BROKEN

BROKEN
jangan sekarang


__ADS_3

*Pria itu menatap pantulan dirinya di cermin tersebut.


Kenzo tersenyum miring.


"Kamu satu-satunya wanita yang merebut hati saya hanya dengan senyuman mu. Karna itu, kamu harus bertanggung jawab atas itu"


"Kamu hanya milik saya Alenna Patricia*"


๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ


Tok! Tok! Tok!


Alenna mengetuk pintu kayu di hadapannya. Masih belum ada yang membukanya.


"Permisi!" Salam Alenna sambil terus mengetuk. Akhirnya pintu pun di buka oleh sang pemilik dan menampilkan Stephanie dengan senyum ramahnya. Alenna ikut tersenyum.


"Ayo sini len masuk!. Gak usah malu- malu ya, anggap aja rumah sendiri" Ramah Stephanie mempersilahkan Alenna masuk kedalam. Alenna mengangguk dan masuk kedalam setelah sebelumnya membuka sepatu yang ia kenakan.


"Oh ya len, mau main dimana?" Tanya Stephanie kepada Alenna.


"Dimana aja lah kak" Jawab Alenna. Stephanie mengangguk dan berjalan menuju tempat yang Alenna yakini adalah kamar milik Stephanie. Iapun mengikuti gadis didepannya.


"Mama Grace kemana kak?" Tanya Alenna yang sadar bahwa rumahnya sepi. Sampailah mereka di kamar Stephanie dan sang pemilik membuka pintunya lebar.


"Biasalah arisan dia mah" Jawab Stephanie dan Alenna mengangguk.


"Masuk len, kesini" Ajak Stephanie dan menyuruh Alenna duduk di sebuah sofa yang terdapat di dalam kamar itu. Ia menurut sambil melihat sekelilingnya. Kamar ini sangat nyaman dan sangat menampilkan kriteria seorang perempuan. Maksud Alenna adalah, kamar ini bernuansa layaknya kamar seorang anak perempuan dengan cat berwarna pink, banyak boneka-boneka cute yang di pajang di atas meja maupun di tempat tidur, dan hampir seluruh peralatan di kamar ini bernuansaย  pink. Mulai saat itu, Alenna sadar bahwa Stephanie sosok yang lucu dan asik.


"Kamu udah makan belum?" Tanya Stephanie kepada Alenna yang berada di samping nya.


"Udah kak tadi"


"Ohhh kalau mau apa-apa bilang aja ya. Jangan sungkan" Alenna tersenyum dan mengangguk.


"Iya kak"


"Oh ya len, hari ini kan hari libur... Kamu biasanya ngapain kalau ada waktu luang kayak gini?" Tanya Stephanie. Alenna berpikir sejenak.


"Hmm palingan cuma nerjemahin novel" Jawab Alenna. Stephanie memandangnya takjub.


"Kamu translator?" Alenna mengangguk.


Stephanie memandang Alenna dengan sorot mata yang takjub.


"Wah gila keren banget!. Aku nih dulu pengen banget jadi translator. Tapi setiap udah nerjemahin dan dikirim hasilnya, selalu ditolak. Kan jadinya kesel sendiri. Akhirnya aku berhenti deh buat nerjemahin" Curhat Stephanie Alenna hanya terkekeh pelan.


"Kalau itu sih emang udah biasa kak. Aku pertama kali nerjemahin juga kayak gitu. Cuman pas di cek lagi hasil work aku, ternyata emang ada penggunaan kata yang salah. Jadi itu bisa jadi alasannya. Mangkannya sebelum aku kirim, aku cek dulu minimal 3 kali"


Jelas Alenna. Stephanie mengangguk.


Iya kali ya, ada yang salah sama work gue.


Batin Stephanie.


"Kamu pasti di gajikan sama agensi nya?"


"Iya kak"


"Baguslah... Lumayan buat duit jajan" Kata Stephanie. Jujur batin Alenna sering sekali menghangat ketika bersama gadis di sampingnya ini. Stephanie orang yang welcome, cute, dan sangat ramah kepadanya. Alenna senang bisa kenal dengan Stephanie.


"Kalau kakak sendiri gimana?" Tanya Alenna.


"Kalau aku sih palingan cuma males-malesan di kamar. Nonton, main HP, laptop, sama baca novel aja. Udah gitu doang. Abis rasanya males banget buat gerak kesana kemari. Paling mentok jalan-jalan bareng keluarga" Jawab Stephanie. Disaat yang bersamaan, Alenna ingin seperti itu.


