BROKEN

BROKEN
fighting Alenna!


__ADS_3

Duh... Kenapa jadi tambah rumit gini sih? Kenapa gue gak bisa happy happy kayak anak muda lain sih?!. Emangnya gue gak pantes?.


Batin Alenna lagi lagi kesal karna jujur saja ia iri dengan anak seusianya yang tak perlu memikirkan hal menyusahkan seperti ini di hidup mereka.


Alenna ingin pergi bersama teman, menghabiskan waktu bersama, makan dan nonton film, tertawa sampai terbahak-bahak, dan hal -hal yang menyenangkan lainnya.


Tapi kenapa sulit?.


🌺🌺🌺


"Makasih pah... " Johan mengangguk dan segera pergi dari rumah Amel dengan mobilnya.


Alenna johan sekeliling rumah Amel yang terlihat sepi seperti tidak berpenghuni.


Seharusnya ia mengambil ponselnya dari polisi itu, jadi dia bisa menghubungi Amel dulu sebelum kesini...


Sayangnya dia lupa.


Alenna berjalan menuju pintu rumah Amel dan mengetuk nya.


Tok! Tok! Tok!.


Belum ada jawaban dari dalam sana, Alenna kembali mengetuk nya. Tapi tetap sama, tidak ada hal yang berubah selain ke sunyian.


Alenna pun mencoba mendorong pintu rumah Amel dan ternyata tidak terkunci. Segera Alenna membuka nya dan perlahan masuk kedalam.


"Permisi... Amel? Lo ada di dalem kan?" Tanya Alenna seolah ada orang di dekatnya.


Alenna lebih berjalan masuk kedalam rumah Amel sampai ruang tamu.


"Amel?"


Prang!.


Alenna terlonjak kaget karna mendengar suara barang yang terjatuh dari kamar Amel. Segera Alenna berlari ke kamar Amel dengan terus memanggil nama Amel sampai dia sampai di kamar Amel.


Alenna langsung membuka pintu kamar Amel dan melihat keadaan yang sangat kacau di dalam sana. Vas bunga berserakan di sana sini, kaca pecah, dan... Darah?

__ADS_1


Alenna langsung menghampiri Amel yang terduduk lemas di lantai dengan pergelangan tangan yang berdarah.


"AMEL?!" Amel terkejut melihat keberadaan Alenna dan segera menjauh sambil menggeleng pelan. Matanya sudah sangat sembab karna menangis.


Alenna bingung dengan sikap Amel yang seolah takut padanya dan terus menghindar.


"Mel?, Lo kenapa?. Ini gue Alenna..." Ucap Alenna masih membuat Amel menghindar sampai Amel menabrak dinding yang berada di belakangnya.


"JANGAN NGEDEKET! PERGI LO PEMBUNUH!!" teriak Amel mengusir Alenna dengan wajah yang ketakutan.


Alenna menggeleng kuat dan Alenna juga hampir menangis melihat keadaan sahabatnya yang sangat kacau ini.


"Amel... Gue Alenna. Bukan pembunuh... Gue mohon percaya sama gue Mel" Kata Alenna memohon. Kini ia sudah berada di hadapan Amel yang sedang meringkuk.


"Lo pembunuh Alenna... "


Ucap Amel lirih dengan derai air mata.


"Lo tega ngebunuh Aldo..." Lanjut Amel menatap Alenna kecewa.


Gue yakin Amel pasti udah dapet laporan dari polisi kalau barang bukti yang di temukan, tertuju sama gue.


Batin Alenna.


"Amel... Gue tau lo sekarang gak percaya sama gue. Tapi, biarin gue obatin luka lo dulu, ya?" Amel hanya diam menatap Alenna was-was. Alenna pun berdiri lalu mengambil kotak P3K di tempat dimana Amel biasa menyimpan nya. Kenapa Alenna bisa tau? Karna Alenna sudah sering datang kesini.


Alenna kembali dan langsung mengobati luka Amel dan gadis itu tak melawan saat di obati. Alenna sangat berhati-hati saat mengobati luka Amel yang terlihat mengerikan karna sudah membiru.


Setelah selesai, Alenna membawa Amel duduk di sofa yang ada di kamar itu.


"Mel... Gue mau ngejelasin semuanya tentang kejadian kemaren. Gue udah beri keterangan sama polisi tadi" Ucap Alenna membuat Amel menengok ke wajah gadis itu.


