
"Gue tau len... Tapi, ini masalah serius. Lo gak bisa main-main" Alenna mengangguk.
"Gue harap, lo bisa ngelewatin itu semua. Gue yakin lo pasti bisa" Ampe menggenggam tangan Alenna erat.
"Gue bakalan ngelakuin apa aja buat lo Alenna. Asalkan lo berjuang, gue akan, terus dukung lo" Alenna tersenyum. Walaupun sebenarnya hatinya menjerit dan ingin menangis karna ia sangat bahwa mendapat dukungan seperti ini dari sahabatnya. Sungguh, sangat luar biasa bagi Alenna. Bahkan Johan saja tak pernah bersikap layaknya ayah yang akan mendukung anaknya saat menghadapi masa-masa sulit. Yah... Walaupun Johan tidak tahu menahu soal penyakit Alenna. Tapi Alenna berharap, Johan akan mendukung nya di saat-saat dimana ia memang harus berjuang. Seperti sekarang.
"Semoga"
πππ
Johan menatap sebuah bingkai yang berada di tangannya. Di bingkai tersebut, menampilkan seorang perempuan yang tengah tersenyum manis, seperti tak ada beban. Johan mengamati foto tersebut dalam diam. Ada yang ingin ia ungkapan pada perempuan di foto tersebut. Namun sangat sulit. Benar, sangat sulit. Yang ia lakukan hanyalah terduduk di salah satu sisi ranjang, menunduk, dan dengan perasaan yang campur aduk.
"Vinna... " Suara berat milik Johan terdengar sendu.
"Lihatlah aku sekarang. Kau pasti tengah menikmati kehidupan mu disana. Yang bahkan lebih indah dari ini. Aku tahu ini sudah terlambat... Aku sungguh menyesal" Bulir air mata Johan mulai membasahi pipinya. Ia benci menangis, namun sekarang lihatlah...
"Kau tahu... Alenna dan David, seakan menjauh dariku. Mereka seperti membenciku. Aku sadar penyebab nya apa. Aku merasa gagal menjadi seorang ayah yang baik untuk mereka. Aku membenci diriku sendiri yang selalu menyepelekan mereka. Aku sungguh menyesal... " Isak tangis Johan kini terdengar. Bahkan air matanya sampai jatuh di bingkai foto tersebut.
"Alenna bahkan tidak mau melihat wajah ku lagi, dia lebih memilih untuk pergi, dan dia tidak mau dekat dengan ku lagi. Aku sungguh mengutuk diriku yang selalu saja bersikap kasar padanya, yang selalu menyakiti hatinya, dan yang selalu membentak nya. Walaupun kesalahannya sedikit"
"Vinna... Kau pasti senang kan melihat aku yang rapuh ini?. Aku tahu kau senang melihat ku menderita. Memang, aku memang pantas menderita. Tapi... Apakah aku sudah terlambat untuk memperbaikinya?" Monolog Johan. Ia tak peduli lagi dengan sekitarnya. Satu kata yang terngiang di hati dan otaknya, yaitu... Menyesal. Jika ditanya, apa yang Johan sesali?. Banyak! Baginya sangat banyak, sampai ia tak sanggup untuk menjawab pertanyaan tersebut.Β
"Vinna... Katakan padaku. Siapa yang telah menyebabkan kau pergi ke sisi Tuhan? Siapa?. Aku akan membalas orang itu!. Aku bersumpah Vinna!" Sumpah yang keluar begitu saja dari mulut Johan, seakan nyata. Pria paruh baya itu bersungguh-sungguh dengan kata-kata nya. Ia memeluk foto tersebut dan menangis dalam diam.
Ceklek!
Pintu kamar Johan terbuka, menampilkan sosok Sarah yang masuk tanpa mengetuk pintu. Johan terlonjak dan segera menghapus air matanya dan buru-buru menaruh foto tersebut di dalam lemari. Seketika, ia bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
Sarah mendekati Johan.
