
"Udah cantik, baik, sopan lagi. Mantu idaman banget" Monolog Grace sambil menampilkan senyum yang merekah. Setelah itu, ia pun pergi masuk kedalam ruang dimana Steven di rawat.
🌺🌺🌺
Tak terasa, sekarang sudah hari terakhir ujian sekolah. Para siswa-siswi berhamburan keluar kelas untuk pulang karna ujian telah di nyatakan berakhir. Mereka bersorak kegirangan, tak terkecuali Alenna dan teman-temannya. Mereka juga turut lega karna ujian telah berakhir.
"Eh, nanti lo mau langsung pulang? Atau kerumah sakit dulu?" Tanya Amel kepada Alenna.
"Gue mau kerumah dulu"
Jawab Alenna.
"Yodah, hati hati ya. Gue balik dulu. Dadah!" Amel pergi begitu saja sambil melambaikan tangan ke pada Alenna dan Angga.
"Gue balik juga len. Bye, jan kangen" Pamit Angga setelah Amel sudah tidak terlihat. Alenna mengangguk dan tersenyum tipis.
Ia ikut melangkah menuju gerbang sekolah untuk pulang. Sepertinya ia akan pulang dengan jalan kaki hari ini. Karna uangnya sudah habis dan ia berniat untuk pulang kerumah untuk mengambil beberapa kartu ATM-nya. Jadi untuk sekarang ia berjalan saja.
Citttttttt!
Mobil berwarna silver tiba-tiba berhenti di hadapannya, Alenna terlonjak kaget karena itu.
"Duh, siapa sih nih?" Kesal Alenna sambil memperhatikan mobil di depannya ini. Wajahnya tampak kesal sekaligus nampak berpikir dalam waktu yang bersamaan.
Tak lama, keluar sang pemilik mobil dari dalam. Alenna sedikit kaget saat melihat Kenzo yang berjalan kearahnya.
"Lah... Lo ngapain kesini?. Oh iya lo pasti mau jemput sar-"
"Bukan" Potong Kenzo cepat. Alenna mengerutkan alisnya bingung.
"Terus?" Tanya Alenna.
"Saya jemput kamu. Ayo" Kenzo tiba-tiba saja menarik tangan Alenna agar masuk kedalam mobil yang entah sejak kapan pintunya sudah terbuka. Alenna menahannya.
"Eh, mau kemana?" Tanya Alenna menahan. Kenzo menatap Alenna sekilas.
"Pulang, kalau kamu mau pergi ke suatu tempat. Saya gak keberatan" Jawab Kenzo menyuruh Alenna masuk. Dengan helaan napas kasar, Alenna pun masuk kedalam mobil duduk di samping Kenzo yang duduk di kursi kemudi.
Mereka pun pergi.
"Gue mau pulang aja" Ucap Alenna. Kenzo mengangguk paham.
Mereka pun pergi meninggalkan sekolah.
Cekrek!
Tanpa sepengetahuan mereka, ada seseorang yang memotret kejadian tadi dari sebrang jalan.
🌺🌺🌺
Alenna menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Matanya menatap langit langit kamarnya. Jujur saja saat sampai dirumah, mood nya langsung turun saat melihat Sarah yang memperhatikan nya dan Kenzo dengan tatapan yang sangat sangat tajam. Alenna sadar bahwa Sarah cemburu, tapi Alenna tidak bisa berbuat apa-apa, lagipula Kenzo yang memaksa. Ia bisa apa.
Alenna heran dengan hubungan Kenzo dan Sarah... Mereka sebentar lagi akan tunangan, tapi kenapa seakan mereka tidak punya hubungan apa-apa satu sama lain.
Maksud Alenna, kenapa Kenzo masa bodoh dengan Sarah, sedangkan Sarah malah sebaliknya.
Alenna sungguh prihatin.
Tapi yasudah lah... Bukan urusannya ini.
Ia pun bangkit dan mengganti bajunya menjadi gaya casual. Setelah itu, ia mengambil tas dan perlengkapan lainnya termasuk kartu ATM yang menjadi tujuannya ia pulang. Semua sudah siap, Alenna pun melangkah keluar kamar dan pergi meninggalkan rumah. Persetan dengan tatapan Sarah yang bak predator yang ingin menerkam mangsa nya.