"Gue harap lo denger semuanya. Seterah lo mau percaya atau enggak, yang jelas lo dengerin gue dulu dan gue harap lo gak ngelakuin hal kayak gini lagi. Nyawa lo berharga Mel, hidup lo masih bisa di selametin, dan lo masih bisa bahagia" Amel hanya diam memperhatikan Alenna dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Okey... Gue bakal ceritain ke lo"


"Sebelum berangkat, gue dapet barang dari Kenzo. Dia ngasih gue pistol buat jaga jaga, akhirnya gue bawa dan gue taro tas. Nah,

__ADS_1


Yang pas lo sama Angga ninggalin gue, Steven, dan Aldo. Gue nyuruh Steven buat nyusul lo karna cuma dia yang bawa senter akhirnya dia pergi nyusul lo berdua. Tinggal gue sama Aldo. Karna posisinya gelap, gue nyalain senter HP yang sengaja gak gue kasih ke penjaga. Terus pas gue lagi nyari jalan keluar sama Aldo, Tiba-tiba ada dua orang pakek baju serba hitam di belakang Aldo sambil bawa balok kayu"


"Singkat cerita, orang misterius itu mukul kepala gue sama Aldo sampe gue pingsan dan Aldo juga. Gue gak tau gue di bawa kemana, yang jelas pas gue buka mata, gue udah ada di tempat yang kayak gudang dan kumuh. Gue coba cari handphone gue tapi gak ada. akhirnya gue ngeluarin pistol dari tas gue buat jaga-jaga. Setelah itu gue cari Aldo dan gue ngeliat dia di iket di kursi sambil mulutnya di bekep"


Amel diam mendengarkan serius. Amel butuh penjelasan Alenna juga, walaupun ia sulit untuk percaya karna barang bukti sudah di depan mata.


"Gue baru pengen ngelepasin Aldo, tapi Sarah dateng dan ternyata dia yang nyamar jadi dia orang berpakaian serba hitam itu bersama anak buahnya. Dia yang bawa gue dan Aldo kesana, akhirnya gue ribut sama Sarah. Dia bilang iri sama gue dan gue ngancem dia untuk jangan libatkan Aldo pakek pistol. Tapi sayang, pas gue lengah dia berhasil ngambil pistol itu dari tangan gue. Akhirnya, kejadian yang gak terduga malah terjadi... "


"Sarah nembak Aldo sebanyak 2 kali pakek pistol punya gue yang di kasih Kenzo dan setelah itu dia ngejebak gue dengan naro HP dan pistol gue di deket Aldo. Biar gue di duga pelakunya"


Amel mengerutkan alis lalu bertanya.


"Terus kenapa bisa ada sidik jari lo di pistol itu?" Tanya Amel pelan. Alenna tau pasti Amel akan menanyakan itu.


"Gue emang pegang pistol itu sebelumnya kan? Otomatis ada sidik jari gue. Sarah nembak Aldo pakek sarung tangan, otomatis juga sidik jarinya gak ada disana" Jawab Alenna. Amel masih mencerna dengan baik ucapan Alenna.


"Gue udah jelasin semuanya sama lo. Gue ngerti perasaan lo, tapi disini gue juga ngerasain. Kenzo, dia di tembak sama Sarah dan untungnya dia udah aman di rumah sakit" Amel terkejut saat mendengar ucapan Alenna.


"Kenzo di tembak?" tanya Amel tak percaya. Alenna mengangguk pelan.


"Karna itu, gue mau kesana" Alenna bangkit dari duduknya namun Amel masih duduk. Alenna tersenyum.


"Maafin gue ya, ini semua salah gue. Tapi gue janji bakalan memperbaiki semuanya... Gue bakal cari bukti kalau Sarah bersalah dalam masalah ini. Maaf ya Mel, dan tolong jangan nyakitin diri lo sendiri" Amel meneteskan air matanya begitu saja.


"Semuanya akan berakhir, gue akan pergi jauh dari kalian semua. Supaya kalian tenang dan gue harap lo tetep jadi Amel yang gue kenal. Amel yang kuat dan Amel yang pemberani" Alenna terus menyemangati Amel tiada henti membuat Amel menangis mendengarnya.


"Gue pergi ya Mel... Jaga diri lo. Do'akan gue semoga berhasil" Pamit Alenna lalu pergi meninggalkan Amel yang menangis tersedu-sedu.


Disisi lain, Amel mengeluarkan sebuah perekam dari dalam sakunya dan menekan tombol 'stop' dan menyimpan rekaman itu.


Sedaritadi ia sudah merekam apa yang Alenna ucapkan dengan alat perekam suara yang berada di sakunya. Ini ia lakukan untuk di jadikan salah satu bukti dan mungkin saja nanti akan lebih bermanfaat, setidaknya pikiran Amel begitu.


Awalnya Ia sempat terkejut dengan bukti yang di dapat polisi. Tapi terselip rasa tak percaya pada dirinya. Karna itu ia bisa dengan mudah percaya kepada Alenna karna telah memberikan keterangan yang bagi Amel sangat meyakinkan dan sekarang ia harus mendukung Alenna.


"Sebisa mungkin gue tetep percaya dan ngebantu lo Alenna...


Gue yakin lo bisa" Ucap Amel berdiri lalu melihat kearah jendela yang menampilkan Alenna tengah berjalan keluar dari rumahnya.

__ADS_1


"Semangat, len"


🌺🌺🌺


__ADS_2