BROKEN

BROKEN
penjelasan leksi


__ADS_3

*Ternyata anda mengawasi saya tuan kenzo~Leksi


Jadi kamu sudah punya pacar Alenna. Baiklah, lihat... Apa yang bisa saya lakukan~Kenzo


Aduh...bangun bangun Kok kuping gue panas sih?~Alenna


Gue kok curiga ya?~Stephanie*


Keesokan harinya


"Aduh lama amat sih!. Apa gue datengnya kecepetan ya?" Gumam Alenna gusar. Sudah 15 menit ia menunggu di cafe malaka. Ya sesuai perjanjian kemarin, Leksi meminta nya untuk datang. Tapi ia tidak tahu apa yang mau di bicarakan Leksi. Menurut Alenna, ini waktu yang tepat untuk meminta penjelasan.


Karna bosan, Alenna menenggelamkan kepalanya di atas meja dengan tangan sebagai penopang.


Apa dia gak bakal dateng ya?. Apa itu gue salah denger... Tapi gak mungkin ah... Apa dia cuma ngomong doang?.


Alenna mulai gusar. Entahlah, ia takut Leksi berbohong.


"Maaf bikin nunggu lama" Alenna mendongakkan kepala dan melihat sosok Leksi yang sudah berada di hadapannya dan bergerak untuk duduk. Alenna membenarkan posisi duduknya.


"Hm" Alenna hanya bergumam sebagai jawaban. Jujur, ia menjadi canggung sekarang. Sudah lama ia tidak berhadap-hadapan seperti ini, padahal dulu sangat sering. Mungkin faktor sudah lama tidak bertemu.


"Gimana kabar kamu?" Tanya Leksi masih dengan nada dingin namun terlihat lebih rileks ekspresi nya.


"Baik-baik aja" Jawab Alenna. Sungguh ia mengutuk ucapannya tadi. Jelas-jelas ia sedang tidak baik-baik saja.


"Baguslah kalau gitu"


Ucap Leksi.


"Bang Leksi gimana?" Tanya Alenna. Leksi mematung selama beberapa saat saat Alenna memanggilnya dengan kata 'bang' sudah lama ia tidak mendengar kata itu dari mulut Alenna.


"Seperti yang kamu lihat sekarang. Saya baik-baik aja" Alenna mengangguk paham. Alenna bertanya hanya untuk berbasa-basi saja. Biar tidak canggung.


"Bang..." Panggil Alenna. Leksi menatapnya serius.


"Apa?"


"Bang Leksi mau ngomong apaan?" Tanya Alenna to the point. Leksi yang tahu betul bahwa Alenna sangat suka langsung pada inti dan tidak suka terbelit-belit. Kini bersiap untuk bercerita.


"Sebelum itu, ada yang mau kamu tanyain dulu gak ke abang?" Ini kesempatan yang bagus. Alenna bisa langsung bertanya.


"Ada. Banyak malahan" Kata Alenna. Leksi menaikan sebelah alisnya.


"Apa?"


"Enggak, sekarang bang Leksi jelasin dulu apa yang sebenarnya. Secara lengkap!" Tuntut Alenna kepada Alenna.


Ekhem Leksi berdeham. Pria itu mengalihkan pandangannya sebentar, lalu kembali menatap Alenna. Karna penasaran, Alenna hanya diam menunggu.


"Bentar, kamu gak mesen makanan?" Tanya Leksi yang baru menyadari bahwa Alenna tidak memesan apapun sedaritadi. Alenna menggeleng.


"Enggak" Jawab Alenna singkat.


"Yakin? Kamu udah makan?" Tanya Leksi lagi sambil menaikkan satu alis.


"Udah kok" Jawab Alenna singkat. Leksi hanya mengangguk pelan. Lalu menarik napas dan menghembuskannya.


