
Tak! Tak! Tak! Tak!
Suara jejak kaki memenuhi rumah tersebut. Suara nya sangat keras dan semakin lama semakin keras seakan mendekat.
Semua mata tertuju kepada sesosok perempuan yang berdiri dengan ketakutan. tapi kenapa wajahnya...
"Sa.... Sarah, kenapa lampunya mati?" Ucap perempuan itu dengan terengah-engah. Masih belum ada jawaban dari Sarah ataupun temannya. Mereka masih memperhatikan perempuan itu dengan tatapan yang susah di artikan.
"Ma, muka mama kenapa? Mama lagi maskeran?" Tanya Sarah yang bertanya balik.
"Iya, tadi mama lagi maskeran sambil dengerin musik pakek handset. Eh pas mama buka mata, lampunya mati" Jelas perempuan itu, siapa lagi kalau bukan Karin.
"Owh pantesan dari tadi di panggil-panggil gak denger" Ucap Sarah.
"Iya, eh tapi kok lampunya bisa mati sih?" Tanya Karin lagi.
"Mangkannya itu, kita juga bingung, tante. Mana pintu ke konci lagi" Jelas salah satu teman Sarah. Karin semakin di buat bingung akan hal ini.
"Ke konci? Emang siapa yang ngonci?" Tanya Karin lagi. Mereka hanya menjawab dengan mengedikkan bahu secara bersama.
"Gue rasa, ada yang lagi ngerjain kita deh"
"Iya, gue juga ngerasa kayak gitu. Masa pintu ke konci sendiri sih? Kan pasti ada yang megang kuncinya"
"Betul, tapi siapa yang iseng ngelakuin in-?"
"Udahlah... Itu nanti aja. Sekarang kita harus cari cara biar bisa buka pintu rumah ini terus nyalain lampunya" Potong Sarah yang memilih untuk mencari jalan keluarnya.
"Bener tuh, gue takut kalau gelap begini... Mana besok sekolah lagi"
"Mah, coba mama telepon papa deh. Kali aja bisa"
"Sebentar" Karin mengeluarkan handphone dari saku celananya dan mulai menelpon Johan.
Tutttssss
Tutttssss
Tutttssss
"Hallo?"
"Pah, tolongin mama dong..."
πππ
Disisi lain, ada Alenna yang sedang menyetir mobil dengan kecepatan sedang. Ia menikmati alunan lagu yang di bawakan oleh penyanyi favoritnya, Zayn malik.
Hari ini merupakan hari yang menyenangkan bagi Alenna. Karna ia sudah membalas perbuatan Sarah dan teman-teman nya.
Alenna tau ini hanyalah kesenangan sesaat saja, tapi baginya ini adalah hal yang akan ia ingat dan sulit untuk di lupakan.
Dimana ia membayangkan bagaimana ekpresi wajah Sarah, karin, dan teman-temannya saat ini.
Itu cukup membuat Alenna tersenyum dan sedikit melepaskan masalah yang ia alami saat ini.
Alenna memperlambat laju mobilnya dan mengambil handphone yang berada di tasnya lalu menelpon seseorang.
"Hallo, Alenna?"
__ADS_1
"Hallo Amel, gue nginep di rumah lo ya? Gue udah otw nih"
"Lah, kok tiba-tiba sih len?"
"Iya sorry... Tapi boleh gak nih?"
"Yodah boleh, dirumah gw juga gak ada orang lagi kok selain gue. Jadi lo sekalian temenin gue"
"Oke, thanks ya"
"Yoi"
Tuts!.
Sambungan telepon pun terputus.
Alenna kembali menambah laju kecepatan mobilnya dan kembali fokus kepada jalanan yang sangat sepi dan juga gelap.
Alenna harus segera sampai ke rumah amel.
πππ
Akhirnya sampe juga.
Alenna pun melepas sabuk pengamannya dan segera turun dari mobil.
Rumah Amel bisa dibilang cukup besar, namun sangat sepi penghuni. Hampir sama dengan rumahnya, hanya bedanya rumah Alenna lebih banyak penghuni makhluk halus nya.
(Kalian pasti sudah tahu kan siapa makhluk halus tersebutπ€£).
Tok! Tok! Tok!
"Akhirnya sampe juga, sini masuk" Amel mempersilahkan Alenna masuk kedalam rumahnya, Alenna pun menurut. Amel pun menutup kembali pintu lalu menguncinya.
"Langsung ke kamar aja kuy!" Ajak Amel dengan menarik tangan Alenna dan membawanya menuju kamar.
Sesampainya Alenna di kamar Amel, ia segera menghempaskan tubuhnya di kasur dengan helaan napas lega.
Sedangkan Amel hanya menggelengkan kepal tak habis pikir.
