BROKEN

BROKEN
because I love you


__ADS_3

Apa yang terjadi pada Alenna?. Apa yang Alenna alami?. Alenna sakit apa?. Apa masalahnya dengan Sarah?. Kenapa Sarah membenci Alenna?. Dan masih banyak lagi.


Pertanyaan itu berputar terus di otak Kenzo sampai ia tiba di sebuah rumah sakit.


🍁🍁🍁


"Suster!!! Tolong periksa dia. Cepetan suster! Jangan lama-lama, saya gak mau di kenapa-kenapa. Cepet suster!" Teriak Kenzo sangat cerewet karna sakin khawatir. Para suster berlarian dengan membawa tempat tidur dorongan. Alenna pun di taruh di atas sana oleh Kenzo dengan sangat pelan. Kenzo memegangi sebelah tangan kanan Alenna.


Diantara Salah satu suster tersebut, ada yang matanya membulat tak percaya. Bukan karna gadis itu cantik, atau karna wajahnya pucat. Bukan!. Melainkan karna ia sangat kenal dengan Alenna.


"Tuan tunggu di sini sebentar, kami akan periksa pasien dulu. Tenang tuan, kami akan berusaha dengan baik" Kata salah satu suster menenangkan Kenzo. Kenzo menurut, ia pun duduk di salah satu kursi panjang yang telah di sediakan.


Para suster pun membawa Alenna ke salah satu ruangan, lalu memeriksa nya.


Kenzo menatap dinding di hadapannya dengan tatapan kosong. Entah kenapa hatinya sakit melihat Alenna yang terbaring lemah di rumah sakit.


Ia benci melihat Alenna di caci maki depan banyak orang, ditambah gadis itu hanya diam. Ia tidak suka melihat wajah pucat Alenna.


Yang ia suka adalah, saat gadis itu tersenyum lepas seakan tanpa beban, seperti waktu mereka pergi ke taman hiburan bersama. Kenzo ingin terus melihat Alenna yang nampak bahagia, seperti dia yang berhasil mendapatkan boneka beruang dari games taman hiburan tersebut.


Terpancar lah senyum indah di wajah gadis itu. Yang mampu membuat hati Kenzo melolos begitu saja, hanya dengan senyuman Alenna. Kenzo ingin seperti itu terus!.


Kamu sudah keterlaluan Sarah.


Batin Kenzo muak dengan Sarah. Ia tahu, tidak perlu menyalahkan Sarah. Namun mendengar perkataan Amel di mall tadi, membuatnya merasa bahwa Sarah pantas untuk disalahkan.


Tak! Tak tak!


Suara langkah kaki yang di duga Kenzo adalah milik seorang wanita. Langkah kaki tersebut mendekat kearahnya.


"Kak! Gimana keadaan Alenna?" Tanya seorang gadis dengan memegang lutut dan napas yang memburu. Kenzo menatap gadis itu.


"Saya gak tau. Dokter lagi periksa" Jawab Kenzo apa adanya. Ia sendiri tidak tahu bagaimanan keadaan Alenna di dalam sana. Amel duduk di samping Kenzo, namun berjarak.


Sebenarnya Amel bingung harus memanggil sosok di samping kirinya ini dengan panggilan apa. Paman? Tidak itu terlalu tua. Tuan? Rasa-rasanya Amel terlalu sopan. Kakak? Sepertinya itu lebih baik dari dua pilihan sebelumnya. Karna itulah Amel memanggil Kenzo dengan panggilan 'kakak'.


Sunyi, itulah yang ada di antara Kenzo dan Amel. Mereka sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Saya mau tanya" Tanya Kenzo membuka suara. Namun masih belum menatap Amel. Mendengar itu, Amel mengerutkan alisnya bingung.


"Tanya apa kak?" Tanya Amel. Kenzo menatap Amel lekat. Amel menjadi gelisah ditatap seperti itu.


Gila! Ganteng banget sih nih orang!. Emaknya ngidam apaan ya?.


Kali aja dia mau nanya id line gue atau nomer rumah gue, kali aja dikirimin paket. Wkwkwk


Batin Amel percaya diri. Malaikat? Itulah yang mungkin Amel deskripsi kan mengenai Kenzo sekarang.


"Kenapa Sarah berbuat kayak gitu ke Alenna?" Tanya Kenzo memperjelas pertanyaannya.