Ia ingin ber-santai-santai dan bermalas-malasan. Tapi keadaan memaksanya untuk bekerja lebih dari yang ia inginkan. Memang bukan kerja fisik, tetapi kerja pikiran. Memikirkan betapa rumitnya hidup Alenna saja sudah membuat Alenna geleng-geleng kepala sendiri. Apalagi Stephanie bisa berlibur bersama keluarga dan bersenang-senang. Di bandingkan dengan Alenna, sangat lah berbeda. Karna itulah Alenna ingin seperti Stephanie.


"Enak ya kak bisa santai-santai, beda sama aku. Hehe" Entah kenapa kalimat itu meluncur saja dari mulut Alenna. Dia sendiri tidak sadar. Stephanie mengerutkan alis.

__ADS_1


"Lho... Emangnya kamu gak pernah santai-santai atau liburan sama keluarga gitu?" Tanya Stephanie membuat Alenna menegakkan duduknya dan tersadar apa yang ia katakan barusan.


Aduh keceplosan kan gue.


Gerutunya dalam hati.


"Eh ma-maksudnya bukan gitu. Aku sering kok liburan sama keluarga, hampir tiap minggu malahan. Saking seringnya jalan-jalan, jadi gak ada waktu buat males malesan karna harus siapin ini, siapin itu" Alenna menggerutu didalam hati. Lagi-lagi dia berbohong. Oh ayolah, kenapa Alenna terus saja berpura-pura bahagia? Padahal kenyataannya tidak!.


"Ohhh gitu. Kirain gak pernah. Kan ngenes banget rasanya"


Iya kak, gue emang ngenes banget. Hidup gue lebih ngenes dari pada hidupnya lucinta Luna yang selalu di bully satu Indonesia.


Batin Alenna.


Lah... Kok bawa-bawa lucinta luna?


Batin Alenna.


"Ya enggak mungkin lah kak" Ujar Alenna.


Setelah perbincangan tersebut, Alenna dan Stephanie mengobrolkan hal-hal lain yang tepat untuk di perbincangkan dengan sesekali gelak tawa karna beberapa hal yang mengundang gelak tawa. Mereka tidak bergosip. Bukan. Tapi hanya bercerita seputar pengalaman. Alenna pasti selalu membagikan kisah hidup nya yang menyenangkan saja, tidak mungkin yang sebenarnya. Ia tak mau terlihat menyedihkan didepan orang lain.


Tak terasa hari sudah mulai menjelang sore, namun Grace belum kembali kerumah. Steven? Dia entah kemana.


"Eh Alenna, aku ambil air dulu ya. Kamu pasti haus" Kata Stephanie.


"Hm iya kak makasih. Maaf ngerepotin" Kata Alenna. Jujur tenggorokannya kering karna terus saja berbicara. Namun ia senang.


"Iya gapapa. Tunggu sini ya" Stephanie beranjak dari duduknya dan pergi dari kamar dan menutup pintu.


Alenna memejamkan matanya sejenak merilekskan pikirannya.


"Akh!" Rintis Alenna memegangi dadanya yang terasa nyeri secara tiba-tiba. Gadis itu meremas bajunya. Sungguh Alenna menahan rasa sakit yang bisa muncul kapan saja. Dadanya terasa sangat nyeri. Ingin menangis rasanya. Alenna segera membuka tasnya dan mencari obat yang biasa ia bawa, namun tidak kunjung ketemu.


"Shit!. Please jangan sekarang. Akh!" Gumam Alenna sambil terus berperang dengan rasa sakit di dadanya. Tak sadar setetes air mata mengalir di matanya.


Gue harus pergi dari sini sekarang!.


Batin Alenna.ย 


Disisi lain.


"Lo ngapain kesini lagi sih?!"


Geram Steven kepada gadis yang membututinya masuk kedalam rumah.


"Steven, aku bener-bener minta maaf... Aku gak bermak-"


"Stop! Keluar dari sini sekarang juga!!" Bentak Steven. Namun gadis itu seolah menulikan telinganya. Gadis itu memeluk lengan Steven erat.


"Aku nyesel Steven maafin aku. Aku bisa jelasin semuanya" Steven terdiam sejenak. Ia menarik napas. Sekelebat, sosok Alenna terlintas di pikirannya. Segera ia menghentakkan tangan sangat gadis dengan kasar.


