
Alenna menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Matanya melihat ke langit-langit kamar. Hatinya sangat kacau sekarang. Mulai dari Sarah yang iri padanya, hubungan nya dengan Steven yang belum membaik, dan meninggalnya Aldo karna tertembak oleh Sarah.
Apa yang akan terjadi selanjutnya?, Apakah akan lebih parah dari pada ini?, Bisakah Alenna melewati kejadian hari ini untuk hari esok?, bisakah Alenna bertahan?, sampai mana ia akan bertahan?, apakah penderitaan ini takkan pernah berhenti kecuali ia mati?, sampai kapan ia terus berpura pura untuk tetap terlihat baik-baik saja?, dan masih banyak pertanyaan lain yang Alenna sendiri tidak tahu harus menjawab apa.
Memikirkan hidup Alenna saja mampu membuat orang depresi. Bagaimana dengan Alenna yang mengalami nya?.
Alenna memejamkan matanya dan menghirup napas lalu menghembuskannya perlahan. Mencari ketenangan.
Tak sadar air matanya menetes dan lama-lama ia menjadi terisak-isak.
Mah... Alenna gak kuat!.
Batin Alenna.
Entah halusinasi atau bukan, Alenna merasa seseorang tengah berbisik di telinganya.
"Kamu harus kuat nak... Sebentar lagi, kamu akan mengakhiri semuanya. Jangan bertindak ceroboh Alenna, ini bisa berbahaya. Kau harus bersabar, mama yakin kamu kuat. Mama selalu berdoa untuk kamu nak... "
Alenna tersadar lalu merubah posisinya menjadi duduk. Ia kembali menangis dan memegang kepalanya.
Mama?
Batin Alenna yang merasa mendengar suara ibunya. Jantung Alenna berdegup kencang. Suara itu masih terngiang-ngiang di otaknya. Apakah itu hanya halusinasi?.
"Alenna bakal berusaha semampu Alenna, mah. Alenna mau ini semua cepat berakhir" Ucap Alenna bersungguh-sungguh.
Tok! Tok! Tok!.
Di tengah keheningan kamar Alenna, Tiba-tiba suara pintu di ketuk memecah keheningan. Alenna tersadar lalu menghapus air matanya cepat agar tidak ada yang tahu kalau ia sedang menangis.
Alenna berjalan menuju pintu kamar dan membukannya.
Ia sempat terkejut saat tahu siapa orang yang ada di hadapannya ini. Tapi ekspresi nya terlihat tenang.
"Kenapa?" Tanya Alenna kepada sosok di depannya ini.
"Kamu gak persilahkan saya masuk dulu?" Tanya orang itu balik. Alenna menghela napas lalu membuka pintu lebih lebar agar tamunya ini bisa masuk kedalam. Alenna membiarkan pintunya dengan posisi yang terbuka
Setelah Pria itu masuk kedalam kamar Alenna, dia menutup pintu tersebut.
"Gak usah di tutup, di buka aja" Ucap Alenna. Ia takut bahwa orang lain berpikir yang tidak-tidak mengenai Alenna. Terutama tamunya ini seorang pria. Sangat mudah memancing pikiran negatif.
"Saya perlu bicara serius sama kamu" Tanpa di suruh Kenzo sudah duduk di salah satu sisi ranjang milik Alenna. Yang punya ranjang ikut duduk di samping Kenzo dengan di batasi jarak.
"Apa?" Tanya Alenna to the point.
Kenzo memandang wajah Alenna, sampai matanya menemukan luka di dahi Alenna. Kenzo menyentuhnya. Alenna segera menepis tangan Kenzo pelan lalu menunduk.
"Dahi kamu kenapa? Kok bisa luka?" Tanya Kenzo terkejut melihat luka di dahi Alenna yang sepertinya masih baru. Alenna menggeleng pelan.
Kenzo masih tak percaya dan memegang pipi Alenna dengan kedua tangannya agar Alenna menghadap Kenzo. Entah kenapa mata Alenna sulit untuk menatap mata Kenzo, walaupun wajahnya sudah menghadap wajah Kenzo.
"Jawab saya Alenna, kamu kenapa?" Tanya Kenzo lagi dengan nada yang lembut. Alenna menelan salivanya susah payah. Kenzo terus menatap mata Alenna walaupun Alenna tidak menatapnya.
"Gu-gue gapapa Kenzo" Jawab Alenna berbohong. Kenzo menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskan nya.