"Baik, abang bakalan jelasin"


"saat abang pindah ke Amerika dan tinggal lumayan lama disana. Kamu tahu kan, keluarga abang pindah ke Amerika untuk kerja?. Abang pun tumbuh besar disana. setelah sudah lama tinggal disana, abang melakukan operasi pita suara dan jadilah sekarang, abang bisa berbicara. Nah suatu hari, orang tua abang pergi ke perusahaan untuk kerja. Abang sendirian di rumah. Yang abang lakuin cuma baca buku, belajar, makan, tidur, mandi, Kuliah, dan begitu seterusnya. Sangat Membosankan.


Abang seharian dirumah cuma ngelakuin hal itu sampe mama papa pulang pada malam hari, tapi hari itu papa sama mama gak pulang. Abang mulai khawatir sama mereka, dan secepat mungkin, abang minta tolong ke pembantu rumah tangga abang untuk anter abang ke perusahaan mama-papa. Dan... "

__ADS_1


Leksi berhenti sebentar, matanya memerah dan nampak seperti menahan tangis. Alenna bingung dan masih diam, menunggu kelanjutan dari cerita Leksi. Ia sadar, bahwa Leksi ingin menangis. Oke, satu pertanyaan Alenna sudah terjawab, bahwa Leksi melakukan operasi pita suara. Jujur, Alenna senang pada saat itu, sungguh.


"Dan...?" Tanya Alenna.


"Dan abang nemuin mereka udah tergeletak di lantai tempat mereka berkerja dengan luka tembak di tubuh yang udah gak berdaya" Setetes air mata turun dari mata Leksi. Alenna yang melihat itu, ikut merasa iba dan sedih atas apa yang dialami oleh sang 'kakaknya' ini. Alenna tak menyangka bahwa orang tua Leksi telah tiada dengan cara yang sangat memprihatinkan.


"Alenna turut berduka bang... " Ucap Alenna pelan.


"Emang siapa pelakunya?" tanya Alenna pelan. Leksi terdiam sebentar dengan tatapan sendu dengan mata yang di palingkan ke arah lain.


"Abang gak tau" Jawab Leksi pelan. Jujur, Alenna merasa kecewa sekaligus tidak yakin dengan jawaban Leksi. Tapi jika memang itu benar, Alenna tidak bisa berbuat apapun lagi untuk memaksa Leksi berkata yang sejujurnya.


"Dan setelah kejadian itu, perusahaan mama-papa jatuh ke tangan abang. Sebab itu, abang bertekad untuk mencari siapa pembunuhnya. Segala upaya udah abang lakuin, tapi abang mau cari bukti lain. Karna itu, abang kembali ke Indonesia"


Oke, satu pertanyaan sudah terjawab lagi, kenapa Leksi tiba-tiba kembali ke Indonesia?. karna ia ingin mencari bukti kebenaran dan siapa pelaku yang telah membunuh kedua orang tuanya.


Baiklah, Alenna mengerti.


"Saat kembali ke Indonesia, abang ketemu sama Stephanie yang notabenya adalah anak dari kerabat kerja abang. Mulai dari situ, abang pacaran sama dia dan sampai tunangan seperti sekarang. Sebenarnya, abang melakukan itu karna abang butuh mencari pembunuhnya dan memanfaatkan keluarga Stephanie untuk menambah kekuasaan untuk menangkap sang pembunuh. Namun sampai sekarang, abang udah mulai ada rasa sama dia. Abang udah tulus sama dia. Abang... Cinta sama dia" Alenna terdiam mendengar pernyataan terakhir Leksi. Alenna tidak merasa sedih atau sakit, bukan. Tapi hanya sekedar kaget saja. Leksi menatap mata Alenna dengan tatapan yang susah di artikan. Mereka terdiam dengan saling menatap, hingga Alenna memilih untuk melepaskan kontak mata mereka dan sedikit memalingkan wajah.


"Oke Alenna ngerti. Terus abis itu apalagi?" Tanya Alenna menatap Leksi lagi.


"Dan satu fakta yang perlu kamu ketahui lagi, Alenna. Saat di pesta malam itu, abang bersikap seolah-olah tidak mengenal kamu dan bahkan gak mau berbasa-basi sama kamu, itu abang lakukan karna ada alasan"


"Apa?"


