan dengan sesuai.
"Gapapa. Gue cuma khawatir aja, gue pikir Alenna pergi sendiri. Kan bahaya" Jawab Leksi yang mendapat anggukan dari David.
Setelah hening beberapa saat, pertanyaan David mulai muncul kembali.
"Lo yakin sama pilihan lo?" Tanya David penuh dengan keraguan. Entahlah, ia tak melihat kebahagiaan yang terpampang jelas di wajah pria yang 2 hari lagi akan menikah ini.
Leksi terdiam dulu sebentar sebelum menjawab.
"Yakin, gak ada salahnya mencoba" Seolah tak puas dengan jawaban sahabatnya, David kembali bertanya.
"Tapi kok lo keliatan biasa aja?. Padahal lo kan mau nikah, seharusnya lo tuh nunjukin ekspresi seneng. Ini malah keliatan jauh dari kata bahagia, gue sih ngeliatnya gitu" Kata David memberitahu apa yang ia lihat dari Leksi sekarang. Memang sih, pria itu nampak biasa saja, terlihat seperti semuanya tidak akan terjadi apa-apa. Tapi jangan berfikir negatif dahulu, siapa tau Leksi sebenarnya bahagia tapi ia tak mau terlalu menunjukkan nya.
Tapi hal itulah, yang justru membuat David heran. Sebab ia tahu sifat sahabatnya itu, Leksi sosok yang pandai mengekspresikan perasaan yang dia alami. Jika senang, Leksi akan terlihat senang dan begitu juga sebaliknya. Namun lihatlah sekarang, Leksi nampak berbeda.
"Gue seneng kok. Tapi gak tau kenapa, rasanya kayak ada yang ngeganjel aja" Kata Leksi mengungkapkan rasa resah nya yang tak menentu. David mengerutkan alisnya.
"Ngeganjel gimana?" Tanya David penasaran. Leksi menggaruk tengkuknya, kini ia merasa bingung harus menjawab apa.
"Yahhh kayak ada yang ngeganjel aja gitu di hati gue. Gue juga bingung, kenapa..." David terdiam mencerna ucapan Leksi dan mencoba membuat teori-teori di kepalanya. Namun teorinya tertuju pada satu orang yang melibatkan adiknya, Alenna.
__ADS_1
"Apa jangan-jangan ada sangkut pautnya sama Alenna?" Tebak David membuat Leksi bungkam dan ia terdiam. David melihat ekspresi Leksi yang berubah menjadi terkejut.
"Gak tau" Jawab Leksi membuat David semakin curiga bahwa ini ada sangkut pautnya sama Alenna, adik tersayangnya.
"Sebenernya Lo anggep adik gue itu siapa di hidup lo?. Apa mungkin lo punya perasaan sama adik gue?. Gue cuma nanya"
Deg!.
Pertanyaan David sukses membuat Leksi bungkam seribu bahasa.
Dulu memang saya menganggap Alenna sebagai adik saya sendiri dan saya sangat menyayanginya. Tapi sekarang? Apa masih sama?.
Batin Leksi bimbang dengan perasaan nya. Sedangkan David masih setia menunggu jawaban Leksi. Jujur, ia penasaran jika sudah berhubungan dengan Alenna.
"Gue rasa, itu yang bikin hati lo ngeganjel" Sambung David karna Leksi belum bisa menjawab. Leksi menghela napa berat.
"Gue sayang sama Stephanie. Tapi gak tau kenapa, rasa sayang gue ke Alenna lebih besar. Gue bingung...." Sekarang David sudah dapat menyimpulkan bahwa Leksi menyukai adiknya. Oh lebih tepatnya, Leksi mencintai Alenna.
David tersenyum tipis.
Lo jadi bahan perebutan, dek.
Batin David.
David bangkit dari duduknya secara tiba-tiba membuat Leksi yang sedang melamun teralihkan.
"Lo mau kemana?" Tanya Leksi melihat David yang hendak berjalan menghampiri nya.
"Tentuin semuanya, sebelum terlambat. Pastiin hati lo milih siapa, jangan sampai ada yang tersakiti dan semuanya akan terlambat" Sembari mengucapkan itu, tangan David memegang sebelah bahu Leksi dengan sebelah tangan, lalu ia pergi keluar dari cafe meninggalkan Leksi yang kini sibuk berkelana dalam lamunan nya.
๐บ๐บ๐บ
"Hallo? Ini siapa ya?"
"Ini bang David. Kok lama banget jawab telpon nya?"
"Yaampun ternyata bang David... Alenna pikir siapa?. Maaf bang, Alenna baru bangun soalnya. Kok baru nelpon Alenna sih bang? Bang David pergi kemana?" David tersenyum saat mendengar suara Alenna dari sebrang sana.
"Maaf, bang David banyak tugas kuliah" Kata David berbohong.
"Owh... Eh abang kenapa nelpon Alenna?"
"Abang mau ngasih tau kamu sesuatu"
"Ngasih tau apa bang?. Penting banget?" David terdiam sejenak sebelum lanjut bicara. Jujur ia merasa tidak enak karna menganggu liburan adiknya, namun mau bagaimana lagi... Ini juga penting.
"Ya, penting. Dengerin baik-baik"
"Iya apa?"
๐บ๐บ๐บ
maaf update lama๐๐๐
__ADS_1