Gak sabar gue ngeliat Steven... Kangennya.
Batin Alenna berbunga-bunga, jangan lupakan senyum yang mengembang di pipinya.
🌺🌺🌺
"Permisi bu, ini ada kiriman untuk pasien bernama Steven" Ucap seorang suster datang dan menghampiri Grace yang tengah berada di samping Steven. Kegiatan bersyukur nya terhenti saat seorang suster menghampiri nya dan memberikan sebuah kotak.
__ADS_1
"Apa ini sus? Dari siapa?" Tanya Grace kepada sang suster.
"Saya tidak tahu bu. Pengirimnya hanya menyuruh saya memberikannya kepada pasien Steven" Jawab suster itu yang membuat Grace dan pria yang berada di atas bangsal mengerutkan alis bingung.
"Kalau begitu, saya permisi" Pamit suster tersebut.
"Terimakasih suster"
Suster itupun pergi meninggalkan Grace dan Steven yang saling pandang.
"Nih, mungkin dari temen kamu" Ucap Grace memberikan Steven kotak tersebut. Steven pun menerimanya.
Steven meneliti kotak tersebut dan perlahan membuka nya. Grace hanya memperhatikan anaknya yang tengah membuka kotak tersebut.
Ceklek!
Pintu kembali terbuka dan menampilkan seorang pria paruh baya dengan senyum berdiri di ambang pintu.
"Mah, ikut papa sebentar yuk. Kita cari makanan buat Steven" Ajak pria itu kepada Grace. Yang di ajak pun mengangguk dan beralih menatap Steven.
"Sayang, mama sama papa pergi sebentar ya cari makanan buat kamu" Ucap Grace mengelus kepala anaknya yang masih terbalut perban. Steven hanya mengangguk. Setelah itu, Grace pun pergi bersama seseorang yang ternyata adalah ayah Steven.
Tinggalah Steven Sendiri. Ia kembali fokus membuka kotak yang di kirimkan dari seseorang yang tidak ia ketahui. Setelah membuka kotak itu, ia melihat sebuah amplop coklat yang lumayan tebal isinya.
Ia pun membukanya. Dilihatnya
Terdapat beberapa kertas seperti kumpulan foto foto disana.
Ia pun memperhatikan foto-foto tersebut. Matanya terbelalak saat menyadari bahwa salah satu orang di foto itu adalah kekasihnya sendiri dengan seorang pria yang Steven tahu bahwa itu adalah Kenzo. Ia melihat foto lainnya dan ternyata disana juga ada Alenna, tetapi berbeda pria, di adalah... Leksi.
Mereka tengah berpelukan.
Bermacam-macam foto yang terpampang disana. Mulai dari Alenna yang berada di taman hiburan dengan Kenzo dan Alenna yang bersama Leksi.
Rahang Steven mengeras, matanya merah, dan tangan perlahan mengepal membuat urat-uratnya terlihat.
"Alenna... Jadi ini kelakuan kamu selama aku gak ada disisi kamu"
"Abis di bawa kabur sama Kenzo sampe gak pulang kerumah dan sekarang gak ada angin gak ada hujan, jadian sama most wanted sekolah. Freaking **** banget"
Nanti siapa lagi yang bakalan belain lu? Kenzo?, David?, atau bahkan Leksi?"
"Kenapa? Kaget kenapa gue bisa tahu Leksi? Hmm?"
"Secara lo ini kan mau sana sini, siapa sih yang gak tahu sifat lo yang udah kayak pelacur*?"
"Akhh! Sialan!" Rintis Steven saat ucapan Sarah tempo hari kembali terngiang-ngiang di kepalanya.
Sebenernya leksi tuh siapa kamu Alenna? Kenapa kalian bisa sedeket itu?.
Batin Alenna.
Gak aku sangka, kamu semurahan ini.
Batin Steven. Pria itu menyunggingkan senyum miring namun terbesit rasa sakit yang ia rasakan.
Ceklek!
Pintu kembali terbuka dan menampilkan sosok Alenna yang tengah menatap Steven terkejut. Steven sempat terkejut dengan kehadiran Alenna, tapi ia segera mengembalikan ekspresi nya dan menatap Alenna datar.
Sedetik kemudian, Alenna tersenyum senang bercampur karna Steven sudah sadar sekarang.
