BROKEN

BROKEN
berbeda


__ADS_3

"Maafin gue Aldo... "


🌺🌺🌺


Alenna terbangun di malam hari. Ia terduduk di atas ranjang dengan nyawa yang masih belum mengumpul.


Beberapa saat kemudian kesadaran nya pulih. Ia merasakan perutnya lapar. Alenna mengingat bahwa ia belum makan dari pagi. Entah kenapa nafsu makannya hilang sedari pagi. Alhasil ia lapar sekarang.


Alenna beranjak dari ranjang lalu berjalan menuju lemari pakaian untuk mengambil cardigan hitam dan mengambil beberapa baju,alenna berjalan menuju fitting room dan berganti pakaian. Setelah itu Alenna mengambil beberapa lembar uang dari dalam dompetnya yang berada di lemari.


Ia berjalan keluar dari kamar dan turun ke ruang tamu. Alenna melihat Karin dan Johan yang tengah berbincang. Alenna berhenti melangkah dan memilih untuk mendengarkan apa yang kedua orang tua tersebut.


"Sekarang gimana sama Sarah?!. Masa kamu masih aja ngebiarin dia pergi?" Kata Karin bernada tinggi di hadapan Johan yang masih diam.


"Ayolah pah... Dia kasian. Kamu harus bawa dia kerumah ini lagi" Mohon Karin memegang tangan Johan. Johan berpikir sebentar.


"Biarkan dia Karin. Anak itu butuh belajar dari kesalahannya, biarlah dia menjadi anak yang mandiri dan gadis yang bertanggung jawab" Ucap Johan menolak.


Karin menggeleng.


"Tapi dia perempuan, dia bukan laki-laki. Bahaya kalau di luar sana sendirian" Kata Karin lagi. Ia sudah sangat khawatir dengan Sarah, takut anak gadisnya kenapa-kenapa.


"Aku tahu. Tapi Alenna saja bisa mandiri dan bertanggungjawab atas hidupnya sendiri. Kenapa Sarah tidak?" Karin mengumpat dalam hati.


Alenna lagi Alenna lagi!. Memangnya cuma Alenna anaknya?!.


Batin Karin.


Alenna tersenyum saat mendengar papanya memuji dirinya. Hati Alenna sangat senang.


"Johan jangan samakan Sarah dengan Alenna. Mereka jelas berbeda" Bantah Karin tak Terima anaknya di samakan dengan Alenna. Johan mengerutkan alisnya heran.


"Beda dari mananya? Dia sama sama anakku. Tak ada yang beda. Mungkin hanya berbeda sifatnya saja" Ujar Johan yang membuat Karin menatap nya dengan tanda tanya.


"Apa maksud mu sifat mereka berbeda?" Tanya Karin. Johan menghela napas kasar lalu berjalan duduk di sofa diikuti Karin yang duduk samping nya.


"Jujur, aku menemukan banyak perbedaan dari sifat Alenna dan Sarah. Walaupun mereka memang tetap menjadi anakku. Tapi aku rasa sifat mereka bertolak belakang"


"Biar Ku beritahu, Alenna tidak pernah meminta uang sepeserpun padaku. Ia mendapatkan uangnya dengan hasil kerja kerasnya sendiri untuk uang saku sekolah. Kau tahu, dia menjadi penerjemah agar mendapatkan uang. Bahkan ia tak pernah membuat ku merasa kesulitan untuk selalu dekat dengannya, hanya saja sikap dinginnya yang membuat dia berubah. Aku memaklumi itu. Tapi sedangkan Sarah, anak itu malah berbanding terbalik dengan Alenna. Dia sangat boros dan terus menghamburkan uang dengan urusan yang tidak jelas"


"Bukannya aku perhitungan dengan anak sendiri. Tapi hanya saja mereka berbeda dari segi sifat"


Karin terdiam mendengar ucapan Johan yang baginya tengah 'menjelekkan' Sarah.


Jadi, dia lagi ngebanggain Alenna?. Memangnya apa yang bisa di banggakan dari anak itu?. Bahkan ia sama seperti ibunya. Sama sama tidak tahu diri dan murahan.


Batin Karin mengumpat.


"Sudahlah. Aku tak mau tau, Sarah harus kembali kerumah ini secepatnya" Setelah bilang seperti itu, Karin pergi menuju kamarnya meninggalkan Johan yang masih diam. Johan mengusap wajahnya gusar.


Alenna yang sedari tadi menguping, kini perlahan berjalan menuju Johan dan duduk di sampingnya. Johan tersadar dan tersenyum manis kepada Alenna.


"Kamu gak makan?" Tanya Johan kepada Alenna. Inilah niat Alenna, ingin membeli makanan.


