
"Alenna... Bangun len" Ujar Steven sambil mengguncang tubuh Alenna pelan. Gadis itu masih tertidur lelap, tak bergerak sedikitpun. Steven mencoba membangunkan Alenna sekali lagi, tapi sepertinya gadis itu benar-benar sudah lelap.
Duarrrr!
Petir menggelegar di langit, cuaca mendung menyelimuti bumi. Untung saja mereka sudah sampai di rumah Alenna, kalau tidak mereka pasti bisa basah kuyup kehujanan.
Dengan perlahan, Steven menggendong Alenna ala bridel style. Ia takut Alenna terbangun tiba-tiba, tapi untungnya tidak. Steven memperhatikan wajah Damai Alenna yang tertidur dan ia tersenyum manis.
"Princess ku kebo banget" Ujar Steven pelan. Steven pun kembali berjalan menuju gerbang Alenna.
"Permisi!" Teriak Steven. Pria itu tampak berpikir sebentar.
Nama bapak-bapak waktu itu siapa ya?
Tanya Steven dalam hati. Ia lupa siapa nama penjaga gerbang Alenna. Ia kembali mengingatnya dan untung saja ia segera ingat.
"Permisi! Pak ujang! Pak ujang! Woy pak ujang!" Teriak Steven gemas karna belum ada yang membuka gerbang sedari tadi. Steven melihat ke langit sebentar. Sudah benar-benar mendung ternyata, tinggal tunggu hujannya saja.
Tak lama, sosok Pak ujang menampakkan diri. Ia kaget saat melihat Alenna yang berada di gendongan Steven saat membuka gerbang.
"Ya Allah... Itu kenapa nona Alenna?" Tanya pak ujang yang kaget.
"Tidur pak" Jawab Steven.
"Oh yaudah sini masuk" Steven mengangguk dan masuk kedalam.
"Makasih ya pak" Pak ujang mengangguk dan kembali lagi ke tempatnya. Steven meninggalkan motornya yang berada diluar, tenang sudah ia kunci.
Sekilas Steven melihat sebuah mobil sudah berada di dalam pekarangan rumah Alenna. Namun tak mau ambil pusing.
Kayaknya gue harus lebih cepet lagi dari pada dia
Batin Steven yang merasa aneh. Padahal ia sudah mengendarai motor dengan laju cepat, tapi kenapa Kenzo yang mendahului nya.
Steven berjalan menuju pintu rumah Alenna. Jujur, Steven tak merasa keberatan saat menggendong Alenna, tubuhnya terasa seperti sangat ringan. Entahlah, Steven tak pegal sedikitpun.
Saat sudah berada di depan pintu besar yang sudah terbuka lebar. Entahlah, Steven segera berdiri di ambang pintu. Disana ia melihat Sarah, Karin, Johan, dan pria yang ada di sekolah tadi, Kenzo.
Mereka tengah berkumpul di sebuah ruang tamu dan berbincang-bincang.
"Permisi" Salam Steven lumayan keras, takut tidak di dengar. Mereka semua menoleh kearah sumber suara dengan tatapan yang terkejut, termasuk Sarah. Arah pandangan mereka terarah Steven yang membawa Alenna di gendongannya.
Mereka semua menghampiri Steven dengan raut wajah khawatir. Ooops tidak semua, Sarah hanya kaget bukan khawatir.
"Alenna kenapa?" Tanya Johan khawatir.
"Kamu Steven temannya Alenna kan?. Alenna kenapa?" Tanya Karin dengan nada khawatir. Steven hanya mengangguk.
"Alenna cuma ketiduran tadi tante" Jawab Steven. Sekilas Steven melihat Kenzo yang matanya terfokus kepada Alenna saja. Ekhem, dengan tangan yang terkepal.
"Oh gitu, yaudah pah bawa Alenna ke kamar" Johan mengangguk dan berniat untuk mengambil Alenna dari gendongannya, namun di cekal oleh Steven.
"Gak usah om, saya aja yang bawa Alenna ke kamar" Cegah Steven kepada Johan.
__ADS_1
"Gapapa?" Tanya Johan takut membebani Steven. Yang di tanya hanya mengangguk.
"Yasudah, kamar Alenna ada di atas dekat dengan tangga" Tunjuk Johan ke kamar Alenna. Steven mengangguk.
"Kalo gitu permisi om, tante" Segera Steven membawa Alenna ke kamarnya dan menaruh kekasihnya di atas ranjang. Saat sampai di kamar, Steven merasa sangat nyaman di sana. Suasananya sangat Damai. Berbeda dengan kamarnya yang hanya diisi dengan poster-poster anime dan berbagai macam game serta alat musik.
Steven melihat kesekeliling nya, matanya tertuju pada sebuah gitar yang berada di sudut kamar. Setelah melihat itu, Steven mendekati Alenna.
"Jadi kamu bisa main gitar" Kata Steven berbisik di telinga Alenna.
Setelah itu, ia mencium puncak kepala Alenna lembut.
"Aku pulang ya... Istirahat yang banyak. Besok masih ada ujian" Bisik Steven lagi. Setelah itu ia kembali berdiri tegak dan berjalan meninggalkan kamar Alenna.
