
Brakkk!
Alenna membanting pintu dengan sangat keras dan masuk kedalam kamar. Ia tak tahu lagi dengan Johan yang asal saja menuduhnya. Alenna sungguh tak tahan.
Johan hanya diam, entah apa yang di pikirkan pria paruh baya tersebut.
Jujur apa yang di katakan Alenna, memang benar. Selama ini ia tidak pernah marah dengan Sarah, bahkan Alenna yang selalu ia marahi dan ujung-ujungnya Alenna yang kena tamparan darinya.
Sudahlah... Alenna memang terbiasa dengan semua ini. Jadi ia tidak mau terlalu dalam kesedihan. Toh nanti juga terulang lagi.
πππ
Gak habis pikir gue sama papa!. Bisa-bisanya dia nuduh gue ninggalin Sarah di acara pesta. Jangan kan ninggalin, gue aja gak tau kalau dia juga ikut!. Kurang ajar banget!.
Alenna menagis di dalam dekapan bantal dengan tubuh yang tengkurap.
Itu ia lakukan agar isak tangisnya tak terdengar. Ia tak mau terlihat benar-benar rapuh, ia tidak mau di anggap lemah, dan ia tidak mau Sarah tersenyum penuh kemenangan karna melihat keadaannya seperti ini. Sudah cukup!
Sudah berjam-jam Alenna menangis, entah apa yang ia tangisi sekarang. Apa karena sikap Leksi kepadanya atau karna marah kepada Sarah? Atau mungkin karna perkataan papanya yang sangat menohok?. Sepertinya itu benar. Alenna merasakan itu menjadi satu, kalian pasti tahukan bagaimana perasaan Alenna sekarang?.
Sakit, rapuh, hancur, sendiri, marah, kecewa, dan semua itu bercampur di hatinya. Ia lelah pikiran dan juga lelah hati.
"Alenna... "
"Alenna... Papa minta maaf" Johan, ya itu suara Johan yang terdengar di balik pintu. Alenna masih terdiam sambil terus menahan tangis. Ia dengar, namun ia tak mau menggubris nya. Alenna tak peduli...
"Alenna papa benar benar minta maaf, papa gak seperti yang kamu pikirkan. Papa minta maaf Alenna"
Halah! Bullshit, semua orang juga tau kalau itu cuma omong kosong!.
Nyinyir Alenna dalam hati.
Drrrttttt drrttttt
handphone Alenna berbunyi, ia pun mengambil handphone nya dengan malas dan membenarkan posisinya menjadi duduk.
My brother calling...
Nama tersebut terpampang di layar slide handphone Alenna. Alenna pun menggeser layar slide menuju panggilan jawab.
"Selamat malam Alenna, adek ku sayang! Abang kangen banget sama kamu tau... Abang pengen ketemu kamu. Alenna baik baik aja kan? Yakan? Gimana Sekolah nya?"
Heboh David menyambut awal panggilan. Alenna sedikit menjauhkan handphone dari telinganya karna suara berisik David.
Sebelum Alenna menjawab, ia menetralkan dulu suaranya.
"Selamat pagi bang... Alenna juga kangen kok sama abang. Kalau kangen dateng dong kesini, biar bang David liat sendiri Alenna baik-baik aja atau enggak" Ucap Alenna setenang mungkin. Ia tak mau David tahu kalau ia sedang sedih dan hancur sekarang.
"Dek... Kok suaranya serek sih? Abis nangis ya? Hayooo ngaku, kenapa kamu?" Tanya David curiga...
__ADS_1
Alenna sudah menduga akan hal itu, namun sebisa mungkin ia harus menutupinya.
"Enggak kok, Alenna tadi abis baca novel, ceritanya sedih. Jadi Alenna nangis deh, hehehe" Bohong Alenna agar David percaya.
"Dasar kamu. Oh ya, nanti abang mau kasih kamu kejutan nih... "
"Kejutan apa bang?"
"Ada deng, kamu tunggu aja besok!. Oke?"
"Apa sih... Bang, Alenna penasaran nih"
"tunggu aja besok. Pasti bakalan tau. Udah sana tidur, disana udah malem kan?"
"Iya udah"
"Tidur sana, besok sekolah"
"Iya"
"Selamat malam Alenna ku sayang"
"Selamat bang David lu sayang"
Sambungan telepon pun terputus. Ia sedikit terhibur karna abangnya itu. Ia sangat merindukan David, karna David lah yang selalu ada untuknya saat Leksi pergi. Namun sekarang David juga pergi, sehingga ia hanya memiliki Amel dan Angga untuk berbagi cerita.
Alenna tidak terlalu penasaran dengan kejutan yang akan ia dapat besok. Ia lebih penasaran kenapa bisa Leksi bersikap dingin seperti itu kepadanya. Apa yang sebenarnya terjadi?
πππ
Tok! Tok! Tok!
"Nona Alenna, bangun non"
Panggil bi Ajeng dari luar kamar Alenna sambil mengetuk pintu Alenna. Terus menerus bi Ajeng mengetuk pintu, namun tak ada jawaban dari sang empunya kamar.
Karna tak ada jawaban, Bi Ajeng mencoba memutar knock pintu dan ternyata tak terkunci.