"Ini al-"


"Permisi" Ucapan Alenna terpotong karna kehadiran Kenzo di depan pintu rumahnya.


"Kenzo... Masuklah" Ujar Johan menyambut. Kenzo mengangguk lalu duduk di sofa seberang Alenna dan Johan.


"Ada apa malam-malam datang kesini?" Tanya Johan ramah. Kenzo menatap Alenna sekilas. Alenna hanya diam mengerutkan alis.


"Saya mau ajak Alenna jalan-jalan. Apa boleh?" Tanya Kenzo meminta izin. Alenna menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Johan melirik Alenna jahil.


"Oh tentu saja boleh. Ajaklah dia, pasti Alenna bosan kalau hanya diam dirumah" Johan menyenggol lengan Alenna membuat gadis itu tambah malu.


Ekhem, kalau boleh jujur Kenzo sangat tampan malam ini. Memang sih pria itu tampan, tapi malam ini berbeda. Pria itu mengenakan jas dan tatanan rambut yang membuat karismanya semakin terpancar.


Kenzo menatap Alenna dengan tatapan kemenangan lalu tersenyum. Merasa menjadi nyamuk disana, Johan memilih untuk bangkit dari duduknya.

__ADS_1


"Yasudah, kalau gitu papa ke kamar dulu. Kalian pergilah, tapi jangan sampai tengah malam. Kenzo, tolong jaga Alenna"


"Tentu" Johan tersenyum tipis lalu pergi menuju kamarnya.


Kini tersisa Alenna dan Kenzo di ruang tamu.


"Saya sudah dapat izin dari papa mu. Ayo kita jalan-jalan" Ajak Kenzo. Alenna terdiam sebentar lalu menatap tubuhnya yang belum ada persiapan. Alenna hanya mengenakan celana panjang berwarna hitam, baju putih lengan pendek yang terbalut dengan cardigan berwarna hitam.


Sungguh, warna itulah yang sering Alenna gunakan sehari hari.


"Tapi, gue pakek baju kayak gini. Gapapa?" Tanya Alenna. Jujur saja ia tak enak pada Kenzo. Pria itu berpakaian sangat tapi, sedangkan dia berpakaian sangat santai.


Kenzo tersenyum


"Gapapa, asal kamu nyaman. Lagi pula, bajunya senada dengan saya" Alenna baru tersadar bahwa pakaian mereka berwarna senada, couple.


Alenna tersenyum malu. Pria di hadapan nya ini selalu bisa membuatnya tersipu malu.


Dipikirannya tiba-tiba terbayang wajah Steven yang tersenyum kearah. Muncul kerisauan di hati Alenna.


Maaf Steven... Gue pergi sama Kenzo. Maaf...


Batin Alenna merasa bersalah pada Steven. Alenna tau ini tidak benar, tapi disisi lain ia tak punya alasan menolak Kenzo. Pria ini sangat baik mau ada disisinya.


"Ayo" Entah sejak kapan Kenzo berdiri di depannya dengan tangan yang terulur. Alenna tersadar lalu menerima uluran tangan Kenzo lalu tersenyum kikuk.


Mereka keluar dari rumah Alenna dan masuk kedalam mobil milik Kenzo. Ingat, Alenna selalu menolak saat Kenzo ingin membukakanya pintu, kalian pasti sudah tau alasannya kan?.


"Kita mau kemana?" Tanya Alenna saat sudah duduk di kursi penumpang. Sedangkan Kenzo duduk di kursi pengemudi.


"Kita ke restoran dulu. Saya tau kamu lapar" Alenna menyengir kepada Kenzo.


"Kok lo tau?" Tanya Alenna heran.


"Apa jangan-jangan lo cenayang?" Tebak Alenna saat Kenzo belum menjawabnya.


"Rahasia" Jawab Kenzo yang membuat Alenna berdecak sambil memutar bola matanya malas.


"Ah gak asik" Alenna melipat kedua tangannya di depan dada.


"Kamu mau makan apa?" Tanya Kenzo membuat Alenna menoleh. Alenna berpikir sejenak.


"Makan apa aja boleh..." Jujur Alenna orang yang tidak ambil pusing soal makanan. Selagi layak dimakan, ia pasti mau.


"Makan nasi sama batu mau gak?" Goda Kenzo kepada Alenna. Alenna menaikan satu alisnya sambil menatap Kenzo yang masih fokus menyetir.


"Mas nya ngelawak?" Tanya Alenna balik. Kenzo terkekeh.


"Asli, lo gak pantes ngelawak" Ucap Alenna membuat Kenzo mengerutkan alis bingung walau ia tak menatap Alenna.


"Kenapa?" Tanya Kenzo.