"Alenna coba sekali aja kamu jujur dan terbuka sama saya. Kalau kamu terus mendem semuanya, kamu bisa depresi Alenna..." Ucap Kenzo membuat Alenna mendongak dan menatap mata Kenzo dengan berkaca-kaca.
"Gue emang udah depresi ken" Air mata Alenna menetes dan semakin gencar benda kristal itu keluar dari matanya.
"Lo mau gue jujur kan?" Tanya Alenna balik. Kenzo hanya diam sambil terus menatap Alenna yang kini sudah menangis.
Kenapa hati ini sakit saat saya melihat dia menangis?.
Batin Kenzo yang merasakan sakit di hatinya saat melihat Alenna sedih bahkan sampai nangis seperti ini.
"Sarah benci gue!, Dia sampe bunuh Aldo karna mau bikin semua orang benci sama gue!. Dia bilang iri sama gue!, Dia bilang gue ini pembawa sial!, Dan Amel berubah karna gue!"
"Kalian semua bakalan benci sama gue!. Gue yakin itu, termasuk lo Kenzo, lo pasti bakal benci sama gue!" Jelas Alenna meluapkan emosinya kepada Kenzo sambil histeris.
"Asal lo tau ken, gue capek terus terusan dapet masalah yang dateng setiap hari. Waktu gak biarin gue istirahat! Walaupun cuma sehari!"
Kenzo diam membiarkan Alenna meluapkan semua keluhannya pada Kenzo. Pria itu menarik Alenna kedalam pelukannya dan memeluk gadis itu erat. Walaupun Alenna berontak kecil.
__ADS_1
"Gue takut ken... Gue takut gak bisa nyelesain semuanya sampai gue mati ken!" Kenzo menggeleng pelan mendengar ucapan Alenna yang baginya sangat ia benci jika bersangkutan dengan kematian.
"Saya gak suka sama ucapan kamu tadi, Alenna" Kata Kenzo menaruh dagunya diatas kepala Alenna.
"Mau lo suka atau enggak, itu pasti terjadi ken!. Gue pasti bakalan mati!" Bantah Alenna sambil terus menangis.
"Ingat Alenna, semua orang pasti bakalan mati. Termasuk saya dan kamu. Tapi seenggaknya sebelum kita mati jangan pernah berpikiran seperti itu, kita harus selesaikan masalah yang kita alami selagi masih hidup. Saya tahu apa yang kamu rasakan lebih besar dari masalah yang saya rasakan. Tapi percayalah, Tuhan terus bersama kamu Alenna" Alenna kembali terisak mendengar ucapan Kenzo yang entah kenapa sangat menohok di hatinya.
Tak di pungkiri, Alenna kagum dengan sosok Kenzo yang sangat bijak menanggapi suatu persoalan, tak heran jika Alenna bisa saja menaruh perasaan kepada Kenzo. Tolong jangan salahkan Alenna jika menghianati Steven, karna saat ini Alenna sangat membutuhkan sosok seperti Kenzo di samping nya. Bukan berarti ia tak membutuhkan Steven, tentu saja ia membutuhkan pria itu. Tetapi untuk masalah bersikap dewasa, Alenna merasa bahwa Kenzo lebih tepat. Terlebih mengingat kejadian Steven yang tidak percaya kepadanya hanya karna sebuah foto yang Steven sendiri tidak tahu kejelasannya.
Hening, Alenna perlahan mulai merasa tenang di dalam dekapan Kenzo. Gadis itu sudah tidak lagi menangis atupun terisak. Ia merasa nyaman.
"Ken" Panggil Alenna.
"Hm" Gumam Kenzo sebagai jawaban. Alenna terdiam sebentar.
"Lo... Masih cinta sama gue?" Tanya Alenna.
Kok gue malah nanya itu sih?.
Batin Alenna heran kenapa dia bisa bertanya seperti itu kepada Kenzo. Ayolah Alenna, ini memalukan.
Kenzo tersenyum tipis mendengar pertanyaan Alenna.
"Tentu masih. Sampai kapanpun saya akan terus mencintaimu, Alenna Patricia. Karena itu jangan kecewakan saya" Pipi Alenna merona. Senyumnya mengembang. Ayolah, jangan bilang bahwa itu hanya 'gombalan', tapi bagi Kenzo ia bersungguh-sungguh.
