
"Anak ama emak sama aja. Sama sama psychopath"
Monolog Alenna.
๐บ๐บ๐บ
"Ayo cepet ngomong! Kamera udah nyala... " Ucap Alenna menyuruh Sarah segera mengakui kesalahannya di depan kamera. Kini tangannya sudah tak di ikat. Nuansa tempatnya juga sudah berbeda. Menjadi di sebuah kamar yang sangat mewah. Kamar yang tadinya kumuh, kini di sulap menjadi sangat bagus dan mewah. Tujuannya adalah, agar tidak ada yang tahu bahwa Sarah tengah di kurung dan di paksa untuk memberi keterangan.
Tapi tetap saja anak buah Kenzo menodongkan pistol kearah Sarah, walapun tidak terlihat di kamera. Itu semua agar gadis itu tak berkutik dan Alenna hanya memegang kamera untuk memfokuskan.
"Satu... "
"Dua... "
"Tiga... "
Kamera pun menyala. Beberapa saat kemudian Sarah pun memberikan semua keterangan dan hal apa saja yang sudah ia lakukan. Beserta bukti. Kalian pasti tau, apa saja bukti itu. Ya, bukti seperti pistol dan lain-lain.
Mungkin ada 2 jam gadis itu berbicara di depan kamera. Sampai Alenna mengantuk, tapi ia tetap bertahan.
Alenna menghela napas... Saat Sarah sudah selesai memberikan pengakuan. Alenna menyimpan rekaman tersebut dan keluar dari ruangan sebentar dan kembali masuk beberapa saat kemudian.
"Nah gini kan gampang buat masukin lo ke penjara" Ucap Alenna sambil tersenyum miring kearah Sarah.
Tok! Tok! Tok!
Suara pintu terdengar. Alenna membuka nya dan melihat salah satu anak buah Kenzo datang. Alenna mengerutkan alisnya.
"Ada apa?" Tanya Alenna.
"Nona, di depan ada seorang wanita ya-"
"Oh... Biarkan dia masuk" Potong Alenna cepat dan bodyguard itu segera pergi dan membawa wanita yang di maksud.
bakalan tambah menarik nih...
batin Alenna berseru.
benar saja permainan akan bertambah seru jika Karin ikut berpartisipasi dalam hal ini. waw, Alenna jadi tak sabar
Alenna tersenyum penuh kemenangan saat satu mangsa lagi sudah datang. Tak lupa, Sarah sudah di ikat seperti semula di sebuah kursi dengan belasan anak buah Kenzo gang menjaganya.
"Ini nona orangnya" Karin menatap Alenna terkejut bukan main sedangkan Alenna hanya tersenyum. Sangat. Manis.
"A-alenna?" Ucapnya tak percaya.
"Kenapa? Kaget karna gue masih hidup?" Ucap Alenna sudah menebak apa yang di pikirkan Karin.
"Dimana Sarah?!" Tanya Karin berteriak. Alenna tersenyum meremehkan.
"Mama tiri gak boleh teriak gitu. Mending sekarang mama tiri ikut aku" Alenna manarik tangan Karin dengan sangat kuat membuat tangan wanita paruh baya itu merah.
"Alenna! Kamu mau bawa mama kemana?"
Mama? Mimpi!. Mah... Alenna bakal bales semua perbuatan mereka.
Ucap Alenna dalam hati.
Alenna membawa Karin untuk duduk di sebuah kamar yang ada disana dengan nuansa yang sama lebih romantis. Alenna tersenyum miring.
Beberapa bodyguard mengikuti Alenna. Jangan lupakan senapan yang mereka bawa, membuat Karin keringat dingin.
"Buka baju!" Ucap Alenna dingin kepada Karin. Karin menggeleng kuat.
"Alenna! Kamu sudah gila ya?!" Tanya Karin sekaligus menolak.
"YA! GUE EMANG UDAH GILA SEMENJAK LO BUNUH VINNA!. PUAS LO?!" Teriak Alenna emosi membuat Karin terkejut sekaligus ketakutan secara bersamaan.
"Sekarang buka baju lo dan tunjukin gimana cara lo ngerayu papa gue saat itu" Karin makin menolak. Alenna mengambil salah satu senapan yang ada di tangan anak buah Kenzo lalu menyuruh mereka keluar dari kamar itu. Karna rata-rata mereka laki-laki.
Tapi ia menyuruh salah satu dari mereka untuk tetap disini, di samping Alenna. Alenna kembali beralih ke pada Karin.
"Lo tau ini apa?. Gue yakin lo pasti tau" Karin sungguh ketakutan saat ini. Wanita ini memang sudah tua, tapi tubuhnya masih terbilang cantik dan seksi. Mungkin karna itu dia memanfaatkan nya untuk merayu Johan kala itu.
