
Bisa-bisanya tuh orang ngajak pacar gue jalan-jalan. Udah gitu Alenna nya mau aja lagi!. Emang dia gak mikirin perasaan gue apa?. Emang sih gue salah, tapi kan seharusnya dia gak kayak gitu. Niat gue padahal baik mau minta maaf, eh jadinya malah kayak gini.
Umpat Steven dalam hati stabil terus menjalankan motornya menuju rumah.
🌺🌺🌺
"Ayo turun" Alenna mengangguk lalu membuka pintu mobil lalu keluar. Berdiri di depan mobil melihat sebuah restoran yang sangat mewah di hadapannya.
Kenzo berdiri disamping Alenna.
"Sebentar" Ucap kenzo tiba-tiba dan tangannya bergerak menuju rambut Alenna lalu mengambil ikat rambut milik Alenna. Tergerai lah rambut panjang Alenna.
Sang punya ikat rambut menatap Kenzo bingung.
"Kok di ambil?" Tanya Alenna saat melihat Kenzo mengantungi ikat rambut miliknya.
"Saya simpan" Alenna masih menatap Kenzo bingung.
"Lah... Nanti gue nguncir pakek apaan?" Tanya Alenna.
"Gak usah di ikat. Saya lebih suka kamu seperti ini" Alenna terdiam meneguk salivanya saat Kenzo mendekat merapikan rambut Alenna. Jantung Alenna berpacu cepat.
"Dah. Yuk!" Kenzo menarik tangan Alenna berjalan memasuki restoran tersebut. Alenna menurut dan ikut masuk kedalam sana.
Alenna melihat sekeliling restoran tersebut. Sangat ramai dan Alenna suka nuansa nya.
Kenzo dan Alenna berjalan menuju salah satu meja yang kosong. Merekapun duduk di sana.
"Kamu mau makan apa?" Tanya Kenzo sambil memegang buku daftar menu makan.
"Samain kayak lo aja, ken" Kenzo mengangguk lalu memilih makanan. Tak lama seorang pelayan wanita datang dan bertanya apa yang mereka pesan, Kenzo pun menjawab lalu pelayan wanita itu segera pergi lagi.
Setelah beberapa saat, Kenzo kembali membuka suara.
"Ponsel kamu kemana? Kok saya telepon gak aktif?" Tanya Kenzo.
"Eh so-sorry hmm itu, HP gue di ambil Sa-sarah" Cicit Alenna. Ia sampai lupa bahwa benda itu tidak bersamanya lagi. Kenzo mengangguk paham.
"Abis ini kita beli" Alenna menggeleng mendengar ucapan Kenzo.
"Eh gak usah, gapapa kok. Sayang duit lo" Tolak Alenna sambil melambaikan tangannya di depan wajah.
*****, malu-maluin aja sampe di beliin.
Batin Alenna.
Kenzo tersenyum melihat ekspresi Alenna yang sedang malu-malu.
Uang? Oh ayolah... Saya tidak akan bangkrut hanya dengan membeli handphone.
Batin Kenzo. Memang benar, bagi Kenzo membeli sebuah handphone sangat lah mudah. Bahkan jika Alenna memintanya membelikan mobil, pesawat, dan semacamnya Kenzo sanggup. Itupun jika Alenna yang menginginkan, pasti akan Kenzo berikan.
"Tenang, saya cuma memberikan handphone. Bukan mobil, tidak masalah. Tapi kalau kamu mau keduanya juga boleh" Kenzo memainkan kedua alisnya naik turun. Alenna memutar bola matanya malas.
"Iyadah Orang kaya mah bebas. Tapi inget, mending lo pakek tuh duit buat di sumbangin ke panti asuhan. Lebih bermanfaat dari pada buat hal-hal yang macem macem" Ucap Alenna mengingatkan.
Kenzo terdiam dan menatap Alenna dengan tatapan yang susah di artikan. Alenna jadi salah tingkah.
Emang gue salah ngomong ya? Perasaan bener deh.
Batin Alenna. Jujur Alenna akan canggung jika ditatap seperti itu.
Gadis ini sungguh...
"So-sorry, gue gak bermak-"
"Kamu benar, saya mengerti" Ucapan Alenna terputus karna Kenzo sudah memotongnya.
Alenna tersenyum hangat.
Tak lama, pelayan datang dengan membawa hidangan yang sudah di pesan Kenzo sedaritadi.
Perut Alenna kembali ribut saat melihat makanan yang sangat banyak nan terlihat lezat di hadapannya.
Kenzo memperhatikan ekspresi Alenna yang sedang memperhatikan makanan itu dengan lapar. Kenzo tersenyum, maklum.
Pelayan pun pergi setelah menaruh semua hidangan di atas meja.