"Pah... " Panggil Sarah pelan.
"Eh Sarah, kamu kok gak ngetik pintu dulu sih?. Gak sopan tau" Ujar Johan masih tidak mau menatap anak nya tersebut. Sarah menyengir tak berdosa.
"Maaf Pah" Kata Sarah.
"Kamu mau ngapain kesini?" tanya joha kini berani menatap anaknya. Setelah ia berhasil menetralkan matanya yang lembab karna menangis.
"Hmm jadi gini pah... Aku mau tanya soal Kenzo" Ungkap Sarah duduk di sebelah Johan perlahan. Johan menatap anaknya tersebut.
"Kenapa Kenzo?" Tanya Johan bingung.
Wajah Sarah terlihat memerah secara tiba-tiba, ia malu. Johan mengernyit bingung melihat tingkah anaknya ini.
"Kok pipinya merah gitu? Kenapa?" Tanya Johan menggoda Sarah.
"Hmmm kayakny aku udah mulai suka sama dia deh pah... Aku udah nyaman sama dia" Johan nampak tak terkejut lagi mendengar pernyataan Sarah. Memang dari awal, Johan sudah menebak bahwa Sarah akan tertarik kepada pengusaha muda tersebut.
"Iya papa tau, terus?" Tanya Johan lagi.
"Gimana kalau... Hmm Sarah aja yang nerima perjodohan ini?"
Deg!
Entah kenapa Johan merasa ada yang mengganjal di hatinya. Entah lah... Itu tiba-tiba, Johan saja tidak tahu kenapa.
Jadi Sarah mau bersama Kenzo?. Lalu gimana sama Alenna?.
Itulah yang ia pertanyakan sekarang.
"Pah! Kok malah bengong"
"Eh enggak kok"
"Ya terus?"
"Papa sih gak masalah... Tapi gimana sama Kenzo?. Emangnya dia mau?"
Kampret! Dikira gue gak laku kali ya?. Ini nyindir apa gimana sih?
Batin Sarah jengkel mendengar ucapan Johan yang menohok. Sarah cemberut.
"Papa jangan gitu dong!. Emangnya Sarah sejelek itu apa?, sampe-sampe papa bilang emangnya Kenzo mau sama Sarah?" Dengus Sarah kesal. Johan terkekeh pelan.
__ADS_1
"Bukan begitu maksudnyaβ kamu cantik kok, cantik banget malah. Cuman papa takut kalau Kenzo masih belum siap" Kata Johan menenangkan putrinya ini.
Sarah masih cemberut. Johan mengelus rambut Sarah sayang.
"Sarah bakal bikin Kenzo siap kok pah... Tapi papa harus janji, kalau Kenzo cuma buat Sarah" Tuntut Sarah. Johan bingung harus menjawab apa. Ia hanya tersenyum lembut kearah anaknya ini.
"Sarah anggep, papa diem tanda iya" Sarkas Sarah. Johan mengangguk sekali sambil terus mengelus rambut panjang Sarah yang terurai. Senyum bahagia terpancar di wajah Sarah, ia bersorak senang tak karuan.
"Yodah, Sarah ke kamar dulu ya pah... " Pamit Sarah.
"Iya, istirahatlah nak" Sarah mengangguk dan pergi keluar kamar. Tepat saat menutup pintu, seulas senyum licik terlihat.
Lihat... Gue gak main main Alenna. Sebentar lagi, Kenzo milik gue. Kalau lo mau ambil Steven, silahkan ambil. Well gue udah gak butuh, karna udah ada pawang uang yang baru buat gue.
Setelah membatin, Sarah berjalan pergi menuju kamarnya. Tak henti ia bersorak senang.
"Alenna, kenapa bukan kamu yang tersenyum bahagia?" Monolog Johan selepas kepergian Sarah. Pria baruh baya itu menatap gorden yang berterbangan karna angin yang kencang.
