
Di tengah kesedihan yang membendung Johan, kenzo serta orang terkasih Alenna. Leksi masih penasaran dengan Alenna, karna itu ia memilih untuk mencari kembali apa yang saja yang terdapat di kamar tersebut, lebih tepatnya di dalam lemari pakaian. Entah kenapa insting nya berkata bahwa masih ada sesuatu yang di sembunyikan Alenna.
Yang lain hanya menangis sambil menatap sendu apa yang di lakukan Leksi, mereka tidak tahu apa yang harus di lakukan selanjutnya. Mereka malu pada diri mereka masing-masing karna telah membiarkan Alenna pergi dan tak bisa berbuat apa-apa selain menangis penuh dengan penyesalan.
tidak ada yang tahu bagaimana hari-harinya setelah Alenna pergi dari kehidupan mereka selama-lamanya. Banyak sekali peristiwa demi peristiwa yang bahkan sangat sulit untuk di kenang di kemudian hari.
"Argh!" Geram Leksi karna tak menemukan apapun lagi. Padahal hatinya terus saja meronta-ronta dengan rasa penasaran yang membara.
"Lo ngapain?" Tanya David dengan suara serak dan matanya sembab, jangan lupakan hidungnya yang merah.
Leksi tak menjawab, hingga akhirnya ia menghela napas lega karna menemukan sesuatu yang terselip di dekat lemari. Sebuah kaset yang masih terdapat dalam pelindung nya. Di tempat pelindung tersebut, terdapat sebuah kertas yang bertuliskan pena.
Segera Leksi membacanya.
"Untuk Sarah, saudariku" Gumam Leksi membaca tulisan tersebut. Karna penasaran, David menghampiri Leksi dan melihat kearah tangan pria tersebut yang tengah memegang sebuah kaset.
"Ini untuk Sarah" Kata Leksi kepada David yang berada di samping nya.
"Kenapa Alenna masih bisa sebut dia saudarinya?. Hell, setelah banyak kejahatan yang cewek itu perbuat!. Aku tak habis pikir" Umpat David saat turut membaca tulisan itu.
"Hatinya begitu luas untuk memaafkan sebutir kesalahan yang Sarah perbuat" Kata Leksi mengingat sifat Alenna. David menatap Leksi tak Terima.
"Apa lo bilang? Sebutir kesalahan?. Bunuh orang itu sebutir kesalahan?" Kata David Terima dengan ucapan Leksi yang salah ia tanggap.
"Bukan begitu, itu hanya perumpamaan" Kata Leksi membenarkan ucapanya. David menghela napas berat.
"Kapan perempuan sialan itu sidang?" Tanya David dengan sorot mata dingin.
"Dua hari lagi" Jawab Johan yang mendengar pertanyaan David.
"Aku akan berikan ini pada Sarah sehari sebelum sidang" Kata Leksi namun Amel yang tadinya menangis kini ia menggelengkan kepala.
"Jangan, biar Amel aja" Tolak Amel. Leksi menatap Amel sebentar laku setelahnya mengangguk setuju.
🌺🌺🌺
Tepat keesokan harinya, Amel datang mengunjungi Sarah yang masih berada di kantor polisi, menunggu proses persidangan yang besok akan di laksanakan.
Amel dengan membawa tas yang berisi laptop serta kaset yang di temukan Leksi berjalan masuk ke ruangan khusus yang sebelumnya pernah ia kunjungi.
Saat pintu ruangan tersebut terbuka, terlihatnya Sarah yang sedang duduk menunggu. Perlahan Amel masuk kedalam sana dan pintu pun di tutup oleh penjaga.
Mata Amel dan Sarah bertemu, segera Amel duduk di depan Sarah dan menaruh tasnya di atas meja yang membatasi keduanya.
"Gimana kabar lo?" Tanya Amel berbasa-basi. Sarah menunduk.
"Gue baik, dan lo?" Tanya Sarah kepada Amel. Gadis itu menggeleng pelan dan air matanya sudah mulai keluar dari pelupuk mata. Sarah menatap Amel penasaran sekaligus bingung.
"Lo ke-kenapa?" Tanah Sarah bingung. Amel tidak menjawab dan hanya tangannya saja yang membuka tas sambil mengeluarkan laptop dan kaset dari dalam sana.
"Ini, dari Alenna" Kata Amel pelan. Amel menyalakan laptopnya lalu memasukkan kaset tersebut serta menyetelnya.
__ADS_1
Ia menghadapkan layar laptop tersebut kearah Sarah. Gadis itu melirik Amel sekilas lalu kembali ke layar laptop tersebut. Setelah layar hitam yang muncul, kini munculah wajah Alenna dari layar monitor tersebut.
Sarah memperhatikan wajah Alenna yang nampak sangat pucat dari biasanya, namun yang membuat Sarah tersentuh adalah...