"Ayo dimakan. Untuk apa hanya di liat?" Alenna melihat mata Kenzo lalu menyengir.
"Hehe, makasih banyak ya. Nanti gue yang bayar, santuy gue udah gajian" Alenna tersenyum. Kenzo menggeleng.
"Tidak usah, makan saja. Saya yang ajak kamu kesini, jadi saya yang harus tanggung jawab. Makanlah" Alenna kembali salah tingkah mendengar ucapan Kenzo.
"Be-beneran?" Tanya Alenna. Kenzo mengangguk pasti.
"Makasih ya. Sorry ngerepotin, nanti gue ganti"
"Makan saja Alenna... Cepat, perut mu sudah lapar sedari tadi" Kata Kenzo bosan mendengar penolakan dari mulut Alenna. Alenna menyengir lalu menyatap hidangan tersebut.
Heran... Gadis ini masih saja canggung di depan saya.
Batin Kenzo sambil melihat Alenna yang tengah menyantap makanan.
Alenna tersadar bahwa Kenzo hanya diam, ia melihat Kenzo.
__ADS_1
"Lo gak makan?" Tanya Alenna yang melihat Kenzo hanya diam dan memperhatikan nya makan.
"Tidak, kamu makan saja"
"Lah, kan lo yang mesen terus lo juga yang bayar. Masa lo gak makan?. Udah yuk mending makan bareng gue" Kenzo tersenyum lalu menggeleng pelan. Alenna memutar bola matanya malas.
Nih orang aneh banget dah. Masa gue makan sendirian? Gak! Gak bisa.
Batin Alenna.
Gadis itu mengambil sendok dan mengambil beberapa makanan di atas sendok tersebut lalu menyodorkan nya pada Kenzo.
Kenzo menolak menjauh dan menggeleng.
"Enggak Alenna... Saya gak mau. Kamu saja yang makan" Kenzo terus menghindar.
"Seenggaknya lo makan beberapa sendok. Sayang nih makanan enak, masa gak di makan. Mubazir" Alenna terus menyodorkan sendok berisi makanan itu ke mulut Kenzo. Tetapi pria itu terus menolak.
"Saya udah kenyang Alenna"
"Gak, makan"
"Alenna"
"Kenzo"
"Saya udah Kenyang, Alenna Patricia"
"Gue gak peduli, Kenzo Zerral Agantra" Kenzo menghela napas dan menerima suapan dari Alenna.
Alenna tersenyum puas saat Kenzo menerimanya.
"Nah... Gitu dong. Susah banget sih di suruh makan doang" Kata Alenna. Kenzo masih mengunyah makanannya.
"Kamu ini cerewet sekali. Sama seperti ibu-ibu" Alenna menatap Kenzo tak Terima.
LOL, nih orang lagi ngejek gue?.
Batin Alenna.
"Enak aja kayak ibu-ibu" Protes Alenna tidak Terima. Sebenarnya ia sangat jarang cerewet seperti ini. Entah kenapa saat ini ia malah menunjukkan nya.
"Iya, ibu dari anak saya nanti" Alenna mematung mendengar ucapan Kenzo yang membuat jantungnya berdegup cepat. Pipinya merah merona, ia mengalihkan pandangannya kearah lain.
Kenzo tersenyum puas karna berhasil membuat Alenna salah tingkah karna ulahnya.
"Udah ah... Makan lagi" Alenna kembali memakan hidangan itu dengan pikiran yang kemana-mana.
Ish! Kenzo ngapain sih ngomong kayak gitu?. Bikin gue blushing aja.
Alenna menahan dirinya agar tidak terpancing dengan 'gombalan maut' Kenzo.
Alenna ingin menyuapkan makanan tersbeut ke dalam mulutnya, tapi tangannya di tahan oleh Kenzo. Berhentilah sendok itu di depan mulutnya.
Alenna menatap Kenzo dengan dahi berkerut.
Perlahan Kenzo menuntun tangan Alenna untuk mengarahkan sendoknya ke mulut pria tersebut. Jadi Alenna menyuapi Kenzo lagi.
Kenzo mengunyah nya dengan santai lalu memainkan alisnya.
"Tadi susah banget di suruh makan. Sekarang malah ngambil porsi orang" Sindir Alenna yang melihat kelabilan Kenzo.
Kenzo menyengir
"Makanannya memang enak, tapi Saya lebih suka kamu suapi"
Papah tolong jemput Alenna!. Nih orang dengan kurang ajar gombalin Alenna... Untung iman Alenna kuat.
Suara dalam hati Alenna menjerit.
"Iyadah mas... Apa kata anda saja. Saya capek di gombalin" Final Alenna akhirnya lalu kembali melanjutkan makannya.