"Alasan pertama adalah abang gak mau bikin Stephanie berpikir yang aneh-aneh. Abang gak mau dia berpikir yang di luar ekspetasi abang. Karna abang tahu, Stephanie adalah tipe gadis pencemburu dan suka berpikir yang negatif mengenai seseorang saat pertama kali bertemu. Karna itu, abang kaget saat ngeliat kamu dan Stephanie bertemu dan Stephanie langsung enjoy sama kamu. Karna biasanya dia gak kayak gitu sama orang, terutama sama perempuan"


Jelas Leksi. Jujur Alenna merasa sedikit sedih karna alasan Leksi bersikap berbeda kepadanya.


Jadi bang Leksi gak mau kak Stephanie tau kalau gue sama dia udah kenal dari lama? Kenapa? Kenapa hanya karna itu? Apa dia malu sama gue?. Segitu cintanya kah bang Leksi ke kak Stephanie?. Sampai-sampai dia gak mau nganggep gue pada saat itu?.


Batin Alenna. Jika diperhatikan dengan jelas, pancaran mata Alenna terlihat nanar sekarang. Entahlah, Alenna merasa sedih saja karna itu.


Jadi, gue ngerasa kalau kedekatan gue dan bang Leksi selama bertahun-tahun gak ada artinya saat kak Stephanie datang. Itulah yang Alenna rasakan.


Alenna yang sadar bahwa Leksi memperhatikan wajahnya yang kini terlihat sedu, segera memalingkan wajah sejenak. Leksi menarik napas dan menghembuskan napasnya pelan.


"Alasan kedua adalah, karna... Abang mendapat sebuah ancaman saat di Amerika untuk tidak mendekati kamu lagi" Alenna mengerutkan alisnya mendengar itu.


Ancaman?


Batin Alenna.


"Siapa yang ngancem?" Tanya Alenna penasaran. Leksi mengusap wajahnya gusar. Alenna semakin bingung di buatnya.


"Abang gak bisa jelasin itu sama kamu sekarang"


"Kenapa?!" Tanya Alenna kesal bercampur dengan penasaran. Alenna ingin mengetahui segalanya, ia tidak mau tanggung-tanggung.


Leksi menggenggam tangan Alenna yang berada di atas meja dan mengelus nya. Perlu di ketahui, Alenna tidak merasakan apapun, Seperti adanya rasa detak jantung yang semakin kencang. Tidak Alenna tidak merasakannya. Hanya saja, rasanya tidak asing saja dengan sentuhan Leksi. Baiklah lupakan sejenak perasaan Alenna.


"Percaya sama abang, abang pasti kasih tau kamu alasannya. Tapi gak sekarang. Tolong kamu mengerti" Kata Leksi sambil mengelus tangan Alenna dan menatap mata Alenna penuh keseriusan. Alenna terdiam. Sampai saatnya, Alenna menarik tangannya dari Leksi dan duduk dengan tegak.


"O-oke, Alenna bakal tunggu penjelasan bang Leksi. Tapi bang Leksi harus janji kalau bakalan ngasih tau Alenna" Tuntut Alenna kepada Leksi. Leksi tersenyum dan mengacungkan jari kelingking. 


"Abang janji" Alenna menautkan jari kelingking nya pada jari kelingking Leksi.


"Alenna yakin bang Leksi gak suka ingkar janji" Kata Alenna membuat Leksi tersenyum manis. Alenna pun ikut tersenyum melihat itu. Sungguh, Alenna merindukan senyum Leksi yang seperti ini. Dulu, Alenna sangat sering melihat senyum manis ini bahkan setiap saat, namun sekarang rasanya telah berbeda. Sulit untuk melihatnya barang sekali.


Alenna sadar bahwa Leksi sudah memiliki dambaan hati, yaitu Stephanie. Dan Alenna juga yakin bahwa Stephanie dapat membuat Leksi lebih sering tersenyum di bandingkan dirinya yang dulu. Ya, setidaknya Alenna yakin itu.


