
Eh ***** mau ngapain nih?
Batin Alenna panik. Yap panik karna tidak bisa berbuat apa apa. Tengkuknya di tahan oleh satu tangan Kenzo dengan mendorong wajah Alenna mendekat. Tangan Kenzo yang satunya lagi merengkuh pinggangnya. Dan kedua kaki Alenna di jepit oleh kaki Kenzo.
Jarak diantara mereka sudah tinggal beberapa centi lagi. Kenzo terus mendekat dan sampai akhirnya...
🌺🌺🌺
"Kamu ikut saya ke Amerika" Bisik Kenzo tepat di telinga Alenna. Setelah itu, Alenna langsung mendorong tubuh Kenzo sekuat tenaga dan berhasil, kenzo kembali duduk di tempatnya. Alenna? Mengatur jantungnya terlebih bahulu.
Aduh Alenna! Pikiran lo liar banget sih!.
Batin Alenna menggerutu.
"Kenapa? Pipinya kok merah?" Tanya Kenzo yang melihat rona merah di pipi Alenna. Segera Alenna memalingkan wajah kearah lain.
"Eng-enggak kok. Oh ya, tadi lo ngomong apa?" Tanya Alenna mengalihkan pembicaraan.
"Saya gak mau jawab kalau kamu gak natap saya" Kata Kenzo memancing Alenna agar menatapnya. Berhasil.
"Iya tuh udah" Kata Alenna. Beruntung wajahnya sudah tak terlihat merona lagi.
"Kamu mau balas budi saya kan?" Alenna mengangguk pelan.
"Caranya gampang, tinggal ikut saya ke Amerika"
"HAH?!" Kaget Alenna mendengar itu. Sontak Kenzo menutup telinganya.
"Biasa aja" Ujar Kenzo.
"Ma-maaf. Tapi ngapain ke Amerika?. Lo mau culik gue?" Tuduh Alenna heran.
Yang benar saja, ia akan dibawa Kenzo ke Amerika jika ingin membalas budinya. Bukan Alenna tidak mau, tapi kenapa harus kesana?.
"Gak mungkin lah. Kalau saya mau nyulik kamu, udah dari kemarin-kemarin saya culik" Jawab Kenzo.
Eh... Bener juga.
Batin Alenna.
"Terus mau ngapain ke sana?" Tanya Alenna lagi. Pria di hadapan nya ini penuh dengan tanda tanya bagi Alenna.
Kenzo menghela napas.
__ADS_1
"Saya bawa kamu ke Amerika untuk berobat" Alenna melebarkan sedikit matanya terkejut.
Amerika? Gue? Berobat?.
Batin Alenna.
Alenna menatap Kenzo dengan sorot mata menuntut penjelasan.
Kenzo yang paham kembali berkata.
"Saya gak mau penyakit kamu semakin parah, Alenna" Oh Alenna mengerti sekarang.
"Tapi kenapa harus di Amerika?. Di Indonesia aja juga bisa kan?" Tanya Alenna.
"Peralatan medis di Amerika lebih canggih dan lebih memadai untuk penyakit yang kamu derita. Karna itu, kita harus kesana" Penjelasan Kenzo membuatnya terdiam sebentar.
"Saya mohon Alenna, ikut saya ke Amerika besok. Saya janji akan menjaga kamu disana" Lanjut Kenzo memohon sambil menggenggam tangan Alenna.
"Besok?" Kenzo mengangguk.
"Tapi gue ada ujian di sekolah nanti Dan lagi, bukannya kalau lo bawa gue ke Amerika buat berobat berarti sama aja dong gue gak balas budi lo. Yang ada semakin nambah utang budi gue ke elo"
Ujar Alenna. Ah untung Alenna ingat bahwa sebentar lagi ada ujian. Setelah ujian, seminggu kemudian adalah pertunangan Kenzo dan Sarah. Tidak mungkin kan mereka ke Amerika.
"Kalau gitu, kamu selesaikan dulu ujian mu baru nanti setelahnya kita ke Amerika"
Alenna semakin cemas akan hal ini. Bagaiman dengan pertunangan Sarah dan Kenzo? Apakah akan batal?. Ah semoga saja tidak.
"Terus pertunangan lo gimana Kenzo?" Tanya Alenna lagi dan lagi.
"Soal itu... "
"Saya akan bicarakan dengan tuan Johan. Tak perlu khawatir, walaupun nantinya bisa saja pertunangan itu terancam batal, saya tidak peduli. Yang penting, saya berhasil menyembuhkan kamu terlebih dahulu" Hati Alenna mengelus begitu saja mendengar tuturan Kenzo. Inikah yang di namakan cinta? Rela berkorban? Tanpa memikirkan sekeliling?.
