BROKEN

BROKEN
secercah harapan


__ADS_3

Baiklah, ikhlaskan apa saja yang telah Sarah lakukan, Alenna anggap itu semua sebagai tanda dukungan dan rasa 'sayang' dari Sarah.


Gue akan berhenti diam disaat gue udah bener bener gak kuat dan bener-bener letih. Tapi di saat yang bersamaan, gue akan pergi. Setelah itu, semua akan berjalan sesuai seperti semestinya.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


From: Steven๐Ÿ’œ


Aku tunggu di parkiran๐Ÿ‘‹


Alenna tersenyum tipis saat membaca pesan tersebut. Segera ia memasukkan handphonenya kedalam saku baju dan berjalan keluar kelas dengan menenteng tas.


Tak butuh waktu lama, Alenna sudah sampai di parkiran dan ia melihat Steven sudah berada di motornya bersandar.


Alenna menghampiri, namun dengan diam-diam. Steven tidak menyadari karna ia tengah berkutat dengan ponselnya, sampai tidak sadar bahwa Alenna sudah berada di belakangnya.


"DORRR!" Steven terlonjak kaget karna Alenna yang tiba-tiba menepuk bahunya sambil berteriak kencang.


"Ya ampun, hampir nih jantung mau copot" Ucap Steven mengelus dada dan menetralkan napasnya. Alenna nyengir tak berdosa.


"Kalau copot ya pasang lagi lah" Kata Alenna enteng. Steven mengacak rambut Alenna gemas.


"Ada ada kamu nih"


"Abis fokus banget main hpnya" Steven segera memasukkan ponselnya kedalam saku celana. Lalu kembali menatap Alenna.


"Udah kan"


"Hmm iya. Yodah ayuk pulang!" Ajak Alenna.


"Pulang kemana?" Tanya Steven. Alenna mengerutkan alis heran.


"Kok nanya? Pulang kerumah aku lah... Emang kerumah siapa lagi?" Gemas Alenna. Yang benar saja...


"Ohhhh kirain kerumah kita" Alenna bingung.


Kerumah kita? Maksudnya?.


Batin Alenna. Steven menyadari mimik wajah Alenna yang bingung.


"Kerumah kita? Emang ada?"


"Ada dong..."


"Dimana?"


"Nanti"


"Kapan?"


"Pas kita udah sah"


Wajah Alenna memanas mendengar itu.


Kang gombal dasar!


Batin Alenna. Steven terkekeh lalu mencubit pipi Alenn gemas.


"Dih sakit" Steven pun berhenti. Segera ia menaiki motornya setelah memasang helm di kepala. Alenna sedikit menjauh, membiarkan Steven mengeluarkan motornya dulu dari baris parkiran dan setelahnya ikut menaiki motor tersebut. Steven memberikannya helm juga untuk Alenna.


"Ayo jalan" Ujar Alenna saat sudah selesai memakai helm.


"Jalan? Kan kita naik motor"


Kata Steven masih belum menancapkan gas.


"Maksudnya jalanin motornya, ganteng..." Gemas Alenna.


"Ohhh ngomong dong... "


Kok kesel yah?


Batin Alenna.


"Btw, makasih udah di bilang ganteng"


Kata Steven sambil melihat Alenna lewat kaca spion, Alenna pun sama melihat Steven lewat spion.


"Emang ganteng kan? Masa iya cantik"


"Udah ah, kapan jalannya ini?" Steven pun menyalakan mesin motornya dan segera pergi keluar dari pekarangan sekolah dengan kecepatan sedang.


"Kerumah aku dulu ya" kata Steven.


"Iya" Tanpa basa basi, Alenna menyetujuinya.

__ADS_1


"Pegangan yang kenceng" Kaga Steven memberitahu Alenna. Jujur Alenna bingung harus berpegangan seperti apa. Akhirnya ia pun memegang kedua pundak Steven.


"Udah" Jawab Alenna.


"Jangan gitu dong, kayak lagi naik ojek aja" Alenna menghembuskan napas pelan. Ia pun memegang kepala Steven, lebih tepatnya di helmnya.


"Ya enggak gitu juga kali" Alenna berdecak pelan, Ia tahu maksud Steven.


"Terus gimana dong?" Tanya Alenna frustasi. Tangan Steven yang sebelah kiri, memindahkan tangan Alenna satu persatu menuju perutnya, sedangkan tangan satunya lagi ia gunakan untuk menyetir. Alenna menurut. Oh anggap ini berlebihan.


"Nah gini" Ucap Steven setelah membuat Alenna seperti 'memeluknya'. Secara kedua tangan Alenna meringkuh di perut Steven, seolah sedang memeluk. Tapi tentu saja masih ada jarak, Alenna tak berani berdekatan lebih dari ini. Apa kata rumput yang bergoyang nantinya?.