"Siapa yang ngegombalin kamu?" Tanya Kenzo polos. Alenna memutar bola matanya malas.
"Ya elo lah ken, siapa lagi?" Malas Alenna dengan Kenzo yang pura-pura polos.
"Saya tidak ngegombal. Tapi itu semua benar kenyataan nya. Saya suka kamu menyuapi saya dengan tangan kamu dan saya juga suka dengan senyum kamu. Jadi terus lakukan itu"
Ambyar gue ambyar!. Nih orang anaknya siapa sih? Jago banget aktingnya.
Batin Alenna.
Alenna tersenyum manis dengan sedikit paksaan kearah Kenzo sampai matanya tenggelam.
"Iya tuan Kenzo Zerral Agantra, apa kata anda saja"
Jantung Kenzo berpacu lebih cepat melihat Alenna yang sangat imut baginya.
Kalau gak inget kamu milik orang lain, sudah saya bawa kamu ke pelaminan.
Batin Kenzo yang gemas melihat Alenna.
"Udah ngobrolnya... Gak bakal abis nih makanan kalau ngobrol terus" Kenzo setuju dengan ucapan Alenna dan mereka pun kembali melanjutkan menyantap hidangan tersebut. Iya mereka, karna Kenzo ikut makan bersama. Jangan berpikir Kenzo akan makan jika Alenna menyuapi nya, nyatanya salah. Mereka makan dengan tangan masing-masing.
🌺🌺🌺
__ADS_1
Alenna dan Kenzo berjalan kaki melewati jalanan jakarta di atas trotoar yang sudah tidak terlalu ramai lagi karna sudah malam, mungkin sekarang sudah sekitar pukul sepuluh. Walaupun masih ada kendaraan yang berlalu-lalang.
Lampu jalanan menerangi langkah Kenzo dan Alenna yang berjalan berdampingan.
Setelah dari restoran, Alenna bilang ingin berjalan jalan tanpa menggunakan kendaraan. Karna itu Kenzo menyuruh salah satu anak buahnya untuk membawa mobilnya. Jika mereka ingin pulang, tinggal telepon anak buah Kenzo untuk membawa mobilnya lagi.
"Ini sudah malam, kamu tidak mengantuk?" Tanya Kenzo membuka percakapan. Alenna menoleh ke samping, dimana Kenzo berada.
"Enggak, Tadi udah tidur soalnya" Kenzo mengangguk paham mendengar jawaban Alenna.
"Lo sendiri?" Tanya Alenna balik.
"enggak juga" Jawab Kenzo yang kini diangguki Alenna pelan.
"Oh iya, gue liat lo orangnya santai banget. Emang lo gak ada pekerjaan yang harus di selesain?" Tanya Alenna. Jujur saja, Alenna jarang melihat Kenzo bekerja, pria itu selalu ada di sekitarnya.
"Ada. Tapi saya punya tangan kanan, jadi saya serahkan kepadanya. Walaupun tidak sepenuhnya" Jawab Kenzo dengan kedua tangan yang di masukkan di saku celana.
"Tapi bukan berarti lo bisa santai santai kan?. Lagi pula si tangan kanan lo kan juga punya keluarga. Bisa jadi mereka gak bisa liburan karna ada tugas terus dari lo" Celetuk Alenna. Itulah yang Alenna pikirkan. Salah satu sudut bibir Kenzo tertarik keatas. Walaupun tak terlalu terlihat bahwa pria itu sedang memperlihatkan smirk.
Alenna melihatnya sekilas, karna pria itu menatap lurus dengan badan tegak bagaikan seorang model yang tengah berjalan di catwalk, jangan lupakan kedua tangan yang di masukan kedalam saku celana. Sungguh luar biasa pria di samping Alenna ini. Seandainya ada wanita-wanita di sekitar sini, pasti mereka akan histeris.
"Dia kerja untuk di gaji, dan saya memperkerjakan dia untuk memberikannya gaji dengan membantu saya mengerjakan tugas. Tapi gimana saya mau menggaji dia kalau saya tidak memberikan tugas padanya?"
Alenna terdiam mencerna ucapan Kenzo.
"Karna itu saya memberikan tugas agar dia dapat gaji. Terlebih saya juga tidak sekejam itu menjadi atasan, saya juga memberikan mereka waktu luang bersama keluarga, jadi mereka bisa menghabiskan waktu yang saya berikan sebelum saya berikan tugas lagi" Lanjut Kenzo. Alenna tersenyum kagum mendengar betapa bijaksananya pria di sampingnya ini.
"bijaksana" Gumam Alenna menunduk.
"Siapa?" Tanya Kenzo menoleh menatap Alenna. Alenna mendongakkan kepalanya dan menatap Kenzo.