"Non, bi Ajeng masuk ya" Izin bi Ajeng membuka pintunya dan melihat kamar Alenna yang ternyata tidak ada orang disana. Kamarnya rapih, tempat tidur juga rapih, dan tidak ada tanda-tanda Alenna ada di sana.
"Non Alenna, Non di mana?" Panggil bi Ajeng lagi. Namun Lagi-lagi tidak ada yang menjawab. Bi Ajeng pun cari di kamar mandi dan ternyata tidak ada orang.
"Aduh... Non Alenna di mana ya? Kok gak ada di kamar? Apa udah pergi dari tadi?" Kata bi Ajeng bermonolog. Ia bingung kemana perginya Alenna.
"Bi Ajeng!" Panggil Johan dari ruang makan. Suara Johan yang menggelegar dan bariton tersebut, membuat bi Ajeng mendengarnya dengan sangat jelas. Sampai ia terlonjak kaget.
"Iya tuan!" Saut bi Ajeng lalu pergi dari kamar Alenna dengan menutup pintu kamar kembali, lalu pergi mendatangi Johan. Di ruang makan ada Johan, Karin, dan Sarah berkumpul dalam satu meja makan. Mereka tampak tak mengeluarkan suara seperti biasanya.
"Dimana Alenna? Bibi udah bangunin kan?" Tanya Johan dengan sendok dan garpu nya di tangan memakan sarapan tersebut.
__ADS_1
"Hmm anu tuan, nona Alenna tidak ada di kamar"
Prang!
Johan menghentakkan sendok dan garpu yang ia gunakan tadi dengan sangat keras. Karin dan Sarah terlonjak kaget dan menatap Johan.
"Gak ada? Kemana dia?!" Tanya Johan marah. Bi Ajeng hanya menggeleng sambil menunduk.
"Bibi udah cari kemana-mana tuan, tapi nona Alenna tidak ada" Kata bi Ajeng masih menunduk takut.
"Pa, mungkin dia udah pergi sekolah lebih awal" Saut Karin menenangkan Johan.
"Bener pa, kali aja" Sambung Sarah ikut menyahut.Β
"Tch" Desis Johan bangkit dari duduknya dan mengambil jasnya dan pergi berjalan. Namun sampai ambang pintu, ia berhenti tanpa menoleh.
"Kalau nanti Alenna gak pulang, kalian harus cari dia sampe ketemu.
Kalau sampe gak ketemu, kalian yang bakalan kena akibatnya!" Titah Johan tajam dan kembali berjalan keluar rumah. Pikirannya kacau saat ini.
"Mah... Gimana dong nih?" Tanya Sarah yang geram dengan perkataan Johan.
"Udah, nanti kamu cari dia di sekolah. Mama gak mau gara-gara dia kita jadi dalam masalah, mengerti kan?" Suruh Karin dengan tatapan kesal.
"Iya ma"
Dasar ******! Ngeribetin banget sih lo!. Gara-gara lo gue sama mama diancem papa kan!.
Kesal Sarah dengan tatapan yang sangat tajam.
"Bi, beresin ini semua" Titah Karin kepada bi Ajeng. Bi Ajeng hanya mengangguk.
"Mah, Sarah pergi dulu ya... Kenzo udah nunggu didepan" Ucap Sarah.
"Iya hati-hati. Jangan lupa apa yang mama bilang tadi" Sarah memutar bola mata dan mengangguk malas.
"Iya" Setelah pamit, Sarah pun segera pergi meninggalkan rumah dan berjalan menuju Kenzo yang telah menunggunya di depan rumah. Memang semalam Sarah yang 'memaksa' Kenzo untuk mengantarkan Sarah sekolah.
Disisi lain Karin telah kembali ke kamar. Tinggalah bi Ajeng yang sedang beres beres. Perlu kalian ketahui, bi Ajeng tau kejadian semalam. Ya kejadian semalam, dimana Alenna di marahi oleh Johan, bi Ajeng tahu semuanya. Karna mendengar dan melihat Alenna yang di tampar keras oleh Johan.
Bi Ajeng tidak bermaksud ingin ikut campur, namun ia tak sengaja menyaksikan hal tersebut. Bi Ajeng sangat kasihan dengan Alenna, ia di tampar, di maki, dan diancam oleh ayahnya sendiri.
Bibi kasihan banget sama kamu non... Kok bisa ya, orang sebaik non Alenna dapet keluarga kayak gini?. Coba aja non Alenna anaknya bibi, pasti non Alenna gak bakalan ngerasain sakit hati terus.
Ini semua karna nenek lampir sama nenek sihir itu, non Alenna jadi bahan pelampiasan mulu. Gak tega bibi liatnya, pak Johan emang bener-bener keterlaluan!.
Omel bi Ajeng dalam hati. Jujur ia sangat kesal dengan perlakuan Johan, ibu tirinya, dan kakak angkatnya yang semena-mena akan Alenna.
Ingin sekali Alenna membawa Alenna kabur dari sini, namun apalah daya... Bi Ajeng hanya seorang pembantu rumah tangga yang tidak berkecukupan lebih.
__ADS_1
πππ