Entah kenapa hatinya sangat berat meninggalkan Alenna kali ini. Seperti ada yang menjanggal di hatinya.
Namun segera Steven menepis pikiran buruk di otaknya, ia pun turun ke bawah dan mulai berpamitan.
"Om, saya pulang dulu ya" Pamit Steven kepada Johan yang sudah kembali duduk disofa. Mendengar itu, Johan berdiri diikuti dengan Karin.
"Ehhh kok langsung pulang?. Lagi mendung loh... Mending di sini dulu" Kata Karin yang mendapat gelengan dari Steven.
"Bener itu nak, mending kamu di sini dulu. Takutnya nanti hujan" Tambah Johan.
"Makasih tawarannya om-tante. Tapi Steven masih ada urusan yang harus di selesaikan" Tolak Steven halus. Johan mengangguk paham.
"Yasudah, hati hati nak"
"Iya tante, Steven pulang dulu ya. Permisi" Setelah bersalaman Steven keluar dari rumah Alenna. Ternyata sudah gerimis. Cepat cepat Steven menuju motornya dan segera melesat pergi dari sana setelah berpamitan dengan pak Ujang.
πππ
"Mereka mesra banget ya pah?. Alenna beruntung punya teman laki-laki seperti dia" Kata Karin membuat mereka semua mengalihkan perhatian kepada Karin.
"Syukurlah..." Tambah Johan.
"Mereka udah pacaran kali"
"HAH?!" Kaget Karin. Tak percaya.
"Apa sih mama, berlebihan banget" Ketus Sarah kesal melihat respon mamanya yang berlebihan.
"Eh kok kamu baru ngomong?" Tanya Karin heran.
"Kenapa emangnya?"
Kata Sarah enteng.
"Kan mama jadi gak enak sama dia. Mama kan bilangnya temen, bukan pacar. Kamu sih" Kesal Karin kepada Sarah. Sarah hanya merotasi kan matanya jengah.
Bodo ah... Bukan urusan gue.
Batin Sarah.
__ADS_1
"Bagus dong kalau gitu, jadi ada yang bisa jaga Alenna mulai sekarang. Dan di liat-liat dia anaknya juga baik. Papa ngedukung" Kata Johan yang di ang guki oleh Karin.
Kenzo? Dia hanya menyimak percakapan tersebut dan berniat tidak ingin ikut campur. Kalian pasti sudah tahu kenapa lah...
Pikiran Kenzo tertuju pada Alenna sedari tadi. Ia takut terjadi apa-apa pada gadis itu, terlebih melihat Alenna seperti tadi. Takut-takut, dia bukan tertidur.
"Iya mama juga ngedukung"
Tambah Karin.
Males banget, ganti topik kek. Ngomongin cewek jalang itu mulu.
Batin Sarah kesal.
"Mah... Aku laper nih. Ambilin makanan dong" Pinta Sarah kepada Karin. Johan dan Sarah yang dari tadi mengobrol, kini terhenti karna Sarah.
"aduh kamu nih... Males banget sih. Tinggal ambil ke dapur juga" Ketus Karin yang kesal anaknya pemalas seperti ini.
"Aku mau nemenin Kenzo. Mama aja gih ambil" Bantah Sarah masih bergelayutan manja pada lengan Kenzo yang sedari tadi diam.
"Huh! Dasar"
"Oh ya, Kenzo kamu mau makan juga?" Tanya Karin kepada Kenzo.
"Terima kasih, tapi Tidak perlu. saya sudah makan tadi" Tolak Kenzo yang diangguki oleh Karin.
Karin pun berjalan menuju dapur dan mengambil makanan untuk Sarah.
Tak butuh lama, makanan sudah ada di tangan Sarah. Namun gadis itu malah menyodorkan nya kepada Kenzo.
"Kenapa?" Tanya Kenzo heran karna piringnya di berikan kepadanya.
"Suapin" Rengek Sarah dengan nada manja.
"Kamu kan punya tangan, makan saja sendiri" Saut Johan yang mendengar permintaan Sarah.
"Udah pah, jangan di ganggu" Karin menarik Johan menjauh dan meninggalkan Sarah dan Kenzo di ruang tamu.
"Ayo suapin" Pinta Sarah lagi
"Sarah, kamu makan saja sendiri" Kata Kenzo.
"Ih kamu mah jahat" Kesal Sarah. Mau tidak mau Kenzo menyuapi Sarah dengan malas dan di iringi beberapa helaan napas.
Dia mulai jengah dengan perempuan di hadapannya ini. Permintaannya ada ada saja, sungguh menjengkelkan. Menurut Kenzo.
Gadis ini jauh berbeda dengan Alenna. Permintaannya membuat orang jengkel. Perkataannya juga menusuk.
Andai saja Jika Alenna yang meminta di suapin, dengan senang hati saya suapin. Tapi entah kenapa jika Sarah yang meminta, rasanya ingin sekali menolak. Wajar saja jika hati ini hanya berlabuh pada Alenna.
Batin Kenzo.
πππ
__ADS_1