BROKEN

BROKEN
it's over?


__ADS_3

Ayo Alenna... Semangat! Sebentar lagi!.


Batin Alenna menyemangati diri sendiri.


🌺🌺🌺


Kring! Kring! Kring!.


Bunyi alarm membuat Alenna terbangun dari alam bawah sadarnya. Alenna membuka matanya perlahan dan jujur saja tubuhnya terasa sangat sakit karna tertidur di meja belajar yang mengharuskan gadis itu meringkuk. Alenna menghela napas dan merenggangkan tubuhnya.


"Aduh... Pegel banget" Gumam Alenna sambil melakukan gerakan-gerakan kecil.


Ia melirik Alarm di sampingnya.


Alenna membulatkan matanya saat tahu bahwa sudah pukul sembilan pagi sekarang. Alenna segera bergegas ke kamar mandi dan bersiap-siap, menghiraukan rasa pegal yang menjalar di daerah leher, punggung, dan daerah lainnya.


15 menit kemudian...


Alenna sudah siap dengan penampilan nya. Ia merasa hari ini akan menjadi sangat berarti dalam hidupnya. Ada rasa lega sekaligus perasaan khawatir yang terpadu menjadi satu, Alenna sendiri tidak mengerti apa maksudnya. Yang jelas Alenna sangat bahagia karna secepatnya ia akan mengungkapkan semua kebejatan Sarah dan ibunya, Karin.


Alenna berjalan menuju meja belajarnya dan memasukkan semua peralatan yang sudah ia siapkan sedari malam. Mulai dari flashdisk, VCD, dan barang bukti lainnya, termasuk kamera dan handphone Sarah. Semua ia kumpulkan di dalam satu tas dan segera pergi menuju tempat tujuannya.


Keadaan rumah kelihatan tenang, entah Sarah dan Karin ada dimana. Yang pasti Alenna yakin mereka tidak bisa kabur dari rumah ini, karna anak buah Kenzo telah berjaga-jaga di sekeliling rumah. Jadi mustahil bagi mereka untuk kabur.


Gue harus ke tempat Kenzo dulu.


Batin Alenna dan melangkah menuju tempat Kenzo menggunakan angkutan umum.


🌺🌺🌺


Senyum Alenna mengembang saat melihat sosok pria di hadapan nya ini. Rasa-rasanya semua kecemasan Alenna hilang begitu saja saat sudah berada di sisi Kenzo. Pria itu juga tersenyum saat melihat kehadiran Alenna. Ia tahu bahwa Alenna akan datang pagi ini, karna Kenzo sendiri yang menyuruh Alenna untuk datang sebelum melapor dan gadis itu hanya menurut.


Kenzo merangkul Alenna masuk kedalam rumah dan Alenna tidak menolak. Ia sedikit khawatir dengan perut Kenzo yang bisa saja belum sembuh. Tapi pria itu bersikap seolah-olah tidak terjadi sesuatu pada tubuhnya, luar biasa.


Kenzo menyuruh Alenna duduk di sofa dan Alenna lagi-lagi menurut, lalu Kenzo duduk di sampingnya dengan beberapa centi jarak yang memisahkan.


"Lo nyuruh gue kesini mau ngapain?" Tanya Alenna to the point. Kenzo sudah sangat hafal dengan karakter Alenna yang tak suka berbasa-basi.


"Saya cuma mau ngeliat kamu" Jawab Kenzo spontan membuat perasaan aneh Alenna kembali muncul. Alenna terdiam lalu di detik kemudian, gadis itu tersenyum tipis.


"Ini lo udah ngeliat gue" Ucap Alenna mencairkan suasana. Kenzo terdiam memperhatikan wajah Alenna lalu mengelus rambut Alenna lembut dengan senyum tipis.


Hening, keadaan kembali hening. Alenna bingung harus mencari topik pembicaraan apalagi karna Kenzo sendiri hanya menunduk seolah tengah memikirkan sesuatu.


"Ken"


"Ya?"


"Lo kenapa sih? Kok kayak lagi gelisah gitu?" Tanya Alenna yang sedaritadi diam memperhatikan gerak-gerik Kenzo yang terlihat seperti orang gelisah. Alenna tidak tau kenapa, hatinya juga merasa gelisah.


Kenzo melihat Alenna dengan tatapan sendu. Alenna semakin dibuat bingung dengan Kenzo.


Kenzo kenapa jadi aneh gini?. Kenapa dia ngeliat gue kayak gitu?.


