BROKEN

BROKEN
hanya milik saya


__ADS_3

Ingatkan aku nanti untuk bersiap-siap di hari pertunangan Sarah dan Kenzo yang akan di langsungkan kurang lebih seminggu lagi. Benar, seminggu lagi. Cepat bukan? Tapi ya sudah mau bagaimana lagi... πŸ˜•


πŸ’œπŸ’œπŸ’œ


"Steven! Kamu apa-apaan sih!. Sakit tau... Lepasin!" Geram seorang gadis menatap kesal sesosok pria yang telah menarik tangannya pergi dari sebuah rumah. Pria itu melepaskan cengkraman nya pada gadis itu. Segera gadis itu mengelus pergelangan tangannya yang merah.


"Ngapain lagi lo kesini? Pergi gak!" Usir Steven sambil menunjuk gerbang rumahnya.


"Ih kamu kok gitu sih?. Aku kan cuma mau liat kamu. Emangnya gak boleh?" Kata sang gadis membuat Steven menggertakkan giginya.


"Gak!. Sekarang pergi dari sini dan jangan balik lagi" Steven mencoba untuk menahan emosinya, walaupun sudah di ubun-ubun.


"Aku gak mau... Kamu gak bisa gitu dong. Aku kan kangen sama kamu. Emangnya kamu gak kangen sama aku? Kamu masih cintakan sama aku? Yakan?. Jangan bilang kamu masih sama sih cewek murahan itu ya?. Siapa sih namanya lupa, oh iya Sarah! Iya bener" Oceh gadis itu membuat Steven mengusap wajahnya gusar.


"Lo berisik banget sih!. Gue bilang pergi ya pergi!"


"Steven jangan gini dong. Aku nyesel tau gak? Aku minta maaf. Aku gak bermaksud ninggalin kamu waktu itu. Tapi... "


"Halah banyak bacot lo! Pergi sekarang!. Jangan sampe gue bertindak kasar sama lo!"


"Tap-"


"SEKURITI!" Panggil Steven kepada sekuriti. Dengan cepat seorang pria lengkap berseragam datang.


"Ada apa tuan?" Tanya pria itu kepada Steven.


"Bawa nih cewek pergi. Jangan sampe dia masuk kesini lagi!" Titah Steven kepada sekuriti itu. Sekuriti itu mengangguk dan membawa paksa gadis itu.


"Steven kamu gak bisa gitu dong!"


"Lepasin! Apaan sih lo?!"


"Lepasin gak!"


"Ayo nona ikut saya keluar" Steven langsung masuk kedalam rumahnya.


Cewek sialan!.


Batin Steven.


Sekuriti nya berhasil membawa gadis itu keluar walaupun sangan susah karna gadis itu terus saja berontak. Tapi untunglah berhasil.


"Siapa Stev?" Tanya Grace yang bingung siapa yang datang. Steven menghentikan langkahnya dan menoleh kepada ibunya.


"Oh itu, orang gila" Jawab Steven enteng.


Boong dikit boleh lah...


Yakali gue bilang, 'ohh itu mantan aku ma... Dia dateng kesini ngemis-ngemis sama aku' kan gak mungkin.


Batin Steven. Sepertinya benar juga.


"Kok bisa masuk sini?" Tanya Grace terkejut. Steven hanya mengedikkan baju acuh.


"Gak tau. Namanya juga orang gila" Steven berjalan begitu saja menuju kamarnya meninggalkan Grace yang masih terdiam diri.


Didalam kamar, Steven menggeram pelan dan terus menyumpah serapah kan gadis itu.


Kok dia bisa ada disini sih?! Resek banget!.


Batin Steven.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Ting nong!


Alenna mengambil handphone nya yang berada di atas lemari sebelah ranjangnya. Terpampang sebuah pesan dari nomer tidak dikenal. Alenna mengerutkan alis sambil membuka pesan tersebut.

__ADS_1


From: +62Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—


Hai Alenna! Ini aku Stephanie


Alenna menghela napas lega, karna ternyata bukan nomer yang sedari tadi ia pikirkan. Untunglah...


Alenna tadi sempat berpikir bahwa yang mengirimkan pesan adalah orang yang ingin meneror nya.


Ya Tuhan Alenna, udah buruk sangka aja lo!


Batin Alenna menggerutu diri sendiri.


Alenna segera menamakan kontak Stephanie. Ia pun mengetik balasan


To: kak Stephanie


Hai juga kak! Ada apa nih?


Beberapa saat kemudian, Stephanie membalas.


From: kak Stephanie


Kamu bisa main ke sini gak?. Aku kesepian nih... Temenin kuy!. Gabut...


Alenna berpikir sejenak.


To: kak Stephanie


Emang Steven gak ada dirumah kak?


From: kak Stephanie


Gak tau tuh anak kemana. Dateng ya plisssπŸ€—


To: kak Stephanie


From: kak Stephanie


Yey! Aku tunggu ya!. Makasih Alenna... 😊


Alenna tersenyum melihat pesan dari Stephanie. Batinnya menghangat. Ia merasa bahwa masih ada orang yang menginginkan kehadiran nya.


Segera ia bersiap-siap untuk pergi kerumah Stephanie.


"Kesana naik apa ya?" Gumam Alenna bermonolog sembari berpikir.


"Naik mobil ajalah" Segera ia mengambil kunci mobil di laci dan pergi keluar dengan menenteng tas.


Alenna berjalan menuruni tangga. Lambat laun ia mendengar obrolan hangat dari ruang tamunya. Ia mencoba memerankan langkahnya.