"Kenzo... Lo gak perlu segitunya cuma karna gue. Lo gak bisa terus-terusan repot karna gue. Lo juga pantes buat dapetin kebahagiaan sendiri tanpa harus mikirin cewek kayak gue!"
"Gue gak mau lo begini hanya karna gue. Terlebih lo udah punya tunangan, seharusnya lo sama Sarah. Bukan sama gue disini, ken" Alenna meneteskan air mata. Ia tak mau orang lain repot karna dirinya, sampai-sampai membiarkan kebahagiaan nya begitu saja. Alenna tidak mau!. Semua orang berhak bahagia, sama halnya Kenzo dan Sarah!. Ia tidak mau sampai terjadi hal yang tidak diinginkan, seperti gagalnya pertunangan Kenzo dan Sarah. Kemungkinan besar Sarah akan semakin membencinya. Alenna tidak mau hal itu terjadi.
"Ken... Gue baik baik aja kok. Lo gak perlu sekhawatir ini. Lihat, gue masih bisa ngomong, ketawa, becanda, dan lain-lain. Jadi gue baik-baik aja, gue kuat" Ujar Alenna menunjukkan bahwa ia terlihat baik-baik saja dengan senyum manisnya. Walaupun sebenarnya, penyakit yang ia derita bisa kapan saja menyerang.
Alenna... Kamu perempuan terkuat yang pernah saya temui.
Batin Kenzo terharu melihat Alenna yang masih saja berpura-pura kuat di hadapannya, walaupun Kenzo tahu bahwa itu semua hanya sandiwara Alenna agar tidak di anggap lemah. Ya, Kenzo tahu betul itu.
__ADS_1
"Kamu akan jauh lebih baik-baik saja jika ikut bersama saya. Tidak ada penolakan, kamu harus ikut ke Amerika bersama saya setelah ujian. Masalah tunangan, saya tidak peduli" Alenna menghela napas berat, ah sudahlah Kenzo memang keras kepala.
Alenna pun hanya diam dan mengangguk pelan.
"Huhhh terserah deh ken"
Kenzo tersenyum dan mengusap kepala Alenna lembut.
"Yodah, nanti malem gue mau nginep di rumah Amel aja. Anterin ya?" Ujar Alenna kepada Kenzo.
"Iya, saya anter" Alenna tersenyum lalu mengangguk.
"Yasudah nih dimakan lagi buburnya, jadi dingin nih" Kenzo mengambil mangkuk bubur yang tadi ia taruh dan mulai menyuapi Alenna. Kini Alenna tidak menolak, ia pun memakan bubur tersebut sambil terus bercerita mengenai banyak hal kepada Kenzo, begitu juga sebaliknya. Sampai bubur itu habis, dan Alenna pun kembali
beristirahat lalu tertidur.
Kenzo memandangi wajah Alenna yang sangat damai saat tidur. Plus sangat cantik. Ia mengelus rambut Alenna lembut. Kenzo tak habis pikir dengan dirinya sendiri, bisa-bisanya ia jatuh cinta dengan gadis SMA yang berbeda beberapa tahun dengannya. Tidak terlalu jauh jarak umur mereka, sekitar 2 atau 3 tahun.
Namun anehnya, Kenzo langsung jatuh cinta saat pertama kali melihat Alenna ditambahkan dengan senyum yang menghiasi wajah gadis itu, membuat Kenzo tergila-gila. Tapi lagi-lagi hatinya sakit saat tau perlakuan Sarah kakak tiri Alenna kepada Alenna dan penyakit gadis itu. Tiada hari tanpa bayang-bayang Alenna di pikirannya. Sungguh, Kenzo tak berbohong akan hal itu.
Kini Kenzo belajar untuk merelakan Alenna dengan pacarnya itu Steven.
Ia akan memberi Steven kesempatan untuk memiliki Alenna, namun jika Steven membuat Alenna sakit hati bahkan menangis, jangan salahkan Kenzo merebut Alenna kembali, walaupun dengan paksaan.
Kenzo mendekat kearah Alenna lalu mencium puncak kepala Alenna perlahan. Sesudah itu ia berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan Alenna, setelah sebelumnya melihat Alenna sekilas.
Saat sudah keluar dari kamar ruang inap Alenna, Kenzo merogoh saku celananya dan mengeluarkan handphone dari sana.
Ia mengutak-atik benda tersebut lalu menempelkannya pada salah satu telinganya.
"Hallo tuan Kenzo, ada perlu apa tuan menelpon saya?"
"beli seragam sekolah dan baju lainnya untuk Alenna. Lalu antarkan ke sini"
"Baik tuan. Tapi beli berapa banyak bajunya, tuan?"
"Sebanyak-banyaknya"
"Baik tuan"
Tuttt!
🌺🌺🌺
__ADS_1
hehehhe diluar ekspetasi nih🤣
jangan lupa vote dan comment novel ini ya... love you💖