Batin Alenna merasa aneh dengan tatapan Kenzo.


"Alenna, jujur perasaan saya tidak enak" Dada Alenna terasa sesak saat tau bahwa Kenzo merasakan hal yang sama seperti dirinya.


"Kenapa?" Tanya Alenna mencari tahu. Kenzo menggeleng pelan masih dengan tatapan yang sendu.


"Saya gak tau. Tapi sedaritadi perasaan saya tidak enak dan itu tertuju sama kamu. Saya khawatir sama kamu" Alenna mengalihkan tatapannya kearah lain sebentar lalu kembali menatap Kenzo dan tersenyum.


"Lo gak usah khawatir, semuanya bakalan berakhir sebentar lagi dan mereka bakalan masuk penjara. Lo tenang ya, gak usah khawatirin gue" Ujar Alenna. Bohong rasanya jika ia tak merasa cemas, sejujurnya ia sangat cemas akan dirinya sendiri. Tapi ia tak mau mengambil pusing, mungkin saja itu hanya perasaan bawaan. Ini semua akan berakhir dan Alenna akan terbebas.


Kenzo menarik napas dalam-dalam dan menghela napas panjang. Lalu kembali tersenyum kepada Alenna sambil tangan kanannya mengacak-acak rambut Alenna membuat gadis itu menatapnya kesal.


"Yasudah, ayo kita selesaikan semaunya" Ajak Kenzo membuat Alenna mengembangkan senyum nya. Alenna dan Kenzo bangkit dari duduknya dan berjalan keluar rumah.


Kenzo mengenggam tangan Alenna erat, sangat erat seolah tak ingin Alenna terlepas dari dirinya dan Alenna membalas sama eratnya. Lalu mereka berjalan menuju mobil untuk pergi ke tempat tujuan, yaitu kantor polisi.


Di perjalanan, Kenzo sempat menelpon salah satu anak buahnya untuk terus mengawasi Sarah dan Karin. Alenna sendiri, ia sungguh tak sabar ingin semuanya cepat selesai dan menjalani kehidupan yang normal, dengan Kenzo.

__ADS_1


Ya, Alenna sudah mengambil keputusan untuk hidup bersama Kenzo. Tak peduli pria itu membawanya pergi ke Amerika atau tidak, yang jelas Alenna ingin selalu berada di dekat Kenzo. Sama halnya seperti Kenzo yang menginginkan hal tersebut segera terjadi.


"Ken, setelah ini berakhir. Lo mau ngelakuin apa?" Tanya Alenna membuka suara. Kenzo melihat Alenna sekilas lalu tersenyum.


"Menikahi kamu. Memangnya apa lagi?" Tak tau kenapa, setiap Kenzo membicarakan soal pernikahan, Alenna selalu merasa hal yang luar biasa di dalam hatinya dan sesekali membayangkan hal tersebut benar terjadi. Alenna bingung, padahal ia sudah sering mendengar ucapan Kenzo mengenai hal itu, tapi ia masih saja tidak bisa terbiasa dan jantungnya terus berpacu lebih cepat.


"Tapi ken, kalau kita gak bisa nikah dan penyakit gue gak sembuh. Gi-gimana?"


Chitttt!.


Kenzo mengerem mendadak membuat Alenna sedikit terhuyung ke depan, untung saja seatbelt melindungi nya. Jantung Alenna terasa ingin copot. Kenzo menatap Alenna dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Jangan bicara seperti itu, Alenna. Kita akan menikah dan kamu akan sembuh, itu janji saya" Ucap Kenzo penuh penekanan di setiap kata membuat Alenna meneguk salivanya susah payah.


Kenzo kembali menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Jujur, pria itu merasa sangat marah saat mendengar ucapan Alenna barusan. Ia tak suka jika Alenna berbicara hal yang jelas-jelas membuatnya kesal dan di tambah gadis itu membicarakan penyakit. Sungguh, Kenzo tak suka jika Alenna berpikiran pendek seperti itu dan menerka-nerka. Kenzo tak suka.


Alenna menunduk dan tak sadar kedua sudut bibirnya tersenyum manis.


Lo satu satunya harapan dan cahaya di hidup gue, ken. Gue sangat percaya sama lo dan gue menaruh penuh harapan sama lo. Tapi kalau sampai lo ngehancurin kepercayaan gue dan menyia-nyiakan harapan itu, gue gak tau apakah cahaya itu masih bisa menyala atau gak. Bisa jadi cahaya itu akan padam dan hidup gue kembali gelap dan menghitam untuk selama-lamanya.