"Makasih ken" Ucap Alenna pelan tapi Kenzo masih mendengarnya. Kenzo tersenyum manis mendengar ucapan Alenna yang baginya dan dapat menghangatkan hati agar tidak ceroboh dalam menghadapi suatu masalah.
"Saya minta maaf" Mohon Kenzo. Alenna mendongak menatap Kenzo sambil mengerutkan alis.
"Kenapa?" Tanya Alenna.
"Seharusnya saya ada di samping kamu kemarin. Seharusnya saya gak ngebiarin kamu pergi gitu aja. Seharusnya saya bisa jaga kamu dengan baik dan seharusnya juga sahabat kamu masih hidup" Alenna terdiam mendengar ucapan Kenzo, lalu ia menggeleng pelan.
Alenna memegang rahang tegas Kenzo dengan kedua tangannya agar pria itu menatap matanya.
"Lo gak perlu minta maaf. Lo udah baik mau ngasih peringatan ke gue buat hati-hati. Tapi apa? Gue malah ngeyel dan nganggep itu cuma angin lewat. Dan sekarang gue tau akibatnya. Ini bukan salah lo" Bantah Alenna.
Lo gak salah ken. Yang salah gue!.
Batin Alenna.
"Makasih ya ken. Lo udah mau ngejaga gue dan selalu nolongin gue selama ini. Makasih banyak" Hanya itu yang mampu Alenna utarakan untuk Kenzo. Alenna tahu Kenzo berusaha untuk menjaga nya, tetapi di lain sisi ia tak enak dengan Kenzo yang kenyataannya bukan siapa-siapa. Pacar? Tunangan? Alenna bahkan tidak tahu.
Tapi perlahan Alenna merasa bahwa ia mulai nyaman dengan Kenzo yang selalu ada disisinya saat ia membutuhkan. Walaupun kemarin Kenzo tidak ada, tapi ia tidak akan bisa menyalahkan Kenzo karna pria itu tidak ada di sisinya.
Karna gue bukan prioritas lo Kenzo. Gue gak berhak menyalahkan atas kejadian kemarin. Dan itu bukan salah lo.
Batin Alenna.
maafin gue, Steven.
batin Alenna lagi.
Hening, beberapa saat kemudian Alenna sudah terlelap di dalam pelukan Kenzo. Entah kenapa setelah menangis rasanya mengantuk dan ingin tidur.
Kenzo menoleh sedikit untuk melihat wajah Alenna.
Sudah tidur rupanya.
Batin Kenzo.
Perlahan Kenzo membaringkan Alenna di atas ranjang dengan sangat hati-hati takut gadis itu terbangun.
Setelah itu Kenzo berdiri di samping ranjang Alenna dan memperhatikan wajah Damai gadis itu.
Sudah cukup hari ini kamu menangis. Sekarang, istirahatlah...
Ucap Kenzo dalam hati.
Kenzo mematikan lampu kamar Alenna. Lalu Pria itu berjalan menuju pintu kamar Alenna dan membuka nnya lalu menutupnya kembali. Ia berhenti di depan pintu kamar Alenna.
Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan benda pipih dari dalam sana. Pria itu mengotak-atik handphone nya lalu mendekatkan benda itu ke telinganya.
__ADS_1
"Halo tuan Kenzo, ada tugas yang akan kami kerjakan?"
"Ada. Cari dimana Sarah berada sekarang, sekaligus tempat tinggalnya. Oh ya selidiki juga kejadian kemarin di tempat ××××.
Serahkan padaku nanti malam"
"Ba-baik tuan. Akan kami serahkan kepada Anda nanti malam"
"Ingat! Kerjakan dengan baik. Saya tidak mau kecolongan seperti kemarin lagi. Kalau sampai kalian melakukan kesalahan yang sama"
"Jangan salahkan saya kalau kalian pulang hanya tinggal nama"
Tuts!
Sambungan terputus sepihak oleh Kenzo. Pria itu kembali berjalan menuruni tangga dan bergegas untuk pergi setelah sebelumnya berpamitan dengan Johan.
Ia harus mengerjakan pekerjaan yang sudah ia tunda selama beberapa minggu ini.
Tenang saja, dengan otak milik Kenzo semua perkerjaan terasa ringan jika di kerjakan.
Kalau kalian bertanya kenapa Kenzo bisa tahu kalau Alenna sedang dalam masalah kemarin, padahal dia sendiri tidak turut membantu Alenna dalam insiden hari itu.