"Kenapa lo gak tidur di rumah lo? Ada masalah lagi? Apa di usir?" Tanya Amel yang kini duduk di sisi kasur sambil menunggu jawaban dari Alenna.
"Gak kok! Gue cuma lagi ngasih pelajaran aja ke mereka" Jawab Alenna santai dengan mata terpejam.
Amel berfikir sejenak.
"Mereka siapa?. Tunggu... Maksud lo Sarah sama tante karin???" Tebak Amel dengan wajah tak percaya.
"Plus temennya" Tambah Alenna santai.
"Gila! Lo apain?" Antusias Amel kian menjadi karna penasaran. Alenna bangun lalu duduk menghadap Amel.
Beberapa saat kemudian, ia menceritakan semua yang ia telah lakukan kepada Sarah, Karin, dan teman-teman nya.
Dengan antusias, Amel mendengarkan cerita dari mulut Alenna dengan sabar dan detail. Alhasil mereka berdua tertawa lepas karna hal tersebut.
Amel tidak menyangka bahwa sahabat nya ini jahil dan juga sangat pintar dalam menyusun rencana. Oh ayolah, Amel bisa dibilang kenal betul bagaimana Alenna. Jadi ia cukup terperangah dengan cerita Alenna.
"Wah parah!. Rencana lo kocak abis!" Ujar Amel dengan tepuk tangan dan tawa. Alenna pun ikut tertawa.
__ADS_1
"Tapi menurut gue sekarang lo impas sama sih Sarah" Lanjut Amel.
"Yoi!"
"Yaiyalah, lagian siapa suruh dia kurang ajar banget sama lo!" Greget Amel kepada Sarah. ekpresinya membuat Alenna ingin tertawa lagi.
"Wkwk, udah sekarang tidur yuk! Gue capek nih" Ajak Alenna. Amel pun mengangguk tanpa berkata sepatah katapun. Mereka pun mengatur posisi masing masing, lalu mematikan lampu tidur.
Malam memang terasa sangat Damai, but who knows? bahwa akan hal tak terduga yang akan terjadi lagi.
Pranggg!!!
Bunyi kaca pecah membuat Alenna dan Amel terkejut. Mereka membuka mata lalu menyalakan lampu dengan cepat.
"Bunyi apaan tuh?" Tanya Amel dengan ekpresi takut sekaligus bingung.
"Suara kaca. Kayaknya kaca lo pecah" Jawab Alenna segera turun dari kasur lalu mendekati jendela diikuti dengan Amel. Dan benar saja, bahwa kaca itu berlubang seperti ada yang melempar benda dari luar.
Saat Alenna melihat ke bawah lantai ia menemukan sebuah batu sekepala tangan yang di balut secarik kertas putih. Segera ia melihat isi kertas tersebut.
Gue saranin, lo jangan menghindar dari gue. Karna apa, karna percuma gue bakal tau keberadaan lo dimana. Jadi, siap siap untuk kejutan selanjutnya, my sweetie.
Alenna dan Amel hanya saling pandang saat membaca isi surat tersebut. Mereka berdua tidak tahu surat itu di tunjukkan oleh siapa...
Tapi Alenna merasa bahwa surat itu untuk...
Gue, gue ngerasa surat ini buat gue. Tapi siapa yang ngirim?
Batin Alenna. Ia hanya terdiam dengan pikirannya
Srettt!
Amel merampas kertas itu dari tangan Alenna dan menyobek nya menjadi potongan-potongan kecil.
"Udah! Gak usah di pikirin, mungkin itu cuma orang iseng doang. Udah balik tidur aja yuk!" Amel menarik tangan Alenna. Namun Alenna malah menahannya.
"Udah len... Itu cu-"
"Tapi mel, ini udah termasuk teror. Gue gak bisa biarin ini" Potong Alenna dengan sedikit tercekat.
Amel menghembuskan napas.
"Belakangan ini gue juga sering dapet pesan dari nomer asing, jujur gue takut sama semua ini" Lanjut Alenna dengan sedikit bergetar.
Harus diakui, Alenna juga takut jika terus menerus seperti ini.
"Oke gue ngerti perasaan lo, gue tau lo takut. Tapi kita harus ngumpulin bukti-bukti dulu buat lapor polisi, secarik kertas itu belum tentu cukup" Tutur Amel dengan yakin.
Sekali anggukan telah Alenna tunjukkan.
"Yodah, sekarang kita tidur dulu, udah malem" Bujuk Amel. Alenna pun langsung kembali ke kasur dan berbaring sambil memejamkan mata.
Ia tidak tahu, pada pukul berapa ia bisa tidur. Karna pikirannya masih berkeliaran di mana-mana.
Apa mungkin pelakunya adalah Sarah juga? Bisa jadi...
Siapapun, tenangkan hati dan pikiran Alenna.
πππ
__ADS_1