BROKEN

BROKEN
feeling in you


__ADS_3

"Oh ya dan kau, Tunggu kejutan yang menanti mu besok" Setelah itu Leksi pergi menyusul Kenzo yang sudah dulu keluar dari club.


Lagi lagi gara lo Alenna! Kenapa sih lo itu selalu beruntung?!!. Sialan lo!


Batin Sarah kesal.


🌺🌺🌺


"Hiks hiks hiks" Isak tangis Alenna terdengar di keheningan malam. Rasanya sangat menyedihkan di didengar dan sangat menyakitkan jika di saksikan.


Alenna berjalan seorang malam seorang diri sambil memeluk tas kecil yang ia bawa di depan dada dan berjalan menunduk. Pikirannya terbang kemana-mana.


Bayangan Steven berkata kasar dan berciuman dengan Sarah di depan matanya sangat menyakitkan. Ia berusaha untuk tidak terus menerus perut dalam kesedihan, Tapi bodohnya ia malah terus saja menangis, bahkan bertambah deras.


Ia ingin segera pulang dan memeluk Johan untuk menenangkan diri. Ia butuh seseorang sekarang, sangat. Semoga saja Johan bisa mengerti dan memenangkan nya. Alenna ingin merasakan pelukan hangat yang Johan berikan, walaupun ia tahu bahwa gengsinya besar. Tapi tetap saja keinginan nya juga besar.


"Jadi, siapa yang lebih menjijikkan?"


Ucapan Steven tadi terus terngiang-ngiang di otaknya, sulit untuk dilupakan.


Ia mempercepat langkahnya agar cepat sampai rumah. Di tengah jalan, Alenna melihat segerombolan pria yang tengah berkumpul entah sedang apa di pinggir jalan. Karna tak mau ambil pusing, Alenna kembali berjalan cepat sambil menunduk.


Tapi sepertinya ia yang soal hari ini,  sampai salah satu dari pria itu menghampiri dan mencegah Alenna hingga gadis itu berhenti di hadapannya. Alenna mengangkat kepalanya dan melihat seorang pria di hadapannya dengan wajah datar. Jangan lupakan bahwa matanya masih sembab.


"Misi, gue mau lewat" Ucap Alenna dingin. Ia kembali melangkah tapi kedua bahunya di sentuh lalu di dorong kebelakang sehingga ia kembali di hadang. Alenna berusaha melepaskan tangan pria itu dari bahunya, tapi sulit.


"Lepas! Gue mau pulang!" Teriak Alenna kepada orang itu.


Sekarang ia mulai takut saat teman pria itu mulai datang menghampiri nya.


Ya Tuhan... Tolong...


Batin Alenna.


"Hey cantik! Kok sendirian sih malem malem. Gak takut?" Tanya salah satu pria itu berusaha menyentuh dagu Alenna tapi Alenna berhasil menjauhkannya.


"Wih galak juga" Katanya tersenyum jahil.


"Pliss gue mau pulang. Tolong Minggir" Mohon Alenna kepada mereka. Ia bahkan sudah menangis sekarang. Ayolah ia baru saja mendapatkan hal yang serupa di club tadi, tapi sekarang nyatanya Alenna mendapatkan nya lagi.


"Eh jangan nangis dong. Tenang kok kita bakalan anter kamu cantik"


"Tapi kita senang-senang dulu" Ucap pria itu tertawa bersama teman-teman nya. Alenna meneguk saliva susah payah. Ia tak mau hal itu terjadi. Segera ia berbalik dan hendak berlari. Tapi ternyata usahanya gagal lagi, tubuhnya sudah di tahan, bahkan sekarang ia sudah di pojokkan dengan pria yang menyeringai mengerikan.


Jantung Alenna serasa berhenti karna situasi seperti ini.


"Mau kemana? Katanya mau pulang" Oceh pria itu memainkan rambut Alenna. Sedangkan kedua tangan Alenna di tahan oleh pria lainnya.


"Lepasin! Siapapun tolong!!!. Plisss tolong!!!" Teriak Alenna meminta pertolongan sambil terus menangis.

__ADS_1


Tetapi salah satu pria itu malah membungkam mulut Alenna dengan tangannya.


"Sssttt jangan teriak-teriak sayang"


Sialan! Brengsek! Cowok bejat!. Lepasin!


Batin Alenna geram. Tatapannya tajam kepada pria yang sekitar 3 orang itu.


Pria itu mendekatkan wajahnya kepada Alenna, semakin dekat dan Alenna tambah memberontak.


Mata Alenna membulat pria itu tidak membekap mulutnya lagi, melainkan ingin menciumnya. Dan...


Bugh!