"Sekarang, mudur!" Ujar Alenna sambil menodongkan pistol itu kearah Karin. Karin pun mundur sampai tubuhnya dekat dengan ranjang disana.
"Sekarang, naik ke atas ranjang!. Cepet!" Karin menurut dan naik keatas ranjang.
"Sekarang, buka resleting baju lo"
"Jangan Alenna"
"Alah gak usah alesan. Biasanya juga kayak gitu. Cepet buka!"
Karin kembali menurut dan membuka resleting nya sampai ke belahan dada.
Alenna terus menyuruh Karin untuk berpenampilan layaknya seorang jalang. Sampai saatnya, Alenna menyuruh salah satu bodyguard tersebut untuk melepas jasnya dan melepaskannya ke atas ranjang.
Setelah itu, ia menyuruh bodyguard nya pergi meninggalkan Alenna dan Karin.
Tenang, Alenna tidak sejahat itu untuk berperilaku kurang ajar kepada orang yang lebih tua. Ia hanya menyuruh sampai situ, tidak lebih. Karna Alenna masih tau batasannya.
Alenna pun merekam semuanya. Lalu menyimpan nya di kamera kesayangannya.
__ADS_1
"Selesai. Benerin lagi tuh baju" Ujar Alenna. Karin langsung membenarkan pakaiannya yang sedikit terbuka.
Setelah itu Alenna keluar kamar lalu masuk lagi.
"Ikut gue" Karin menurut dan ikut Alenna yang hendak membawanya entah kemana.
Rupanya Alenna kembali membawa Karin menuju tempat Sarah berada. Karin langsung lair kearah Sarah saat melihat anaknya.
"Alenna! Kamu apakan Sarah!" Tanya Karin khawatir.
"Gak tau. Tanya aja anaknya sendiri" Ucap Alenna acuh.
"udah bawa barangnya kan?" Tanya Alenna kepada tangan kanan Kenzo.
"Tentu nona. Ini" Jawab pria paruh bawa itu.
"Yasudah, pasangkan ke mereka" Segera anak buah Kenzo memasangkan sebuah alat di tubuh Karin dan Sarah.
"Mau apa kalian?!. Jangan macam macam!. Kurang aja kalian!" Alenna tersenyum miring saat melihat adegan tersebut.
Tenang, bagian tubuh yang di pasangkan alat bukanlah tubuh bagian dalam melainkan tubuh bagian luar. Yaitu, tengkuk dekat rambut.
"Sudah nona" Alenna mengangguk.
"Alenna! Mau kamu apa?!" Tanya Karin marah. Sarah hanya diam karna takut.
Cih! Sarah ketakutan? Atau lagi nyusun siasat?!.
Batin Alenna.
"Gue mau lo tutup rapet tuh mulut tentang hari ini. Kalau sampai lo cerita ke siapa siapa, termasuk papa. Nyawa lo berdua bakalan hilang saat itu juga. Karna di tubuh lo udah ada alat pendeteksi. Jadi ketahuan apa aja yang lo omongin"
"Oh... Dan jangan berani-beraninya lo lepas alat itu. Karna, mereka semua bakalan ngepung lo berdua. Sekalipun lo ada di rumah" Ujar Alenna mengancam. Sarah dan Karin hanya bisa mengumpat di dalam hati karna perlakuan Alenna.
"Sekarang, kalian boleh pergi" Ucap Alenna seolah mengusir.
Tanpa disuruh, anak buah Kenzo segera melepaskan ikatan pada Sarah. Mereka segera membawa Karin dan Sarah pulang kerumah.
"Ingat. Yang ucapin, gak pernah main main" Bisik Alenna pada Sarah membuat bulu kuduk gadis itu berdiri. Mereka pun pergi dari tempat itu.
๐บ๐บ๐บ
"Terima kasih atas bantuannya, pak" Ucap Alenna kepada tangan kanan Kenzo.
"Tidak perlu berterima kasih nona. Karna kami juga beruntung karna anda sangat peduli kepada tuan kami, Kenzo. Jadi jangan sungkan untuk meminta bantuan" Ucap pria paruh baya itu sangat ramah dan baik.
"Terima kasih pak. Saya mohon terus kepung rumah saya dan terus ikuti mereka. Nanti saya pantau lewat ipad ini" Ucap Alenna sambil menunjukkan layar monitor yang ada di tangannya. Itu adalah layar monitor yang tersambung di alat tadi. Alat yang di taruh di tubuh Karin dan Sarah.
"Baiklah, nona. Mari saya antar ke tempat tujuan anda"
๐บ๐บ๐บ
"Saya akan menunggu anda di sini nona" Ucap tangan kanan Kenzo. Alenna menggeleng sambil tersenyum.
"Enggak usah pak. Saya lama disini" Tolak Alenna yang diangguki oleh tangan kanan Kenzo.