Batin Alenna.


🌺🌺🌺


"Tuan Kenzo?" Ucap polisi muda tersebut melihat kehadiran Kenzo yang mendatangi kantor polisi dengan Alenna di sampingnya.


Kenzo dan Adamson berjabat tangan.


"Sudah lama kita tak bertemu, Adamson. Kau Banyak perubahan" Ujar Kenzo ramah namun masih terlihat berwibawa. Adamson tersenyum malu-malu.


"Kau juga tuan. Masih sama seperti dulu, baik, rupawan, dan bijaksana. Sangat persis saat pertama kali kita bertemu" Puji Adamson kepada Kenzo. Kenzo hanya terkekeh sambil menggeleng pelan.


jadi Kenzo udah kenal sama nih polisi?.


batin Alenna saat melihat keakraban Kenzo dan Adamson.


Adamson melirik Alenna yang berada di samping Kenzo. Alenna juga melihat kearah Kenzo.


"Ya, dia calon istri saya. Dia kesini untuk menyelesaikan masalahnya dan saya menemani" Adamson terkejut saat mendengar pernyataan Kenzo.


Jadi dia calon istri tuan Kenzo?. Tak di sangka, perempuan ini sangat beruntung. Untung aja, saya belum sempat mengejarnya.


Batin Adamson.


"Ah benar, ini hari terakhir dia mengumpulkan bukti. Apa sudah ada nona?" Tanya Adamson kepada Alenna.


"Tentu. Tapi bagaimana dengan perjanjian kita?" Tanya Alenna balik. Kenzo mengernyit bingung.


Perjanjian? Perjanjian apa?.


Batin Kenzo bingung sambil melirik Alenna dan Adamson bergantian.


"Jangan khawatir. Semuanya sudah saya dapatkan" Alenna tersenyum puas saat mendengar ucapan polisi itu. Alenna mengangguk.


Alenna membenarkan duduknya menjadi lebih tegak. Sedangkan Kenzo yang berada di samping Alenna, memang sudah duduk dengan keadaan tegak sedari tadi. Adamson sendiri duduk berhadapan di depan mereka dengan meja kerja yang memisahkan jarak diantara Adamson dan Alenna beserta Kenzo.


"Baiklah, dimana buktinya?" Tanya Adamson sambil mengulurkan sebelah tangannya meminta.


Alenna membuka tasnya lalu mengeluarkan semua berkas dan barang bukti yang sudah ia siapkan dari dalam sana. Gadis itu memberikan semuanya kepada Adamson. Polisi muda itu memeriksa satu persatu dengan hati-hati dan Adamson harus menggunakan sarung tangan saat hendak memeriksa barang bukti seperti pistol dan lain sebagainya.


Agar tidak ada sidik jarinya di sana.


Tenang, Alenna melakukan hal tersebut dengan hati-hati juga. Dapat di pastikan Alenna tidak melakukan kesalahan dalam mencari bukti.


Kenzo dan Alenna saling bertukar pandang sampai saatnya suara Gumaman Adamson mengalihkan perhatian mereka. Ternyata polisi itu sudah selesai menyelidiki.


"Gimana?" Tanya Alenna dengan hati-hati. Adamson melirik Kenzo dan Alenna bergantian.


"Ya, bukti ini sudah cukup kuat untuk melakukan pembuktian. Sebenarnya saya sudah mendapat bukti dari sahabat nona yang bernama Amel, dan itu sangat membantu" Alenna mengerutkan alis saat nama sahabatnya di sebut sebut.


"Amel?" Tanya Alenna bingung.

__ADS_1


"Ya, dia datang kesini tadi pagi jam enam. Dia mengantarkan sebuah rekaman suara anda yang di ambil secara diam-diam. Sejujurnya, kami sudah bekerja sama dengan sahabat anda, dan kami juga yang merencanakan hal itu" Jelas Adamson membuat mulut Alenna sedikit terbuka karna tak percaya.


Otaknya kembali memutar kejadian dimana ia datang kerumah Amel dan melihat keadaan Amel yang sangat menyedihkan. Ia yakin semua berawal dari sana. Ya, Amel merekam semua penjelasan nya saat itu. Ia tersenyum dan tak sadar ia meneteskan air matanya.


Makasih Mel, makasih banyak. Gue gak nyangka lo bakal percaya sama gue. Makasih banyak...


