BROKEN

BROKEN
rindu


__ADS_3

Alenna jangan nangis lagi...


Sinih abang obatin lukannya.


Alenna hanya mengangguk. Leksi pun pergi entah kemana, jadilah hanya Alenna kecil yang terlihat di video itu. Alenna memberikan tatapan tajam kepada David yang masih merekam.


"Apa? Masih mau belajar naik sepeda lagi?" Ucap David menggoda Alenna.


"Huh! Males sama bang David. Liatin aja nanti, robot bang David Alenna ancurin!" Ancam Alenna tajam.


"Ehhh jangan dong... " Protes David.


"Bodo, wleee" Goda Alenna dengan lidah yang ia julurkan.


Bebarapa saat kemudian, Leksi pun datang dengan membawa kotak P3K.


🍁🍁🍁


Dengan teliti Leksi mengobati luka di lutut dan siku Alenna. Sesekali juga Alenna meringis kesakitan.


"Awhh! Pelan pelan bang Leksi"


Ringis Alenna. Leksi mengangguk.


Tak butuh waktu lama, Leksi telah selesai mengobati luka di tubuh Alenna.


"Makasih ya bang Leksi" Ucap Alenna dengan tersenyum manis ke arah Leksi. Leksi pun membalas dengan anggukan dan tersenyum tipis.


Ia kembali menulis sesuatu di bukunya.


Sekarang beli es krim yuk! Abang beliin. Jangan sedih lagi...


Mata Alenna berseri-seri saat membaca tulisan tersebut.


"Ayok bang! Alenna udah gak sedih lagi kok. Ayok beli es krim!" Ucap Alenna bersemangat. Ia pun langsung berdiri dan menarik tangan Leksi agar segera membeli es krim. Leksi pun mengikuti Alenna.


"Woy jangan ninggalin dong... Tungguin abang Alenna"


Panggil David yang tertinggal di belakang dan hanya bisa merekam punggung Leksi dan Alenna saja.


"Bodo ah... Tinggalin bang David aja"


Ucap Alenna santai.


"Alenna awas yah... Oy Leksi tungguin!. Dasar adek durhaka!"


Itulah bagian akhir dari video yang telah 9 tahun lalu.


Alenna tak henti-hentinya tersenyum saat menonton video tersebut. Anehnya ia juga menangis menonton itu. Perasaan nya campur aduk sekarang.

__ADS_1


"Bang Leksi... " Ucap Alenna lirih saat menuturkan nama itu.


Leksi, itulah yang ada di dalam pikiran Alenna sekarang. Dia adalah sahabat dari David, ia sangat dengan dengan David sampai seperti adik dan kakak. Kedekatan Leksi dan Alenna juga tak perlu diragukan lagi. Merasa benar-benar dekat. Jarak usia Alenna dan Leksi terbilang tak begitu jauh, hanya beda 2 dengannya tahun. Sama seperti David. Mungkin sekarang dia telah kuliah seperti David.


"Lo dimana? Kenapa lo gak pernah balik lagi kesini?" Monolog Alenna menangis.


Benar, Leksi tak pernah kembali lagi.


Alasannya adalah karna ia dan keluarganya pindah ke Amerika saat Leksi berumur 12 tahun, itu semua karna ayah Leksi menjalankan bisnis di sana dan lagi yang Alenna tahu bahwa keluarga Leksi dalam masalah, entahlah apa itu Alenna tak mengerti.


Bicara soal video, kejadian di video itu telah terjadi 9 tahun lalu. Sudah sangat lama memang. Perlu diperjelas, saat itu Alenna masih berumur 8 tahun, masih imut sedangkan Leksi dan David memiliki umur yang sama yaitu 10 tahun. Jadi, jika di perhitungkan mungkin sekarang Leksi sudah kuliah sama seperti David.


"Gue kangen lo bang Leksi... Lo dimana? Lo lupa sama gue?" Tangis Alenna terpecah karna kembali mengingat sosok yang sudah sangat lama ia rindukan selain Vinna dan David. Terbesit dalam otaknya untuk menemui Leksi, namun apalah itu semua. Nyatanya ia tidak tahu keberadaan Leksi sebenarnya.


Wajar jika Alenna seperti ini, karna dari kecil ia telah bersama dengan Leksi dan David, wajar kalau ia merindukan sosok Leksi selain abangnya. Ia telah menganggap Leksi sebagai kakanya sendiri, dan Alenna rasa Leksi juga berlaku sama.


Bayangkan sudah 6 tahun lebih mereka tidak jumpa, tanpa mengetahui kabar satu sama lain.


Kalian pasti bertanya-tanya,


kenapa Leksi lebih memilih untuk menulis sesuatu yang ingin ia ungkapkan daripada menggunakan lisan. Itu semua karna Leksi telah bisu dari lahir.


Namun Alenna tak pernah mempermasalahkan itu, baginya itulah keistimewaan dari seorang Leksi, Alenna tak pernah malu akan hal itu.