"Modus!" Ketus Alenna. Steven hanya menyengir saja dan kembali fokus menyetir.


Sepanjang perjalanan, Steven dan Alenna bercerita banyak hal, dari mulai warna kesukaan, tempat kesukaan, makanan kesukaan, kebiasaan sehari-hari dan lain lain. Mereka juga bercanda gurau saat ada beberapa bahasan yang menggelitik perut mereka.


Sampai pada akhirnya mereka sampai di rumah Steven.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


"Ayo masuk" Ajak Steven sambil menggenggam tangan Alenna yang kini sudah berdebar jantungnya karna hal tersebut. Ia pun mengikuti Steven yang menarik nya memasuki rumah sambil menunduk menutupi rona merah di pipinya.


Saat sampai di ruang tamu, Alenna sangat terkejut setengah mati. matanya terbuka lebar sakin terkejut nya.


Alenna memperhatikan sosok pria yang tengah duduk di sebuah sofa dengan kaki yang menyilang. Pria itu menyadari kehadiran Steven dan Alenna.


"Eh ada bang Leksi..." Tegur Steven mendekat kearah Leksi. Karna tangan Steven masih menggenggam tangan Alenna, otomatis Alenna juga ikut mendekat bersamanya.


"Lagi nungguin kak Stephanie ya bang?"


Tanya Steven basa-basi.


"Iya nih, kakak mu lama banget" Jawab Leksi.


"Ohhh udah biasa dia mah. Paling juga kelarnya satu abad lagi" Canda Steven. Namun Leksi hanya memasang senyum tipis, sangat tipis.


Alenna hanya diam mematung. Leksi melirik Alenna. Steven yang tau arah lirikan Leksi tertuju, segera ia menarik Alenna untuk sedikit maju kedepan.


Alenna bingung.


"Kenalinย bang, ini Alenna pacar Steven. Dan Alenna ini bang Leksi, tunangannya kak Stephanie" Alenna bingung harus bereaksi seperti apa. Jadi ia hanya mengangguk pelan sambil menatap Leksi ragu. Leksi pun menatapnya dengan ekspresi datar, berbeda dengan tadi.


"Iya, saya udah pernah ketemu dia. Tapi saya baru tahu kalau dia pacar kamu" Begitulah tanggapan Leksi. Alenna mengerutkan alis.


"Iya, saya udah pernah ketemu dia"


"Iya, baru jadian hari ini. Ya gak sayang?" Alenna menunduk untuk menutupi rona merah di pipinya.


Steven sialan.


Batin Alenna. Steven sadar bahwa Alenna malu dan terkekeh pelan. Sedangkan Leksi, hanya diam sambil memperhatikan duo sejoli itu.


"Yodah, kamu duduk sini dulu. Aku mau ke kamar dulu sebentar" Kini Steven berbicara kepada Alenna. Yang di ajak bicara hanya menurut lalu duduk di sofa. Steven pun pergi ke kamarnya.


Ekhem! Alenna gugup. Ia, dia keringat dingin dan ia juga gemetar. Entahlah Alenna sendiri tidak tahu. Mungkin karna jarak antara Leksi dan dirinya tidak terlalu jauh, namun tidak bisa dibilang dekat juga.


Hening...


Di saat seperti ini, Alenna ingin sekali berbicara kepada Leksi untuk meminta penjelasan. Tapi entah kenapa lidahnya keluh.


"Alenna... " Alenna mematung. Apakah Leksi baru saja memanggilnya?. Atau hanya halusinasi?.


Untuk memastikan, Alenna mendongak dan menatap Leksi dan BOOM! Leksi juga menatapnya.


"Y-ya?" Tanya Alenna gugup. Jantungnya berdetak lebih cepat. Leksi menatapnya serius dan tajam namun dengan ekspresi datar.


"Kamu masih ingat abang kan?"


Deg!


Tentu aja!. Gue masih inget lo bang sampe sekarang!. Gak mungkin gue ngelupain lo!. Yang ada gue yang berpikir kayak gitu ke lo!.


Batin Alenna. Alenna tercengang mendengar kata 'abang' yang keluar dari mulut Leksi. Ingin sekali dia menangis. Secercah kebahagiaan mulai menggerayangi hati Alenna.


Alenna pun mengangguk pelan, pandangannya tak lepas dari mata Leksi.


Tatapan mata Leksi yang tadinya tajam, kini perlahan mulai melembut. Alenna sedikit lega. Leksi berdiri dari duduknya, Alenna memperhatikan.


"Abang mau bicara pribadi sama kamu. Temuin abang di cafe Malaka besok pagi" Alenna mengerutkan alis. Perlahan Alenna sadar bahwa leksi mengajaknya untuk berbicara empat mata. Alenna hanya diam tak menjawab.