Prinsipnya adalah, ia akan berusaha untuk membuat orang yang ia cintai dan sayangi tersenyum bahagia. Bahkan jika syaratnya adalah harus mengiris hatinya terlebih dahulu, maka Alenna akan melakukannya demi orang yang ia cintai tersenyum bahagia.

__ADS_1


Drrrtttt drrttttt drrttt


Handphone Leksi bergetar. Segera tautan jari mereka terlepas dan Leksi pun mengambil benda pipih itu dari saku celananya dan melihat siapa peneleponnya lewat layar slide.


Sedangkan Alenna hanya terdiam memperhatikan Leksi. Oh, jika kalian bertanya kenapa Alenna tidak memesan hidangan saja? Hanya dua pilihan antara  karna Alenna tidak mau makan atau ia sedang tidak lapar. Ingat, jangan berpikir bahwa Alenna tidak punya uang.


Leksi menempelkan handphone tersebut di telinganya.


"Hallo?"


"..... "


"Lagi di cafe, kenapa??"


"....... "


"Maaf"


"......"


"Mau ngapain?"


"........ "


"Hehehe oke oke. Tunggu sebentar"


"...... "


"Iya iya bawel"


"....... "


"Oke bye"


Selesai berbincang lewat telepon, Leksi kembali menaruh handphone nya kedalam saku celana dan menatap Alenna yang juga tengah menatapnya.


"Maaf Alenna, abang harus pergi sekarang. Stephanie ngajak abang nganterin dia ke toko baju" Kata Leksi Alenna tersenyum dan mengangguk.


"Iya bang gapapa, silahkan. Kasian kak Stephanie udah nungguin" Ujar Alenna yang diangguki oleh Leksi. Leksi pun beranjak dari duduknya di ikuti oleh Alenna yang ikut bangun dari duduknya.


"Kamu gak pulang. Abang anter aja ya?" Tanya Leksi. Alenna segera menggeleng.


"Jangan!. Bang Leksi langsung ke kak Stephanie aja kasihan dia udah nunggu, lagian Alenna juga masih mau disini kok" Kata Alenna menolak.


"Yaudah, abang pergi dulu ya" Pamit Leksi. Alenna mengangguk.


"Iya hati hati bang!" Kata Alenna sedikit berteriak saat Leksi mulai berbalik dan melangkah. Alenna memperhatikan punggung Leksi yang berjalan, walaupun masih belum jauh. Namun tiba-tiba, Leksi berhenti dan berbalik. Alenna mengerutkan alis.


Leksi berjalan mendekatinya.


"Kenapa bang? Ada yang ketingg-"


Grep!


Alenna melebarkan matanya saat Leksi tiba-tiba saja memeluknya dengan erat sampai ia menghentikan kalimatnya. Bahkan ia sedikit berjinjit karna Leksi sedikit mengangkatnya saat memeluk.


Sungguh, Leksi memeluknya erat.  Perlahan Alenna mulai membalas pelukan Leksi sebagai tanda bahwa ia merindukan sosok pria yang ia anggap kakaknya ini.


Dengan suara berat, Leksi berkata.


"Abang kangen banget sama kamu, Alenna Patricia" Tanpa disadari, Alenna meneteskan air mata lalu memejamkan mata sejenak. Perlu di ketahui Tubuh Leksi lebih tinggi dari pada Alenna. Jika di bandingkan dengan kenzo, memang Leksi masih kalah. Namun bagi Alenna, tetap saja ia merasa paling pendek saat bersama dengan ketiga pria itu. Ya walaupun ia bisa dibilang mempunyai tinggi badan wanita ideal. Tapi yasudahlah... Memang biasanya juga pria lebih tinggi dari pada wanita. Ya kan?


"Alenna lebih kangen sama bang Leksi..."

__ADS_1


🌺🌺🌺


__ADS_2