
"Hai Leksi... " Sapa Grace tersenyum hangat kepada pria itu...
🍁🍁🍁
Alenna mematung mendengar nama yang sangat familiar di telinganya. Benar, orang itu adalah Leksi, wajahnya sangat mirip. Namun sikapnya sangat berbeda dan cara nya menatap Alenna seperti orang asing yang tak pernah kenal satu sama lain.
"Ayo Leksi duduk" Leksi mengangguk dan duduk di samping Stephanie. Alenna masih tak percaya apa yang ia lihat.
Sungguh ia ingin sekali memeluk Leksi karna sangat merindukan sosok tersebut. Namun saat melihat tatapan dingin dari Leksi, senyum yang awalnya terbit di bibirnya kini seketika memudar karna ia merasa Leksi seakan tak mengenalnya.
Hatinya sangat sakit, hancur, dan rapuh hanya dengan tatapan dinginnya.
"Sayang kenalin, ini temennya Steven
Namanya Alenna. Alenna ini tunangan aku namanya Leksi" Alenna mencoba tersenyum manis di hadapan mereka semua saat Stephanie memperkenalkan Leksi kepadanya.
Leksi menatap Alenna sebentar lalu ia mengalihkan pandangannya dan hanya tersenyum tipis lalu mengangguk. Hati Alenna berusaha untuk tetap tenang dan tegar.
Bang... Lo pasti kenal gue kan? Tapi kenapa sekarang sikap berbeda?.
Tatapan lo gak kayak dulu.
Alenna ingat betul wajah Leksi saat masih kecil sampai sekarang pun wajah Leksi tak berubah. Hanya mungkin yang berbeda gaya rambutnya saja, selebihnya masih tetap sama.
Entah kenapa suasana menjadi canggung tiba-tiba tak ada yang membuka topik pembicaraan sampai saatnya Steven tiba-tiba datang kearah mereka.
"Hallo semuanya!. Selamat malam...eh ada abang ipar!" Sapa Steven excited. Ia menghampiri Leksi dan ber-high five, bak sobat yang akrab.
"Dari mana aja lo? Bukannya temenin Alenna, malah keluyuran" Ketus Stephanie kepada Steven. Sedangkan lawan bicaranya hanya menyengir.
"Sorry sister" Ucap Steven masih dengan cengiran nya.
"Hmm Steven, ini udah malem gue balik dulu ya. Mama, Alenna pulang dulu ya... Makasih udah nerima Alenna dateng ke pesta ini. Kak Stephanie, makasih banyak ya" Alenna memilih untuk pamit kepada mereka semua.
"Loh... Kok cepet banget sih? Kamu gak makan dulu?. Nanti laper loh... " Kata Grace kepada Alenna. Alenna menggeleng sambil tersenyum.
"Iya nih... Baru juga jam segini. Nanti aja pulangnya ya?" Bujuk Stephanie. Alenna tersenyum manis.
"Makasih kak-ma... Tawarannya. Alenna masih banyak PR yang harus di kerjain, takutnya nanti keburu malem" Kata Alenna mencari alasan.
__ADS_1
Tak disangka Leksi memperhatikan Alenna diam-diam namun Alenna tak sadar akan hal itu.
"Ouh gitu, yaudah deh... Kamu hati hati ya. Steven anterin Alenna" Titah Grace kepada Steven.
"Gak perlu ma, Alenna bi-"
"Gapapa len, gue yang bawa lo kesini. Jadi gue juga yang harus balikin lo kerumah lo lagi" Potong Steven setuju.
"Iya Alenna, ini udah malem. Bahaya kalau lo pulang sendiri" Saut Stephanie membuat Alenna menyerah. Ia pun mengangguk setuju.
"Yaudah ma-kak Alenna pamit dulu. Makasih sekali" Pamit Alenna bersalaman dengan Stephanie dan salim kepada Grace.
"Iya sayang... Lain kali main ke sini lagi ya, mama tunggu" Grace tersenyum.
"Alenna bakal usahain" Ucap Alenna sopan.
"Steven, inget jangan ngebut ngebut lo bawa anak perawan nih. Awas aja kalau kenapa-kenapa. Gue bejek lo!" Ancam Stephanie.
"Iye bawel ah" Kata Steven.
"Oh ya kak, nih hadiah buat kamu Stephanie. Maaf kalau misalkan kak Stephanie gak suka" Alenna mengeluarkan kotak kado berwarna pink dengan pita yang mengikat pada sisi-Nya. Stephanie tersenyum lalu menggeleng.