"Sayang! Maaf la-" Stephanie menghentikan ucapannya saat ia menuruni tangga dan ingin menghampiri Leksi, namun kini terkejut melihat Leksi tak lagi sendiri. Ada Alenna bersamanya.


Alenna pun bangkit dari duduknya dan menatap Stephanie.


"Alenna?" Ucap Stephanie mendekati Alenna. Alenna tersenyum canggung.

__ADS_1


"Iya kak, ini Alenna. Masih inget kan?" Tanya Alenna. Stephanie tersenyum ramah kepada Alenna.


"Masih lah! Yakali udah lupa aja" Kata Stephanie.


"Oh ya, Kamu kesini sama Steven ya?. Terus Steven nya mana?" Tanya Stephanie ramah.


"Lagi ke kamar sebentar" Jawab Alenna. Stephanie hanya mengangguk.


"Ohh gitu... "


"Oh ya! Kado yang kamu kasih, bagus banget tau... Lucu lagi. Makasih ya!"


Alenna tersenyum dan mengangguk.


Senang rasanya saat pemberiannya di sukai dan di hargai.


"Iya kak sama-sama. Maaf kalau harganya gak seberapa"


"Iya gapapa kok! Itu udah Bagus banget kok. Kakak suka"


"Syukurlah... "


"Btw, gimana sama Steven?" Tanya Stephanie membuat Alenna mengerutkan alis.


"Maksudnya kak?"


Tanya Alenna bingung.


"Gimana Steven udah nembak kamu belum? Habisnya tuh kemarin dia kayak orang gila, frustasi gitu karna dia bingung gimana caranya nembak kamu. Tapi kamu udah di tembak belum?"


Alenna menelan ludahnya. Pernyataan Stephanie membuatnya tercengang dan malu saat mendengar nya. Bukankah ini terlalu gamblang?.


"Dia udah jadi milik gue!" Steven yang tiba-tiba datang dari arah kamar sambil menenteng sebuah tas dan berjalan mendekat. Steven berdiri di samping Alenna. Alenna kaget mendengar penuturan Steven. Sungguh ia malu...


"Oh jadi udah jadian...akhirnya gak bakalan ada yang kayak orang gila yang frustasi karna cinta lagi di rumah ini" Sindir Stephanie. Steven menggaruk tengkuknya.


"Guling-guling, jambak rambut, teriak gak jelas, mondar-mandir kayak setrikaan, dan ngomong sendiri. Sekarang udah gak ada ya?"


"Apaan sih lo kak"


Jujur Steven malu, baginya itu adalah aib. Dan kakaknya yang laknat itu telah membongkar nya, bahkan didepan kekasihnya sendiri.


Malu jir malu!.


"Udah ah, gue mau pergi dulu. Bye!"


"Ayo sayang" Stephanie menarik tangan Leksi, mengajaknya keluar rumah. Beberapa saat, tatapan Alenna dan Leksi bertemu dan...


Alenna merasa bahwa Leksi tersenyum tipis kearahnya.


"Gak usah dengerin dia ya. Dia emang suka ngarang" Kata Steven dengan malu-malu. Alenna menatap Steven dan sekelibat ide jahil muncul di otaknya.


"Oh jadi sampe, Guling-guling, jambak rambut, teriak gak jelas, mondar-mandir kayak setrikaan, dan ngomong sendiri?" Goda Alenna mengulang perkataan Stephanie tadi dengan senyum jahil.


"Dih apaan sih, enggak" Alenna tertawa saat berhasil menggoda Steven. Pipinya merah.


Aduh lucu banget sih...


Karna gemas, Alenna mencubit kedua pipi Steven.


"Aduduh sakit" Rintis Steven. Alenna pun melepaskan cubitannya di pipi Steven.


"Udah yuk!. Aku mau pulang, capek"


Steven mengangguk, lalu menarik tangan Alenna keluar dari rumah. Steven pun menutup pintunya rapat.


Mereka berjalan menuju motor ninja kesayangan Steven yang berwarna hitam tersebut. Itu adalah warna kesukaan Alenna.


Tak butuh waktu lama, mereka sudah pergi dari pekarangan rumah Steven.


"Kamu nanti mau kemana lagi?" Tanya Alenna. Ingat, posisinya masih sama seperti saat Steven membonceng Alenna ke rumahnya.


"Mau kerumah Julio" Jawab Steven masih fokus menyetir.


"ngapain?" Tanya Alenna.


"Biasa, ngumpul-ngumpul ala cowok" Alenna mengerti maksud Steven.


"Oh" Alenna hanya meng'oh'kan saja.


"Jangan sampe larut malam"


Kata Alenna.


"Siap tuan putri!" Alenna tersenyum. Steven pun ikut tersenyum saat melihat Alenna tersenyum lewat kaca spion.

__ADS_1


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


__ADS_2