Ia sangat berharap, melihat senyum Alenna yang bahagia seperti dulu, saat ia masih bersama almarhumah istrinya.
Tapi kenapa begitu sulit?
πΊπΊπΊ
Karna bosan, Alenna mengambil handphone nya, berniat untuk membuka beberapa sosial media untuk menghilangkan kejenuhan di sini.
Ting nong!
Baru saja gadis itu menyalakan ponsel, sudah ada banyak notif masuk.
Ia mencabut charger dari handphone nya. Banyak yang bilang, tidak baik memainkan ponsel sambil di isi. Memang semalam ponselnya lowbat jadi tidak aktif. Baru sekarang ia aktifkan.Β
You have 30 missed calling from my brother.
You have 10 message from my brother.
You have 5 massage from Steven.
Alenna melotot melihat notifikasi tersebut. David menelponnya semalam, tetapi Alenna tak mengangkat nya. Kira-kira ada apa ya David menelponnya?,
Pikir Alenna.
**From: my brother
(1)Dek, kamu di mn sih? (21.45)
(2)dek (21.45)
(3) Alenna, ini udah malem kamu dimna? (21.46)
(4) dek kamu pergi sama Kenzo? Jangan malem-malem. Inget pulang! Jangan ngelayap mulu!. Mentang mentang gak ada kakak!. Pulang! (21.48**)
Alenna melotot membaca pesan yang satu ini.
(**5) bagussss ngelayap terus sampe lupa pulang! ( Ν‘Β° ΚΜ― Ν‘Β°) (21.50)
(6) dek (21.50)
(7) ping! Pong! Dek! Alenna! Woy! (22.00)
(8) kamu beneran gapapa kan dek? Ini udah malem!. Tadi kakak sempet tidur, kakak kirain kamu udah pulang. Ternyata belum ya... (02.00**)
(9) Alenna astaga!. Kamu dimana sih? Kakak khawatir. Kamu gapapa kan?! Jawab dong! π©
Alenna tertawa pelan...
(10) Alenna, beneran. Kakak cari kamu sekarang (03.00)
Alenna terbelalak membacanya. Yang benar saja kakaknya ingin mencarinya. toh David sedang berada di Amerika, mana mungkin ia langsung terbang ke Indonesia hanya untuk mencari adik 'tak tahu diri seperti dirinya ini'.
Pikir Alenna.
Dengan santai Alenna membalas pesan tersebut.
__ADS_1
**To: my brother
(1)Maaf kak, Alenna baru bisa jawab pesannya
(2) tadi malam Alenna nginep dirumah Amel abis jalan jalan sama Kenzo
(3) eh hapenya lowbat. Jadi di cas dulu
(4) maaf ya kak hehheheπ
(5) kakak gak perlu nyari Alenna, disini aku aman kok sama Amel dirumahnya. Lagian mana mungkin kak David nyari aku, kan kak David lagi di Amerika... Hayoo... Gimana dong**? π€£ππ
Canda Alenna.
Itulah pesan terakhir yang ia kirim untuk David. Hei! Bukan pesan terakhir dalam artian sesungguhnya. Bukan!.
Alenna mengalihkan pandangannya kepada Amel yang tengah tidur di sofa panjang dekat Alenna. Gadis itu, seusai mengambil baju dari rumahnya, ia juga habis pulang sekolah, alih-alih beristirahat dirumah, Amel malah langsung datang ke rumah sakit untuk menemani gadis merepotkan seperti Alenna ini, pastilah dia sangat lelah.
Pikir Alenna mengamati Amel.
Bicara soal keluarga Amel, gadis itu sering sendiri dirumah. Karna orang tuanya sering pergi bekerja sampai keluar negeri untuk mengurus perusahan mereka. Amel memang termasuk sari golongan terpandang, bisa dibilang sama seperti Alenna. Namun mereka tidak pernah memandang orang lain sebelah mata.