"Akh! Sialan!"


Alenna menendang ******** pria yang berniat menciumnya itu. Ia meringis kesakitan lalu menatap Alenna tajam.


"Cewek sialan!"


Plak!


Pria itu menampar Alenna hingga membuat pipinya merah, bahkan sudut bibirnya mengeluarkan darah.


Setelah itu, pria itu mencengkram leher Alenna hingga ia sulit bernapas. Sungguh Alenna sangat sesak, jika dilihat sekarang lehernya sudah merah karna cengkraman tersebut.


Mungkin ini akhirnya...


Batin Alenna putus asa dan pasrah.


Brak!


Buagh!


Buagh!


Buagh!


Buagh!


Cengkraman di leher Alenna terlepas dan ia terjatuh ke jalanan sambil menghirup oksigen rakus, seolah udara akan segera habis.


Alenna bernapas lega.


Matanya melihat sosok yang telah menolongnya, lagi.


Kenzo tengah menghajar ketiga pria brengsek itu sendirian. Ia terus menghantam pria itu seperti orang yang kesetanan. Untuk pertama kalinya Alenna melihat Kenzo yang seperti ini di matanya.


Tak butuh waktu lama, Kenzo sudah berhasil membuat mereka tersungkur tak berdaya di jalanan yang sangat sepi itu.

__ADS_1


Kenzo berjalan kearah Alenna masih dengan tatapan tajam dan tangan yang terkepal.


Kenzo berjongkok di depan Alenna yang ada di jalanan.


"Alenna... " Ucap Kenzo dengan suara beratnya. Air mata Alenna kembali keluar saat melihat wajah Kenzo yang ikut terluka karna bertengkar lagi.


"Ken... Kamu-" Alenna segera memeluk Kenzo erat lalu menangis di sana. Kenzo membalas pelukan Alenna sama eratnya. Alenna dapat merasakan napas dan detak jantung Kenzo tak beraturan, sama seperti dirinya. Tatapan mata Kenzo menghangat dan tangannya tak terkepal lagi saat merasakan kehangatan tubuh Alenna yang memeluknya.


"Ayo kita pulang" Kenzo menggendong Alenna ala bridel style dan membawanya masuk kedalam mobil. Alenna tidak menolak, ia bahkan mengalungkan tangannya pada leher Kenzo dan membiarkan pria itu membawanya pergi.


Salah satu dari pria berseragam datang menghampiri Kenzo yang hendak masuk kedalam mobil.


"Tuan, mau di apakan mereka semua?" Tanya orang itu hormat kepada Kenzo.


"Bawa ke kantor polisi, atau perlu bunuh mereka semua" Titah Kenzo tajam. Alenna yang mendengar itu segera mendongak dan menggeleng pelan bahwa ia tak setuju jika Kenzo membunuh mereka semua. Ia tak mau Kenzo terlibat masalah kriminal seperti ini.


Kenzo sadar apa maksud Alenna, tapi ia tak peduli. Kesabarannya sudah habis saat di club tadi. Jadilah begini.


Pria berseragam itu mengangguk patuh lalu pergi. Kenzo pun membawa Alenna masuk ke mobil dan membawanya ke kursi penumpang. Sopir Kenzo pun membawa mereka pergi dari tempat sepi itu.


Selama perjalanan, Kenzo tak melepas Alenna dalam pelukannya. Ia membiarkan ketenangan pada gadis itu agar tidak cemas. Karna ada dia disini.


Alenna mengangkat kepalanya dan menatap wajah Kenzo yang ternyata tengah menatapnya juga.


"Kenapa?" Tanya Kenzo.


Alenna mengelus luka lebam yang terdapat di sudut bibir Kenzo, sama seperti nya.


"Ini" Ucap Alenna mengelus luka Kenzo. Kedua sudut bibir Kenzo terangkat membentuk senyum membuat Alenna bingung melihat senyum itu.


Kenapa Kenzo senyum?.


Tanya Alenna dalam hati.


"Nih, kamu juga ada" Giliran Kenzo menyentuh sudut bibir Alenna yang terluka juga. Alenna tersadar bahwa benar, mereka sama-sama memiliki luka di sudut bibir.


Alenna tersenyum tipis lalu kembali memeluk Kenzo erat dan memejamkan matanya.


Kenzo mengelus rambut Alenna lembut.


"Jangan takut, ada saya disini" Ucap Kenzo berbisik. Alenna tersenyum mendengar itu dengan mata terpejam.


Now I know, how important you are in my life. I need you and you everything for me.


I realize Kenzo, that I have an implied feeling in you.


~Alenna


🌺🌺🌺

__ADS_1


__ADS_2