"Lo punya kuping gak sih?! Keluar sekarang juga!. Murahan banget sih lo!"


"Ada apaan nih ribut ribut?" Steven menoleh kearah sumber suara. Ia melihat Stephanie yang baru saja keluar dari kamar. Lebih tepatnya baru turun tangga dengan tatapan bingung. Stephanie menghampiri mereka, Tatapan Stephanie dan gadis itu bertemu. Namun Stephanie menatapnya tajam.


"Elo?"


"Ngapain lo kesini lagi?" Tanya Stephanie tajam.


Gadis itu tak peduli dengan Stephanie. Dia fokus kepada Steven.


"Aku mohon Steven... Maafin aku" Alih-alih menjawab pertanyaan Stephanie, gadis itu malah mengabaikan nya. Stephanie semakin memancarkan aura hitamnya.


"Weh ditanyain juga!. Kurang ajar banget loh malah ngacangin!" Kesal Stephanie.


"Udah kak gak perlu diurus cewek kayak gini. Cewek murahan, gak tau malu!" Ketus Steven tersenyum miring.

__ADS_1


"Steven... Aku masih cinta sama kamu!. Kamu kenapa malah jadi kayak gini?" Kata sang gadis dengan wajah sedih.


Steven tertawa garing.


"Kenapa gue jadi kayak gini?. Itu semua gara gara lo sialan!" Balas Steven dengan menunjuk gadis itu.


"Udah deh lo mending pergi dari sini!" Usir Steven.


"Gak! Aku gak mau. Aku masih cinta sama kamu Steven, kamu tega sama aku? Kita udah pacaran lama. Ini pasti gara-gara Sarah kan?. Dia cewek yang udah bikin kamu jauh dari aku!"


Oceh gadis itu kini mulai menangis.


Najis banget deh nih cewek.


Tak mau ikut campur. Stephanie hanya diam menyaksikan drama sang gadis depannya.


"Gak usah lo sebut-sebut nama dia lagi di depan gue!" Steven benar-benar kesal sekarang. Ia tak mau menguapkan emosinya kepada seorang wanita. Tapi kalau wanitanya begini, siapa yang tahan?


"Kenapa emangnya?. Bil-"


"Kak Stephanie" Ucapan gadis itu terpotong saat seorang gadis lain bersuara dengan sangat lemah.


Semua teralihkan dengan gadis yang kini berdiri di dekat mereka. Wajah gadis itu sangat pucat dan matanya memerah terlihat seperti tengah menangis.


Steven terkejut setengah mati melihat kehadiran kekasihnya disini.


Stephanie memang tak terkejut lagi melihat Alenna dirumah ini, namun melihat keadaan Alenna seperti ini membuatnya sama terkejutnya dengan Steven. Di tambah kehadiran gadis itu disini, Stephanie berani bertaruh bahwa Alenna mendengar semuanya.


"Alenna?" Kata Steven tak menyangka.


Alenna menatap Steven sekilas namun segera ia mengalihkannya kepada Stephanie. Dengan rasa sakit yang masih sama terus menyerangnya, Alenna berusaha tersenyum dengan bibir pucatnya.


"Kak, Alenna pulang dulu ya" Pamit Alenna segera berlalu begitu saja tanpa menunggu jawaban Stephanie. Ia tak peduli dengan Steven yang mengejarnya dan memanggil namanya. Segera ia masuk kedalam mobil dan menyalakannya dengan terburu-buru sambil sesekali memegangi dada dan merintis. Ia sudah menagis sekarang.


"Alenna!"


"Alenna stop len!"


"Alenna!"


"Aku bisa jelasin!!"


"Alenna tolong jangan marah!"


"Alenna!"


Tak peduli dengan Steven, Alenna segera pergi dengan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah Steven.


Demi apapun sakit...


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


"Kemana dia pergi?"


"Dia pergi dari rumah itu tuan"


"Baik, terus ikuti dia. Kirim keberadaan nya. Saya akan menyususl"


"Baik tuan"


Pria berseragam itu memutuskan sambungannya dan mulai menancapkan gas mengikuti sebuah mobil hitam di depannya dengan jarak yang tidak terlalu dekat. Agar tidak di curigai.


๐ŸŒบ๐Ÿ’œ๐ŸŒบ


aduh... Alenna kenapa ya?


jangan lupa untuk Vote, comment, dan sukai novel ini. kalau perlu kasih opini kalian tentang novelnya. makasih๐Ÿ’œ

__ADS_1


__ADS_2