Alenna masih bisa tersenyum manis di balik wajahnya yang pucat.
"Hai Sarah" Suara lemas Alenna menyapa awal Video tersebut. Sarah tetap fokus menonton video tersebut dan Amel mendengarkan suara Alenna dalam keheningan.
"Gimana kabar lo? Baik baik aja kan?. Gue harap lo bisa belajar dari semua kesalahan yang ada, gue bakal terus do'ain lo agar jadi lebih baik lagi"
"Kalau lo menganggap gue bakalan benci sama lo, lo salah. Gue gak bisa ngebenci lo, karna gue tau itu semua bakal sia-sia. Gue gak mau sisa hidup gue cuma ngebenci dan akhirnya gue punya dendam sama lo, gue gak mau. Lo tetep sodara gue, lo kakak perempuan gue"
"Dan Sebentar lagi lo akan sidang, yakan?. Gue harap gue bisa dateng dan ketemu lo di hari itu, gue harap. Setelah lo ngejalanin hukuman yang sepadan, semua barang atau hak yang gue punya, semuanya untuk lo dan gue ikhlas ngasih itu semua. Jujur, tujuan gue adalah supaya lo gak merasa iri lagi sama gue, gue mau lo bisa menghargai milik lo sendiri"
"Tolong jagain papa ya, sar. Gue takut gak bisa sama papa lagi, gue mau lo terus ada di samping papa gimana pun caranya, cuma lo yang dia punya. Soal Kenzo, kalau dia bersedia sama lo, tolong jaga dia juga dan jangan pernah khianatin dia. Dia cowok yang baik dan semoga dia bisa ngebimbing lo jadi lebih baik lagi"
"Gue minta maaf juga sama lo dan ibu lo, Karin. Gue tau yang udah gue lakuin ke kalian juga salah dan sikap gue bener bener kurang ajar, itulah yang bikin kalian semakin benci sama gue. Karna itu, maafin gue"
"Yang sehat ya, sar. Jangan sakit atau semacamnya. Gue bakal terus berdoa buat lo, gue pamit ya. Semoga gue bisa ketemu sama lo, untuk yang terakhir kalinya"
Sarah menangis tiada henti, begitu juga Amel yang ikut mendengar ucapan Alenna. Layar monitor kembali menjadi hitam dan hilanglah gambar Alenna disana.
"Mel, sekarang Alenna dimana?. Gue mau ketemu sama dia!" Histeris Sarah menuntut kepada Amel yang masih terisak tangis sambil menunduk. Bahunya bergetar hebat, disusul dengan suara isak.
"Mel jawab gue!" Kini Sarah menaikan nada bicaranya karna tak kunjung mendapat jawaban dari Amel.
"Dia... Dia udah gak ada" Sarah menggeleng tak percaya sambil menatap Amel. Sedangkan kini Amel menatap Sarah agar gadis itu percaya.
"Dia udah gak ada, Sarah. Alenna, dia meninggal kemarin karna tertabrak mobil. Sekarang dia udah ninggalin kita semua selama-selamanya" Sarah mengusap wajahnya dengan kedua tangan dan terus menangis.
"Gue gak bisa bawa dia kesini, gue gak bisa" Lirih Amel menunduk.
"Maafin gue, gue harus pergi sekarang. Besok persidangan, gue bakal dateng lagi kesini" Amel menghampiri Sarah yang menunduk dan terisak tangis hingga bahu nya bergetar hebat. Amel mengusap bahu Sarah untuk menenangkan nya.
"Alenna udah tenang disana, jangan terus menyesal. Semuanya udah terlambat dan lo harus hidup lebih baik lagi dari sebelumnya. Jangan bikin Alenna nangis lagi di atas sana, gue pamit ya" Setelah berbisik seperti itu, Amel berjalan keluar dan pergi meninggalkan kantor polisi.
Sarah terus menangis dengan tatapan yang kosong dan rasa penyesalan yang teramat dalam. tak ada yang bisa di deskripsi kan hatinya saat ini kecuali rasa penyesalan, tak jauh berbeda dengan Karin yang telah di ceritakan oleh Sarah mengenai Video tersebut.
Tepatnya esok hari, dimana persidangan Karin dan Sarah di laksanakan. Amel, Johan, dan David turut datang menghadiri acara persidangan tersebut. Wajah penyesalan dan tatapan kosong terpancar dari kedua tersangka, yaitu Karin dan Sarah.
Hakim memutuskan hukuman yang tak bisa di ganggu gugat, yaitu hukuman 14 tahun untuk Sarah dan 15 untuk Karin. Tak ada perlawanan yang di lakukan oleh keduanya, mereka pasrah dan ikhlas menerima kenyataan tersebut. Ini memanglah pantas mereka dapatkan, tak akan ada yang bisa di bela dari sikap mereka, bahkan pengacara sekalipun.