"Aduh... Kenzo ini pria idaman banget yah... Sudah tampan, sukses, mandiri, dan masih muda lagi. Kamu beruntung banget Sarah" Kata Karin memuji calon 'menantu' Alenna berhenti sebentar dan mendengarkan percakapan tersebut. Menguping sedikit boleh kan?


"Anda terlalu berlebihan... Biasa saja" Ujar Kenzo merendah.


"Iyalah ma... Aku gituloh" Saut Sarah. Alenna mengintip sedikit dari balik tembok dan melihat Sarah berada di samping Kenzo sambil memeluk lengan pria tersebut. Alenna memejamkan matanya sebentar dan menarik napas lalu membuangnya.


"Jadi gak sabar ngeliat kalian di pelaminan" Kata Johan tersenyum ramah. Pipi Sarah kini seperti kepiting rebus, merah merona ia malu. Sedangakan sang pria hanya tersenyum canggung.


"Oh ya, nanti aku sama Kenzo mau beli baju di toko. Izin ya ma-pa?" Kata Sarah kepada Johan dan Karin.


"Tumben izin... Biasanya juga kalau kemana-mana gak pernah izin" Karin menyikut Johan karna perkataan nya barusan. Johan terkekeh pelan. Sarah kini menahan rasa malu didepan Kenzo.


"Ih papa mah... " Ambek Sarah memasang wajah memelas.


"Becanda"


Alenna lagi-lagi mematung. Sungguh... Percakapan hangat yang sudah lama tidak pernah ia rasakan lagi. Keluarga ini benar-benar bahagia tanpa kehadiran dirinya.

__ADS_1


Alenna... Apalagi yang lo pertahanin dari keluarga ini? Kasih sayang? Cinta? Atau keharmonisan?. Sampe kapan lo terus merasa terasing kan kayak gini?. Seharusnya lo mengungkapkan semuanya!. Lo tau kebenarannya tapi kenapa malah di simpen?. Sesulit itukah ngungkapin nya?.


Batin Alenna bergulat dengan pikiran nya.


Karna tak mau semakin tersakiti, Alenna pun melangkah menuju ruang tamu. Maksudnya ia ingin langsung keluar rumah, tapi karna Johan, Sarah, Karin, dan Kenzo menyadari kehadiran nya. Mereka menatap Alenna.


"Alenna... Kamu mau kemana?" Tanya Johan yang melihat Alenna berpakaian rapih dengan tas yang di gantung pada sebelah bahunya. Alenna berhenti melangkah dan menatap Johan.


Jawab jujur aja kali ya?. Ah enggak...


Batin Alenna.


"Hmm i-itu, Alenna mau ke... Rumah Amel" Cicit Alenna.


Maafin Alenna pa... Alenna boong lagi.


Batin Alenna. Ia tak mau terus terusan membohongi Johan, tapi keadaan mendesaknya.


"Oh yaudah Hati-hati" Alenna hanya mengangguk dan berjalan keluar rumah. Sekilas tatapan nya bertemu dengan tatapan datar Kenzo. Memang sedaritadi Kenzo memperhatikan Alenna saat pertama anak itu muncul, namun dengan tatapan yang bisa di bilang dingin. Segera Alenna melangkahkan kaki dari rumah tersebut. Persetan dengan tatapan Sarah yang tajam.


Salah apa lagi Alenna sebenarnya...


Seharusnya Sarah berterimakasih kepada Alenna karna Alenna tidak mau membuat masalah menjelang hari bahagianya. Sarah sada bahwa Kenzo sedari tadi menatap Alenna. Karna itu ia cemburu.


Cih! Cemburu garis kerad


Batin Alenna tak habis pikir dengan Sarah yang sangat pencemburu.


Segera ia masuk kedalam mobil dan menyalakan nya lalu pergi.


Setelah Alenna pergi, Kenzo berdiri dan berkata.


"Saya permisi ke belakang sebentar. Dimana kamar mandinya?" Tanya Kenzo sambil merapihkan bajunya.


"Oh ada di ujung sana, sebelah kiri. Mau saya antar?" Kenzo menggeleng menolak tawaran Karin.


"Terimakasih, saya bisa sendiri" Karin mengangguk paham lalu pergilah Kenzo ke tempat yang ditujukan Karin tadi.


Ia masuk kedalam kamar mandi tersebut dan menutupnya. Ia berhenti di depan wastafel yang terdapat sebuah cermin berbentuk persegi panjang.


Pria itu merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah benda pipih dan mengotak-atik benda tersebut, lalu beberapa saat ia menempelkan nya pada telinga.


"Halo tuan Kenzo, ada perlu apa tuan?"


Kata orang dari seberang sana.


"Ikuti kemana Alenna pergi. Cari tahu dia dimana dan pergi kemana dia seharian ini. Lalu laporkan padaku!"


Titan Kenzo sangat berkarisma, membuat siapa saja tak bisa melawan hanya dengan suaranya.


"Dan... Pastikan dia aman tanpa kurang sehelai rambut pun. Kalau sampai hal itu terjadi, jangan sampai kepalamu ku penggal!"


"Ba-baik tuan, a-akan saya laksanakan"


Pip!


Kenzo segera memutuskan sambungan teleponnya dan memasukkan handphone tersebut kedalam saku celananya kembali.


Pria itu menatap pantulan dirinya di cermin tersebut.


Kenzo tersenyum miring.


"Kamu satu-satunya wanita yang merebut hati saya hanya dengan senyuman mu. Karna itu, kamu harus bertanggung jawab atas itu"


"Kamu hanya milik saya Alenna Patricia"


πŸ’œπŸ’œπŸ’œ

__ADS_1


__ADS_2