Batin Alenna terus mengucapkan Terima kasih kepada Amel.


"Jadi, bagaimana dengan pelaku?" Tanya Kenzo yang sedari tadi diam. Ia tahu Alenna sedang hanyut dalam pikiran nya sendiri, bahkan Kenzo dan Adamson tau bahwa Alenna tengah menangis terharu. Tapi mereka membiarkan nya.


"Kami akan segera membawa pelaku ke sini" Jawab Adamson yang mendapat gelengan kepala dari Kenzo.


"Tak perlu, itu akan mengulur waktu. Saya yang akan membawa mereka kesini" Kata Kenzo yang membuat Adamson terdiam.


"Sebentar" Kata Kenzo lalu merogoh saku celananya dan mengeluarkan benda pipih dari dalam sana. Kenzo mengutak-atik ponselnya lalu mendekatkan benda tersebut ke telinga.


"Bawa mereka kesini. Ingat, jangan sampai terlepas"


Tuts!.


Kenzo mematikan sambungan telepon nya secara sepihak. Lalu dia beralih kepada Adamson yang menatapnya takjub.


"Semua sudah beres" Kata Kenzo final. Alenna tersenyum mendengar ucapan Kenzo yang sangat melegakan hatinya. Ia menatap Adamson yang tengah mengangguk kepadanya. Karna saking bahagia nya, Alenna kembali meneteskan air matanya.


Mah... Semuanya akan segera berakhir Dan Alenna bakalan terlepas dari semuanya.


Batin Alenna mengingat almarhumah ibunya, Vinna.


🌺🌺🌺


Benar saja, beberapa saat kemudian Sarah dan Karin datang di bawa oleh anak buah Kenzo ke kantor polisi. Mereka tak langsung di tangkap, melainkan harus menjalani pemeriksaan yang Alenna sendiri tidak mengerti apa itu. Yang jelas, ia sangat tenang sekarang.


"Terima kasih atas kerja sama nya. tuan, Kenzo" Kata Adamson mengulurkan tangan kanannya.


"Sama-sama" Kenzo membalas jabatan tangan Adamson beberapa saat lalu kembali memutuskan nya.


Adamson beralih kepada Alenna yang berada di samping Alenna. Kini mereka tengah berada di pintu masuk kantor polisi. Saatnya untuk pergi dari tempat ini dan Alenna terbukti tidak bersalah. Sekarang hanya perlu menunggu pihak keadilan untuk mengambil tindakan yang adil.


"Bagaiamana perasaan anda, nona?" Goda Adamson bertanya kepada Alenna. Alenna tersenyum manis, bukan karna ia tersipu. Melainkan ia sangat bahagia sampai gak bisa menahan senyumnya.


"Tentu saja sangat senang rasanya. Ini semua juga berkat bantuan anda, polisi Adamson" Jawaban Alenna membuat Adamson terkekeh pelan.


"Anda sudah bekerja keras untuk menyelesaikan masalah ini. Jadi sekarang bersenang-senang lah dan nikmati hidup anda, nona" Kata Adamson yang di setujui oleh Alenna.


"Tentu, dia akan bersenang-senang bersama saya dan menikmati hidupnya hanya bersama saya" Saut Kenzo membuat pipi Alenna memerah karna tersipu.


Aduh Kenzo... Bikin gue malu aja.


Batin Alenna.


"Bagus kalau begitu"


"Baiklah, kalau begitu kami pamit dulu. Terima kasih sekali lagi" Pamit Kenzo kepada Adamson.


"Jika butuh bantuan, datang lah kemari" Tawar Adamson yang di angguki Kenzo dan Alenna.


"Perjanjian kita sudah selesai dan saya sangat berterima kasih" Kata Alenna yang di angguki oleh Adamson.


"Baiklah, sampai jumpa" Pamit Alenna dan Kenzo bersama


Mereka pun pergi dari kantor polisi dengan perasaan yang sangat senang dan melegakan.


It's over, mom.


Batin Alenna lega setengah mati.


"Kita mau kemana?" Tanya Kenzo kepada Alenna saat sudah berada di dalam mobil.


"Aku mau ketemu mama" Jawab Alenna yang langsung di angguki oleh Kenzo dan segeralah mereka ke tempat peristirahatan, Vinna.


🌺🌺🌺

__ADS_1


Hai guys? apa kabar... bau baunya mau tamat nih🤣. vote, komentar, dan share ke teman-teman kalian ya. sampai jumpa😘


__ADS_2