"Steven... Akhirnya kamu sadar" Alenna rasanya sangat senang sekarang. Ia pun perlahan melangkah mendekati Steven. Namun langkah nya terhenti saat Steven kembali berkata.
"Stop! Jangan ngedeket" Alenna mengerutkan alisnya bingung. Matanya seolah bertanya "kenapa?"
Alenna kembali mendekat.
"Gue bilang stop! Lo jangan ngedeket" Titah Steven lagi. Alenna semakin bingung dengan Steven yang memanggilnya dengan 'lo-gue' kepadanya.
__ADS_1
"Ka-kamu kenapa Steven?" Tanya Alenna bingung. Jujur matanya sudah mulai berkaca-kaca.
Steven tersenyum miring lalu melempar amplop yang berisi foto-foto kepada Alenna.
Alenna pun mengambil amplop itu dari lantai. Dengan ragu ia membukannya dan ia menutup mulutnya dengan gelengan kepala pelan.
"Steven... Aku-"
"Apa?! Masih mau ngelak lagi?. Ternyata bener apa kata Sarah" Nada bicara Steven meninggi. Nafasnya memburu dan tatapan matanya penuh kemarahan. Oh ayolah, ia baru saja sadar tadi pagi. Sekarang sudah ada saja yang membuat dia marah.
"Sarah?" Tanya Alenna bingung.
Kenapa Steven harus nyebut Sarah? Apa maksudnya?.
Batin Alenna.
"Iya, Sarah bilang lo murahan, mau sana sini dan ternyata bener lo murahan. Lebih murahan" Ketus Steven dengan memandang Alenna remeh. Tes! Air mata Alenna melolos begitu saja saat Steven mengatainnya dengan tajam.
"Steven ini gak seperti yang kamu pikir, Kenzo dan bang Leksi cum-"
"CUMA APA?!!. simpenan atau calon suami?!" Potong Steven cepat. Alenna menggeleng kuat. Apa yang di katakan Steven salah, semuanya salah!.
"Cih! Cewek murahan"
"Enggak Steven bukan gitu" Alenna ingin menjelaskan semuanya tapi lidahnya terasa keluh. Ditambah Steven mengarahkan tangannya seolah menyuruh Alenna untuk pergi.
"Steven aku mohon... Aku bisa jelas-"
"Keluar!" Titah Steven mengisyaratkan Alenna keluar.
"Enggak Steven aku bi-"
"KELUAR ALENNA!!" Teriak Steven membuat Alenna tersentak kaget. Alenna terdiam, ia menatap Steven kecewa, sedangkan yang ditatap kini tak mau menatapnya.
"Aku keluar" Ucap Alenna berat hati. Ia berusaha agar tidak terisak di depan Steven. Alenna menunduk dan berjalan pelan keluar. Dadanya sesak mendengar perkataan Steven barusan.
Tepat setelah ia menutup pintu, Alenna kemabli terisak bahkan tangisnya semakin pecah sekarang.
Siapa yang ngirim itu?.
Batin Alenna.
Ia terus terisak tiada henti sampai suara seseorang menghentikan tangisnya.
"Alenna?" Alenna mendongak. Terkejut melihat Grace dan suaminya sudah berada di hadapannya, Alenna segera menghapus air matanya.
Ia berusaha tersenyum tipis.
Alenna berusaha menyembunyikan kesedihannya.
"Kamu kenapa nangis?" Tanya Grace yang sadar betul bahwa Alenna menangis.
"Eh enggak kok ma, Alenna gak nangis" Alenna tersenyum manis meyakinkan.
"Tapi ka-"
"Ma, Alenna pulang dulu ya. Permisi... " Pamit Alenna bersalaman dengan Grace dan suaminya. Ia juga sedikit membungkuk untuk bersikap sopan.
Dengan cepat Alenna pergi meninggalkan rumah sakit.
"Siapa gadis itu?" Tanya suami Grace.
"Dia pacar Steven" Jawab Grace masih menatap Alenna yang sudah hilang dari pandangan nya.
"Oh... Cantik dan sopan ya"
Puji suami Grace.
Ada apa dengan anak itu?. Dia menangis, aku tidak salah lihat tapi Kenapa dia menangis?. Apa Steven menyakiti nya?
__ADS_1
Batin Grace.
🌺🌺🌺