Hanya 1 yang membedakan kehidupan mereka, yaitu cara hidup. Amel sering sekali mengandalkan orang tuanya untuk keperluan sekolah, belanja, dan lain-lain. Berbeda dengan Alenna, gadis itu lebih memilih untuk mengumpulkan uang sendiri di banding menerima/meminta kepada papanya. Walau sebenarnya tidak ada salahnya. Tapi Alenna merasa tidak biasa dan tidak mau saja. Mungkin karna sudah terbiasa berjuang sendiri. Ya setidaknya itu pemikiran Alenna.Β
Mengenai pekerjaan, Alenna biasanya hanya berdiam dirumah dengan laptop yang selalu bersamanya. Berkat keahliannya berbahasa Indonesia dan Korea, ia bisa mendapatkan Perkerjaan sebagai translator English-indonesia/Korean-indonesia ia lakukan selagi ada waktu senggang.
Biasanya gadis itu menerjemahkan artikel, majalah, dan novel. Pendapatannya lumayan besar dan cukup bagi Alenna. Karna itulah, ia merasa tak perlu untuk meminta kepada papanya lagi. Perlu kalian ketahui, berbahasa adalah keahlian dan kelebihan Alenna yang paling menonjol.
Mungkin sebelumnya tidak pernah diketahui, darimana Alenna mendapatkan uang?, Apa perkerjaan nya?. Namun sekarang sudah terjawab. Memanglah gadis itu hanya mengisi waktu luangnya dengan hal yang bermanfaat dan menguntungkan. Contohnya dengan menerjemahkan dari satu bahasa, ke bahasa yang lain. Bagi Alenna, pekerjaan itu sangat membuatnya nyaman, selain gaji yang lumayan, dia juga tidak perlu banyak gerak. Cukup duduk dan mengetik. Itu saja. Mudah bukan?.
ehhh bukannya ada pesan dari Steven.
batin Alenna. gadis itu segera membuka pesan dari Steven.
**from: Steven
(1)Alenna lo dimana? kok tadi gue gak liat lo di sekolah?
(2)Alenna, lo kok gak masuk?
(3) lo sakit?
(4) lo baik-baik aja kan? balas chat gue!
(5) Alenna, jangan bikin gue khawatir**
seusai membaca pesan tersebut, Alenna merasa benaknya menghangat. entahlah, ia senang saat membaca pesan itu. Alenna sungguh tidak tahu, kenapa juga wajahnya menampilkan senyuman speechless.
sungguh Alenna tidak tahu.
ia pun membalasnya dengan bilang bahwa ia memang tidak masuk sekolah karna pergi, lalu ia kelelahan, dan menginap di rumah Amel. percayalah, Alenna berusaha meyakinkan Steven agar ia percaya bahwa Alenna baik baik saja. namun beberapa saat kemudian...
Ting tong!
Alenna mendapat pesan masuk. Ia segera membukanya.
From: my brother
Kakak ada di Indonesia sekarang, lebih tepatnya di rumah.
Alenna terpaku membaca pesan tersebut. Sungguh... David tidak main-main dengan kata-kata nya.
Aduh... Gawat
πΊπΊπΊ
Hai! kangen gak? heheheh. author yakin kalian pada kangen sama ceritanya, (bukan sama author)ππππ€£π€£π€£. owh ya, gak nyangka udah episode ke 51 aja. semoga bisa terus berlanjut ya ceritanya... amin...
owh ya, kasih VOTE DAN KOMENTAR kalian ya!!! author tunggu jejak kalian.
BTW, AUTHOR IKUT KONTES DI MANGATOON. JADI TOLONG KASIH AUTHOR DUKUNGAN UNTUK NOVEL INI SUPAYA JADI LEBIH BAGUS, MENARIK, DAN LEBIH BAIK LAGI. πππ
caranya juga gak susah kok, author yakin kalian juga pada tau kan... heheheh
__ADS_1
makasih ya... muach π