"Ya abis muka lo datar kayak talenan di dapur gue dan lagi kalau lo lagi ngomong kayak google translate. Terlalu baku, jadi gak pantes jadi tukang lawak. hahahahhahaha" Alenna tertawa karna berhasil meledek Kenzo. Bagi Alenna apa yang di katakan nya memanglah benar.


Niatnya mau meledek malah jadi di ledek. Dasar kau Kenzo...


Batin Kenzo merasa telah di ejek oleh seorang gadis bernama Alenna Patricia.


asik juga ngeledek nih utusan google translate.


batin Alenna.


Kenzo diam-diam melirik Alenna yang sudah tak tertawa lagi, melainkan tengah tersenyum manis di sampingnya. Tak sadar, Kenzo ikut tersenyum manis juga.


Senyumnya manis sekali...


Batin Kenzo.


"Gak usah liat liat. Fokus ke jalanan aja" Kenzo segera menatap jalanan dan kembali fokus menyetir. Alenna memergoki nya tengah curi-curi pandang pada gadis itu.

__ADS_1


Alenna melihat Kenzo sekilas lalu tersenyum tipis sambil menggeleng kan kepala pelan. Alenna mengambil ikat rambut nya dari dalam kantung celana dan mulai mengikat rambut panjang nya.


Setelah itu, keadaan mobil kembali hening. Kenzo fokus menyetir dan Alenna sibuk menatap jalanan lewat kaca mobil sambil hanyut dalam pikiran masing-masing.


🌺🌺🌺


Disisi lain...


Steven datang membawa motornya menuju rumah Alenna sambil membawa makanan untuk gadis itu. Steven ingin memperbaiki semuanya. Ia sudah memikirkan nya dengan baik. Untung saja, motornya sudah di perbaiki jadi bisa di gunakan sekarang.


Tanpa Steven sadari, motornya berpapasan dengan mobil Kenzo yang melaju berlawanan arah dengannya.


Beberapa saat kemudian, Steven sampai dirumah Alenna. Pria itu segera turun dari motornya dan membawa makanan yang ia beli tadi.


Pria itu sedikit merapikan rambutnya yang berantakan karna menggunakan helm tadi.


Saat sampai di depan pintu rumah Alenna, Steven segera mengetuk nya.


Terbukalah pintu tersebut. Steven bersaliman saat tahu siapa yang membuka pintu tersebut, Johan.


"Malam om" Sapa Steven tersenyum ramah.


"Malam. Teman, eh pacar Alenna maksud nya" Ucap Johan saat tahu siapa yang datang. Steven tersenyum kikuk.


"Iya om. Ada Alenna nya om?" Tanya Steven. Johan mengerutkan alisnya, berpikir.


"Ohhh Alenna... "


"Iya om. Ada Alenna nya om?" Tanya Steven lagi.


"Alenna nya tadi pergi tuh. Barusan aja" Jawab Johan. Steven mengerutkan alisnya.


"Om tau Alenna Kemana, om?" Tanya Steven lagi.


"Tadi sih Kenzo kesini, dia ngajak Alenna jalan-jalan. Om gak tau dia kemana" Steven langsung terdiam.


Ia mengalihkan pandangannya sebentar lalu kembali menatap Johan.


"Oh gitu ya om"


"Hm, ini om. Buat Alenna" Steven memberikan makanan yang ia bawa kepada Johan. Johan menerimanya.


"Iya makasih banyak ya. Kamu mau masuk dulu?" Tanya Johan kepada Steven. Steven menggeleng pelan dan tersenyum tipis.


"Enggak om. Steven langsung pulang aja. Titip salam sama Alenna ya om?" Kata Steven. Johan mengangguk dan tersenyum.


"Iya, nanti om sampaikan"


"Yodah om, Steven pamit ya om. Selamat malam" Pamit Steven bersaliman kepada Johan.


"Iya, hati hati nak" Steven mengangguk lalu berjalan menuju motornya dan menghidupkan nya.


"Permisi om"


Steven beranjak dari pekarangan rumah Alenna dengan perasaan yang tak menentu.


Johan menatap kepergian Steven.


"Kamu sangat beruntung Alenna. Kenzo dan Steven, keduanya sama-sama baik. Semoga kamu dapat memilih yang tepat dan tidak melukai hati keduanya"


Monolog Johan sebelum ia masuk kedalam rumah dan menutup pintu rapat.


Bisa-bisanya tuh orang ngajak pacar gue jalan-jalan. Udah gitu Alenna nya mau aja lagi!. Emang dia gak mikirin perasaan gue apa?. Emang sih gue salah, tapi kan seharusnya dia gak kayak gitu. Niat gue padahal baik mau minta maaf, eh jadinya malah kayak gini.


Umpat Steven dalam hati stabil terus menjalankan motornya menuju rumah.


🌺🌺🌺🌺


☺☺☺

__ADS_1


__ADS_2