Karna Kenzo baru mengetahuinya saat ia baru pulang setelah bertemu David di cafe. Salah satu anak buahnya bilang bahwa kemarin Alenna di bawa pergi oleh seseorang. Tapi anak buahnya kehilangan jejak.
Karna khawatir Kenzo menelpon Alenna tetapi Alenna tidak menjawab panggilan tersebut, bahkan nomernya tidak aktif.
Kenzo marah besar saat itu kepada orang suruhannya yang bertugas untuk mengawasi Alenna. Mereka bilang susah untuk mengawasi Alenna karna gadis itu tengah berada di keramaian, terlebih di wahana rumah hantu yang kondisinya gelap dan tertutup. Mereka takut ketahuan Alenna jika mereka tengah mengawasi nya. Sebab, Kenzo bilang jangan sampai ketahuan Alenna bahwa ia sedang di awasi oleh orang suruhannya.
Alhasil mereka kehilangan jejak.
🌺🌺🌺🌺
Amel hanya terdiam merenung. Wajah gadis itu terlihat sangat menyedihkan. Mata sembab karna terus menangis, wajah pucat, dan rambut berantakan.
Amel sangat terpuruk dengan kepergian Aldo yang secara tiba-tiba. Bahkan ia belum sempat memberikan salam perpisahan atau semacamnya. Terlebih pria itu pergi dengan cara yang tak wajar, bagaimana hati Amel tak sakit melihat kejadian tersebut?.
Tujuan mereka ke taman hiburan adalah untuk bersenang senang. Tetapi kenapa yang didapat malah sebaliknya?. Seharusnya mereka mereka tidak pergi kesana. Seharusnya mereka hanya berkumpul saja di rumah Amel.
Pasti kejadian nya tidak akan seperti ini dan Aldo pasti masih ada di samping nya.
Amel kembali menerawang saat ia menemukan Alenna dan Aldo yang berada di sebuah ruangan waktu itu, dengan Aldo yang sudah tiada.
Ingin sekali Amel meminta penjelasan kepada Alenna. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Aldo bisa seperti ini?.
Tetapi lagi lagi ia masih tak sanggup untuk bertanya bahkan mengeluarkan suara pun sulit.
Mengingat Alenna bersama Aldo saat itu, membuat Amel berpikir yang tidak-tidak.
Amel bukan menuduh Alenna bahwa ia sedang berselingkuh, tidak!. Tetapi, ia takut bahwa Alenna tersangkut dalam kasus pembunuhan Aldo.
Amel meyakinkan dirinya bahwa Alenna tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Apalagi Alenna tidak mempunyai masalah pribadi kepada Aldo, sekiranya itu yang Amel tahu. Tapi ia yakin sahabat nya tidak akan melakukan hal gila seperti itu.
Amel memperhatikan wajah Aldo yang terdapat di layar ponselnya. Foto di mana menampilkan Aldo dan Amel yang sedang tersenyum bahagia dengan background bunga- bunga.
Air mata Amel menetes di atas foto wajah Aldo, layar ponselnya.
Amel kembali terisak.
*Kenapa lo ninggalin gue secepet ini, do?. Lo seneng ngeliat gue menderita kayak gini? Lo senang liat gue nangisin lo yang nyatanya lo gak akan pernah kembali?. Lo pasti tertawa puas disana melihat gue yang kayak gini. Yakan?.
Gue marah sama lo Aldo, karna lo gak pernah ngucapin gue selamat tinggal atau apalah itu.
Gue tau kenapa lo pergi. Pasti karna lo takut gue marahkan dan takut karna gue bakalan jitak pala lo lagi?. Yakan?. Kali ini gue gak bakal marah atau bahkan ngejitak lo lagi, tapi plisss.... Gue mohon kembali*.
Ujar Amel dalam hati. Gadis itu selalu berharap kekasihnya kembali dan kejadian kemarin hanyalah mimpi buruk belaka. Tapi nyatanya ia seolah kembali di tampar oleh kejadian yang sebenarnya memang terjadi.
Aldo-nya, tak akan kembali. Itulah yang harus Amel Terima.
"Maafin gue Aldo... "
🌺🌺🌺
Hai Hai Hai! maaf updatenya lama. soalnya belum nulis lagi, hehhehe. maaf ya! mohon bersabar, ini ujian😂
__ADS_1
oh ya, jangan lupa vote dan comment ceritanya. see you💗