Jika kalian bertanya, kenapa tidak ada Sarah di kejadian itu. Memang, benar Sarah tidak ada di situ, bahkan Karin tidak ada karna pada saat itu keluarga mereka masih aman, rukun, harmonis, dan tentram. Sangat berbanding terbalik dengan sekarang saat datangnya sosok Karin dan Sarah di kehidupan Alenna.


Semuanya hancur, benar benar hancur.


Dia memperhatikan Alenna dengan seksama seakan sedang mendaptkan suatu bocoran/rahasia.


"Leksi?" Gumam orang itu lalu pergi begitu saja menjauhi kamar Alenna.Β 


🍁🍁🍁


Tringggg!


Bunyi panggilan masuk ke handphone Sarah yang berada di atas nakas. Sarah segera mengambil handphonenya dan menjawab panggilan masuk tersebut.


Dokter Eliza.


Kenapa nih?.


Batin Sarah.


"Halo dokter, ada apa?"~sarah


"Selamat Sore Sarah. Saya cuma mau mengingat kan bahwa hari ini jadwal anda untuk check up. Anda ingat kan?"~dokter Eliza.


"Ya ampun! Gue lupa. Thanks udah di ingetin, gue ke sana sekarang" Ucap Sarah sambil menepuk jidatnya pelan.

__ADS_1


"Baik, saya tunggu. Selamat sore"


"Ya, sore" Sarah mematikan sambungan teleponnya.


Aduh kok gue bisa sampe lu sih?. Pikun dasar!


Batin Sarah. Ia pun bersiap-siap untuk pergi ke tempat tujuannya dengan terburu buru.


Tepat saat Sarah berjalan melewati ruang tamu. Alenna tengah berada di sana sambil menonton TV di sofa. Sekilas mata mereka bertemu namun Alenna segera memutuskan kontaminasi mata tersebut, seakan Tak perduli. Sarah yang melihat itu hanya menghembuskan napas.


"Mau pergi kemana lo? Nyari cowok lagi?" Tanya Alenna tiba-tiba namun pandangannya masih mengarah ke TV. Langkah Sarah terhenti lalu berbalik memandang Alenna.


"Bukan urusan lo" Jawab Sarah ketus.


"Siapa bilang bukan urusan gue?. Justru itu urusan gue, karna apa? Lo tuh orang asing dirumah ini, gak berhak keluar masuk rumah gue. Jadi jangan seenaknya bisa pergi dan masuk sesenang hati!" Sinis Alenna kini menatap Sarah dingin.


Jujur mungkin sekarang Alenna kesepian sampai mencari-cari masalah dengan Sarah, yah... Mungkin.Β 


"Sorry gue lagi gak mau debat. Gue ada urusan yang lebih penting" Acuh Sarah mulai melangkah.


"Begaya urusan lo lebih penting. Melorotin cowok lo bilang penting? Wkwk murahan" Sinis Alenna tertawa garing. Sarah tak berhenti melangkah namun tangannya mengepal dan sesekali ia menghembuskan napas kasar sampai keluar rumah.


Alenna merasa ada yang aneh dengan Sarah. Biasanya gadis itu akan membalasnya tak kalah pedas, namun sekarang dia malah lebih acuh kepada Alenna.


Aneh... Kesambet apaan tuh anak? Tumben gak ngebales gue. Kira-kira kemana tuh anak perginya? Kayaknya serius banget.


Batin Alenna sambil mengerutkan alis.


Ah masa bodolah... Bukan urusan gue. Mau dia kemana kek, gak penting bagi gue.


Batin Alenna lagi. Ia pun kembali kekamar untuk bersiap siap mandi.


Sesampainya di kamar, ia teringat akan sesuatu.


Oh iya, surat yang di kasih Steven!.


Alenna segera mengambil kertas yang berisi sesuatu di dalamnya dari saku.


Lalu ia berjalan menuju ke tempat tidur dan duduk di salah satu sisi-Nya.


Tapi tunggu, kok ada yang menonjol dari surat itu?. Alenna pun melihat dan ternyata itu adalah sebuah...


Kalung? Ngapain Steven ngasih gue kalung?.


Alenna pun membaca isi surat itu.


Alenna, malam ini orang tua gue yang dari Amerika pulang kerumah. Gue udah lama banget gak ketemu mereka, ada mungkin 4 tahun lebih.


Nah sekarang mereka udah balik, dan ortu gue ngadain pesta dirumah. Plus kakak gue ulang tahun hari ini. Jadi gue berharap lo bisa dateng malam ini jam 7. Nanti gue jemput lo. Oh ya, lo pasti udah liat kan apa yang gue kasih? Kalung. Gue harap lo juga makek itu nanti malem.

__ADS_1


So, jangan lupa jam 7 gue jemput!


🍁🍁🍁


__ADS_2