"Baiklah kalau begitu"
"Eh pak, kalau boleh tau. Nama bapak siapa ya?" Tanya Alenna. Jujur saja Alenna belum tau siapa tangan kanan Kenzo ini. Karna itu, Alenna lebih bertanya.
"Perkenalkan, nama saya Hendrick" Alenna menjabat uluran tangan Hendrick lalu tersenyum ramah.
"Terima kasih banyak pak Hendrick. Saya permisi" Pamit Alenna setelah berkenalan lalu pergi ke sebuah rumah yang menjadi tujuannya sekarang. Sementara itu, Hendrick telah pergi bersama mobilnya.
Alenna berjalan kearah pintu besar itu lalu mengetuk nya, tapi tidak ada yang menjawab. Sampai akhirnya seseorang membuka pintu tersebut.
"Alenna?!" Alenna tersenyum manis kepada gadis di depannya ini, Stephanie.
"Iya kak, ini Alenna" Jawab Alenna. Stephanie langsung menyuruh Alenna masuk kedalam rumah dan duduk di ruang tamu.
"Ya ampun Alenna... Kamu kok baru dateng sih?" Tanya Stephanie dengan raut wajah sedih.
"Maaf kak. Kan yang penting sekarang Alenna udah dateng" Jawab Alenna yang membuat Stephanie tersenyum.
"Iya bener"
"Hmm kak, ada Steven nya gak?" Tanya Alenna membuat Stephanie terdiam beberapa saat. Alenna mengerutkan alis menunggu jawaban.
"Kak?"
"Eh... A-ada kok"
Jawab Stephanie seperti orang linglung. Alenna kembali bertanya.
"Dimana kak?"
Stephanie menggigit bibir bawanya dan tatapannya tak melihat kearah Alenna.
"I-itu, dia di kamarnya" Kata Stephanie yang langsung di angguki oleh Alenna.
"Yaudah kak, Alenna izin ke kamarnya ya. Ada yang mau Alenna omongin ke Steven" Stephanie menatap Alenna seolah sedang mencegahnya dan menggeleng kan kepalanya pelan. Tapi Alenna terus jalan kearah kamar Steven yang tertutup rapat.
"Alenna... Gue harap lo gak tersakiti" Gumam Stephanie sambil terus memperhatikan Alenna dari ruang tamu.
__ADS_1
Alenna mengetuk pintu tersebut pelan, tapi tidak ada yang menjawab. Akhirnya Alenna pun membuka pintu kamar Steven pelan sampai terbuka.
Air mata Alenna menetes saat melihat kekasihnya tengah bercumbu mesra dengan mantan kekasihnya.
Ya, Steven tengah duduk dan di sampingnya ada si mantan kekasih yang pernah ke pergok Alenna sedang memohon agar Steven kembali padanya.
Dada Alenna sesak, tapi tidak terlalu sesak seperti waktu itu. Namun air matanya terus mengalir begitu saja. Steven masih belum sadar dengan kehadiran Alenna. Hingga saatnya sang mantan kekasih melihat kearah Alenna dan tatapannya fokus ke pada Alenna. Membuat Steven bingung dengan gadis di sebelahnya.
"Kenapa, babe?" Alenna kembali meneteskan air mata saat Steven memanggil mantan kekasihnya dengan sebutan 'babe'. Hatinya benar-benar merasa di khianati.
Steven mengikuti arah pandang gadis di sebelah nya dan berapa terkejutnya dia melihat Alenna menatapnya penuh dengan kekecewaan. Steven segera berdiri di ikuti gadis di sebelah nya.
Steven berjalan mendekat kearah Alenna.
"Alenna?. Ini gak seperti yang kamu lihat, aku sama dia cuma-"
"Balikan" Saut mantan kekasih Steven yang sekarang sudah berubah status menjadi kekasih Steven sekarang. Steven hanya diam tak mampu berkata-kata apa.
"Bisa gue bicara sama pacar lo? Tenang, gue gak bakal rebut" Ucap Alenna pada perempuan itu. Perempuan itu berpikir sejenak lalu berjalan keluar dari kamar danย kembali menutup pintu.
Tinggalah Alenna dan Steven yang hanya di selimuti keheningan.
"Alenna... Aku minta maaf. Ak-"
"Stop. Udah cukup Steven. Gue dateng kesini buat memperbaiki semuanya, tapi lo malah gak ngasih kesempatan itu ke gue. Lo udah dapetin hal yang lebih berharga dari pada memperbaiki hubungan yang selama 2 bulan lebih terjalin. Kalau boleh jujur, gue kecewa banget sama lo. Tapi yaudahlah, gue gak bisa maksain hubungan yang udah pecah kayak gini" Steven terdiam mendengar ucapan Alenna yang membuatnya merasa sangat bersalah.