"Enggak kok, gak bisa gitu. Ini hari ulang tahun kak Stephanie, anggep aja kenang-kenangan dari Alenna. Jadi tolong diterima kak" Alenna kembali menyodorkan kado tersebut kepada Stephanie. Stephanie pun menerimanya.
"Makasih banyak ya. aduh repot-repot" Stephanie tersenyum manis kepada Alenna. Alenna mengangguk.
"Nanti gue pasti buka kadonya. Sekali lagi makasih ya" Alenna mengangguk dan tersenyum
"Udahkan, Ayo len" Ajak Steven menarik tangan Alenna tiba-tiba. Alenna membalas lambaian tangan dari Grace dan Stephanie. Di akhir sebelum ia benar-benar menjauh, Alenna melihat Leksi yang hanya diam tanpa ekspresi dan tak melihat kearahnya sedikit pun.
Bener... Lo bukan bang Leksi yang gue kenal.
Hingga akhirnya Alenna pergi meninggalkan rumah Steven dengan perasaan yang berkecamuk dan tatapannya kosong, sampai ia dalam perjalanan kembali kerumah.
🍁🍁🍁
"Len, lo baik baik aja kan?. Apa mama gue ngomong sesuatu yang gak enak di hati lo?" Jujur Steven bingung dengan Alenna yang sedari tadi diam dan tatapannya kosong.
"Eh eng-enggak kok. Mama lo asik" Jawab Alenna.
__ADS_1
"Terus, apa karna kakak gue?" Alenna lagi-lagi menggeleng. Semua yang Steven tanyakan kepadanya, semuanya salah. Justru sebaliknya Alenna sangat senang bisa bertemu keluarga Steven yang sangat baik dan ramah kepadanya. Jadi tidak ada alasan untuk Alenna tidak suka pada keluarga Steven.
"Terus kenapa?. Cerita aja sama gue"
Haruskah gue cerita?.
Gak! Gak boleh, Steven gak perlu tahu akan hal ini. Iya bener, ini bukan urusan Steven.
Batin Alenna.
"Gue cuma iri, lo punya keluarga yang harmonis dan ramah. Makasih ya udah bawa gue ketemu kakak dan mama lo. Mereka asik banget" Ucapan Alenna sambil tersenyum. Lewat kaca tengah, Steven melihat senyum Alenna yang nampak senang namun disisi lain, jika di perhatikan senyum Alenna, Steven bisa melihat kesedihan tersirat di balik senyum itu, namun tak dapat di ungkapkan.
"Iya sama-sama. Kapan kapan gue ajak lo kerumah gue lagi" Alenna tersenyum lalu mengangguk.
"Nah udah nyampe" Alenna baru sadar bahwa ia sudah sampai rumahnya sekarang. Steven baru saja ingin turun untuk membukakan pintu untuk Alenna, namun Alenna segera menahan tangan Steven.
"Gue bukan princess, jadi gak usah berlebihan. Gue bisa buka pintu sendiri kok" Alenna tersenyum. Steven terdiam melihat tangannya di sentuh oleh Alenna.
Alenna yang menyadari itu segera menjauhkan tangannya dari tangan Steven dan terjadilah kecanggungan.
"Sorry" Ucap Alenna.
Ia pun membuka pintu mobil dan turun. Steven masih terdiam mematung.
Tok tok tok!
Alenna mengetuk kaca mobil. Steven pun tersadar dan membuka kaca mobilnya selebar mungkin. Terlihat lah Alenna yang membungkuk.
"Makasih yah udah nganterin" Alenna tersenyum manis. Beberapa saat, Steven terdiam memperhatikan senyum manis Alenna. Namun ia segara menyadarkan diri.
"Oh i-iya sama sama" Kata Steven tersenyum.
"Hari hati di jalan" Alenna melambaikan tangannya dan Steven membalasnya. Lalu Steven kembali menutup kaca jendela dan melaju dengan kecepatan yang lumayan cepat.
"Sial! Kenapa gue jadi deg-degan gini sih?. Ayolah Steven! Jangan kayak gini. Masa tangan di pegang aja langsung deg-degan?!. Bukan Steven banget!" Monolog Steven di dalam mobil dengan sesekali memukul-mukul stank mobil.
Apa jangan jangan gue...
Suka sama dia?
__ADS_1
🍁🍁🍁