
"Ini semua gara-gara lo sialan!. Gue bakal bales ini semua. Gue bersumpah akan bikin hidup lo menderita!!"
Sumpah Sarah bersungguh-sungguh dengan semangat dan dendam yang membara. Setelah itu, ia pun tersenyum miring.
🌺🌺🌺
Ceklek!
Bunyi pintu terbuka memenuhi ruangan yang Steven tempati sekarang. Alenna dan ke dua sahabatnya masuk kedalam.
Perlahan tapi pasti, mereka berjalan menuju Steven yang masih terbaring di bangsal dan tak sadarkan diri.
Saat mereka sampai di sana, hening menyelimuti mereka semua. Alenna, Angga, dan Amel saling menatap satu sama lain.
"Dia kapan sadarnya?" Tanya Amel kepada Alenna yang berada di seberang bangsal Steven. Lebih tepatnya di sisi kiri bangsal.
"Gue gak tau. Tapi berdoa aja, semoga cepet sadar" Amel dan Angga mengangguk paham.
"Oh ya, keluarganya pada kemana?" Tanya Angga. Sambil melihat sekeliling.
"Mungkin lagi pada pergi" Jawab Alenna. Amel dan Angga mengerutkan alis nya bingung.
"Lha... Terus yang jagain Steven siapa?" Tanya Angga heran.
"Gue" Amel dan Angga menatap Alenna tak percaya. Alenna hanya mengangkat sebelah alisnya seolah ia bertanya 'lo gak percaya sama gue?'.
"Yakin lo? Tapi kan lo sekolah"
Ragu Amel mendengar jawaban Alenna yang menurutnya akan merepotkan Alenna. Hell bagi Alenna, ia butuh kabar keadaan Steven dengan matanya langsung.
"Setiap pulang sekolah dan libur, gue bakalan kesini dan jagain Steven sampai malam" Jelas Alenna yakin. Memang, itulah yang akan ia lakukan sampai kekasih nya sadar.
"Oke gue ngerti" Kata Amel yang akhirnya paham.
"Baguslah"
"HAI GUYS! GUE!!-"
"Shutttttttttt!" Amel, Angga, dan Alenna segera memberikan tanda bahwa agar tidak berisik kepada orang yang baru saja datang. Siapa lagi kalau bukan Aldo.
Seketika Aldo menutup mulutnya sambil berjalan mendekat dan berdiri di sisi kanan Amel. Jangan lupakan tatapan tajamnya pada Angga yang berada di sisi kiri Amel.
"Ish jangan berisik" Senggol Amel. Aldo hanya menyengir tak berdosa.
"Sorry, aku kira Steven udah sadar" Bisik Aldo kepada Amel.
Pandangannya teralihkan kepada Angga.
"Nih cunguk ngapain sih pakek ikut?" Tanya Aldo berbisik kepada Amel. Amel terkekeh pelan.
"Napa sih, sewot aje" Saut Angga yang mendengar Aldo.
"Bodo amat, masalah buat lo?" Tantang Aldo kepada Angga dengan tatapan yang tajam. Amel memutar bola mata malas. Sedangkan Alenna hanya terkekeh pelan melihat Aldo dan Angga yang selalu saja ribut saat bertemu.
Aduh... Nih orang kenapa sih setiap ketemu selalu ribut? Bikin malu aja!.
Batin Amel geram.
"Udah udah... Ribut mulu. Inget lagi dirumah sakit nih" Tengah Amel memisahkan. Aldo dan Angga pun terdiam.
"Dia duluan yang mulai"
"Enak aja lo sembarangan ngomong"
"Mending kalian keluar aja deh kalau masih mau ribut. Gue gak mau Steven ke ganggu" Kata Alenna tegas kepada Aldo dan Angga.
"Lah bagus dong kalau dia ke ganggu, kan jadinya bangun" Kata Aldo yang membuat Alenna ingin mengantung anak itu di patung Liberty sekarang juga.
"Iya bener tuh. Biar cepet bangun"
__ADS_1
Saut Angga
"Apa lo ikut ikutan?"
"Napa sih? Sombong amat"
Mereka pun berlanjut adu mulut satu sama lain. Amel yang melihat itu hanya memberikan senyuman paksa kepada Alenna karna tidak enak hati. Alenna hanya menggeleng dan wajahnya terlihat bad mood. Amel sadar akan hal itu.
"Kalau gitu, gue pamit ya Alenna. Sorry udah bikin keributan" Pamit Amel mendekati Alenna lalu merangkulnya.
"Lo yang sabar ya, dia pasti sadar kok" Ucap Amel menenangkan Alenna. Alenna hanya mengangguk.
"Yodah, gue balik ya"
"Iya hati hati"
Amel pun berjalan keluar tanpa memperdulikan kedua pria yang masih saja beradu mulut.
Alenna yang pusing mendengar perdebatan merekapun duduk di kursi yang ada di samping bangsal lalu menopang kepalanya dengan satu tangan di dagu. Matanya memperhatikan perdebatan Aldo dan Angga yang sedaritadi belum selesai.
"Lo ngajak ribut mulu dari tadi!" Kata Aldo.
"Lah gue gak ngajak ribut. Lo nya aja yang ngeselin" Balas Angga.
"Lagian ngapain sih lo kesini? Kurang kerjaan tau gak?"