Yah... Kirain mau nanyain tentang gue! Ternyata tentang sih drama queen.


Halah... Males banget.


Batin Amel. Amel memutar bola matanya malas.


"Owh itu... Dia emang orangnya selalu iri sama Alenna. Dia ngambil kasih sayang om Johan dari Alenna. Dia mau semuanya dari Alenna, termasuk kak Steven dan kak Kenzo"


"Sebenarnya, Sarah itu kakak tirinya Alenna dan tante Karin itu mamanya Sarah. Jadi deh om Johan selalu mentingin Sarah dari pada Alenna" Jelas Amel panjang. Tak semuanya ia ceritakan. Kenzo mencermati setiap penjelasan Amel.

__ADS_1


"Jadi, ibunya Alenna kemana?" Tanya Kenzo.


"Tante Vinna udah meninggal belum lama ini. Sejak saat itu Alenna gak punya siapa-siapa selain kakaknya David dan bang Leksi, sahabat bang David. Cuman sekarang kak David lagi kuliah di luar negeri. Jadi deh Alenna gak punya siapa-siapa lagi di rumahnya" Kenzo semakin penasaran dengan seluk-beluk Alenna.


"Terus Leksi?" Tanya Kenzo lagi.


"Dia gak tau kemana, terakhir ketemu. Di acara pesta keluarga nya Steven. Cuman kata Alenna sifatnya beda gitu, dan yang paling mengejutkan Leksi adalah tunangan kakak perempuan nya Steven" Kata Amel.


Jujur sebenernya Amel tak ingin menceritakan semuanya kepada Kenzo. Namun sepertinya, Kenzo perlu mengetahui hal tersebut. Karna Amel merasa bahwa Kenzo....


Ceklek!


Pintu kamar dimana Alenna di rawat terbuka. Munculah seorang suster wanita dari dalam lalu menghampiri Kenzo serta Amel.


"Gimana Sus, keadaan Alenna?" Tanah Kenzo yang kini telah berdiri, diikuti oleh Amel.


"Dia masih belum sadar. Namun kesehatannya baik-baik saja, dia hanya mengalami kelelahan saja" Kata suster yang diketahui bernama


Bella di name take nya.


"Syukurlah.... " Syukur Kenzo menghela napas lega.


"Boleh kita masuk kedalam suster?" Tanya Amel ingin segera menemui Alenna. Suster Bella tersenyum.


"Boleh, tapi jangan sampai nona Alenna terbangun. Karna dia butuh istirahat" Kata suster tersebut.


"Kalau begitu saya permisi dulu" Kenzo mengangguk. Sedangkan Amel terdiam karna merasa ada yang janggal.


"Terima kasih suster" Kata Kenzo.


Kok susternya tahu nama Alenna? Emang udah di kasih tau?.


Amel dan Kenzo pun masuk kedalam ruang di mana Alenna berada.


🍁🍁🍁


Kenzo menatap wajah Alenna yang tenang dan pucat. Namun jika di perhatikan dengan jelas, terbesit ke sedihan yang terpendam dalam dirinya, Kenzo menyadari hal tersebut.


Amel yang berada di luar sehabis mendapat telepon, kini masuk kedalam ruangan. Kenzo tak sadar bahwa Amel telah masuk kedalam dan gadis itu memperhatikan Kenzo diam diam.


Mungkin karna Kenzo terlalu betah menatap wajah Alenna atau mungkin ia tengah melamun, yang jelas kedua sudut bibir pria itu terangkat, membentuk senyuman tipis.


"Ekhem!" Kenzo menoleh kearah Amel karna mendengar suara tersebut. Amel pun menghampiri Kenzo.


"Eh Amel, sorry saya gak sadar kamu udah masuk" Kata Kenzo, Amel mengangguk paham.


"Maaf nih kak sebelumnya, saya tadi di telepon temen saya, katanya saya harus kerja kelompok. Jadi mau gak mau saya harus per-"


"Iya gapapa, pergi aja. Alenna biar saya yang urus. Kamu bisa dateng ke sini besok" Kata Kenzo memotong ucapan Amel. Seolah pria itu sudah tahu apa yang akan Amel ucapkan.


"Beneran gapapa kak?" Tanya Amel tak enak.