"Terima kasih atas kenangannya, makasih udah perhatian sama gue, dan makasih udah bikin hati patah berkali-kali. Sekarang, hubungan kita cukup sampai sini. Gue pamit, jaga baik baik cewek itu kalau emang bener lo cinta sama dia"
Ujar Alenna lalu keluar dari kamar Steven.
Steven terus memanggil nama Alenna tapi tak di gubris oleh Alenna. Akhirnya Steven mengikuti Alenna, Sampailah Alenna berhenti di ruang tamu. Disana sudah ada Stephanie yang melihat Alenna dengan rasa kasihan dan iba.
"Alenna... " Panggil Stephanie lirih lalu berjalan mendekat kearah Alenna. Steven berada tak jauh di belakang Alenna dan menyaksikan hal tersebut.
Alenna berusaha tersenyum tegar di depan Stephanie.
"Makasih ya kak. Alenna beruntung banget bisa kenal sama kak Stephanie yang udah Alenna anggap kakak Alenna sendiri. Makasih banyak ya kak" Alenna kembali meneteskan air mata.
Stephanie memeluk Alenna erat dan tak sadar Stephanie juga menangis. "Maafin kak Stephanie Alenna..." Mohon Stephanie membuat Alenna menggeleng pelan.
"Makasih banyak ya kak. Alenna pamit" Alenna segera keluar dari rumah Steven dengan berlari dengan tujuan yang tak jelas ingin kemana.
Alenna menangis sejadi-jadinya di jalan. Langkahnya mengerahkan kepada sebuah pemakaman umum. Alenna tau tempatnya lumayan jauh, tapi ia hanya ingin kesana.
Tak peduli seberapa jauh tempat itu.
Sekitar 30 menit Alenna berjalan, ia sudah sampai di pemakaman umum tersebut dan mencari makam ibunya berasa. Untunglah ketemu. Alenna langsung ambruk di samping makam yang bertuliskan 'Vinna Patricia'.
"Mama..." Ucap Alenna lirih dan sesegukan.
"Hidup Alenna menderita disini, mah. Mama pasti kecewa sekaligus sedih kalau ngeliat Alenna sekarang. Teman Alenna mati, Kenzo di tembak, dan sekarang Steven gak cinta lagi sama Alenna mah. Dia udah punya kebahagiaan nya sendiri"
"Bilang sama Alenna, mah. Apa alasan Alenna buat bertahan hidup? Apa mah?. Pasti gak ada... " Alenna terus bermonolog dan menangis tersedu-sedu.
Alenna terus menumpahkan kesedihannya di sana, mencurahkan segala keluh kesah dalam hati kepada ibunya.
"Tak ada gunanya terus mengeluh" Alenna menoleh kebelakang untuk mencari sumber suara. Ia mendapati seseorang yang tak terduga berdiri di belakangnya.
Alenna berdiri sambil dan menatap orang itu dengan tatapan heran.
"Ngapain anda disini?" Tanya Alenna pada orang itu.
Orang itu berjalan mendekati Alenna.
"Mengikuti anda. Memangnya apa lagi?" Tanya balik orang itu membuat Alenna menghela napas.
"Untuk apa anda mengikuti saya?. Kurang kerjaan" Ujar Alenna ketus. Polisi itu tersenyum miring.
"Saya gak mau anda melakukan hal yang merugikan saya. Jadinya saya ikuti" Alenna menatap orang didepannya dengan satu alis yang naik.
"Merugikan? Apa?" Tanya Alenna.
"Kabur" Jawab orang itu kabur.
Alenna menyeringai.
"Sudah saya bilang kan, kalau saya gak bakal kabur?" Ujar Alenna. Polisi itu diam.
"Udahlah... Gak usah takut. Saya lagi cari bukti. Ingat, waktu 2 hari anda masih berjalan. Saya gak mau buang-buang waktu" Ujar Alenna meninggalkan orang tersebut dengan berjalan kaki. Rupanya orang tersebut mengikuti Alenna dan meninggalkan mobil miliknya yang terparkir manis di jalan.
Dasar... Polisi kurang kerjaan. Udah di bilang gue gak bakal kabur, tapi masih aja ngikutin aja. Nyebelin sumpah. Bikin mood gue tambah jatuh.
Batin Alenna karna merasa Adamson masih mengikutinya.
Ia pun berjalan secepat mungkin menuju rumah sakit. Ia ingin tahu keadaan Kenzo sekarang. Ya, jujur Alenna merindukan Kenzo saat ini.
Persetan dengan polisi yang mengikutinya.
Menarik... Dia terus menghindar.
Batin Adamson, sang polisi.
๐บ๐บ๐บ
__ADS_1
SHARE KE TEMAN KALIAN CERITANYA YA!!! DANN TERUS VOTE SEKALIGUS COMMENT ๐๐ makasih...