"Lo" Ujar Alenna dengan senyum manis. Kenzo mengalihkan arah pandangannya karna malu dan jantungnya berdetak kencang saat melihat senyum Alenna.
Hening, mereka kembali terdiam. Belum ada yang membuka percakapan lagi. Alenna memeluk tubuhnya karna hawa mulai terasa dingin di sekitarnya dan menusuk tubuhnya.
Kenzo sadar bahwa Kenzo kedinginan, ia segera melepas jas yang ia gunakan dan memasangkannya di bahu Alenna. Alenna terkejut dan menghentikan langkahnya, begitu juga dengan Kenzo.
"Pakai ini. Hawanya dingin" Ucap Kenzo setelah memasangkan jasnya di tubuh Alenna. Alenna tersenyum tipis melihat Kenzo.
"Makasih" Mereka kembali melanjutkan langkahnya berjalan santai dengan tujuan hanya untuk 'menemani Alenna' bagi Kenzo dan 'memanfaatkan sisa waktu' bagi Alenna. Jujur, tujuan mereka tidak tau mau kemana. Yang penting intinya mereka berjalan.
Gue gak perlu jalan-jalan ke tempat romantis, Tempat-tempat indah, dan lain sebagainya. Begini aja udah cukup kok, asalkan hati gue bisa tenang. Ini udah cukup banget.
Batin Alenna.
Selebihnya, mereka menghabiskan waktu untuk bercerita banyak hal. Apa yang Kenzo ketahui, ia ceritakan kepada Alenna dan begitu sebaliknya. Mereka sesekali tertawa karna topik pembicaraan yang mereka anggap lucu.
Namun disisi lain, di atas sebuah gedung. Terlihat dua orang berpakaian serba hitam tengah memperhatikan Alenna dan Kenzo. Yang satu tengah menatapnya dengki dan tangan yang terkepal, lalu yang satu lagi tengah memegang sniper di tangannya. Mencoba untuk membidik ke tepat sasaran, Alenna dan Kenzo.
"Bagaimana nona? Sekarang?" Suara pria yang tengah memegang sniper itu bertanya. Yang ditanya hanya diam dengan memberikan smirk.
"Tunggu gue bilang 'tembak'. Baru tembak" Suara wanita menjawab. Pria itu mengangguk patuh.
Alenna dan Kenzo masih belum tahu bahwa mereka sedang diintai dan mereka dalam bahaya. Sampai sebuah pesan masuk di ponsel Kenzo.
Kenzo berhenti melangkah dan mengambil ponsel dari saku celananya. Ada sebuah pesan dari anak buahnya. Kenzo membacanya.
My bodyguard (1)
Tuan, anda harus berhati-hati. Kami menemukan ada orang yang tengah membidik anda dari atas gedung. Kami akan berusaha menangkap mereka. Anda pergilah dari sana, tuan Kenzo.
Setelah membaca itu, Kenzo melihat ke semua gedung yang terdapat di sebrang jalan. Tapi ia tak melihat apa-apa. Alenna yang ikut berhenti tadi, mengerutkan alisnya melihat tingkah Kenzo yang berubah.
"Lo kenapa?. Lagi nyari apaan?" Tanya Alenna ikut melihat kearah gedung. Seolah mencari sesuatu.
"Kita harus pergi dari sini" Kenzo menarik tangan Alenna membawanya pergi. Alenna yang bingung hanya menurut walaupun ia susah menyamakan langkahnya dengan langkah Kenzo, belum lagi ia sering tersandung.
"Ayo, cepat Alenna" Ucap Kenzo yang terus menarik Alenna membuat gadis itu kesulitan berjalan.
"Ada apa sih ken? Lo kok buru-buru gitu?" Tanya Alenna masih dengan kebingungan nya.
"Saya akan jelaskan. Sekarang kita harus pergi dari sini" Final Kenzo terburu. Alenna menurut.
Disisi lain di atas gedung, gadis itu tersenyum miring melihat mangsanya yang mulai menyadari bahwa mereka sedang berada dalam bahaya.
Kalau gue gak bisa milikin Kenzo. Berarti gak ada siapapun yang bisa milikin Kenzo, terutama lo Alenna.
Batin gadis itu, siapa lagi jika bukan Sarah pelakunya.
"Sekarang"
Pria yang memegang sniper pun mengarahkan moncong tembakan tersebut ke tubuh Kenzo yang setengah berlari menggandeng Alenna. Pria itu bersiap untuk menembak, hanya tinggal menunggu intruksi dari sang boss.
"Tembak!"
Dan...
Dor!
🌺🌺🌺
😭😭😭apa yang akan terjadi???
Jangan lupa vote dan comment ya... ☺☺👍
__ADS_1