"Iya beneran, Alenna tanggung jawab saya"


Tanggung jawab?. Demi apa... Kok so sweet ya?. Coba Aldo kayak gini, aduh... Beruntung banget sih Alenna.


Batin Amel menjerit.


"Oke deh kalau gitu. Amel pergi dulu ya kak, titip Alenna. Bye!" Amel pun pergi setelah melambaikan tangan. Kenzo hanya mengangguk sekali.

__ADS_1


Pria itu kembali menatap gadis yang terbaring lemah di atas ranjang. Ia pun mendekat, lalu duduk di kursi yang telah di sediakan. Dekat dengan tempat tidur Alenna.


Tangan kenzo mengusap rambut Alenna pelan. Berkali-kali.


"Alenna... " Panggil pria itu pelan. Ia tahu bahwa Alenna belum tentu bangun karna panggilannya.


"Saya tahu kamu lagi mimpi indah sekarang. Tapi ingat, bangunlah karna ada pria yang telah menunggu mu sampai mata indah itu terbuka. Pria yang siap mendengar keluh kesahmu, siap menjaga dan melindungi mu, dan siap berusaha membuat mu tersenyum lagi. Jadi... Bangunlah" Ujar Kenzo pelan, tepat di sebelah kanan telinga Alenna.


Deg!


Seolah mendengar semua perkataan Kenzo, mata Alenna secara perlahan terbuka. Saat dimana matanya benar-benar terbuka, Alenna terkejut karna ada Kenzo di sampingnya dengan senyum manis.


Alenna berusaha untuk bangun, Kenzo pun membantunya. Alenna mengedarkan pandangannya ke sekeliling, ia pernah ketempat ini. Ya benar, ia pernah kesini.


Inikan rumah sakit yang ngerawat gue dulu.


Batin Alenna menyadari tempatnya sekarang.


"Kenapa? Masih pusing?" Tanya Kenzo khawatir. Alenna menggeleng lemah.


Berarti, suster Bella ada disini dong? Jangan-jangan dia bilang kalau gue...


Batin Alenna khawatir rahasia nya terbongkar.


"Kenzo... Pulang yuk!" Ajak Alenna dengan suara yang masih lemah.


"Gak bisa, kamu harus disini sampe bener-bener Vit" Tolak Kenzo.


"Besok gue harus sekolah, udah yuk pulang aja" Ajak Alenna lagi.


"Kamu masih belum pulih dan lihat, ini udah malem. Saya gak mau tahu, pokoknya kamu harus disini sampe beneran sehat" Tolak Kenzo mentah-mentah. Alenna menatapnya sebal.


"Kenzo gue tuh baik-baik aja, jadi jangan berlebihan" Protes Alenna. Kenzo hanya diam dan mengeluarkan ponselnya. Tak menghiraukan Alenna.


"Kenzo ayo pulang... "


"Kenzo"


"Woi!. Kuping lu gak di sumpel kan?"


Alenna mengguncang lengan Kenzo. Namun pria itu masih tak berkutik. Alenna menghela napas.


"Yodahlah... Gue balik sendiri aja" baru Alenna ingin menurun kan kakinya untuk turun dari tempat tidur, namun Kenzo langsung mencegahnya dengan cara... Memeluk Alenna. Mata Alenna membulat saat Kenzo memeluknya erat.


"Alenna ... stay here. I know you are not comfortable, but let your body rest for a while, until your condition is really healthy."ΒΉ


Kenzo berhenti sejenak sebelum ia melanjutkan perkataannya yang belum selesai


"and.... I will continue to be by your side, whenever you need, I'm always ready, and I will protect you with all my might. so let me act the best for you. because i love you"Β²


Translate:


{Alenna ... tetaplah di sini. Saya tahu kamu tidak nyaman, tetapi biarkan tubuhmu beristirahat sebentar, sampai kondisimu benar-benar sehat}


{dan saya akan terus berada di sisimu, kapan pun kamu membutuhkan, saya selalu siap, dan saya akan melindungimu dengan sekuat tenaga. jadi izinkan saya bertindak yang terbaik untuk anda. karena saya mencintai kamu}


🍁🍁🍁


hallo!!! di chapter ini, author bikinnya lumayan panjang. khusus buat kalian. jadi plisss kasih komen dan vote terus ceritanya. author tunggu jejak kalian.... sampai jumpa!!! 😍😘

__ADS_1


__ADS_2