"Terima kasih karna kalian sudah mau datang" Kata Karin kepada Johan, Amel, dan David.
"Cih, drama" Ketus David menatap tidak suka kearah Karin dan Sarah.
Persidangan sudah selesai dan mereka akan segera di bawa ke sel tahanan.
"Maaf kan kami berdua, maafkan kami" Kata Karin meneteskan air mata dan ingin bersujud di hadapan Johan. Namun Johan segera menahan tubuh Karin agar tak melakukan itu.
"Sudah, saya sudah berusaha untuk memaafkan mu. Jalani lah hukuman ini dengan ikhlas, jangan membuat kesalahan yang membuat Alenna semakin sedih nantinya" Kata Johan yang diangguki pelan oleh Karin.
__ADS_1
"Jadilah anak yang baik, nak. Kau tetap anakku dan akan selamanya begitu. jika kau sudah terbebas, maka datanglah, pintu rumah terbuka untuk mu" Kata Johan kepada Sarah. David yang mendengar ucapan Johan, kini menatapnya dengan tatapan penuh penolakan.
"Gak! Gak bisa, dia gak pantes ada di rumah kita lagi!. Setelah apa yang mereka lakukan ke Alenna, papa masih mau nerima mereka?!. Maaf, David gak akan pernah nerima mereka" Tolak David menatap marah kepada Sarah dan Karin. Air matanya mulai menetes sekarang. Amel yang berada di samping David mencoba untuk menenangkan nya agar tak tersulut emosi.
Johan mengkode Amel agar membawa David pergi. Amel mengangguk dan mencoba menarik David untuk pergi dari sana.
"Inget, gue gak akan pernah maafin kalian berdua. Sampai kapanpun!" Setelah mengucapka itu, David pun pergi bersama Amel.
"Jangan di pikirkan ucapan David, dia memang sangatlah terpukul karna kepergian adiknya" Kata Johan kepada Karin dan Sarah yang sekarang kembali menangis.
"Aku pergi dulu, kapan kapan aku akan kemari lagi untuk menjeguk kalian. Jaga diri kalian baik-baik" Johan menatap Sarah sebentar lalu mengelus kepala anaknya lembut dan disaat itu juga ia teringat Alenna dalam otaknya. Ia menarik napas dalam-dalam dan pergi dari sana, meninggalkan Karin dan Sarah.
Ya tuhan, anakku Alenna...
Batin Sarah.
Berbahagialah kalian di bawah sana, aku akan menatap kalian dengan senyuman yang mengembang dari atas sini. Aku bahagia jika kalian bahagia, seperti malam yang selalu terdapat bintang menyelimuti langitnya, walau kadang tak terlihat. Percayalah, aku disini bersinar terang di kesunyian malam.
Walau hidupku hanyalah serpihan kehancuran, tapi percayalah. Seiring berjalannya waktu, Tuhan akan mempersatukan serpihan tersebut menjadi satu kesatuan yang utuh di masa depan.
~Alenna Patricia
BROKEN
🌺🌺🌺
NIH GUYS, AKU KASIH BONUS BUAT KALIAN. SEKALIAN AKU AKU PROMOSI NOVEL KU YANG KEDUA. "THE MOST WANTED (BTS)".
SINOPSIS NYA:
Ketampanan, kharisma, kecerdasan, dan kekuasaan semuanya tertuju kepada tujuh anak laki-laki yang bersekolah di SMA ternama bernama SOPA. Tak akan ada orang yang bosan menjadikan mereka sebagai pusat perhatian dan pusat objek bak seorang model. Well, itu memanglah hal yang biasa mereka dapatkan sebagai THE MOST WANTED di sekolah ini. Namun apa jadinya jika mereka bertemu dengan keempat gadis yang baru bersekolah disana dan keempat gadis itu juga merupakan THE MOST WANTED saat masih bersekolah di Indonesia?. Akankah mereka bisa lebih akrab satu sama lain sebagai pesaing, atau malah sebaliknya?. Ini adalah kisah dimana perjalanan masa sekolah menengah atas yang dipenuhi dengan kepopuleran dan romansa.
"They the most wanted?"
"And we the next most wanted"
🌺🌺🌺
MAKASIH BANYAK GUYS UNTUK KALIAN SEMUA DAN SEMOGA NOVEL INI SEMAKIN BANYAK YANG BACA DAN BISA KALIAN AMBIL PELAJARAN YANG TERSIRAT DALAM CERITA INI.
•SUPPORT
•VOTE
•SHARE
•DAN COMMENT
SAMPAI JUMPA...
SALAM HANGAT AUTHOR
__ADS_1
~Della Marissa