"Lo tuh yang kurang kerjaan nyindir gue mulu"
"Emang lo pantes disindir"
"Tuh kan lo duluan yang mulai"
"Udahlah... Mending gue balik!. Udah yuk Mel pulang" Kata Aldo yang menarik tangan Amel, seolah-olah kekasihnya masih ada di dekatnya. Padahal sudah tidak ada. Ia pun mengerutkan alisnya bingung.
"Lah... Amel kemana?" Tanya Aldo entah kepada siapa.
"Udah pulang" Jawab Alenna singkat.
"Gara-gara lo nih! Cewek gue pergi kan!" Tuduh Aldo kepada Angga. Tak Terima, Angga pun membalasnya.
"Enak aja gara-gara gue. Lo nya aja yang gak bener!"
"Udahlah. Alenna, gue balik dulu ya"
Pamit Aldo. Alenna mengangguk.
"Iya hati-hati" Alenna mengangguk.
"Kalau nih anak gak mau pulang, usir aja" Tambah Aldo sambil terus berjalan keluar dari ruangan.
"Cih! Kakak kelas sialan!" Cerutu Angga saat Aldo sudah pergi.
"Udah ributnya?" Tanya Alenna dingin. Mungkin ada 10 menit mereka bertengkar dengan adu mulut.
Tuh mulut gak kering apa ya?
Batin Alenna heran.
"Hehe udah"
"Alenna?"
Panggil Angga.
"Hm" Dehem Alenna.
"Gue balik ya" Pamit Angga kepada Alenna. Alenna mengangguk.
"Lo naik apa?"
__ADS_1
"Nanti gue pesen taksi"
"Yodah hati-hati"
"Iya, semoga kak Steven cepet sadar" Alenna mengaminkan dan Angga pun pergi keluar ruangan, meninggalkan rumah sakit.
Alenna mengalihkan pandangannya kepada Steven. Ia tersenyum miris.
"Liat, semua orang pengen kamu sadar. Mangkannya cepet bangun" Kata Alenna bermonolog.
"Sebentar lagi ujian mau selesai. Kamu pasti bakalan ngikutin ujian susulan" Alenna terus bermonolog. Entahlah ia yakin bahwa Steven mendengar nya.
Ia pun berjalan menuju sebuah sofa yang berada tak jauh dari bangsal. Alenna membaringkan tubuhnya disana setelah menaruh tas miliknya di atas laci kecil di dekat sofa. Lama kelamaan, ia pun tertidur.
Tanpa sepengetahuan Alenna, jari tangan Steven bergerak perlahan.
🌺🌺🌺
Drrttt! Drrttt! Drrttt!
Ponsel Alenna bergetar di dalam saku bajunya. Merasakan ada yang bergetar, Alenna perlahan membuka matanya lalu ia memposisikan diri menjadi duduk.
Ia mengambil benda pipih di saku bajunya.
Melihat ada seseorang yang menelpon, Alenna menetralkan penglihatan nya.
David...
Alenna menggeser layar slide menuju tombol answer lalu mendekatkan handphone nya ke telinga.
"Hallo Alenna? Kamu dimana? Ini udah malem!. Kenapa masih belum pulang?" Omelan David terdengar menyapa panca indra Alenna.
Yang ditanya masih belum mengumpulkan nyawa, jadi masih bingung apa yang di bicarakan.
"Hallo Alenna? Kamu ngapain sih? Jawab dong" Tanya David lagi.
Alenna pun tersadar.
"Iya, nanti Alenna pulang" Jawab Alenna dengan menggaruk tengkuknya. Sekilas ia melihat wajah Steven yang matanya masih tertutup rapat.
"Jangan nanti, sekarang!"
"Hm"
Alenna pun memutuskan telepon sepihak. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali. Perlahan ia mengambil tasnya lalu mendekat kearah Steven. Ia melirik jam tangannya sekilas.
23:42
Alenna membulatkan matanya melihat jam yang menunjukkan pukul sebelas malam.
"Aduh! Kebablasan" Ucap Alenna. Rencanannya ia ingin pulang jam delapan malam. Tapi karna tertidur, ia jadi kelewatan.
"Steven, aku pulang dulu ya. Besok aku kesini lagi. Bye, semoga cepet sadar" Alenna berpamitan kepada Steven. Ia tak henti-hentinya berdoa agar Steven cepat sadar. Itulah yang perlu ia lakukan.
Bruk!!.
Alenna menabrak sesuatu saat hendak berbalik sambil menutup pintu kamar.
"Eh?"
"Alenna? Kamu belum pulang?" Tanya Grace kaget melihat Alenna. Memang sebelumnya Alenna sudah bilang kalau ia akan menjaga Steven kepada Grace. Tapi Grace tak menyangka bahwa Alenna masih ada disini dan belum pulang. Apalagi besok sekolah.
"Eh mama, ini Alenna mau pulang. Tadi ketiduran" Ucap Alenna.
"Oh gitu, yaudah kamu pulang aja. Biar mama yang gantian jaga Steven. Kamu pulang tidur, besok sekolah kan?" Tanya Grace. Alenna mengangguk sebagai jawaban.
"Yodah ma, Alenna pamit ya" Pamit Alenna bersaliman kepada Grace.
"Iya, hati hati ya sayang" Alenna mengangguk. Ia pun pergi berjalan meninggalkan Grace yang masih memperhatikan punggung Alenna yang mulai menjauh.
__ADS_1
"Udah cantik, baik, sopan lagi. Mantu idaman banget" Monolog Grace sambil menampilkan senyum yang merekah. Setelah itu, ia pun pergi masuk kedalam ruang dimana Steven di rawat.
🌺🌺🌺